KUYANG

KUYANG
Episode 46


__ADS_3

Mirna rupanya sudah menyiapkan air hangat untuk mandi. Begitu Yudi mencelupkan tubuh ke dalam bak, air di dalam bak mandi meluber ke ubin, meninggalkan bunyi ’splash’ kecil menyenangkan, semenyenangkan sentuhan riak air yang menyapu tubuhnya dengan rasa hangat yang memanjakan.


Selagi mandi Yudi berusaha mengumpulkan ingatan akan mimpi anehnya semalam, tentang monster berkepala tanpa tubuh, meteor yang menyerupai bola api raksasa, dan busa sabun berbentuk lucu yang membuat nafasnya sesak. Semuanya bergerak begitu rupa bagai tangan tak terlihat yang melukiskan gambar campur-aduk yang tidak jelas di atas kanvas hitam, sampai akhirnya Yudi harus menyerah karena tak kunjung mengingat segala sesuatunya begitu selesai mandi


Satu jam kemudian Yudi sudah menemani Mirna di dalam mobil menuju hutan Rawen. Tidak henti-hentinya gadis itu mengoceh soal jenis-jenis pohon yang ada disitu, juga kebiasaan burung-burung bernama aneh yang bermukim di hutan, dan beberapa desa eksotik di sekeliling Rawen yang membuat Yudi kemudian bertanya, ”Apakah desa-desa di sekitar Rawen itu masih ada?”


”Ada. Mirip seperti desa yang kita datangi saat melihat sirkus itu.”


”Jadi rumahmu memang dekat hutan?” Yudi bertanya.


”Kamu pikir kumpulan pepohonan di belakang rumah itu apa?” Mirna bertanya balik.


”Aku sebelumnya tidak pernah berpikir ada orang mau tinggal di hutan.”


Pembicaraan terhenti saat roda kendaraan berdecit dan berhenti setelah tiba di tempat yang dituju. Tempat yang masih asing bagi Yudi. Mirna mengambil ransel lalu menggandeng Yudi dengan senyum sumringah. Keduanya menyusuri jalan setapak dari padang rumput yang mengelilingi wilayah itu. Sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berada saat itu Yudi melihat kerumunan pohon eik menghadang di depan sana. Kerumunan eik yang terbentang itu menyerupai gapura besar, dimana di sisi bawahnya berlindung ruangan yang menimbun cerita masa lalu yang tak lekang dimakan terik atau hujan.


Sementara Yudi berusaha tidak memikirkan apa yang menanti dalam hutan itu, selain perdu dan pepohonan tentunya, Mirna tersenyum gembira, ”Rasanya menyenangkan jadi pohon-pohon seperti yang ada disini, bukan? Kamu tidak perlu melakukan kontak jasmani untuk bisa berkembang biak.”


Lelaki itu tersenyum hambar karena tidak memahami maksud ucapan Mirna. Keduanya menyusuri jalan setapak makin jauh ke dalam hutan. Suasana di dalam ternyata tak segelap yang diperkirakan Yudi, masih ada beberapa berkas cahaya yang mampu menembus atap dedaunan di atas kepala mereka, yang juga menghangatkan rumput dan lumut yang tumbuh di dasar hutan.


Keadaan hutan sebenarnya tidak terlalu buruk, mungkin sedikit gelap dibanding di luar tapi kondisi ini memberi Yudi kesejukan. Hal ini dirasakan juga oleh sejumlah hewan, misalnya seperti cerpelai yang sedang menyusur dahan pohon dengan santainya. Hewan itu memandang dengan sikap ingin tahu, ujung kupingnya sesekali bergerak sementara kumisnya yang putih melintang bekerja seperti tengah mencium apabila ada hawa berbahaya. Namun sejauh ini tidak ada yang perlu dikuatirkan dari Yudi dan Mirna...


Mirna menoleh dan menunjuk bukit yang nampak dari sela dedaunan, ”Di kaki bukit itu danau hijau berada. Tidak lama kok untuk sampai kesana.”


Dataran melandai itu diapit pepohonan yang tak lagi selebat sebelumnya. Udara yang mengalir di sekitar situ juga terasa lebih bebas, tak lagi pengap dan dipenuhi bau pakis atau lumut. Beberapa meter dari tempatnya berdiri terdapat bongkahan-bongkahan pasir dan karang yang merupakan awal dari kaki bukit yang ditumbuhi lumut dan pinus. Keduanya tiba di danau hijau setelah melangkah sekitar lima puluh meter dari kaki bukit.


