KUYANG

KUYANG
Episode 26


__ADS_3

Ketiganya berkenalan dengan si badut sirkus yang rupanya tengah mencoba mainan barunya, bunga penyemprot air. Yudi sempat kesal karena saat berjabatan dengannya tiba-tiba tangannya belepotan telur. Namun dia akhirnya ikut terbahak-bahak pada si badut yang telah membuatnya tampak bodoh sebelum meninggalkan mereka, ”Sangat lucu!”


”Kamu harus memperhatikan tangannya sebelum menjabat tangannya,” kata Mirna.


”Tapi kenapa tangannya sendiri tidak terkena pecahan telur?” protes Yudi.


”Karena dia keburu mengangkat tangannya usai berjabatan,” kata El.


”Kalian berdua melihatnya?” Yudi tak percaya. ”Tanpa memberi peringatan padaku!”


”Kamu harus lebih jeli lagi untuk keluar dari akal bulus Oge,” komentar El tertawa.


”Dia pesulap atau badut, sih?” Yudi merengut.


”Oge memang belajar sulap-sulap murahan untuk melengkapi atraksinya. Supaya tampak lucu, katanya.”


Sari, si gajah bungsu yang dipilih Mirna kemarin rupanya masih ingat pada gadis itu saat mereka mengunjunginya.


Dia mengangkat belalainya dan mengeluarkan suara mirip terompet. Seperti dugaan Yudi tentang senyum palsu sang pelatih, lelaki itu tidak tersenyum sedikitpun saat mereka datang, sungguh berbeda dengan sikap hewannya yang lebih ramah. Mungkin merasa terganggu sebab dia baru saja hendak memulai latihan pagi itu bersama piaraannya. Walau begitu dia tidak menghalangi saat Mirna ingin membelai Sari.


”Kamu ingin digendong lagi olehnya?” tanya sang pelatih tanpa senyum sedikitpun.


”Tidak hari ini,” Mirna menolak. ”Kemarin sudah cukup.”


Sari terlihat sedikit kecewa, sang gajah menurunkan belalainya padahal dia sudah bersiap-siap melingkarkannya di pinggang Mirna. Kupingnya bergerak-gerak saat meninggalkan gadis itu untuk bergabung dengan anggota keluarga gajah yang lain.


Si pelatih hanya bicara atau menegur seperlunya saja, bahkan dia terlihat senang saat Sari harus pergi meninggalkan Mirna. Sikapnya sungguh berbeda dengan ketika di panggung. Mirna melambai dengan mata berkaca-kaca, sadar bahwa dia baru saja membuat hewan gemuk itu sedih. Gadis itu berseru, ”Lain kali ya Sari...” dan gajah itu merespon dengan dengusan sebagai jawaban.


”Mudah-mudahan dia tak terlalu kecewa,” ujar Mirna mengikuti Yudi dan El yang telah berjalan lebih dulu.


”Entahlah, gajah punya ingatan yang kuat, lho!” El menggoda.

__ADS_1


”Jangan begitu, ah! Aku jadi tidak enak kalau Sari jadi punya kesan buruk padaku.”


”Dia hewan yang baik. Aku yakin dia mampu mengingat yang baik tentang kamu. Lagipula kan kamu yang menjadikannya bintang pertunjukan kemarin,” hibur Yudi saat gadis itu menatap dirinya, meminta bantuan.


”Makasih, ya...” ujar Mirna, keduanya tidak melihat saat El tersenyum simpul.


Berikutnya mereka mendatangi pemain akrobat yang tengah meloncat-loncat di atas trampolin. Pemain akrobat itu bertubuh tinggi dan kurus. Rambutnya yang ikal berkibar di udara setiap kali dia meloncat-loncat. Kumisnya yang melintang sangat tidak pas dengan wajahnya yang mulus dan feminim. Saat menyadari kedatangan El, orang itu mengakhiri latihannya dengan dua buah lompatan berputar di udara sebelum mendarat di tanah. Mirna bertepukan dan orang itu menekuk tubuhnya dengan gaya seorang ksatria yang baru memenangkan duel.


”Kenalkan adik tiriku, Mirna. Ini temannya, Yudi. Ini Fadil.”


”Aku tidak tahu kalau kamu bisa punya adik yang cantik, El!”


”Jangan mulai Fadil.”


”Sungguh, kamu harus bersyukur karenanya.”


”Fadil ini pencela nomor satu, jadi kalian tidak perlu mendengarkan omongannya,” ujar El pada Yudi dan Mirna sementara Fadil hanya tersenyum lebar.


”Melompati tiga orang itu cukup sulit dan anda hebat bisa melewatinya,” ujar Yudi.


”Pasti mengerikan rasanya menyeberangi tali terentang di udara,” kata Mirna.


Fadil menoleh pada Mirna dengan wajah menantang, ”Apa kamu mau mencoba?”


”Aku? Oh, rasanya tidak,” Mirna menolak.


”Ayolah, rasanya menyenangkan. Aku yakin orang yang berani naik di punggung gajah pasti berani melakukan itu,” Fadil mengulum senyum.


Mirna tersipu malu, ”Kamu melihatku kemarin?”


