
”Perisainya. Kamu pikir dia mau meninggalkan tubuhnya tanpa perlindungan?” sahut Wayan yang pada saat itu membuka jari-jemari tangannya yang terjulur ke depan hingga bubuk putih yang semula berada di telapaknya menghambur ke sekitar tubuh kuyang. Bubuk putih itu menguakkan tabir perisai berupa sinar biru di sekeliling tubuh kuyang. Sinar biru itulah yang dirasakan panasnya oleh Yudi barusan.
”Kenapa tidak kelihatan di kaca pembesar?”
”Perisai itu kamuflase pikiran yang rumit dan hanya bisa dilihat dengan mata hati. Kaca pembesar ini mampu menyingkirkan kamuflase itu sehingga bentuk aslinya dapat kita lihat.”
”Omongan anda membuat semuanya terdengar rumit.”
”Sulit mengandalkan kemampuan kepada benda materi, apalagi berhubungan dengan ilmu hitam. Kamu harus punya kekuatan spiritual. Itu tingkatan berikutnya dari keahlian menggunakan benda. Lihat...”
Aliran listrik biru dan perak berpendar bergantian di sekitar tubuh kuyang, makin lama makin lemah, dan meski tidak kelihatan lagi Yudi bisa merasakan sesuatu seperti turun dari bagian atas tubuh itu...terus hingga meluber ke mata kaki dan lenyap ditelan tanah...
”Pasir putih...selalu berhasil...” gumam Wayan seperti menyombongkan diri.
”Berhasil untuk?” Yudi kembali bertanya.
Lelaki tua itu tak menggubrisnya, menggumamkan suatu kalimat dengan cepat, ”Dari tanah balik ke tanah...debu jadi debu...debu suci...pasir putih....” sebelum mengeluarkan kotak hitam berbahan kulit yang berukuran sebesar dompet wanita dari saku jaket. Digesernya selot ke samping untuk membuka tutupnya. Empat buah jarum baja perak sepanjang lima belas senti terjajar rapi di permukaannya yang dilapisi beludru biru dongker. Jarum-jarum itu jelas bukan untuk keperluan menjahit.
Satu per satu dikeluarkannya jarum dari dalam kotak sebelum ditusukkan ke batang leher kuyang. Masing-masing di tiap sisi, kiri, kanan, depan, dan belakang. Setiap jarum menembus daging sang siluman yang telah menghitam, dan tidak lama setelah jarum menembus daging keluarlah asap kelabu berbau apek. Wayan begitu tenang, bau itu sepertinya tidak mempengaruhinya, padahal di pihak lain Yudi sudah mulai mual lagi.
”Apa sih yang anda lakukan?” tanya Yudi seraya menguasai keinginan muntah.
”Ssshhh...bantu aku...” Wayan menanggapi sambil membungkuk memegang pinggang makhluk itu. ”Pegang sebelah sana...”
Yudi ikut membungkuk dan memegang pinggang tubuh kuyang dari belakang. Meski tubuh wanita ini tidak besar Yudi heran karena bobotnya amat berat. Keduanya membalikkan tubuh si kuyang ke arah berlawanan. Wajah Wayan berubah lalu segera mendongak ke langit kelam, ”Dia datang...”
__ADS_1
Seperti yang sudah-sudah Yudi tetap tidak melihat atau mendengar apapun, namun dia memilih diam dan mengikuti Wayan yang berlari ke arah semak-semak yang berada beberapa meter dari tempat si kuyang menyembunyikan tubuhnya lalu merunduk disana. Tidak sampai lima menit kepala terbang itu mendekati gubuk, terbang berputar diatasnya beberapa kali bagai rajawali mengintai mangsa, memastikan keadaannya aman baginya sebelum masuk ke dalam.
Dari dalam gubuk terdengar jeritan melengking memecah keheningan malam tak lama kemudian, Yudi harus menutup telinga kuat-kuat karenanya. Siluman itu pasti sudah mendapati hasil pekerjaan Wayan, yang membuatnya tidak dapat kembali ke tubuhnya, dan itu pasti sangat menyakitkan!
”Ayo...”
Ketika menghambur ke gubuk sebilah tongkat pendek telah digenggam di tangan kanan Wayan. Yudi tidak mau melewatkan satu adegan pun sehingga dia segera berdiri dan berlari di belakang Wayan. Dari belakang bahu lelaki itu dilihatnya bagaimana si kuyang berusaha keras kembali ke tubuhnya dengan menggigit jarum dan berusaha menariknya keluar dari batang lehernya. Semakin keras ditarik, benda itu tertancap makin kuat, malahan makin banyak darah yang meluber keluar.
”Jika kamu berhasil mencabutnya pun kamu tidak dapat kembali dengan arah itu...”
