KUYANG

KUYANG
Episode 34


__ADS_3

Kendaraan itu menggelinding di jalan raya yang lengang, mengantarkan penumpangnya – Yudi, Siska, dan Danu – menuju mess KPC. Suasana hening menguasai mobil. Tak ada rasa gembira meskipun Yudi sudah kembali. Masing-masing memilih berdiam diri; Danu dengan sikap membentengi diri karena tidak ingin jadi pelanduk yang terjepit diantara kedua gajah yang sedang berseteru, Yudi masih tetap dengan rasa bersalah yang tak kunjung padam pada Siska, sementara Siska dengan kemarahan yang belum surut sepenuhnya.


Meski Siska sudah mendengar semuanya saat Yudi menjejakkan kakinya pertama kali di rumah Danu, itu semua bukan sesuatu yang penting lagi bagi Siska. Apapun yang terjadi pada Yudi di hari-hari kemarin, saat ini Yudi harus pulang ke Jakarta dan melangsungkan perkawinan sebelum dia melahirkan bayinya tanpa ayah.


”Tapi aku sudah kehilangan pekerjaan...” komentar Yudi dengan tampang tolol.


Siska memandangi lelaki itu seolah Yudi seonggok barang menyedihkan, ”Apakah itu masih penting sekarang?Pokoknya kamu harus pulang besok. Kamu bisa mencari kerjaan baru di Jakarta.”


Berbelok di perempatan ketiga setelah lampu lalu lintas di bundaran jalan Hasanuddin, mobil itu masuk ke gang mess karyawan yang sama kosongnya dengan kondisi jalan raya. Saat itu belum waktunya jam kantor sehingga para karyawan belum kembali dari kantornya. Mereka bisa bebas masuk ke kamar Yudi untuk mengambil barang-barangnya tanpa perlu menarik perhatian banyak orang, apalagi Yudi sudah menghilang begitu lama sehingga tentu banyak orang ingin mencari tahu tentangnya bila melihatnya disana.


Hanya Pak Agus yang menyambut mereka, dipandanginya Yudi dengan heran lalu bertanya dengan logat Melayu yang kental, ”Mereka mencarimu,bung. Kamu kemana saja?”


”Ada beberapa urusan yang perlu dibereskan.”


”Mereka bilang kamu...pulang ke Jawa buat menikah?”


”Itukah yang mereka katakan?” Yudi mengalihkan keingintahuan yang tidak perlu, dia memperlihatkan sikap yang terang-terangan kepada Pak Agus kalau dia tidak ingin ditanya-tanya lagi. ”Sebenarnya tidak! Saya ada urusan pribadi.”


”Kupikir kamu membawa sendiri kuncimu?” Agus akhirnya mengalah. Dia paham sikap Yudi dan tidak mendesak lebih jauh.


”Punyaku ketinggalan di laci kantor,” Yudi menjawab sekenanya.


”Nih, jangan sampai hilang karena kamu harus mengganti yang ini kalau kamu menghilangkannya...” lelaki itu menyahut setelah mengeluarkan deretan kunci dari balik meja.


”Jangan kuatir. Aku kan cuma sebentar memakainya.”


”Kalau aku tidak ada saat kamu kembali taruh saja kuncinya di gantungan lemari,” pria itu menunjuk lemari kayu yang menjadi tempat penyimpanan berbagai piagam dan piala lomba 17 Agustus-an antar kelurahan.


”Beres,” Yudi melambaikan kunci sebelum keluar ruangan diikuti Danu dan Siska.


”Lelaki yang menyebalkan,” gerutu Siska. ”Kamu ingat sewaktu kita menanyainya?”


Yudi yang berdiri di depan mereka tidak dapat mendengar obrolan mereka sepenuhnya tapi dia bisa menduga bahwa itu ada hubungannya dengan kejengkelan Siska menanyai Pak Agus  saat keduanya melakukan pencarian dirinya.


