
Ular itu bergerak perlahan, yang mengingatkan Yudi pada langkah musuh yang tengah mengendap-endap demi mencegah si korban kabur sebelum berada dalam jangkauan. Tubuh hitamnya yang dipenuhi gelang-gelang kuning mulai dari batas leher hingga ekornya membuat Yudi sadar betapa berbahayanya ular yang sedang mendekati anak-anak ayam hutan itu. Ular yang dijuluki ular gelang, sesuai dengan gelang-gelang kuning yang melingkari tubuhnya, dapat menyebarkan racun yang menewaskan korbannya dalam hitungan tidak kurang dari dua setengah menit setelah tergigit.
Anak-anak ayam hutan makin berisik berciap, lengkingan meninggi seakan mereka sudah berada di ujung kematian dan tak akan bisa lolos bila pertolongan tidak kunjung datang. Yudi mengumpat-umpat dalam hati, dia tak dapat berdiam diri dan membiarkan dirinya menjadi penonton dari sesuatu yang akan menjadi musibah mengerikan ini.
Peristiwa ini bagi si ular mungkin sebuah adegan rutin dari mata rantai kehidupan namun mendapati bahwa yang diincar si ular itu hanya makluk lemah maka Yudi, dengan rasa iba, memutuskan campur tangan. Dia harus menyelamatkan anak-anak ayam itu!
Diraihnya batang pohon yang panjang dan besarnya nyaris seukuran lengan lelaki dewasa yang jatuh tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan batang pohon di tangan sebagai senjata, pemuda itu berlari ke arah anak-anak ayam dan dia datang tepat pada waktunya buat menghajar si ular yang sedang meluncurkan serangan pertama. Mendapati adanya gangguan, si ular mendesis marah. Mulutnya yang terbuka memamerkan sepasang taring mengkilap sebagai ancaman bahwa dia tidak segan buat mengusir segala penghalang.
Ular itu mengarahkan amukannya ke tempat lain. Yudi kini berdiri di antara si ular dan anak ayam. Menggenggam senjatanya, yang berupa batang pohon, erat-erat dipasangnya kuda-kuda untuk berkelahi. Yudi berharap batang pohon itu jangan sampai terlepas dari genggamannya saat berkelahi dengan binatang buas tersebut. Kecerobohan sedikit saja bisa berakibat fatal sebab nyawa taruhannya!
Peluhnya membanjir sementara menunggu serangan berikut, serangan yang hanya si ular sendiri yang tahu kapan dilakukan. Hewan berbisa itu bergerak menyamping dalam posisi yang tetap bersiap menyerang. Sesekali mendesis mengancam dengan maksud merontokkan mental lawan. Usaha itu tidak sepenuhnya gagal, walau dalam posisi siaga dan siap tempur sebenarnya pikiran Yudi pun mulai kalut. Apalagi ketika ular itu dengan cerdiknya terus mempersempit jarak yang menyebabkan pemuda itu mau tak mau terus bergerak mundur. Akibat dari posisinya yang terus didesak, jarak antara dirinya dengan sarang anak-anak ayam hutan juga makin menyempit.
Pemuda itu berusaha mengulur waktu dan berusaha sedemikian rupa mempertahankan lebar jarak dengan mengayun-ayunkan senjata. Udara yang berkesiur dari ayunan tongkat rupanya sedikit menahan laju dan keinginan ular untuk segera menyelesaikan maksudnya. Binatang itu sepertinya juga tengah mencari waktu yang tepat buat menyerang.
Tak ada waktu terluput dari sebuah kondisi siaga sekalipun. Yudi menyadari hal ini, begitu juga si ular. Pada saat itulah binatang melata tersebut bergerak bagai petir menyambar. Yudi mengandalkan gerak spontan, mengangkat kaki ke belakang buat menghindar dari gigitan kemudian mengayunkan tongkatnya ke depan untuk mendepak pergi binatang melata itu.
Si ular terguling dua kali sebelum kembali ke posisi normal, mendongak ke arah Yudi dengan pandangan marah dan desisan berisik. Pukulan yang diterimanya barusan mungkin bikin binatang sialan itu sadar dirinya tak dapat mengalahkan korbannya dengan mudah. Kali ini dia menemukan lawan seimbang, yang bukan hanya ayam hutan yang siap ditelan. Mulut si ular menganga sebagai gertak sambal sebelum akhirnya melarikan diri. Yudi bergegas mengejar, hewan melata itu mungkin menyerah hari ini namun rasa lapar tidak dapat menjamin ular itu tidak akan kembali. Keadaannya belum sepenuhnya aman bagi anak-anak ayam itu sebelum si ular mati.