”Tak bisa melewatkan pemandangan memesona seperti itu,” kata Fadil. Senyumnya terkembang di balik kumisnya yang tebal. Betul-betul tidak cocok. Yudi bahkan ingin menarik kumis itu untuk memastikan bahwa itu asli.

__ADS_1


Mirna tak bisa menolak saat Fadil menarik lengannya dan mengajaknya menuju sepasang pohon dimana diantaranya telah terpasang tali setinggi dada lelaki dewasa.


”Kamu mau aku menaiki itu?” tanya Mirna tak percaya saat Fadil menunjuk ke tali tersebut.


”Ya!” Fadil menjawab mantap.


”Tidak! Aku pasti terguling ke bawah.”


”Ini mudah, kok! Sangat mudah. Dan aku yakin kamu akan lebih cantik disini daripada diatas punggung gajah,” ujar Fadil setengah memaksa. ”Ayolah, ini kesempatan seumur hidup, lho! Rasakan asyiknya. Lagipula tak ada yang menertawakanmu disini. Aku tidak mungkin menawarimu kesempatan ini saat pertunjukan sebab ini tidak menantang buat penonton. Dan mengajakmu buat menyusuri tali di udara bersama kami jelas berbahaya.”


Mirna akhirnya melepas sepatu sebelum mengambil tongkat keseimbangan yang diberikan Fadil. Gadis itu naik ke atas tali dengan dibantu Fadil. Aksi itu menarik perhatian beberapa anggota sirkus lain, yang mulai berbaris melingkar di sekeliling tali, termasuk keempat teman Fadil dalam tim akrobat dan ikut menonton.


Yudi menahan nafas saat Mirna mulai melangkah, tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi nantinya, tapi ternyata Fadil tahu apa yang dilakukannya. Dia tidak melepas Mirna begitu saja. Ujung kanan dari tongkat yang melintang di depan dada Mirna dipeganginya dengan semacam cagak yang membuat benda itu membantu Mirna menyeimbangkan tubuhnya agar dapat sejajar dengan tali dan tidak jatuh sewaktu melangkahkan kaki disana.


”Ayo, pelan-pelan...perhatikan langkahmu...” desis Yudi. El memandang ke arahnya, seperti mendengar desisan yang tak terlalu keras itu, namun Yudi tidak menyadarinya karena sibuk memperhatikan Mirna yang telah melewati seperempat bagian dari tali tersebut.


Angin yang semilir mempermainkan rambut Mirna dan tali itu, bergoyang sedikit, tapi itu tak sampai mempengaruhi Mirna. Dia bergerak dengan lugas di atas tali, menapakan kaki satu persatu, bergantian, kanan lalu kiri, dan gabungan itu menghasilkan sebuah gambaran menyeluruh yang begitu indah. Tali transparan itu bagai udara kosong di bawah jejakan Mirna, membuat gadis itu nampak seperti berjalan di udara. Angin itu menghamburkan kelopak bunga yang tumbuh di pucuk-pucuk flamboyan itu dan menyirami Mirna dengan serbuk-serbuk keemasan. Yudi ternganga, Fadil benar...pemandangan ini lebih memesona dari Mirna diatas punggung gajah...


”Nah....saudara-saudara sekalian. Lihatlah, malaikat kita berjalan di udara dengan amat menawan,”  Yudi terhenyak sebab Fadil seperti bisa membaca pikirannya. Para penonton yang berkerumun pun bertepuk-tangan.


Mirna tersipu malu, mukanya memerah, dan pujian itu melambungkan dirinya sehingga dia jadi salah tingkah. Tak lagi fokus pada apa yang didepannya langkahnya meleset dan kehilangan keseimbangan. Mirna terpekik saat tubuhnya limbung ke belakang, Fadil gagal menguasai tongkat Mirna untuk membantu keseimbangannya, tubuh gadis itu memuntir cepat dan dia terjungkal ke bawah.


El berada paling dekat dengan Mirna tapi dia terlambat bereaksi akibat kekagetannya. Untungnya gerakan refleks Yudi cukup kuat, dia bergerak mendahului El dan secara spontan meletakkan tubuhnya di tanah, menjadi alas bagi Mirna, dan menangkap tubuh gadis itu sebelum membentur tanah. Badan Mirna menimpa dirinya dalam posisi telungkup, gadis itu mengaduh nyeri tapi setidaknya tidak senyeri punggung Yudi yang harus menahan Mirna dan terbentur tanah yang ditumbuhi tonjolan akar pohon.


”Kamu tak apa-apa?” tanya Mirna yang buru-buru berdiri dan menolong Yudi.


Yudi mengernyit, bukan karena sakit tapi sedih karena tidak dapat lebih berlama-lama lagi dalam benaman buah dada Mirna, ”Tidak, tidak apa-apa..”


”Wow, kita beri pujian pada tangkapan yang bagus,” komentar Fadil yang segera diikuti tepukan riuh. ”Sebuah akhir yang romantis buat sang bidadari...”


”Aku tak mau melakukannya lagi,” bisik Mirna di telinga Yudi.

__ADS_1


”Bagus, aku lega mendengarnya,” sahut Yudi. ”Aku juga tidak!”


***


__ADS_2