”Habis bagaimana? Dia juga karyawan KPC...sama seperti aku dulu...” Danu menjawab

__ADS_1


Yudi mendorong kunci ke lubang di bawah gagang dan memutarnya dua kali. Terdengar suara menceklik dan pintu itu terdorong ke sisi dalam setelah tuas ditekan. Dia masuk ke kamar, terpesona karena tidak mendapati udara pengap atau bau apek dari kamar yang biasanya ditinggalkan selama tiga bulan. Sebaliknya, kamar itu dipenuhi udara segar yang memancarkan aroma bunga segar. Yudi mengerutkan kening pada lampu kamar yang menyala, dia ingat betul kalau dia mematikan lampu sebelum pergi dengan terburu-buru ke bandara.


Mungkinkah Pak Agus yang membereskan kamarnya dan lupa mematikan lampu?


Tapi itu tidak biasanya sebab penjaga mess itu hanya bertugas membersihkan bagian-bagian bangunan di luar kamar, dia hanya bersedia melakukan itu demi uang tips setelah ada penghuni mess yang meminta. Pada saat itu terdengar suara yang dikenalnya, ”Kamu kemana saja? Lama sekali... tutup pintunya kalau sudah masuk...”


Mirna! Dan gadis itu sedang berbaring di kasurnya, telanjang tanpa busana...


Demi Tuhan, apa yang dilakukannya disini? Terlambat!!!


Yudi jelas tidak mungkin mengusir Danu dan Siska yang sudah mengikutinya ke dalam. Melihat kedua orang ’asing’ di belakang Yudi senyum manis di bibir Mirna lenyap. Gadis itu berteriak, antara malu dan kaget, dan menyelinap kembali ke balik selimut untuk menutupi tubuhnya, ”Kok kamu bawa orang-orang itu kemari, sih?”


Dari sudut matanya Yudi mendapati wajah Siska berubah merah padam sementara Mirna masih juga berteriak-teriak, “Kamu mau mengerjaiku lagi ya? Kamu bilang hanya pergi sebentar tapi kamu malah bawa badut-badut ini...”


”Apa sih maksud kamu?” Yudi berusaha mengerem kalimat asal Mirna yang pasti akan menambah runyam suasana.


”Siapa badut-badut ini, Yudi sayang...”


”Badut-badut ini teman Yudi yang perhatian kepadanya. Kamu sendiri siapa?” sahut Siska dingin.


”Ya, katakan siapa dia..honey...” Siska kini mengarahkan tatapan marahnya pada Yudi.


Yudi mengerang kesal, ”Aku tidak tahu siapa wanita licik ini.”


Siska mendengus marah, ”Dia ada di kamarmu. Bugil. Memanggil kamu sayang-sayang dan kamu tidak tahu siapa dia?”


”Oke...oke namanya Mirna...tapi sungguh aku tidak...” dengan emosi dia berpaling pada Mirna. ”Katakan bagaimana kamu bisa ada di kamarku?”


”Kan kamu yang mengundangku kesini?” Mirna menjawab terbata-bata, beberapa detik kemudian dia mulai menangis sesunggrukan.


”Mengundangmu bagaimana? Kamu masih ada di rumahmu...bersama dengan monster pemakan bayi itu dan...”


”YUDI!” bentak Siska. ”Jangan mengalihkan diri dari pertanyaan. Siapa gadis jalang ini dan apa hubungannya denganmu?”


Mirna kini ganti naik pitam, ”Kamu tidak berhak mengataiku begitu perempuan gendut!”

__ADS_1


Siska tersentak mendengar ucapan itu Wajahnya merah padam saat menatap Mirna yang menatap balik dengan sikap menantang. Lupa akan keadaannya yang hamil Siska berjalan cepat ke arah ranjang dan mencoba menjambak rambut Mirna. Lawannya menjerit dan menepis tangannya sembari mencoba menghindar, membuat selimut tersingkap dan menampakkan lagi seluruh tubuhnya yang membuat Danu tak berkedip.


