KUYANG

KUYANG
Episode 55


__ADS_3

”Bunda Mawar? Ba...bagaimana bisa?”


”Kami mahir bermain ilusi. Ilusi memampukan kami mempengaruhi seseorang ke dalam dunia yang kami ciptakan sehingga dia hanya melihat apa yang kami ingin dia lihat, dengar apa yang kami ingin dia dengar. Pada tingkatan tertinggi, kami dapat mengendalikan orang tersebut sesuai kemauan kami. Tebak siapa yang telah mencapai tingkat tertinggi itu?”


”Bunda Mawar,” jawab Yudi


Mirna mengangguk, ”Selama ini kamu berada dalam dunia ciptaannya. Semua yang kamu lihat seperti sirkus El, makan siang bersama El, jalan-jalan di danau hijau...itu adalah ilusi ciptaannya.”


”Jadi semuanya itu tipuan?”


”Ya, bahkan sampai diriku, yang kamu kira aku, itu sebenarnya tipuannya.”


”Gila!” Yudi bergumam sebal.


Mirna menghela nafas berat, ”Aku telah melanggar kode etik. Kebodohanku membunuh si tua itu membuat aku tidak bisa kembali ke wujud manusia. Kekuatan ilmuku menjadi tidak stabil dan berkali-kali transformasiku gagal. Aku tidak tahu sampai kapan berwujud seperti ini sebab Bunda Mawar juga tidak punya jawabannya....”


Yudi tak sampai hati membayangkan gadis itu mengejar tikus atau kelinci dengan keempat kakinya, dan memakan hewan-hewan menjijikan itu, ”Sejak saat itu Bunda menaruhku di ruang bawah tanah. Tinggal disana seperti binatang. Memakan bayi-bayi yang diumpankannya demi menjaga kesehatanku dan meminum ramuan buatannya yang memuakkan. Aku tak tahan menghadapi hidup macam ini...dikurung berhari-hari di ruang bawah tanah itu...”


”Tapi dengan begitu kamu bisa melawan makluk jelek di ruang bawah tanah itu. Lihat aku...apa yang terjadi padaku?”


”Kamu terbakar sewaktu Bunda Mawar meringkus kalian berdua di rumah temanmu itu. Beruntung dia berhasil menyelamatkanmu.”


”Kenapa aku malah merasa...tidak beruntung ?”


”Jangan begitu. Aku akan melakukan sesuatu...tunggu...”


Monster itu...gadis itu menggeliat dari posisi berbaringnya dan pergi keluar dari terowongan. Melihat bagian belakangnya yang bergoyang-goyang begitu sungguh lucu, mengingatkannya pada pantat **** yang berjalan malas di kolam lumpur. Cukup lama makhluk itu menghilang sebelum kembali dengan setangkup dedaunan di genggaman. Dedaunan itu diremasnya hancur kemudian dibalurkannya ke luka yang masih menganga di tubuh Yudi. Pemuda itu mengernyit menahan sakit, namun dalam sekejap bubuk dedaunan itu membuat tubuhnya lebih sejuk. Sakit di lukanya tidak terasa lagi.


”Bagaimana?”


”Agak enakan...”


”Kuharap itu menyembuhkan dalam satu-dua hari. Jadi cairan apa itu yang membakar Bunda Mawar?” tanya Mirna sembari mengelus luka Yudi dengan berhati-hati, menjaga agar jangan sampai cakarnya yang tebal merobek lepas kulit Yudi..


”Sesuatu yang seharusnya kugunakan untuk mengubahmu.” Mirna yang terkejut memandang Yudi, ”Serius? Apakah aku bisa disembuhkan?”

__ADS_1


”Wayan dan aku menemukan sesuatu tentang pelanggaran kode etik penganut ilmu kuyang dan efek samping kegagalannya dari sebuah buku tua. Dari penjelasannya, terdapat ramuan yang cukup sulit untuk mengubah seseorang yang terkena efek tersebut...”


”Cukup sulit, tapi apakah masih ada kemungkinan?”


Yudi menatap sang monster, ”Tidak ada jaminan tapi kemungkinan tetap ada.”


”Apakah kamu menyimpan buku itu supaya bisa kupelajari?”


”Sayangnya buku itu sudah terbakar di rumah Danu saat ibumu menyerang kami.”


Mirna menggeleng sedih, ”Seperti dia menyerang kita sekarang?”


”Apa maksudmu ?”


Tiba-tiba ledakan terdengar di permukaan. Yudi merasakan getaran keras dan tanah di sekeliling mereka berjatuhan seperti hendak menghimpit keduanya. Diantara ledakan terdengar tawa kencang yang diantarkan kekuatan hebat yang memampukannya sampai ke pendengaran Yudi dan Mirna, tawa itu tidak enak dan seram laksana datang dari alam maut. Sang setan tengah mencari korban-korbannya yang belum sempat dibereskan...


***


KABOOOMMM....


”Kalian salah kalau menyangka bisa lolos dari duniaku!”


”Apa yang harus kita lakukan?” Mirna bertanya ketakutan sementara tanah semakin kencang berhamburan menutupi tempat dimana mereka berada.


