
Yudi terbangun begitu mendengar suara berdesir dan pintu membuka, sementara Mirna yang sudah bangun dari pangkuannya berseru gembira,”Kita sudah sampai...”
Mata Yudi terpicing-picing menahan cahaya yang merembes ke matanya. Maklum saja, selama perjalanan tirai jendela mobil diturunkan hingga suasana dalam mobil jadi remang-remang, apalagi setelah tidur lima jam... sebentar...lima jam?
Yudi bertanya kaget begitu melihat arlojinya yang menunjukkan pukul setengah delapan malam. ”Gila, hari ini kok aku kerjanya tidur terus?”
”Pasti kamu sama ngantuknya denganku,” Mirna tertawa. ”Ayo, turun!”
Yudi tercengang melihat bangunan di hadapannya. Baru disadarinya kalau cahaya yang menyilaukan matanya tadi bukanlah cahaya mentari, melainkan berasal dari lampu kristal besar yang ada di teras. Belum pernah Yudi melihat lampu kristal sebesar itu, ukurannya mampu menampung sampai seratus bohlam lampu kecil dan lima bohlam besar yang kekuatan sorotnya menyerupai lampu tembak. Empat buah pilar sepelukan lengan lelaki dewasa menjaga setiap sudut dari atap yang menaungi teras tersebut. Pilar itu terbuat dari marmer putih yang diukir membentuk sulur tanaman yang saling melingkar. Sebuah kolam kecil dengan pancuran di tengahnya menimbulkan bunyi gemericik yang menenangkan sementara di luar kolam itu, di bagian dasarnya, tertimbun oleh sesuatu sebesar ibu jari yang tertata rapih dengan warna-warni menyolok mata.
Semula Yudi mengira itu kerikil namun setelah memperhatikan dari dekat ternyata itu koral sungai yang umurnya sudah sangat tua oleh abrasi. Tidak seperti rumah-rumah mewah di Jakarta yang terbuat dari bata yang disemen, dinding luar teras ini terbuat dari batu alam berbentuk bulat pipih yang cukup rapat ketika dijadikan satu. Luas teras itu saja nyaris dua kali panjang mobil Mirna. Sementara lebar rumah ini pastinya lebih lebar dari terasnya, kira-kira sekitar tiga atau empat kalinya.
Dia memutar tubuh ke belakang, mendapati sebuah taman luas...tidak...mungkin lebih tepat disebut kebun, dengan rumput jepang yang tercukur rapih hingga membuatnya seperti karpet hijau atau lapangan sepak bola. Sementara di tepian yang membentuk horizon melingkar yang mungkin merupakan batas dari halaman rumah terdapat pohon-pohon birch serta akasia yang bersisian satu sama lain.Terdengar samar kicau burung bersenandung riang diantara pepohonan itu. Sebuah jalan aspal selebar dua setengah meter, yang tersambung ke jalan di depan teras, membujur ditengah lapangan hijau tersebut hingga deretan pohon yang terbelah.
”Ini rumahmu?” Yudi berkomentar dengan wajah terpesona.
Mirna menggandeng lengan Yudi dan mengajaknya masuk. Mereka melintasi lantai marmer, begitu licinnya hingga Yudi nyaris bisa melihat bayangannya sendiri di bawah sana. Sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati setinggi tiga meter berada di akhir teras tersebut, pintu mewah itu bahkan tidak bisa ditandingi keindahannya oleh pintu gerbang di kantor pusat Katim Persada Coal yang pernah dilewatinya di Balikpapan. Meskipun besar, tidak terkesan bobotnya yang berat, saat Mirna mengayunkan benda itu keluar pintu itu bergerak begitu ringan.
