
Tiga hari berlalu sementara keduanya tidak pernah sekalipun keluar dari rumah, kecuali untuk mengumpulkan bahan-bahan ramuan seperti beberapa ekor kodok muda untuk diambil empedunya dan lima ekor ular cincin kuning guna disadap racunnya.Ruang tengah rumah Danu berubah jadi laboratorium mini; peralatan macam tabung kaca, kompor pembakar, gelas pengukur, dan alat-alat lain untuk melakukan proses destilasi, penguapan, dan respirasi bertebaran di segala penjuru untuk membantu keduanya mengolah ramuan dengan mengikuti petunjuk sesuai buku aneh milik Wayan.
Mereka telah memasukkan semua bahan sesuai dengan komposisi dan urutan, bagian rumit dari pembuatan ramuan itu sudah dilewati, yakni mendapatkan air esens dari rebusan kodok dan ular serta melakukan proses penyulingan atasnya.
Pertama-tama, semua bahan digodok dalam air bersuhu seratus lima puluh derajat celsius sampai menyatu dan mengeluarkan air esensnya, proses itu membutuhkan waktu setidaknya dua setengah hari. Pada hari kedua diteruskan dengan perebusan, asap yang menguar dari panci perebus ramuan baunya sangat tidak enak tapi cairan yang tinggal dalam panci begitu bening. Nyaris menyerupai air putih. Air esens itu kemudian disuling lagi dengan campuran beberapa herba campuran antara putri malu dan bunga asoka. Berikutnya yang mereka perlu lakukan hanya menunggu sampai proses penyulingan bekerja hingga pencampuran cairan itu sesuai dengan petunjuk dari buku Wayan.
Sementara menunggu diantara proses rumit itu Wayan menyempatkan diri mengajari Yudi untuk menggunakan barang-barang uniknya, yang dijulukinya peralatan medis pemburu siluman. Dilakukannya semua yang disuruh pria itu tanpa banyak tanya padahal peralatan Wayan lumayan banyak jumlahnya dan sesuatu yang asing bagi Yudi, karena itu bila terlalu banyak bertanya dia kuatir tidak akan bisa menguasainya secepat mungkin.
Sikap ini membuat Wayan terpukau karena pada hari ketiga, Yudi akhirnya mampu menguasai sebagian besar dari peralatan tersebut meskipun memang masih ada yang membuatnya frustrasi seperti bola kaca pelacak kuyang yang belum juga berhasil dibukanya setelah kesekian puluh kali percobaan. Yudi menghampiri Wayan dengan wajah kesal dan bertanya tentang ramuannya, ”Bagaimana perkembangannya?”
”Sebentar lagi...” sahut Wayan. ”Bila ini berhasil apa rencanamu selanjutnya?”
”Meminumkannya pada Mirna tentu saja...”
”Anak kecil bisa menjawab itu. Masalahnya bagaimana melakukannya?”
”Aku sedang memikirkan sesuatu...” Yudi membela diri.
”Yeah, jangan sampai kerja keras tiga hari ini sia-sia...” Wayan berkomentar sambil mengangkat tutup tabung.
Yudi terpesona melihat uap biru yang keluar dari dalamnya. Sebelum membuat ramuan ini, bayangan Yudi akan seorang dukun itu sama seperti penyihir di cerita Cinderella yang mencemplungkan segala sesuatu ke dalam kuali besar di atas tungku pembakaran kemudian mengaduk-aduk cairan dengan mengucapkan mantra ”hokus-pokus” untuk mendapatkan racun yang akan dioleskan ke apel tidur.
Ternyata membuat ramuan itu rumit prosesnya dan perlu pengetahuan kimia yang setara dengan ahli kimia. Ini menjadikan pandangan Yudi berubah, dengan pengetahuan sedemikian rupa tidak heran kalau Wayan juga paham soal ilmu tubuh dan otopsi, yang membuatnya mampu mengotopsi mayat Seto. Dengan luwes Wayan membuka keran pada selang kaca dan air berwarna biru muda mengucur turun dari mulut tabung destilasi menuju gelas takar yang telah diberi larutan alkohol sebanyak 10 cc.
”Alkohol akan menguraikan kekentalan dari senyawanya dan kamu akan tahu hasil kerja kita, selama tiga hari yang gila ini, berhasil atau tidak dengan melihat warnanya berubah menjadi hijau muda.” Wayan mengambil sendok dan mulai mengaduk cairan dalam gelas takar tersebut. ”Kalau ini berhasil kamu harus mentraktirku makan enak.”
”Jangan kuatir. Aku akan membelikan apapun yang anda mau.”
__ADS_1
Telunjuk dan jempol Wayan menjepit sendok itu dan mulai membuat gerakan berputar pelan, sesekali terdengar bunyi berdenting dari bagian ujungnya yang mengenai dinding kaca, dan Yudi menahan nafas saat melihat warna cairan itu mulai meluntur dari biru menjadi hijau saat senyawanya mulai bersatu dengan alkohol.