Perkelahian pun tak terhindarkan. Kedua gadis itu saling menjambak, mencakar, dan meninju, bahkan Mirna menendang-nendang ke udara sehingga Yudi kuatir kalau tendangannya sampai mengenai perut Siska. Siska, yang biasanya lembut dan selalu menghindari perkelahian, tidak bisa lagi mengendalikan emosinya kali itu. Dia ingin melampiaskan semuanya!


“Perempuan ini gila…” seru Mirna.


”Dasar pelacur murahan! Pergi dari kamar tunanganku!” balas Siska tak kalah keras.


Yudi berteriak kepada Danu untuk meminta bantuannya. Sahabatnya itu baru menyadari situasinya setelah terpana beberapa saat. Berkat bantuannya kedua pria itu berhasil memisahkan para gadis dengan susah-payah.


Jeritan mereka memenuhi seluruh sudut bangunan, mengherankan bila Pak Agus tidak sampai berlari-lari ke atas untuk melihat apa yang terjadi. Nyatanya sampai Yudi menarik Siska sampai ke ambang pintu, sementara Danu memegangi pinggang Mirna di tepi ranjang, tak seorangpun menengok ke kamar. Untunglah, sebab hal ini sungguh


memalukan...


”Lepaskan aku...” bentak Mirna pada Danu, dia berpaling pada Siska, ”Jadi kamu tunangannya?” gadis itu ganti memandangi Yudi yang ada di belakang Siska dengan beringas, ”Dasar pembohong! Katanya kamu sudah putus dengan dia gara-gara hamil tanpa kamu mau!”


”Siapa yang ngomong begitu?” bentak Yudi.


Ekspresi Mirna yang kaget tanpak alami, gadis itu pintar sekali memainkan perannya, dan dia menangis tersedu-sedu, ”Kamu jahat...kamu tiga bulan di rumahku...katanya mau pergi dari perempuan jahat ini...tapi kamu kembali padanya...setelah apa yang kulakukan...setelah aku rela memberikan semuanya padamu...”


Pandangan Siska nanar, ”Benarkah itu?”


”Ya...tanyakan padanya, gadis sinting...” umpat Mirna menimpali cepat.


Yudi terpana mendapati sikap Mirna, gadis itu tidak pernah berlaku begitu sebelumnya. Biasanya dia selalu manis, penuh pengertian, dan lembut meski Yudi menyadari adanya sisi liar dan nakal yang ingin ditaklukannya. Tetapi, sekarang, gadis itu lebih mirip singa yang siap menerkam korbannya yang tersudut tak berdaya. Gadis itu memiliki sisi gelap menghancurkan yang membuat Yudi makin membencinya, sayangnya sisi gelap itu muncul di saat yang salah...


”Mana berani dia mengaku?” Mirna menambahi.


”Diam! Kamu menculikku, waita iblis! Apa yang mau kamu lakukan padaku? Supaya aku dimakan monster kanibal itu kalau aku kembali kesana?”


Yudi sibuk membela diri sehingga tidak menyadari saat Siska memandanginya dengan tatapan jijik dan kecewa. Kemarahan yang belum sirna dari perkelahiannya dengan Mirna berlanjut dengan tamparan ke wajah Yudi. Telak! Harus diakui, dia mahir melakukan itu. Yudi, yang sekali lagi gagal mengantisipasi tamparan Siska, tertempelak. Wajahnya merah padam, bukan hanya karena menahan rasa sakit di bagian wajah antara pipi dan telinganya yang linu dan membuat gendang pendengarannya berdenging tetapi juga malu karena menjadi tontonan Mirna dan Danu.


”Aku benci kamu!” Siska berteriak keras sebelum menghambur keluar dari kamar.


Yudi memandangi Danu yang kebingungan, dia sadar keadaannya semakin ruwet dan nampaknya tidak bakal bisa diperbaiki lagi. Dia telah kehilangan Siska buat selamanya. Meski begitu Yudi masih berusaha mengejar Siska diiringi Mirna yang tertawa histeris, ”Siska... tunggu...”

__ADS_1


***


__ADS_2