
Pria itu segera keluar dari balik semak demi mengikuti sosok berjubah itu, dia sedikit terlambat karena orang itu keburu menghilang, sama seperti beberapa malam sebelumnya ketika dia dan Wayan mengintai di tempat ini. Untungnya malam ini sosok aneh itu membawa obor sebagai penerang sehingga matanya menangkap kilatan api di antara pohon besar di arah jam dua dari dirinya. Begitu memeriksa tempat itu, dadanya sesak oleh rasa gembira mendapati adanya jalan setapak di sana. Langkahnya mengendap cepat di belakang sosok itu, tangannya memegang senter yang tidak dinyalakan karena kuatir orang yang diikutinya akan kembali curiga.
Dia menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan, sosok berjubah itu mungkin bukan apa yang dicarinya tetapi keberadaannya yang mencurigakan di tengah malam buta seperti ini tidak menutup hal itu. Jadi selain senter di tangan, dia pun mengeluarkan peralatan yang dibutuhkan, terutama buku mantra sakti itu. Dirasakannya buku yang dia genggam di dalam tas kulit itu bergetar sedikit, yang mengindikasikan dirinya mendapatkan target yang tepat. Tak mau buang-buang waktu Seto mengeluarkan buku tersebut.
Pada saat itu Seto merasakan angin lembut mengalir di belakangnya. Bulu kuduknya meremang dan secara refleks si pak tua menoleh ke belakang. Seto terkejut bukan main mendapati sesosok kepala berambut panjang tanpa tubuh melayang-layang hanya beberapa meter di belakangnya. Spontan Seto menjerit histeris. Makhluk itu tidak membuang waktu, melesat cepat, dan membenamkan taringnya di pipi Seto.
Pria tua itu terjengkang akibat tumburan si kepala tanpa tubuh. Buku mantra dan senternya terjatuh entah kemana. Dia terpaksa melepas kedua benda itu karena kedua tangannya dibutuhkan untuk menyingkirkan kepala makluk ganjil itu dari dirinya. Sayangnya, taring sang makluk aneh itu telah tertanam begitu dalam hingga ketika Seto berhasil menariknya, makhluk itu berhasil menarik pula potongan daging dari pipinya. Dilemparkannya kepala makluk itu seraya memegangi pipi kirinya yang mengeluarkan banyak darah. Pria tua itu mengerang hebat...
Tangan kanannya meraba-raba permukaan tanah untuk mencari senter. Dia harus mendapat cahaya sesegera mungkin, itu adalah senjata tercepat yang bisa diandalkan agar makluk itu tidak kembali menyerang. Seto berhasil menemukan senter yang terjatuh tidak jauh darinya, belum sempat mencari buku mantranya lebih jauh terdengar lengkingan dari arah di mana dia melemparkan sosok kepala tanpa tubuh itu tadi. Dengan gerakan terlatih tangannya segera mengarahkan senter yang digenggamnya sedari tadi ke arah makhluk tanpa kepala itu, dan Seto mendapati makhluk itu menghilang cepat diantara kilatan senter.
Tanpa sengaja cahaya senter Seto terarah ke jalan setapak, ke tempat di mana terakhir kali sosok berjubah itu dibuntutinya, dan nampak sosok itu tak lagi berjalan ke arah yang semula dituju melainkan berbalik ke arahnya. Sosok itu berdiri membeku beberapa saat lamanya, dengan seluruh tubuhnya yang tertutupi dari ujung kepala ke ujung kaki, seolah memperhatikan dirinya dengan pandangan angker. Suasananya semakin menyeramkan, apalagi Seto hanya bisa melihat sosok itu samar-samar karena senternya mendadak macet...menyala-mati-menyala-mati...
Dipukulnya bagian belakang senter beberapa kali agar baterainya tetap bertahan. Tepat ketika cahaya senter menyala kembali, terlihat pemandangan di hadapannya yang makin ganjil. Jubah yang menyelimuti sosok itu terjatuh perlahan ke tanah, diikuti tubuhnya, meninggalkan kepala yang wajahnya tertutupi rambut hitam dan terurai panjang, dengan beberapa organ bagian dalam tubuhnya seperti paru-paru dan jantung yang menggantung di udara...
“Sial...” rutuk Seto ketakutan, dia tahu apa yang akan menimpanya bila tidak cepat bertindak. Dia harus mencari buku mantera itu dengan segera. Sayangnya, senternya sangat tidak membantu sebab saat itu cahayanya padam. Pria itu memukul-mukul senternya supaya kembali menyala, tidak menyadari ketika makluk ganjil itu melayang mendekat dengan cepat di tengah sorotan cahaya yang berkedip-kedip menyebalkan sampai akhirnya semuanya terlambat bagi si tua Seto...
