
Yudi ingat di mana makhluk itu pernah dilihatnya...dalam mimpinya ketika dia menemukan Wayan yang sekarat dan secara ajaib membawanya lari dari ruang bawah tanah inib. Ditahannya nafas...jangan-jangan yang disangkanya sebagai mimpi ternyata bukan mimpi...mungkin inilah kenyataan yang sebenarnya dan dia dipaksa mengalaminya lagi...kali ini tanpa harapan meloloskan diri...
Makhluk itu mendengkur lirih...sepertinya merasa puas karena memperoleh sesuatu yang...atau mungkin juga karena kekenyangan...dan dia berputar-putar laksana anjing yang tengah memastikan bahwa tempat yang dipilihnya cukup nyaman buat berbaring. Bau busuk tercium dari sekujur tubuh makluk besar dan aneh itu. Baunya sama dengan bau yang terpancar dari bukit tulang-belulang itu, bau daging busuk dan kematian!
Langkahnya yang kikuk begitu kontras dengan kekejaman yang terbias dari struktur tubuhnya yang didesain untuk bertempur. Setelah memperhatikan lebih seksama Yudi menyadari bahwa kekikukkan geraknya disebabkan oleh bola besi sebesar bola sepak yang diikatkan dengan rantai baja di kakinya. Kini Yudi paham darimana suara berat yang bagaikan garukan menggumam itu berasal, tidak lain dari bola besi yang ditarik oleh makhluk itu saat berjalan.
Tapi kenapa makhluk itu diikat begitu? Tak ada binatang yang dengan sengaja memakai bola besi macam itu. Seseorang pasti memakaikan itu padanya....
Makhluk menakutkan itu bergerak mendekati bukit tulang sehingga dia tinggal lima meter jauhnya dari tempat Yudi bersembunyi. Menyadari hal itu Yudi beringsut menjauh, langkahnya bergeser pelan di ubin lantai yang kasar. Manusia normal mungkin tidak dapat mendengar gesekan tadi namun itu cukup mengundang perhatian si monster. Dia berhenti. Membisu. Yudi yang kuatir akan ketahuan segera menahan diri untuk tidak bernafas, rasanya tarikan nafas sekecil apapun dapat terdengar oleh si monster yang tengah berdiri tegak di kegelapan dengan cakarnya yang terangkat tinggi.
Makhluk itu bahkan mengendus-endus di udara untuk mencari tahu apakah ada makhluk lain di sekitarnya. Yudi berharap penciuman makhluk itu tidak setajam anjing, atau serigala, atau binatang lain yang akan membuatnya semakin gelisah. Untunglah setelah menunggu beberapa menit makluk itu nampak lebih tenang, mungkin sudah yakin karena tak merasakan adanya makhluk lain di tempat itu, dan dia duduk lutut tertekuk di lantai..
Tiba-tiba seluruh tubuh makhluk itu bergetar...tertekuk ke depan lalu ke belakang... terdesak oleh kekuatan dari dalam tubuhnya yang hendak memaksa keluar...dengkurannya berubah menjadi lolongan tertahan kesakitan.Yudi menutup telinga buat mencegah lolongan itu menghancurkan gendang telinganya. Sang monster bergerak-gerak tidak normal; tertekuk dengan posisi aneh, membesar kemudian dengan cepat mengerut, bergantian mulai dari bagian atas lalu bawah tubuhnya.
Ototnya yang terjalin liat itu mengendur, kulit yang sekeras baja perlahan melembut, pada akhirnya tubuh makhluk yang tadinya berukuran raksasa itu kini tak lebih dari dirinya. Rantai baja yang mengikat kaki makhluk itu jatuh ke bawah dengan suara berdenting. Kaki besar si makhluk telah mengecil hingga dapat lolos dari genggaman gelang besi. Sosok itu duduk memunggungi dinding dengan sepasang kaki tertekuk di dada sebelum mulai menangis.
Karena tak lagi merasakan sinyal bahaya, Yudi keluar dari persembunyian. Apalagi dia begitu ingin tahu seperti apa sosok itu saat ini. Pemuda itu berjalan mendekati si makhluk, berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apapun karena tidak ingin membuatnya kaget. Meskipun tidak berbentuk monster tapi tidak ada jaminan bahwa makhluk itu tidak lagi berbahaya. Siapa tahu makhluk itu bisa kembali ke wujudnya semula dan menyerang begitu menyadari kehadiran Yudi di dekatnya.
Makhluk itu masih terus menangis...entah kenapa...hanya saja Yudi merasa tangisannya itu bukan sesuatu yang palsu. Makhluk ini memang tengah kesakitan dan dia perlu pertolongan...
”Kamu baik-baik saja?” sapa Yudi ketika sudah berada amat dekat dengan makluk itu. Jarak yang dirasakannya cukup untuk melihat makhluk itu dengan jelas tapi sekaligus menjaga jarak aman bila dirinya harus lari sewaktu-waktu. Tangisan sosok itu lantas terhenti, entah karena kaget karena tak menyangka ada orang lain di tempat itu atau heran pada kebodohan pertanyaan Yudi hingga pemuda itu melanjutkan ucapannya.”Kelihatannya kamu kesakitan. Bisa kubantu?”