Ruang tamu merupakan bagian pertama yang menyambut Yudi. Karena ruang tamu adalah ujung tombak sebuah penyambutan sang pemilik terhadap tamu atau undangan, ruangan ini didekor dengan luar biasa. Tirai beludru lembut warna merah darah menutupi jendela di samping pintu depan. Lampu kristal disitu mirip bentuknya dengan yang diluar tetapi ukurannya lebih kecil, bukan hanya menerangi ruangan tetapi juga menghangatkannya. Dinding luarnya yang terbuat dari batu alam pipih ternyata tidak terlihat dari dalam, mungkin karena telah ditatah menjadi dinding lurus yang saling bersambung dan dilumuri lilin demi mengurangi aliran udara yang bisa masuk lewat sela-sela jika bentuknya masih seperti diluar.
Dua buah sofa besar dari kulit bermotif kuno menghiasi ruangan, Yudi pernah melihat bentuk yang seperti itu di sebuah toko mebel mewah di pusat perbelanjaan Jakarta, berpadan dengan meja tamu yang terbuat dari bongkahan kayu yang telah diratakan bagian atas dan bawahnya serta dipelitur. Meja kayu itu diukir dengan kerumitan bentuk akar yang tak pernah dipahami oleh Yudi letak keindahannya.Di bawah meja tamu itu terhampar karpet wol berwarna senada dengan tirainya sementara lantainya berbahan sama dengan teras.
__ADS_1
Sebuah rak menyambung dengan tembok dilapisi kaca di bagian luarnya, untuk melindungi pajangan berupa cangkang telur yang dihias manik-manik perak dan emas yang diatur berbaris di atas rak papan yang terbuat dari kayu mahoni. Ada lima rak seluruhnya dari atas ke bawah lemari kaca itu, setelah menghitung satu deretan di rak paling atas Yudi bersiul kagum karena mendapati cangkang dalam lemari ternyata berjumlah hampir tiga ribuan jumlahnya.
”Siapa yang membuat hiasan-hiasan indah ini?” tanya Yudi.
”Oh, itu ada disini sejak dulu. Warisan dari nenek buyutku,” jawab Mirna.
”Kalau begitu rumah ini sudah tua sekali,” Yudi memandang berkeliling. Tidak satupun dinding retak atau langit-langit kusam yang menampakkan ketuaannya walau ada kesan wibawa yang kuat dari sejarah yang diusungnya selama puluhan, bahkan mungkin ratusan, tahun silam.
Bagian berikutnya adalah ruang utama. Ruang utama itu berupa ruangan berbentuk persegi delapan dengan langit-langit yang jauh lebih tinggi dari ruang tamu. Tidak ada lampu kristal namun sebuah lingkaran oval yang seluruhnya terbuat dari kaca dan mirip akuarium di Ancol memendarkan cahaya yang tidak terlalu terang tapi cukup meneduhkan sebagai ganti lampu kristal. Yudi tidak tahu bagaimana cahaya yang teduh itu bisa dihasilkan. Mungkin ada bohlam di dalam lingkaran oval tersebut atau bisa jadi lilin, masalahnya cahaya bohlam tidak mungkin seteduh ini sedang memakai lilin akan sangat sulit menyalakannya tanpa terbang ke atas sana.
Meski terkesan sebagai ruang utama ruangan ini memiliki lebih sedikit barang dibandingkan ruang tamu. Hanya ada lukisan-lukisan bertema binatang mengitari dindingnya, setiap dindingnya kelihatan memiliki pola tertentu dimana dinding sebelah kiri tiga lukisan bergambar hewan melata, di kanan berisi hewan laut, dinding di belakangnya dua buah lukisan bergambar hewan udara sementara dinding di depannya dua buah lukisan bergambar hewan darat. Semuanya bernuansa suram. Terdapat dua pintu kasa melengkung di ruangan itu, yang satu terhubung ke ruang makan sementara yang lainnya menuju gudang bawah tanah.
