
Tempat ini jelas bukan tempat yang nyaman untuk ditinggali. Kalau Bunda Mawar mau repot-repot mengurusi, kenapa orang asing itu tidak ditempatkan di kamar atau ruangan sebelah atas yang lebih layak di rumah utama?
Bagian bawah undakan berakhir di sebuah ruangan besar yang memancarkan lebih dari sekedar bau apek dari gudang anggur, bau di tempat ini jauh lebih parah. Diarahkannya lampu minyak di tangannya menyapu sekeliling, dari dinding dan langit-langit ruangan yang berupa karang nampak bahwa tempat ini terbentuk secara alami, tidak ada tangan manusia yang mampu membuat ruangan semacam ini kecuali langkan yang menjadi penghubung dari rumah utama ke ruangan ini.
Malah agaknya tempat ini awalnya merupakan tempat yang terpisah dari rumah utama, mungkin tempat ini semacam gua yang tadinya dihuni binatang liar. Dan atmosfer liar dan buas tetap terasa diantara remang yang membungkus ruangan yang sama sekali tidak dilengkapi penerangan apapun.
”Halo...” seru Yudi. Dia sengaja menegur duluan agar siapa pun yang ada di tempat aneh itu tidak berpikir dirinya lawan atau ancaman. ”Halo...namaku Yudi. Ada orang disini?” Kosong. Tak ada jawaban. Oleh karena itu dia memanggil lagi, ”Jangan takut. Aku teman bunda Mawar…aku cuma ingin bicara.”
Karena tak ada sahutan Yudi memutuskan melangkah lebih jauh tapi begitu lampu yang dibawanya menerangi bagian tergelap di pojok ruangan, hatinya tersentak. Pantas ruangan ini berbau apek. Berbeda dengan apek yang disebabkan oleh debu atau usia, bau apek ini lebih menyengat dan sedikit anyir...dan bukit tulang dihadapannya itulah penyebabnya.
Pikirannya kacau saat memperhatikan pemandangan gundukan tinggi yang terdiri dari kerangka manusia... jumlahnya mungkin ratusan hingga bisa bertumpuk setinggi tubuhnya...dan mirinya lagi kerangka-kerangka itu berukuran kecil yang sepertinya cocok dengan kerangka bayi berusia satu hingga tujuh bulan. Jelas sekali terjadi pembantaian bayi di ruang bawah tanah ini dan tangisan yang didengarnya beberapa menit lalu mungkin saja merupakan salah satu bayi yang akan jadi korban berikutnya. Siapa pun yang begitu tega membunuh bayi-bayi tak berdaya ini pastilah **** tengik!!!
Sebagian besar tulang itu telah mengering, beberapa diantara tumpukan bagian bawah pun sudah melapuk, yang menandakan gundukan keragka ini merupakan sesuatu yang cukup lama tersimpan di bawah sini. Mungkin hanya kelembaban ruangan yang membuat bukit tulang itu bertahan dari kehancuran, sementara koloni semut dan kecoak merupakan pihak penikmat dari aktivitas pengumpulan yang gila ini. Serangga-serangga itu acuh tak acuh saat menyusur bukit tulang dari satu tempat ke tempat lain, beberapa diantaranya bahkan menyeret laba-laba mati untuk dibawa ke sarangnya di balik tumpukan kerangka.
Kepala Yudi mendadak pusing tujuh keliling, apalagi kalau bukan perasaan kaget yang bercampur baur dengan bau menyengat tulang-tulang tua di hadapannya itu. Dipaksakannya buat menghampiri sudut terbelakang, dimana ruangan itu makin menyempit, sisi kiri dan kanan lorong yang tidak terlalu luas itu bagaikan mengurung dirinya dalam kotak hitam hampa udara, peluh sebesar biji kacang perlahan mulai mengalir deras di dahinya.
Yudi merasakan ribuan pasang mata terarah kepadanya dengan sikap menyalahkan, sebagian lain memancarkan aroma permusuhan. Di saat bersamaan hatinya pun mengatai dirinya sinting bila nekad terus maju demi sekedar memuaskan rasa ingin tahu, siapa yang akan menolong dirinya bila makluk ganjil itu tiba-tiba menyerangnya saat
ini juga?