Danau hijau mungkin tidak seluas danau Toba namun cukup besar untuk disebut kolam. Dikelilingi kerumunan pohon willow di tiga perempat bagian sisinya danau itu merupakan muara dari sungai-sungai kecil serta jalur air bawah tanah yang mengalir turun dari bukit. Air danau yang bening memantulkan kehidupan ikan serta hewan hewan air yang hidup di dalamnya, berpadu cantik dengan merahnya rona mawar liar yang tumbuh tak terurus di sepanjang tepian sungai, menimbulkan pemandangan yang jauh dari kesan mistis atau angker dari yang dibilang El. Danau ini hanya sebuah danau biasa yang memesona, siapapun yang datang ke tempat ini pasti setuju kalau nuansa keteduhan danau tersebut enggan ditinggalkan oleh mereka yang berada disana.


”Cantik sekali...” komentar Yudi melihat pantulan wajahnya di permukaan danau yang jernih. Pujian itu tentu saja bukan diberikan kepada wajahnya yang terlihat disana melainkan suatu kekaguman karena air yang ada di hadapannya ini mampu memberi pantulan yang begitu sempurna. Diperhatikannya wajahnya dengan seksama, wajah itu begitu pucat dan lelah. Itu bukan wajah dirinya seperti yang dia tahu selama ini...sepertinya dia tengah melihat refleksi dari wajah orang lain...


Wajah itu bukan hanya tampak lelah dan pucat. Mengerikan, itu mungkin sebutan yang tepat. Kulitnya merah membara, sementara di beberapa bagian terlihat mengelupas kehitaman, sepertinya wajah itu habis terbakar. Di bagian batok kepala malah tak ada selembar rambutpun tumbuh seolah rambut-rambut itu juga habis dimakan api. Sosok itu membalas pandangannya dengan kosong, yang menyembunyikan kesedihan begitu rupa yang berasal dari rasa sakit. Wajah asing yang memandanginya dengan seksama itu menyeringai kejam.

__ADS_1


Air mendadak bergolak dan wajah itu bergerak ke atas bagaikan terangkat ke permukaan. Gelegak air danau menyembur seiring makhluk yang ada di dalam air danau itu berusaha meraihnya. Yudi berteriak dan mundur menjauhi pinggiran danau. ”Hantu...”


Mendadak terdengar suara cekikikan. Tawa gadis. Disusul suara jahil yang dikenalnya, ”Mana ada hantu disini?”


Dengan beringsut perlahan Yudi kembali mendekati pinggiran danau dan mendapati wajah asing itu ternyata sama sekali tidak ada. Hanya wajah Mirna saat kepalanya sesekali muncul dari permukaan air karena dirinya saat itu sedang mengapung. Bibirnya terus merekahkan senyum nakal. Dia menunjuk dirinya, ”Hantu ini, maksudmu?”


Wajah Yudi bersemu merah karena malu, apalagi mendapati bagian atas tubuh indah Mirna terpampang menantang di hadapannya tanpa ditutupi selembar benangpun. Dia menjawab asal-asalan untuk berkelit, ”Ini gara-gara parno sama legenda mistisnya.”


”Nggak usah malu,” Mirna mengelus pipi Yudi. ”Memang untuk itu kan kita kemari?”


”Yeah, tapi ngapain kamu mandi disitu?”


”Badanku lengket sehabis jalan jauh tadi. Boleh dong menyegarkan diri.”


”Bukannya dilarang berenang disini?”


Mirna celingukan, ”Aku tidak melihat tanda larangan.”


”Iya, sih! Tapi bukankah kita tidak boleh sembarangan melakukannya di tempat umum?”


”Kamu tidak bilang mau berenang disini, jadi aku tidak bawa pakaian renang.”


”Memangnya kamu pikir aku bawa?”


”Kalau begitu...”


”Masuklah kalau kamu ingin tahu...” tantang Mirna.


Tak sudi dipermalukan Yudi segera melepas dan menaruh pakaian di pinggir danau sebelum menceburkan diri ke air diiringi pekik kesenangan Mirna. Saat air menyambut Yudi dengan sengatannya yang menggigilkan kulit, gadis jahil yang dicarinya sudah buru-buru berenang menjauh.


