KUYANG

KUYANG
Episode 33


__ADS_3

Yudi menghela nafas berat, berusaha menguasai frustasi yang menghampiri, ”Gue sendiri nggak tahu apa yang terjadi. Rasanya dunia sudah benar-benar gila! Gue merasa gue hanya pergi selama tiga hari ke rumah Mirna, dan tahu-tahu semua orang bilang gue hilang tiga bulan. Ini benar-benar sinting...”


Danu tersenyum hambar, ”Memang sih! Cerita kamu buatku...sulit dipercaya...”


”Jadi elu bilang gue berbohong?” tukas Yudi dengan nada tersinggung.


”Aku nggak bilang begitu. Hanya saja kisahmu itu...seperti bukan berasal dari dunia ini. Tapi aku menduga hilangnya kamu itu memang karena masalah perempuan.”


”Maksud elu?” Yudi masih ragu-ragu meski mulai dapat membaca arah pembicaraan.


”Memang bukan soal Mirna, karena aku baru tahu hal itu darimu barusan. Masalahnya kenapa nggak jujur sama aku? Kenapa nggak bilang Siska hamil?” tanya Danu dengan mata berkilat-kilat menahan marah.


Yudi terkejut, ”Jadi elu sudah tahu?”


”Saat tahu soal Siska, aku paham kenapa kamu mau lari dari tanggungjawab. Sayangnya keputusan itu nggak tepat, bikin orang lain berpikir buruk tentang dirimu.”


”Gue nggak mungkin melakukan itu...gue...gue hanya tertinggal pesawat dan karena jadwal penerbangannya diundur tiga hari gue memutuskan untuk...menginap di rumah Mirna.”


”Bukankah akan lebih mudah jika kamu minta bantuanku?”


”Gue...gue tidak mau merepotkan elu sama Indri.”

__ADS_1


”Omong kosong! Dan sekarang lihat hasilnya karena kamu merasa nggak enak minta tolong sama kami?” Danu meradang sementara Yudi diam membisu. Tak ada yang bisa disembunyikan dari sahabatnya itu, dia memang ingin melakukan seperti yang diucapkannya. Dia memang ingin menginap di rumah Mirna dengan sengaja, meskipun situasi yang mengarahkan tapi keputusan berasal dari Yudi sendiri. Danu melanjutkan, ”Kalau begitu boleh dong, gue berpikiran jelek begitu? Sebab gue yakin gadis itu nggak mau kehilangan elu. Dia ingin elu jadi pacarnya... mungkin juga suaminya...dan melupakan Siska yang saat ini tengah hamil.”


”Bukan begitu kejadiannya!” Yudi menanggapi dengan ketus. ”Dia memang mendekati gue tapi gue...tidak bisa menerimanya.”


”Yeah, tapi kamu mau saja bersamanya selama tiga bulan...dengan waktu selama itu apa saja bisa kamu lakukan bersamanya, bukan?” kata Danu.


”Tiga bulan? Gue tidak...”


”Dan selama kalian asyik berduaan, aku kehilangan bayi! Kemana sahabatku di saat aku membutuhkannya pada masa-masa yang tidak enak?” kali ini Danu yang berteriak marah.


Yudi menyangka Danu selesai tetapi ternyata itu barulah awalnya karena Danu terus menyerocos,”Dan selama kalian berdua bermesraan di suatu tempat...gue harus membereskan semuanya...istri yang trauma melihat kucing, pekerjaan tambahan dari sahabat baik, dan boss yang mengomel setiap saat dan ringan tangan memberi surat peringatan karena pekerjaan gue sendiri jadi tertunda.”


”Gue...gue..maafkan gue...” Yudi menambahkan dalam hati, jika itu membuatmu lebih baik walau sebenarnya dia tidak ada kaitan dengan masalahnya. Yudi bisa saja tersinggung oleh tuduhan tak berdasar Danu tapi akal sehatnya mengingatkan bahwa dirinya punya andil melakukan kesalahan, jika saja ditolaknya tawaran menginap Mirna peristiwa-peristiwa ini tak akan terjadi. Kesempatan kecil ternyata menjadi pendorong nafsunya yang liar...


”Nyatanya memang begitu.”


”Dan karena kalian sama-sama jadi korban dari apa yang terjadi tiga bulan ini kupikir kalian bisa bicara baik-baik...”


Yudi mengerutkan kening, ”Siapa?”