Di atas sepasang lukisan hewan darat terdapat birai yang rupanya merupakan ambang dari lantai dua. Sebuah tangga yang tersamar dalam kegelapan terdapat di sebelah kanan ruangan dan menghubungkan lantai ini dengan lantai diatasnya. Yudi tidak menanyakan kenapa disitu tidak ada sofa atau televisi sebagaimana layaknya ruang tamu karena itu sangat tidak sopan, mungkin saja televisi ada di kamar masing-masing karena Mirna dan ibunya tidak terlalu suka suasana ruangannya yang kelewat lebar. Baginya rumah ini memang kelewat besar, ketika lebih menengadah lagi dia bukan hanya melihat lantai kedua tapi juga lantai ketiga.
Lantai tangga yang mengantarkan mereka ke lantai dua terbuat dari kaca sehingga dia bisa melihat lantai di bawahnya. Pembatasnya yang terbuat dari aluminium bersepuh emas diukir menyerupai tubuh ular, lengkap dengan sisiknya. Dua buah lampu kecil di bagian dasar dan ujung teratas menyorotkan cahaya samar untuk membantu siapapun yang menyusurinya dapat melangkah dengan baik.
”Sudah berapa lama tinggal disini?” tanya Yudi basa-basi.
Mirna yang berjalan di depan menjawab tanpa menoleh, ” Aku belum pernah tinggal di rumah lain selain disini sejak lahir.”
”Pasti banyak kenangan yang terjadi disini.”
__ADS_1
”Begitulah.”
”Dan kalian hanya tinggal berdua saja? Kamu dan ibumu?”
”Aneh,ya?”
”Nggak sih. Begitu banyak kamar sementara penghuninya hanya kalian berdua. Apa kalian nggak pernah merasa...”
”Takut?”
”Yeah, semacam itu...”
”Kami tidak hanya berdua. Ada dua orang pembantu lainnya. Dan kami juga sering mengundang tamu. Maka dari itu aku ajak kamu kesini untuk meramaikan suasana, kan?”
Keduanya sampai di lantai dua, disana lantainya bukan lagi marmer melainkan parket yang dibuat serasi dengan dindingnya yang terbuat dari cendana. Yang membuatnya heran karena semakin dekat dengan ’lampu’ oval di langit-langit suasananya bukan semakin terang tetapi malah mendekati remang-remang, amat kontras dengan lampu kristal besar di teras yang membuat keadaan sekelilingnya terang benderang. Seharusnya lampu kristal itu yang ditempatkan disini, begitu pun sebaliknya. Untungnya penerangan disitu terbantu oleh jendela berukuran besar di ujung sayap timur dan barat yang lewat kacanya memantulkan cahaya bulan yang kelihatan berbentuk setengah di malam ini. Yudi penasaran buat mengetahui situasi lantai paling atas, mungkin jauh lebih gelap dan menyeramkan!
Ada sekitar tujuh kamar di lantai tersebut, yang bersisian sepanjang sayap yang satu ke yang lain. Jika rumah ini simetris Yudi memperkirakan ada sekitar empat belas ruangan seluruhnya, di lantai dua dan tiga. Jumlah yang fantastis untuk rumah di kota kecil macam ini, apalagi rumah ini nampaknya belum mengalami renovasi atau sentuhan manusia sekalipun sejak pertama kali dibangun. Keluarga Mirna dulu pasti termasuk keluarga besar yang berada di daerah ini sehingga sanggup menginvestasikan banyak uang demi mendapatkan bangunan yang bagus di pembangunan awalnya.
”Kamar kamu disini,” Mirna membuka sebuah pintu ketiga dari sisi barat. Letaknya yang agak ke tengah membuat ruangan tersebut dekat dengan tangga, memang tidak terlalu dekat tapi itu lebih lumayan daripada kamar ke tujuh yang berada paling ujung dan terlihat begitu jauh.
Yudi melangkah masuk ke kamar mengikuti Mirna. Gadis itu menoleh kepadanya, ”Tidak jelek, kan? Ada ranjang, lemari pakaian, serta kamar mandi yang lengkap dengan bak mandi dan toilet di sebelah sana.”
__ADS_1
***