***
Yudi tengah menikmati kopinya pagi itu – sesuatu yang sudah jadi kebiasaannya demi menggugah semangat sebelum bekerja – di teras gardu pengawas saat Danu datang menghampiri, juga dengan secangkir kopi yang tengah dinikmati. Kepulan uap yang menguar dari gelas sahabatnya itu mengirimkan sensasi aroma Arabika yang baginya terlalu kuat.
“Apa yang terjadi di rumah Rick Felds waktu itu?” Danu membuka pembicaraan. “Kamu belum menceritakan apapun padaku.”
“Banyak hal aneh...”
“Hal aneh macam apa?”
Diceritakannya apa yang dialami pasangan Felds pada malam naas itu pada Danu, persis yang diceritakan Rick kepadanya, dan juga tentang pria tua misterius yang mengatakan hal ganjil mengenai legenda setempat bernama kuyang. Lalu bagaimana hal itu membuat Mirna ketakutan setengah mati sebelum meninggalkannya dengan marah di kantin saat dia menanyakan tentang kuyang. Danu sedikit menahannya di bagian itu, “Tunggu, kamu bilang kamu cerita hal ini ke Mirna? Sekretaris Iwan Feng, Boss Personalia dan General Affairs?”
“Ya, memangnya kenapa?”
Danu malah nyengir-nyengir jahil, “Kamu belum pernah ngomong kalau kamu lagi dekat sama cewek di tempat ini.”
__ADS_1
“Cerita hal itu padanya kan bukan berarti aku lagi pendekatan dengannya.”
“Memang sih, tapi yang kudengar gadis itu tidak gampang didekati.”
Yudi mengerutkan kening, “Hey, kita kan sedang membahas soal apa yang terjadi di rumah Felds. Kenapa topiknya berbelok kesitu? Lalu bagaimana menurutmu?”
”Menurutku? Itu semua omong kosong...”
”Ayolah, Dan ! Semua ini bukan cuma kebetulan. Ada makhluk gaib terlibat disini.”
”Gue sih nggak mau terburu-buru sampai pada kesimpulan itu. Perlu dilihat dulu sebab Felds juga mengatakan hal itu, kan? Sekalipun kejadiannya tampak sama.”
”Kalau begitu katakan padaku apa itu?” Yudi bertanya kesal. ”Kamu kan tinggal di kota ini lebih lama dariku. Pasti kamu tahu sesuatu...atau setidaknya pernah dengar sesuatu tentangnya.”
”Aku tahu legenda raja elang atau ilmu pemakan mayat...kalau kuyang....” Danu menerawang. “Rasanya belum pernah dengar.”
“Kuyang itu ilmu untuk mempertahankan kemudaan...” Yudi berkata sebagai pembuka sebelum menyambungnya dengan beberapa bahan yang berhasil dikumpulkannya kemarin malam sebagai pelampiasan rasa ingin tahu.
”Di jaman hi-tech gini ngapain juga bikin perjanjian sama setan buat tetap cantik? Suruh aja dia operasi plastik, selesai perkara!” ledek Danu setelah Yudi selesai bercerita. ”Tapi nggak bisa disalahkan juga soalnya orang-orang disini masih banyak yang percaya takhyul, apalagi pihak kaum tua-tua. Cara pikir orang daerah kalau ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika biasanya langsung mikir ke yang kayak begituan.”
”Menduga begitu boleh aja. Tapi gue nggak yakin makluk gaib yang menyebabkan itu semua. Perempuan model Stella Felds apa sudi dipegang-pegang perutnya oleh orang asing?” kata Danu yang segera diiyakan oleh Yudi. ”Atau dikasih minuman yang nggak jelas.”
”Mungkin saja makhluk itu bisa berubah bentuk jadi orang yang dia kenal. Kalau begitu elu juga harus hati-hati, man. Bisa jadi dia juga ngincar bayi elu.”
”Sompret,lu! Elu nyumpahin gue ya?”
”Nggak, gue cuma kasih peringatan.”
”Kalau kasih peringatan itu yang riil, kayak gini nih...” Danu menyodorkan koran ke Yudi yang dengan sigap menangkapnya. ”...katanya belakangan hari sering terjadi serangan macan kumbang di Rawen. Sialnya tempat itu hanya lima kilometer dari rumah gue. Bagaimana kalau macan yang kelaperan itu nyamperin rumah gue Seharusnya gue milih rumah yang agak ke tengah kota, dekat kompleks rakyat...”