”Dia juga bisa jadi saksi untuk memperkuat pernyataan bahwa kamu memang sudah menghilang tiga bulan ini...” begitu Yudi menoleh pada suara yang tiba-tiba menegurnya dari belakang hatinya mencelos.Tak ada yang berubah sejak terakhir kali dilihatnya gadis itu di Jakarta saat bulan Desember tahun lalu.

__ADS_1


Dia tetap menawan, anggun, dan penuh wibawa meski tubuhnya banyak berubah, terutama perutnya yang besar dan menonjol di balik pakaiannya, sementara wajahnya yang kusut lengkap dengan mata merahnya yang jelas menunjukkan betapa dia menangis sebelum keduanya bertemu. Kepercayaan diri gadis itu berada pada tingkat terbawah periode kehidupannya.


“Siska?” desis Yudi. “Sejak kapan kamu…”


”Dari menit pertama kamu masuk ke rumah ini,” jawab Siska.


Yudi menatap Danu dengan pandangan sebal karena temannya itu sama sekali tidak memberitahu keberadaan Siska sejak awal. Ini sama saja menjerumuskannya ke jurang, dan entah berapa banyak yang didengar gadis itu dari pembicaraannya dengan Danu karena Siska mengatakan dia ada di tempat ini sejak pertama kali dia masuk kemari. Disamping itu dia tidak mengerti bagaimana Siska bisa berada di rumah Danu sebab mereka belum pernah bertemu, dan dia memang belum pernah mempertemukan mereka berdua meski Danu sahabatnya dan Siska itu pacarnya.


Paham dengan makna tatapan itu Danu mengangkat bahu acuh tak acuh, ”Kami tidak sengaja bertemu ketika Siska datang ke kantor minggu lalu mencarimu. Untung kami bisa bertemu, sejak itu aku dan Indri mempersilakannya tinggal disini selama pencarianmu karena aku...” tangannya menunjuk Yudi. ”...aku yakin ini adalah tempat yang akan kamu datangi bila kamu muncul kembali.”


Maksud Danu mungkin baik, agar keduanya dapat menyelesaikan persoalan tanpa campur tangan pihak ketiga tapi kebisuan tiba-tiba menyelimuti seluruh penjuru ruangan. Yang lelaki merasakan tidak nyaman akibat kecanggungan yang dihasilkan oleh rasa bersalah sementara yang wanita mendadak kaku oleh emosi tertahan dari sakit hati dan derita rasa malu yang bertumpuk sekian lama. Danu jadi merasa kikuk dan berkata sebelum meninggalkan ruangan, ”Kalau begitu gue tinggalkan kalian berdua...”


Enam bulan...


Yudi menatap perut Siska dengan tersiksa. Tidak menyangka dirinya sudah jadi ayah, dalam waktu secepat ini, dalam waktu yang tak terkira, dalam waktu dimana dirinya belum siap lahir-batin. Apalagi tidak ada satu momen pun dimana dia tak memikirkan Mirna, juga kemungkinan menggugurkan kandungan dan menyudahi hubungannya bersama Siska.


Tapi...ya, ampun...enam bulan...sadarkah apa yang telah dia lakukan?


Kehamilan sebesar itu bukan sesuatu yang dapat disangkali begitu saja. Ditatapnya perut besar Siska dengan kecemasan hebat. Ada sebuah kehidupan di dalam sana yang pada saat ini seolah menatap dirinya dengan lekat, memancarkan kemarahan seperti yang diberikan sang ibu. Siska berdiri mematung dengan tangan terlipat di depan dada. Yudi belum pernah melihat gaya Siska seperti ini karena gadis itu kelihatan begitu berbahaya pada saat itu. Demi mencairkan situasi Yudi berinisiatif membuka percakapan, ”Bagaimana kabarmu? Aku...”


Sebuah tamparan mendarat di pipi Yudi. Keras, cepat, dan tak sempat dihindarinya... PLAK!!!

__ADS_1


Bukan rasa nyeri yang menguasai Yudi setelah tamparan tadi melainkan rasa bersalah yang luar biasa. Perisai kemarahan Siska sendiri tampaknya lenyap, hancur-lebur dengan seketika bersamaan dengan melayangnya tamparan tadi. Gadis itu meringkuk di sofa, menutupi wajah dengan bantal sementara menangis hebat. Yudi hanya berdiri laksana orang tolol, tidak tahu harus melakukan apa selain menunggu tangisan Siska mereda...


***


__ADS_2