”Kena!” Yudi berteriak kesenangan begitu berhasil menangkap Mirna setelah menjelajah dan mencari sedemikian lama di dalam air. Gadis itu ternyata lihai berenang. Bukan hanya cepat tapi dia juga kuat menahan nafas di bawah air sehingga Yudi harus bersabar menunggu Mirna lengah sebelum dapat menyergapnya di dalam air.

__ADS_1


”Ah, sial...” Mirna memekik kecil karena tangan Yudi yang saat itu memeluk pinggangnya naik ke atas dan menyentuh bagian dada gadis itu.


Yudi ikut terkejut, tak menyangka Mirna sungguh-sungguh dengan perkataannya yang mengatakan bahwa dia tidak memakai apapun saat berenang saat ini. Buru-buru dilepaskannya pegangannya pada tubuh Mirna. Bukannya menampar Yudi yang tanpa sengaja berlaku kurang ajar, Mirna malah tertawa terbahak-bahak dan menunjuk pemuda itu, ”Lihat wajahmu. Kelihatan habis melihat hantu.”


”Hantu mungkin tidak akan membuatku serangan jantung seperti ini.”


”Sebaliknya, hantu asli tidak akan memberi momen nikmat seperti tadi.”


”Itu memang momen yang sulit dilupakan...” desis Yudi.


Keduanya saling berpandangan, tak bicara, masing-masing menyelami perasaan di hati mereka yang tengah berkecamuk dengan gairah akan pesona yang dipancarkan oleh lawan jenis di hadapan masing-masing. Tanpa sadar kepala Yudi bergerak maju dengan perlahan, mendekati wajah Mirna, dan berusaha meraih bibir gadis itu. Tinggal satu inci lagi bibir mereka bertemu saat suatu ingatan samar menerjang Yudi, menghentikannya dari ciuman itu dengan seketika, dan pemuda itu membuka matanya lalu menarik kepalanya, ”Maaf....”


Mirna kelihatan lebih kaget meskipun ekspresi itu tidak kentara diperlihatkannya, gadis itu tersenyum mengernyit, menjilat bibir dengan lidahnya, lalu bertanya lirih, ”Kenapa, Yud? Kenapa kamu berhenti?”


”Ada sesuatu...” jawab Yudi dengan kening berkerut. ”...sulit menjelaskannya. Pikiran yang mengganggu. Hanya sekejap tapi itu melenyapkan rasaku seketika...”


”Apakah aku melakukannya dengan salah?” tanya Mirna.


”Nggak...bukan itu...aku...mungkin aku yang salah...maafkan aku...”


Mirna mengelus pipi Yudi, ”Kurasa ini waktunya naik. Kamu lapar, nggak?”


”Sekarang tidak terlalu,” Yudi menjawab jujur.


”Bisa kejang kalau terus berenang dengan perut kosong. Setidaknya istirahat dulu.”


”Yeah, kurasa sebaiknya begitu...” Yudi mengangguk.


”Jangan ngintip, ya...” tegur Mirna saat hendak naik di tepian danau.


”Oh, ya...sori..” Yudi mengangguk, namun belum sempat dia berbalik Mirna lebih dulu naik ke permukaan, seakan tak peduli kalau Yudi akan melihat seluruh bagian tubuhnya saat itu, dan memang itu yang dialami Yudi saat itu... pandangannya tidak bisa beralih dari bagian belakang tubuh Mirna yang polos terbuka. Tulang leher ke punggungnya yang simetris, rambut yang tergerai, sepasang bongkahan pantatnya, lalu tungkai dan betisnya yang indah. Semua bagian itu tergabung pada sesosok tubuh sempurna Mirna.

__ADS_1


Seperti menyadari dirinya tengah diamati Mirna menoleh dan saat itu menangkap basah pandangan Yudi yang tengah terpesona, ”Nah, kan...dasar nakal....malah cewek telanjang...” tangannya menyipratkan air danau ke wajah Yudi, membuat pemuda itu buru-buru menutup mata demi mencegah air masuk ke indera penglihatannya. Begitu Yudi membuka mata Mirna tidak ada lagi di hadapannya, dari tawa cekikikannya gadis itu sepertinya sudah menyelinap ke balik kerumunan pohon untuk memakai pakaiannya yang ditinggalkan disana.


***


__ADS_2