Makhluk kepala tanpa tubuh itu berbalik dan menatap Wayan dengan buas. Tetapi kebuasannya itu mirip macan ompong, hanya sebatas menggertak, dia tidak mampu melakukan lebih dari itu. Seringai di mulutnya memperlihatkan sepasang taring yang berlumuran darah. Kantung tebal nampak menggantung di bagian bawah rongga matanya yang dihiasi lingkaran hitam. Tidak nampak ada bola mata di dalam rongga itu. Bola matanya mungkin membesar dan seperti mata kucing bola mata itu memenuhi seluruh rongga mata.
”Bagaimana kepala tanpa tangan bisa melakukannya?” ejek Wayan.
”Rupanya kamu yang selama ini berulah...” si Kuyang menyahut dengan suara mengambang aneh.
”Dengan membunuh saudara-saudaraku?”
”Mereka layak mendapatkannya...begitu juga kamu...”
”Aku hanya mencari bayi yang tidak diinginkan ibunya..”
”Bukan berarti kamu berhak mengambilnya untuk kepentinganmu. Dewata memberikan nyawa dan kesempatan bagi bayi-bayi itu...”
”Dewata?” Kuyang itu tertawa mendesis. ”Kalau memang ada yang bernama Dewata.”
__ADS_1
”Kenapa kamu tertawa? Kenapa kamu tidak percaya?” sela Yudi marah.
Kuyang itu berpaling pada Yudi, ”Sosok yang bisa hidup kekal bukanlah Dewata...itu kami...berarti kamilah yang sebenarnya harus dipuja...” si Kuyang kemudian mendapatkan sesuatu di mata Yudi. Sesuatu yang cepat dan singkat itu ditangkapnya dengan sigap dan Yudi merasa seperti ada kekuatan persuasif menekan dirinya dengan cara yang tidak bisa dielakkan. ”Aku memang patut dipuja,kan?” dia mendengar desisan itu di telinganya. ”Dan kamu akan merasakan nikmatnya kalau kamu dipuja oleh makhluk sepertiku...jadi lepaskan diriku...”
Desisan itu erotis, mengalahkan desahan manja pemain fim porno yang sedang beraksi, membawa Yudi dalam kerjapan mata menuju pelukan seorang wanita asing. Kulit wanita sintal itu kuning, sekuning nanas, tetapi lekuknya yang menggoda dan setiap bagian tubuhnya yang padat ranum membuat Yudi tidak bergeming dari dalamnya. Dia bahkan tidak punya keinginan untuk melihat seperti apa rupa wanita ini. Yang diyakininya, wanita ini pasti cantik sekali. Teriakan melengking si kuyang melenyapkan pesona pelukan wanita itu. Yudi terdorong ke belakang oleh seseorang dan gambaran wanita seksi tadi terenggut kejam, meninggalkannya tanpa makna...
Wajah buas sang kuyang kini sirna. Digantikan ekspresi pucat ketakutan. Hilang sudah sosoknya yang menakutkan saat membantai bayi dari dalam perut para wanita. Dia kini bagai layangan yang dipermainkan badai. Wayan telah menancapkan tongkat yang dibawanya tadi ke bagian dada dari tubuh kuyang. Saat tongkat tersebut dipuntir kuyang itu menjerit kesakitan.
Sadar dirinya dalam bahaya jika tetap berada disitu si kuyang berusaha kabur. Wayan bergerak mendahului, dicabutnya tongkat dari tubuh kaku kuyang dan diayunkannya beberapa kali di udara. Tercium bau belerang sejenak dan dari ujung tongkat yang berlubang keluarlah lidah api yang menyembur dan menyiram kepala terbang sang siluman.
Kepala itu melesat ke angkasa dengan kondisi terbakar hebat. Dari bawah sosok itu bagai bola api yang keluar dari sebuah mercon raksasa lalu pecah di udara sebelum akhirnya turun ke tanah menjadi serpihan abu yang terbakar. Bersamaan dengan hancurnya kepala siluman itu, tubuhnya ikut terbakar dan hancur jadi debu.
Api yang membakar tubuh kuyang ikut membakar bilik gubuk dan memaksa Yudi serta Wayan untuk keluar segera. Untungnya di sekeliling gubuk itu terdapat parit cukup dalam yang saat itu berisi air sehingga kebakaran tidak meluas ke sawah.
”Ayo...kita harus pergi dari sini sebelum penduduk berhamburan kemari,” ujar Wayan.
Keduanya berlari menjauh ke arah barat. Di sela nafas yang tersengal karena harus berlomba lari mengimbangi Wayan yang ternyata memiliki fisik bugar Yudi berkata asal, ”Tidak bisakah kita naik bola kaca itu lagi?”
Wayan nyengir, ”Temukan dulu kuyangnya...baru dia bisa aktif...”
”Jadi kita harus berlari seperti ini?”
”Yap...”
”Sial!” tapi di tengah hutan seperti ini jelas tidak ada transportasi sehingga mau tidak mau Yudi mulai mengikuti pak tua itu berlari.
__ADS_1
***