”Ke luar dari sini...” jawab Yudi.


”Tapi ke mana? Diluar Bunda sudah menunggu.”


”Ke tempat kamu keluar mengambil dedaunan tadi.”


Mirna menunjuk dengan jarinya yang runcing, ”Ledakan tadi meruntuhkan tempatnya.”


”Sial.Berarti satu-satunya lewat atas...” sahut Yudi.


Waktu mereka semakin sempit sementara angin ****** beliung yang memporak-porandakan itu sudah mulai menyingkirkan akar-akar besar pohon birch dari tanah. Ukurannya yang besar dan kokoh tidak membuat pohon berusia ratusa tahun itu sanggup menahan kekuatan gaib yang menyerangnya. Bersembunyi adalah satu-satunya kemungkinan selamat mengingat mereka berdua tidak siap bertempur, apalagi wujud Bunda Mawar merupakan wujud dengan kekuatan tertinggi yang menurut Wayan tak mungkin dihalangi.

__ADS_1


Saat itu Yudi melihat satu kesempatan tapi mereka harus bergerak cepat, ”Kamu bisa melemparku ke atas?”


”Bisa. Tapi apa yang...”


”Dengarkan aku! Setelah kamu melemparku ke arah Bunda Mawar, kamu harus segera pergi ke tempat sirkus. Tempat itu paling aman di semua wilayah di hutan ini karena hanya disitulah sihir Bunda tidak bekerja...”


”Ya, memang! Tempat itu dulu milik mendiang suaminya. Ayah El! Prajangga Nanta. Tapi bagaimana kamu tahu?”


Yudi terkejut tapi cepat menguasai diri, ”Aku mengalahkannya saat dia dalam wujud ular sedang berburu mangsa. Dan dia tidak dapat melakukan apapun kepadaku selain kabur. Kalau begitu segera kesana dan bersembunyilah.”


”Bagaimana denganmu?”


”Aku akan membantumu melawan Bunda dan memberikan obatnya.”


”Kamu belum sanggup, Yud!”


”Percayalah padaku...”


”Baiklah,” akhirnya Mirna menurut setelah melihat kesungguhan di tatapan Yudi. ”Siap?”


Berikan lemparan terbaikmu sayang, Yudi berkata dalam hati.


Cakar Mirna menyeruak diantara tanah dan punggungnya sebelum lengan makluk itu terayun dan melemparnya ke udara dengan kekuatan yang tentunya bakal membuat iri pitcher profesional. Mirna melemparnya bertepatan dengan kerusakan brutal di saat-saat akhir, saat akar-akar tercerabut dan pohon birch itu melayang lemah ke angkasa kelam bagaikan layangan yang baru kalah aduan. Yudi enggan berpikir apalagi yang bisa dilakukan makluk itu dengan kekuatan sebesar itu sebab itu bisa membuatnya mengurungkan niatnya padahal dia sudah amat dekat dengan makluk itu.


Begitu melewati permukaan tanah bau bangkai merangsek hidungnya. Bau itu makin mendekat dan dia tahu darimana sumbernya. Dibukanya mata untuk memastikan sosok yang dicarinya berada di sebelah kirinya, sosok kepala-tanpa-tubuh itu juga tengah mencari keberadaan kedua mangsanya tapi sejauh ini masih belum berhasil mengetahui dimana Yudi dan Mirna bersembunyi. Beruntung Yudi lebih cepat menemukan sang kuyang, begitu berada dalam posisi yang cukup baik tangan Yudi melayang ke arah sang monster diiringi teriakan histeris, ”MAMPUS KAMU BINATANG KEPARAAT!”


Kuyang berteriak ketakutan menyadari Yudi hendak melemparnya dengan cairan hijau itu lagi. Yang tidak diketahuinya adalah Yudi sebenarnya kehilangan botol itu saat melarikan diri sehingga monster kepala-tanpa-tibih itu terhuyung-huyung menjauh karena tidak ingin terciprat cairan yang sama yang membakar wajahnya sebelumnya. Sebelum Yudi melenting kembali ke bawah dia berseru pada Mirna, ”LARI...LARI DARI SINI...”


Dia sudah melakukan yang terbaik demi mencuri waktu bagi Mirna melarikan diri. Sekarang tinggal menunggu dirinya terhantam keras ke tanah. Seandainya tanah di bawah tadi tidak terhambur mungkin ada tempat yang cukup empuk, dengan adanya semak-semak serta tumbuhan tebal, buat mendarat. Apalagi dengan jaraknya yang tidak jauh. Pemuda itu bersiap merasakan hantaman di bagian belakang tubuhnya saat sosok bertubuh besar itu menyeruak dari balik tanah dan menyelamatkan Yudi, tepat sebelum pemuda itu mendarat ke bumi.


”Kenapa tidak lari?” teriak Yudi, kesal karena rencananya bubar gara-gara inisiatif tak terduga Mirna.


”Itu rencana nekad yang tidak bisa kutolerir,” raung Mirna.


”Laarriiiii...”

__ADS_1


***


__ADS_2