KUYANG

KUYANG
Episode 54


__ADS_3

Angin menderu bising memenuhi telinganya bersamaan dengan dengus nafas si monster bertubuh raksasa yang tengah lari menggendongnya ini. Yudi tidak tahu kemana mereka berlari tapi yang jelas, sang penolongnya berusaha membawa mereka sejauh mungkin dari kuyang.


Itu keputusan yang baik untuk saat ini sebab tidak mungkin melawan kuyang yang sedang mengamuk pada saat ini.Disamping itu mereka punya kesempatan bagus, setelah memuntahkan amarahnya dengan menggila monster itu harus beristirahat sebentar buat memulihkan tenaga. Dengan begitu mereka mungkin bisa mencari jalan keluar dari hutan ini.


Yudi sangsi mereka akan terlepas dari kejaran kuyang seandainya dapat keluar dari hutan ini. Monster itu pasti akan terus mengejar, tapi setidaknya mereka lebih aman di luar sana daripada di hutan yang tampaknyamenjadi wilayah kekuasaan si kuyang.


Dingin udara yang menerpa membuat nyeri di tubuhnya berangsur-angsur berkurang. Dia memberanikan diri buat mengintip, dilihatnya punggung penolongnya begitu lebar dan liat. Bulu-bulu halus muncul dari sisi-sisi kulitnya yang sebagian besar bersisik. Dia mendongak dan hampir tercekik kaget melihat keadaan mereka yang tidak berlari di tanah melainkan melompat dari pohon satu ke pepohonan lain.


Rupanya tubuh besar tidak selalu identik dengan bobot yang berat. Ini tampak dari penolongnya yang tidak terhalangi oleh tubuhnya yang berukuran raksasa namun mampu meloncat-loncat ringan bak tupai yang terbang diantara pepohonan. Yang menunjukkan bahwa tubuh monster ini memang punya bobot adalah dahan pohon yang melengkung ke bawah saat dijejaknya.


Sambil menggendong Yudi, monster itu terus menerabas dahan-dahan pohon lebat, menyingkirkannya seolah ranting dan dedaunan itu bukan apa-apa, lalu menuruni ceruk setelah berlari dengan cara demikian sekitar dua puluh kilometer jauhnya.


Sosok itu menengok ke belakang. Mencari-cari dengan pandangan liar buat memastikan keadaannya aman kemudian mendengus panjang sebelum berlari ke pohon birch besar tua yang berdiri muram. Makhluk itu bergerak ke samping kanan dan menggelincirkan tubuh ke bawah. Yudi harus menyelamatkan wajahnya dari tamparan ranting semak dengan mengangkat kedua lengannya sebagai tameng.


Di antara akar-akar pohon tua itu ternyata terdapat lubang yang cukup besar. Mulut lubang itu terhubung ke sebuah terowongan yang lumayan luas. Hewan seperti tikus atau kelinci pasti butuh ratusan tahun untuk membuat lubang seperti ini. Mereka meluncur terus ke bawah hingga kira-kira sepuluh meter sebelum berakhir di sebuah dataran yang penuh lumut. Lumut di sana cukup tebal sehingga menjadi hamparan pendaratan yang empuk saat keduanya terperosok ke dalam. Yudi terguling dua kali diikuti erangan mengaduh, sementara sang penolongnya juga hanya bisa merebahkan diri...terengah-engah!


Gua di bawah tanah ini lumayan luas, bahkan untuk memuat si monster jangkung di sebelahnya. Memang tidak seluas ruang bawah tanah, tapi ada cukup ruang untuk bernafas. Lagi pula udara di sini lebih segar dibandingkan apeknya ruang bawah tanah, belum lagi oleh bau bukit tulang itu.


”Terima kasih...” ujar Yudi.


”Jangan keburu senang. Kita belum aman.”


”Mirna?” Yudi menoleh dan mendapati penolongnya itu ternyata si monster raksasa. ”Kukira dia sudah melemparmu ke luar angkasa.”


Mirna tertawa masam, ”Dia tidak sekuat itu.”


Berada begitu dekat, Yudi dapat melihat sosok monster itu dengan jelas. Kesan itu tidak banyak berubah, tapi saat itu dia bisa melihat wajah Mirna di balik struktur wajah kucing di kepala sang monster. Yudi juga dapat menangkap jiwa Mirna dari sorot mata sedih yang terpancar di mata kuning makhluk ganjil itu. Monster yang mengerikan ini berubah jadi begitu rapuh di matanya.


”Dia pasti akan mencari kita. Kita bersembunyi dulu disini buat malam ini.”


”Yah, setidaknya sampai kita cukup beristirahat,” ujar Yudi. ”Apakah di sini cukup aman?”


”Hanya aku yang tahu tempat persembunyian ini,” keduanya terdiam beberapa saat. Pemuda itu merasa aneh memandangi Mirna dengan rupanya seperti yang sekarang. Makhluk itu memandang sedih. ”Maafkan aku, Yud! Ini semua salahku.”

__ADS_1


”Jadi kamu benar menculikku selama tiga bulan ini?”


”Kamu sudah mengetahuinya?”


”Ya...tapi tidak sebelum melihat kalian berdua di ruang bawah tanah itu. Apa yang kalian lakukan padaku?”


”Bunda Mawar yang bikin kamu melupakan semuanya.”


”Dia hampir berhasil melakukannya,” Yudi mengerang kesal.


”Aku sudah bilang kalau rencananya tidak akan berhasil padamu. Kamu sulit dikunci.”


”Dikunci? Buat apa aku dikunci?” Yudi membentak dekat  kuping sang monster yang menunduk sedih. ”Apa itu ada hubungannya dengan praktek ilmu sesat kalian?”