”Yess...berubah...anda hebat...” Yudi berkomentar penuh semangat.
”Bukan sesuatu yang sulit jika kita mahir mengikuti semua petunjuk dalam buku itu,” Wayan tanpa sadar membusungkan dada meski berusaha memperlihatkan wajah biasa-biasa saja Yudi bisa merasakan kegembiraan yang sama muncul dari dalam diri lelaki itu. ”Sekarang kita pindahkan ke tempat yang lebih stabil.”
Wayan menghampiri meja di sebelahnya, di atas meja tersebut terdapat botol kecil mirip botol parfum dimana pada mulutnya diletakkan corong sebagai alat bantu buat memasukan cairan itu ke dalam botol. Setelah terisi penuh dia berpindah ke botol kedua dan ketiga demi mengosongkan gelas takar. Untuk mengakhirinya ditutupnya botol-botol itu dengan gabus.
”Sekarang tinggal menunggu rencanamu...” Wayan terkekeh sambil mengusap peluh di kening dengan ujung lengan pakaiannya.
Ucapan Wayan belum sempat ditanggapi oleh Yudi ketika hawa dingin lebih dulu menyerbu ruangan, mengubah suhu disana dengan drastis. Dingin itu menghujam keduanya laksana kijang marah menghujamkan tanduknya ke kepala lawan, terasa sampai ke tulang hingga membuat nafas mereka sesak.
Hawa dingin memancar deras bersamaan dengan kesiur angin yang merangsek ke dalam ruangan, menyentak pintu dan daun jendela hingga terbuka lebar. Atap berderak-derak mengerikan sebelum penerangan di seluruh rumah padam dan sosok kepala tanpa tubuh itu masuk dengan angkernya melewati pintu depan, untuk kemudian menyerang Yudi dan Wayan dengan brutal...
***
”Api apa?” suara seorang gadis tiba-tiba menegurnya. ”Bangun...sayang...”
Dijumpainya wajah Mirna begitu dekat dengan dirinya. Dia bahkan bisa mencium wangi semerbak dari mulut gadis itu, mengingatkannya pada campuran mint dan teh hangat. Semua pertanyaan dan kesan yang masih menggantung tentang kepala terbang kuyang, Wayan, bola kaca yang melintasi petak sawah, dan kebakaran hebat yang meluluhlantakan rumah Danu sontak lenyap. Apalagi dirasakannya tubuhnya berat karena...
Hati Yudi berdesir menatap posisi tubuh Mirna yang tengah duduk di atas perutnya. Gadis itu tidak peduli duduk dengan posisi demikian sebab dia tahu Yudi tidak akan keberatan sama sekali dengannya, malahan pemuda itu mungkin berharap Mirna berada dalam posisi itu sepanjang hari, apalagi dengan daster tipisnya yang menampakkan lekuk tubuh sintal sebagai pemandangan pagi hari yang tentunya sulit ditolak semua lelaki normal di dunia.
”Kamu mimpi seru, ya?”
”Aku mimpi aneh sekali...” sahut Yudi.
”Tentang apa?” Mirna tersenyum namun dengan mata penuh selidik.
__ADS_1
Yudi mengerutkan kening, ”Herannya, aku tidak ingat.”
”Ayo bangun...kamu mau menemaniku pergi pagi ini, kan...”
Yudi yang sedang menikmati elusan tangan Mirna di dada dan perutnya tak segera menjawab, ”Mmm...kemana, ya?”
”Tuh, kan lupa...” Mirna mencubit kecil pinggang kanan Yudi hingga lelaki itu mengaduh.
”Sorry...tapi beneran...aku lupa...”
”Danau hijau...
”Apakah kita harus kesana?”
”Kamu yang memintaku kesana, kan?”
Yudi berusaha mengingat-ingat tapi kemudian menggeleng,”Gila, aku benar-benar nggak ingat apa-apa pagi ini. Aku yang minta diajak kesana?”
”Dasar, kalau begitu kamu bangun dan siap-siap mandi. Aku sudah siapkan air hangat di bak. Kalau sudah segar pasti ingatanmu akan pulih lagi. Makanan sudah menunggu di bawah, atau mungkin mau aku bawakan ke atas?”
Yudi tidak ingin memiliih, apapun pilihannya itu membuat Mirna meninggalkan posisi menggoda ini darinya, sesuatu yang tidak mau diakhirinya secepat itu. Sayangnya, dia tidak mampu menjawab seperti keinginannya hingga dia berkata lirih, ”Terserah.”
”Kalau begitu kutunggu di bawah,” Mirna tersenyum. ”Jadi kamu punya waktu siap-siap.”
Jangan pergi, begitu jerit Yudi saat gadis itu turun dari ranjang dan meninggalkannya. Namun sebelum dia sempat mengutarakannya, gadis itu sudah keburu meninggalkan kamar.
***
__ADS_1