Merasakan dirinya sedang dikejar hewan melata itu makin cepat merayap pergi. Yudi mengumpat kesal karena hewan itu berhasil mendahuluinya menyelinap kembali ke lubangnya. Didekatinya dengan hati-hati semak-semak dimana ular itu terakhir kali dilihatnya menghilang. Di balik semak itu terdapat gundukan yang tidak biasa, mungkin saja ada ular lain di dalam sana...ular yang lebih besar dari yang pertama...mungkin saja ibu dari si ular ketakutan yang baru saja dikalahkannya. Bila tidak berhati-hati, besar kemungkinan Yudi yang akan dipagut sebagai bentuk balas dendam karena telah menakut-nakuti anaknya dan membuat si anak ular tadi gagal mendapatkan makanan.
Yudi berjongkok mendekat dan memperhatikan gundukan itu dengan seksama. Saat itulah dilihatnya sebuah jari mencuat ganjil dari balik tanah. Cepat-cepat disingkirkannya lumut yang menutupi. Seiring terkuaknya tumbuhan yang menutupi, maka bau menyengat pun menghambur ke penciuman.
Pemuda itu berhenti sebentar buat menutup hidung. Bau itu sungguh membuatnya mual. Yudi melanjutkan penyingkiran lumut serta tanah di sekeliling jari aneh itu. Pada akhirnya pemuda itu merasa tak tahan lagi...dia mundur dengan wajah pucat pasi, matanya menatap dengan tidak percaya. Jari itu hanya sebagian kecil dari apa yang tersembunyi di bawah sana...
Yudi akhirnya mendapati siapa sosok yang terkubur disana setelah menyingkirkan semua tanah dan ilalang. Si empunya jari tersebut ternyata El. Masih dikenalinya wajah pria itu meski beberapa bagian seperti kulit tulang pipi dan batok kepala mayat tersebut dipenuhi belatung...
***
Yudi masih sibuk dengan berbagai pertanyaan dalam pikirannya, terutama pada alasan kenapa El dibunuh dan ditinggalkan terkubur secara tidak manusiawi di tengah hutan, ketika dirinya tiba di halaman depan rumah Mirna. Meski hari sudah mulai siang dengan terbitnya matahari di ufuk timur, nyatanya belum kelihatan juga aktivitas para wanita, baik Bunda Mawar ataupun Mirna, di dalam bangunan tersebut.
Tanpa gangguan dilaluinya ruang tamu, lalu ruang tengah, hingga tangga yang membawanya ke kamarnya di lantai atas. Tidak ada siapa pun di tempat itu seakan tempat ini merupakan rumah kosong. Begitu tiba di kamar dihempaskannya pantat ke atas kasur, saat itu didapatinya Mirna keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk. Di lain pihak, Mirna yang mendapati Yudi masuk ke kamar begitu saja sontak terpekik kecil, ”Yudi....kamu bikin aku kaget.”
”Maaf,” Yudi menanggapi. ”Aku juga kaget lihat kamu keluar dalam keadaan begitu.”
”Mau bagaimana lagi? Aku kan habis mandi,” balas Mirna. ”Aku bangun dan ternyata kamu sudah tidak ada di sampingku. Kemana kamu pagi ini?”
Yudi menjawab sekenanya, ”Menghirup udara segar.”
__ADS_1
Kening Mirna berkerut, “Dan kenapa kamu perlu udara segar? Di pagi-pagi buta pula?”
“Apa perlu alasan untuk itu?” Yudi malah balik bertanya.
“Nggak enak tahu ditinggal pergi sama pasangan yang semalam menemanimu tidur.”
“Maaf, soalnya aku susah tidur semalam. Terus-terusan diganggu mimpi buruk. Dan aku tidak sampai hati buat membangunkanmu, jadi aku jalan-jalan sendiri pagi tadi...”
“Buat menjernihkan pikiran,” Mirna balas menatap Yudi, ”Hanya itu?”
”Hanya itu!”
”Sebenarnya aku mencari dukungan.”
”Aku tidak mengerti,” Mirna menatap Yudi dengan mata membulat.
Yudi menatap Mirna lama, ”Aku sedikit malu mengatakan ini, aku butuh nasehat El lebih banyak. Maksudku...dia benar soal danau hijau itu...tempat itu membangkitkan cinta kita. Tapi ada hal-hal lain yang ingin aku diskusikan dengannya.”
Gadis itu menatap tak percaya, ”Jadi kamu ke tempat El?”
”El kan memang bilang kalau mereka akan pergi cepat atau lambat.”
”Tanpa mengucapkan salam perpisahan kepadamu? Sepertinya itu bukan El.”
“Percayalah, itu memang sudah sifatnya. Aku lebih kenal dia daripada kamu.”
“Tapi apa kamu tidak merasa aneh?” ujar Yudi. “Kita baru saja makan siang bersama El dua hari lalu. Saat itu rombongan sirkus tidak terlihat bersiap-siap atau merencanakan pergi.”
“Memang,” Mirna mengingat-ingat. “Tapi kita kan tidak tahu bagaimana karakter orang sirkus? Bisa jadi itu bukan soal besar, dan aku yakin mereka cukup cekatan buat membereskan peralatan dan tenda-tendanya hanya dalam hitungan beberapa jam saja begitu keputusan dari kepala mereka didapat.”