__ADS_1
Bila itu terjadi maka dia akan bernasib sama seperti orang-orang malang yang telah berubah menjadi tumpukan kerangka itu. Yudi sangsi Bunda Mawar atau Mirna mau berbaik hati mengambil jasadnya dan mengirimkan pulang ke Jakarta, akan lebih mudah bagi mereka membiarkannya membusuk disini setelah dijadikan santap malam makluk mengerikan yang tinggal disini...
Menyusuri lantai setapak demi setapak Yudi terpana melihat sosok di lantai. Sosok itu terbaring di atas genangan darah yang bercampur dengan cairan kehijauan yang aneh, matanya terpejam menahan sakit hebat yang rupanya berasal dari lubang di perutnya. Lubang yang nyaris membuat Yudi muntah karena mual karena lubang itu merupakan cabikan ganas dari cakaran yang begitu dalam. Bekas cakaran itu menghitam, berarti luka itu sudah cukup lama dideritanya. Hanya dengan semangat bertahan yang hebat sosok itu sanggup bertahan dari kekurangan darah. Meski tubuhnya hancur parah, wajahnya yang berlumuran darah masih menampakkan bentuk yang bisa dikenalinya sebagai wajah....
”Pak Wayan?”
Sosok itu mendongak, berusaha mencari asal suara, dan kaget mendapati Yudi. Belum sempat pria malang itu menjawab Yudi mendengar geraman dari belakang yang membuatnya berbalik serta merta dan terperangah mendapati mendapati makluk setinggi dua setengah meter berwajah jelek itu. Tulang punggungnya melengkung membungkuk, entah supaya tidak terantuk langit-langit akibat tubuhnya yang diluar ukuran manusia normal atau akibat sepasang kakinya yang tertekuk ke belakang mirip kaki burung unta.
Lekuk otot menonjol di balik tubuhnya yang tanpa bulu ataupun kulit, mungkin yang membungkus tubuhnya itu sesuatu yang menyerupai bonggolan daging kecoklatan. Lima cakar hitam menghiasi sepasang tangannya yang kurus kaku. Kepalanya merupakan gabungan antara wajah kucing dan makluk luar angkasa dengan rongga hitam besar tanpa bola mata. Bibir yang mencebik tebal berlumuran cairan hijau kental yang menetes mirip limbah beracun. Ketika makluk ganjil itu menyeringai nampaklah gigi-gigi runcing di balik lidah panjangnya yang terlelet mirip ular.
”Apa yang...”
Makluk itu meraung keras. Dan Yudi sadar raungan itulah yang didengarnya dua malam lalu. Suara itu jelas datang dari rumah ini, bukan dari hutan seperti dalih Bunda Mawar. Monster itu menyipitkan mata dan berjalan mendekat, tangannya yang dipenuhi cakar hitam itu teracung ke depan seperti siap menyabit leher Yudi menyerangnya. Merasa dirinya terancam Yudi mundur teratur. Saat menengok ke belakang dia merasa kecut sebab disana hanya ada dinding rata. Sama sekali tidak ada jalan keluar baginya, dia terjepit diantara monster itu dan dinding, bersama Wayan yang kondisinya tidak mungkin bisa memberikan banyak bantuan, bahkan bisa jadi memerlukan perlindungannya dari makluk jelek itu.
Apa lagi yang bisa dilakukannya dalam posisi terjepit ini selain melawan? Yudi tahu dirinya bukan tandingan makluk besar ini...dalam sekali pukul saja dirinya bakal terpelanting ke lantai...tetapi seandainya harus mati di tempat ini dia menolak untuk mati tanpa perlawanan. Setidaknya dia harus bisa memberikan semacam luka yang tak bakal dilupakan makluk jelek tersebut.
”Yudi? Ngapain kamu disini?” tegur seseorang dari balik kegelapan.
Yudi lega begitu mengenali suara Bunda Mawar. Kemunculan wanita itu menimbulkan harapan agar makluk ini bisa diusir pergi, ”Bunda Mawar, tolong jauhkan makluk ini...”