Kening Yudi berkerut, ”Rawen?”
__ADS_1
”Itu hutan ketiga terbesar setelah Borneo. Letaknya di sebelah utara Bontang, diapit tiga karisidenan yang cukup besar, Malindo, Bompur, dan Kamparu. Tempat itu seharusnya tempat yang indah kalau tidak ada hewan-hewan buasnya. Kamu bisa ajak Mirna jalan-jalan kesana untuk menikmati hijaunya pepohonan dan sungai kecil yang mengalir disana, kudengar sungai disana juga bisa mengabulkan permohonan cinta sepasang kekasih.”
Yudi tak mendengarkan usulan nyleneh sang teman, sibuk menyimak koran yang diberikan Danu. Matanya terbelalak melihat foto yang menghiasi bagian atas artikel utama, foto korban yang diperoleh sang wartawan untuk melengkapi berita secara eksklusif.
Foto itu samar karena diambil pada malam hari, posisi tubuh sang korban yang membujur diantara semak memang tidak memberi identifikasi yang jelas, apalagi tulisan di bawahnya memberi penjelasan bahwa wajah sang korban hancur total. Namun di halaman berikutnya terdapat sketsa foto yang merupakan rekonstruksi dari wajah sang korban dengan harapan agar pembaca bisa mengenalinya. Wajah di foto itu memang amat mirip wajah lelaki tua yang dijumpainya di rumah Felds, dan yang juga bertemu Wayan di kantor.
Menurut artikel itu seorang penebang kayu menemukan mayat saat mereka hendak menebang kayu di hutan Rawen. Mayat itu penuh luka gigitan aneh dan cukup parah, dugaan sementara penyebab kematiannya adalah lelaki tua itu diserang macan kumbang, namun otopsi resmi baru akan keluar esok lusa setelah bagian forensik selesai memeriksa mayat.
Polisi juga mengijinkan wartawan memasang sketsa rekayasa wajah supaya ada keluarga atau kerabat yang mengenali dan mau datang memberikan informasi berupa identitas korban. Artikel itu diakhiri himbauan bahwa serangan ini merupakan serangan yang kesekian tetapi masyarakat di sekitar Rawen tidak perlu cemas sebab polisi telah membentuk tim khusus untuk menangkap hewan buas itu.
Yudi teringat apa yang tertulis di internet mengenai kuyang. Ditulis disana makluk gaib itu dapat berubah wujud menjadi binatang. Mungkinkah itu termasuk macan kumbang, sang kucing hitam yang besar, kuat, dan ganas yang jadi momok pembunuhan Seto di hutan Rawen?
Di lain pihak, tewasnya si tua Seto memupus satu-satunya sumber petunjuk untuk mengetahui lebih lanjut rencana pembunuhan yang hendak dilakukan Wayan. Yudi melipat kembali koran itu dan mengepitnya di ketiak, mengenyampingkan benda itu sementara waktu untuk menikmati tetesan terakhir kopi di gelasnya. Berita tadi telah jadi awalan ganjil di pagi hari ini tapi setidaknya dia bisa sedikit lega karena rencana pembunuhan yang dirancang Wayan mustahil terlaksana dengan matinya pak tua Seto.
Ponsel di kantung celana Yudi berdering, ternyata dari Mirna, diliriknya Danu sekilas...menerima panggilan Mirna di depan sahabatnya itu seakan mengonfirmasi celotehan ngawur Danu. Tapi sahabatnya itu keburu menatapnya penuh rasa ingin tahu hingga dengan terpaksa diangkatnya ponsel bila tidak ingin deringannya yang berisik terus berlanjut, “Halo?”
“Halo,Yud...kamu sudah di kantor?”
“Sudah dari jam tujuh tadi,” balas Yudi. “Ada perlu apa?”
“Aku mau minta maaf atas ucapanku kemarin. Seharusnya aku nggak perlu semarah itu menanggapi pertanyaanmu.”
“Oh, it’s okay.”
“Kalau kamu masih ingin tahu tentang kuyang aku bisa menceritakannya sambil minum kopi usai jam kantor.”
“Nggak usah. Aku tidak ingin membicarakannya lagi,” Yudi menanggapi.
“Oh, gitu...” nada Mirna terdengar kecewa.
“Tapi aku tidak menolak undangan minum kopi.”
__ADS_1
Terdengar suara Mirna kembali ceria, “Oke kalau begitu. Sampai ketemu nanti sore.”
***