Menawarkan pertemanan menurutnya awal yang baik. Bila makhluk ganjil ini tahu niat baiknya, setidaknya sang lawan akan mengurungkan niat buat menyerang...bahkan mungkin memakannya. Memakannya? Yudi mengecam dalam hatinya, ayolah Yudi, memikirkan hal itu saja sudah bikin merinding...
__ADS_1
Sosok itu ternyata seorang gadis. Mukanya lusuh penuh lumpur. Matanya sayu. Rambut panjangnya terjuntai acak-acakan sementara tubuhnya tidak terbungkus kain selembar pun dengan rantai besi kebesaran melingkari mata kakinya, untuk ukuran makhluk sebesar tadi mungkin rantai besi itu dapat menjadi belenggu namun dalam bentuk manusia normal belenggu itu bukan lagi penghalang. Yudi tertegun saat menyadari bahwa gadis itu ternyata Mirna.
Pemuda itu mendekat dan memeluk Mirna dengan erat, ”Kamu kok bisa disini? Kupikir kamu pergi ke kantor hari ini?”
”Itu bukan aku...” desis Mirna.
”Apa maksudmu itu bukan kamu?”
Wajah Mirna mengernyit. Dia meringis bagai sedang menahan sakit, tertunduk dan memegangi dadanya sembari mengaduh. Tak percaya mendapati Mirna dalam keadaan seperti itu, serta-merta Yudi memeluknya, ”Kamu kenapa?”
”Ba...bawa aku kesana...” Mirna menunjuk sudut dinding yang berjarak dua meter dari bukit tulang.
Di tempat yang ditunjuk Mirna itu terdapat palang kayu dengan sepasang lubang yang saling bersisian. Lubang itu besar, jelas tidak dapat digunakan untuk mengunci kaki manusia normal. Bagian atas palang berada dalam posisi terbuka dan ada selot bergembok di kiri-kanannya yang siap dikunci jika kedua sisi palang itu bertemu. Palang itu besar dengan ketebalan kira-kira lima puluh senti. Bagian dasarnya dilapisi beton yang menancap kuat pada lantai berbatu. Sebuah pasungan...
”Kamu mau aku menaruhmu disana?” Yudi bertanya sangsi.
”Tidak! Seharusnya kamu tidak disini, Mir...”
”Kamu tidak mengerti...” Mirna pucat karena cemas sekaligus kesakitan.
”Ceritakan padaku...” protes Yudi menuntut. "Ada apa sih ini?"
”Nanti saja...sekarang kita harus kesana...” Mirna berkata dengan terengah-engah. Didorongnya Yudi sementara gadis itu berlari menjauh sembari memegangi dadanya lebih erat. Punggungnya tertekuk makin melengkung. ”Terlambat...tidak ada waktu...”
__ADS_1
”Mirna...” Yudi berusaha memapah gadis itu agar berdiri.
”Keluar. Kamu harus keluar sekarang.”
”Tenanglah Mirna...aku akan membawamu ke atas.”
Suara Mirna meninggi. Kelihatan sekali dia makin panik. Itu bisa dimengerti jika melihat bonggol ototnya yang bergerak-gerak aneh tak beraturan, ”Keluar sekarang! Tinggalkan aku!”
”Aku mau menolongmu, Mir...”
”Kalau begitu pergi dari sini...PERGI DEMI TUHAN...PERGI CEPAT KALAU KAMU MASIH INGIN HIDUP”
Saat itu terdengar suara orang lain yang masuk ke dalam ruangan, ”Jangan berteriak-teriak begitu pada tamu kita, sayang.”
Mirna terbelalak, mendengus ketakutan, wajahnya yang pucat pasi menarik perhatian Yudi untuk melihat ke belakang. Sebenarnya dia sudah bisa menduga siapa orang itu. Bunda Mawar. Hanya saja dia tak mengira wanita itu muncul dalam bentuk seperti yang diperlihatkannya sekarang.
Saat itu Bunda Mawar memandang Yudi, ”Bukankah sudah kubilang agar kamu tidak masuk kemari? Ruang ini dikunci...jadi itu berarti terlarang buat orang-orang asing sepertimu...”
Yudi terperanjat, tak disangkanya bahwa dia akan melihat penampakan macam itu langsung di depan matany. Tapi ini bukan mimpi.,Apa yang ada di depan matanya sungguh nyata. Bunda Mawar memang ada dalam ruangan itu dengan tampilan ganjilnya...
Tak ada tubuh di bawah kepalanya, atau boleh dibilang seluruh sosok yang ada padanya saat ini hanya kepalanya saja, lengkap dengan organ bagian dalam seperti batang tenggorokan, paru-paru, dan jantung yang menggelantung di bagian bawah lehernya. Rambut hitamnya menjurai lebar menyerupai singa, wajahnya pucat bagai mayat, sementara di matanya tidak nampak bola mata sedikitpun, hanya bagian putihnya yang dominan sementar di bagian luarnya lingkaran hitam menghiasi. Kepala itu terbang di udara seperti UFO yang tengah mengintai objek penelitiannya di malam hari.
”...tapi nasehat orang demi kebaikanmu nampaknya tidak pernah kamu perhatikan. Itulah masalah anak-anak muda sekarang ! Tidak pernah mendengar nasehat orang tua.”
__ADS_1
”Kuyang....” desis Yudi.
***