__ADS_1
Perhatian makluk itu terganggu dan menengok ke belakang, pada saat itulah Wayan dengan sisa tenaganya mengambil sesuatu dari saku bajunya dan melemparkannya ke lantai. Sekejap mata terdengar sesuatu meledak dan ruangan dipenuhi asap biru yang menyesakkan dada. Lampu minyak yang dibawa Yudi jatuh dan pemuda itu terbatuk-batuk. Lehernya sakit, seperti tercekik. Dia berjongkok menahan nyeri. Saat itu seseorang meraih tangannya disertai teriakan serak, ”Pegang aku…”
Ternyata itu Wayan. Sebelum memegang tangan pria itu Yudi sempat melihat sebuah benda dari emas dengan simbol bintang yang terbelit sabuk cincin seperti cincin saturnus di telapak tangannya, setelahnya Yudi merasakan seluruh sendi tubuhnya laksana tersengat listrik jutaan volt. Sebelum Yudi sempat menyadari sepenuhnya apa yang terjadi terdengar desisan yang makin keras seiring asap tebal yang menyelubungi dirinya. Asap putih itu bergerak naik bagai riak air di kolam tenang…hanya itu yang diingatnya....
Berikutnya didapatinya dirinya berada di tepian jalan raya yang gelap. Tidak ada lagi monster...bukit tulang...Bunda Mawar...atau ruang bawah tanah. Hanya jalan beraspal kelabu dengan hutan mengapit di kedua sisinya,bersama Wayan yang masih terbaring di tanah, tidak mampu bangkit. Yudi berjongkok untuk memeriksa lelaki itu secara seksama, badan pak tua itu menggigil, mungkin karena hawa dingin sekeliling yang menggigit atau mungkin juga daya tahan yang mulai menurun akibat darah yang tak kunjung berhenti dari lukanya. Yudi bergegas melepas jaket dan memakaikannya kepada Wayan, ”Kamu bisa bertahan?”
”Sudah kulakukan dari beberapa hari lalu...” jawab Wayan tertatih-tatih.
”Aku akan cari pertolongan....” ujar Yudi sementara Wayan mengangguk lemah.
Pak tua itu harus segera dibawa ke rumah sakit atau dia akan mati di tempat yang tidak sepatutnya seperti tempat ini. Sialnya Yudi sama sekali tidak punya perkiraan dimana dirinya berada. Jalanan ini benar-benar asing baginya. Entah apa ada rumah penduduk di dekat-dekat sini, dan bila dia meninggalkan pria ini sendirian untuk mencari rumah penduduk terdekat pun rasanya terlalu berbahaya. Bisa-bisa monster yang ada di ruang bawah tanah rumah Mirna berhasil melacaknya...dan kalau itu terjadi Wayan pasti tidak bisa lolos untuk yang kedua kali...
Di tengah kebingungannya terdengar derum mesin sebelum kemudian sepasang sorot lampu mobil menembus kegelapan malam, menguakkan embun kabut yang turun di pagi buta, dan kendaraan itu nampak menyusuri aspal kelabu untuk melaju ke arahnya. Truk itu adalah truk pengangkut kayu yang biasa beroperasi malam hari, dan kedatangannya yang tepat waktu bak hujan yang mengakhiri gersangnya kemarau.
Yudi segera berlari ke tengah jalan seraya melambaikan tangan buat menghentikan truk. Itu sesuatu yang nekad karena biasanya truk-truk di daerah itu tidak akan mempedulikan orang yang lewat pada jam seperti sekarang. Jalanan di hutan Kalimantan terkenal angker oleh perampok dan begal hingga para supir truk biasanya tidak sudi berhenti meski ada penghalang di hadapanya, sebab mereka tak ingin tertipu oleh kawanan perampok yang biasanya memakai cara-cara semacam itu untuk membuat korbannya berhenti, sebelum membantai dan merebut truk milik sang supir truk.
Sang pengendara truk jelas dapat melihat sosok Yudi berdiri di tengah jalan dan karena Yudi tak menunjukkan tanda-tanda mengalah meski truk itu berkali-kali mengklakson akhirnya si supir truk yang kemudian menginjak remnya secara mendadak. Kendaraan besar itu nyaris terguling dengan cara penghentian sedemikian rupa. Hembusan angin rem mengendus keras berbarengan dengan uap dari knalpot di samping pintu pengemudinya yang mengepulkan asap pekat bergulung berwarna hitam seperti asap yang keluar dari perokok yang terbatuk-batuk.
Truk itu berhenti tidak sampai satu meter dari tempat Yudi berdiri dan kepala sang supir melongok dari jendela pintu, ”Hey, setan! Apa kamu sudah gila berdiri di tengah jalan seperti itu? Kamu bisa mati tahu! Dasar goblok! Minggir...”
__ADS_1
”Tolong kami...” balas Yudi dengan wajah memelas. ”Kami diserang binatang buas...”
***