“Iya juga...” ujar Yudi. “Tapi memangnya kamu tidak sedih karena El tidak menepati janji buat kemari menemuimu dan bunda?”
Mirna tersenyum masam, “Tentu aku sedih. Hanya saja aku yakin El tidak berani di saat pertama dia mengatakan itu kepadaku.”
Yudi memandang Mirna dengan sedih, berarti gadis itu tidak tahu nasib malang yang menimpa saudara laki-lakinya. Kalau El mati dengan tragis seperti itu, pertanyaannya kemana rombongan sirkus yang menyertainya? Apakah mereka pergi meninggalkannya begitu saja atau ikut terkubur bersama El disana namun belum sempat ditemukannya sebab Yudi belum menggali lebih dalam?
“Berarti kamu tahu dia akan pergi tanpa ucapan apapun seperti yang sudah-sudah?”
__ADS_1
“Aku sudah menyiapkan diri buat kemungkinan itu, walau aku tetap berharap dia datang supaya El dan bunda berbaikan...” gadis itu dengan seenaknya duduk di pangkuan Yudi lalu merangkulnya dengan manja. ”....atau setidaknya mengucapkan salam perpisahan pada kami. Salam perpisahan cukup buat meredakan ketegangan, bukan?”
Ingatan Yudi akan masa lalu yang baru saja kembali membisikkan sesuatu yang menurut pemikirannya akan bisa membuat pemuda itu paham apakah Mirna benar-benar mencintainya, ”Boleh aku tanya sesuatu padamu, Mir?”
”Tanya apa?” ucap Mirna.
”Kamu tahu aku cinta kamu dan aku nggak kepingin pisah denganmu. Tapi aku nggak mau bikin Siska sedih, seperti El bikin kamu sedih dengan pergi tanpa mengucapkan apapun. Jadi bagaimana menurutmu, apakah aku perlu mengucapkan salam perpisahan buat Siska?”
”Dengan kata lain kamu mau pergi ke Jakarta buat ketemu Siska?” tanya Mirna setelah beberapa waktu tertegun mendengar pertanyaan yang diutarakan Yudi. Agaknya gadis itu tidak menyangka Yudi akan menanyakan hal semacam itu.
Di pihak lain Yudi terus mendesak, tersenyum dalam hati karena Mirna tidak tahu apa yang diketahunyai tentang kuyang, ilmu hitam, dan Mirna sendiri yang merupakan salah satu penganutnya. Pemuda itu bertanya lebih lanjut, ”Ya, buat mengungkapkan isi hatiku tentang kita kepadanya. Dengan begitu, perasaanku bisa lega saat kembali kemari untuk memulai kisah cinta kita.”
Mulut Mirna mengerut tipis, ”Padahal kukira kamu mau tetap disini.”
”Aku mau,” Yudi menyahut cepat. ”Masalahnya...ini masalah yang tadi aku diskusikan dengan El...aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan kepada Siska di tengah kondisinya yang tengah hamil. Mungkin ini terdengar bagai pengkhianatan tapi kondisi ini sesuatu yang harus dia hadapi. Aku bukan pria yang tepat untuknya dan bahwa tidak ada lagi rasa di antara kami berdua karena aku sudah memilihmu.”
”Masalahnya kamu ke Jakarta karena rasa terbeban harus bertanggung jawab kepada orang tua Siska. Kalau kamu tidak mau sebenarnya kamu tidak perlu pergi.”
”Hanya tujuan yang berubah. Kamu tak mau aku jadi orang yang tak bertanggung jawab atas ucapanku, kan?”
”Aku keberatan karena kalau kamu melakukan itu bisa-bisa kamu terjebak disana, begitu orang tuanya memintamu bertanggung jawab pasti kamu tidak enak untuk menolak. Rasa kemanusiaanmu yang tinggi akan mendorongmu melakukan hal yang menurutnya benar, padahal kamu ingin bersamaku supaya kita bisa hidup bahagia selamanya.”
”Untuk apa aku mengiyakan kalau Siska belum tentu menginginkanku?” sahut Yudi.
”Kenapa kamu pikir Siska tidak menginginkanmu?”
Yudi mengangkat bahu, ”Mungkin tidak! Tapi aku yang tidak lagi menginginkannya.”
”Nah, itulah! Kalau kamu melakukannya kamu pikir Siska bakal membiarkanmu pergi begitu saja?” Mirna masih berusaha membelokkan jalan pikiran Yudi. ”Dan memangnya orang tua Siska tidak akan membunuhmu? Kamu bikin anak mereka hamil dan sekarang kamu malah memutuskan meninggalkan gadis itu setelah dia hamil besar.”
Yudi mengerti keengganan Mirna merelakannya pergi, ”Harus dicoba. Seandainya dia tidak mau, dia harus! Aku sudah membuat keputusan itu!”
Karena Mirna diam saja, Yudi kembali berkata, ”Bagaimana menurutmu?”
”Aku tidak tahu...aku tidak bisa kasih jawaban...”
***
__ADS_1