Mirna menghela nafas panjang sebelum memulai penjelasannya, ”Pada satu titik dalam usia hidupnya, penganut kuyang harus kawin. Agar ilmu itu jangan sampai memakan dirinya dan meningkatkan kemampuannya ke tingkat berikut. Mau tidak mau itu harus aku lakukan agar ilmuku tetap abadi, atau aku yang mati. Dan saat Bunda semakin memaksa, yang terpikir olehku hanya kamu. Bukan karena terdesak tapi karena...aku menyukaimu... itu terucap tanpa sengaja....”


Dada Yudi berdesir namun dia sedang tak ingin teranja-anja sebab pilihan Mirna justru menjerumuskannya dalam kesulitan, ”Demi kelanggengan ilmu kuyang kamu datang ke mess dan membuatku terjaga sampai lewat tengah malam, supaya aku terlambat mengejar jadwal keberangkatan. Kamu mengikutiku demi mengambil kesempatan menawariku menginap di rumahmu sampai jadwal berikutnya.”


”Kalau kamu tidak menginginkan, mana mungkin aku bisa mendapatkannya,” ujar Mirna.


”Kamu selalu punya pilihan. Santet dalam kue itu tidak dapat terbentuk seandainya kamu tidak ada hati padaku sebelumnya..”


”Bagaimana lagi, kamu memang bikin aku tertarik,” Yudi menyahut, benci mengakui kebodohannya sendiri. ”Kamu membawaku ke rumahmu, memperkenalkanku kepada bunda, dan membujukku agar aku tertarik kepadamu lewat El dan danau hijau supaya aku tidur denganmu. Untuk apa? Membenamkan benih ke janinmu?”


”Begitulah peraturannya...”


”Dan sesuai peraturannya begitu kamu mendapatkan bayinya kamu akan membunuhku, bukan begitu?”


”Ya.”


”Dan kalau bayinya laki-laki kamu juga akan membunuhnya, bukan begitu?”


”Ya.”

__ADS_1


”Jadi aku memang pernah berhasil meloloskan diri dari ruang bawah tanah itu dengan menyelamatkan Wayan. Bahwa aku memang dipecat KPC karena menghilang selama tiga bulan. Bahwa memang Siska menyusul ke Bontang gara-gara aku hilang tiga bulan. Dan benar dia memergokimu telanjang bulat di ranjangku di mess dan memutuskanku?" Yudi bertanya bertubi-tubi. "Dan benar aku dan Wayan diserang sewaktu di rumah Danu dan dibawa kembali ke rumah kalian setelahnya?"


”Ya,” Mirna kembali menjawab. Tidak hendak berbohong soal itu semua.


”Kalau begitu semuanya nyata? Semua itu benar-benar terjadi? Semua gara-gara kuyang...” Yudi akhirnya menumpahkan semua emosi, kemarahan, serta rasa jijik yang selama ini tersimpan. Gadis itu harus tahu perasaannya tentang wanita yang memilih mengabdi pada ilmu hitam demi kecantikan. ”Kamu tahu, masalah kuyang ini sungguh menggelikan. Tak terbayang olehku ada orang yang begitu picik menjadi pengikut iblis demi kecantikan yang fana. Lihat apa jadinya kamu sekarang?”


”Aku memang tidak pernah menginginkan ini,” sahut Mirna sedih.


”Kalau begitu kenapa kamu tidak menolaknya?”


”Tidak bisa ! Aku mendapatkan ini sejak lahir. Ilmu sialan ini sudah jadi bagian hidupku. Aku tidak bisa begitu saja melepaskannya. Sama mustahilnya seperti aku ingin melepas status perempuan dan menjadi laki-laki dari lahir!”


”Setidaknya kamu bisa mencoba untuk tidak menghancurkan hidup orang lain.”


”Aku minta maaf buat semuanya. Tapi kamu harus tahu, hal ini tak akan terjadi kalau kamu tidak punya andil ikut serta. Orang kan tidak bisa bertepuk sebelah tangan, sama seperti cinta tidak bisa terjalin hanya dari satu pihak.”


”Aku tahu kemana arah pembicaraanmu...” Yudi menjawab dengan bibir tercibir.


Mirna menatap Yudi, ”Aku sudah lama tahu kamu punya pacar di Jakarta. Cuma aku kaget mengetahui kamu telah melangkah begitu jauh.”


”Maaf kalau kamu mengira seperti itu. Aku memang bukan seperti yang kamu pikir.”


”Begitu juga yang kamu pikir tentangku,kan?” Mirna menyeringai aneh di balik wajah kucingnya yang seram. ”Kita sama-sama tertipu. Walau begitu aku tetap percaya kamu orang baik, yang di dekatnya aku merasa nyaman.”


”Makasih. Senang mendengarnya,” sahut Yudi.


”Manusia kan bisa salah, itu yang terjadi padamu, dan aku tidak bisa marah karenanya. Mungkin benar kata pepatah; kamu bisa melihat cinta tapi kamu juga dibutakan olehnya!” ujar Mirna. ”Aku suka kamu. Ingin mendapat cintamu. Tapi aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan itu.”


”Bagaimana aku bisa percaya?”


”Memang tidak perlu. Cukup yakinkan saja dirimu kalau aku ingin cintamu tidak dengan cara seperti itu. Aku ingin sesuatu yang murni. Bukan dipaksakan.”


Yudi mengerang, ”Kamu sudah mendapatkannya setelah dari danau hijau!”

__ADS_1


Mirna menggeleng sedih, ”Itu bukan perbuatanku. Itu perbuatan Bunda Mawar.”


***


__ADS_2