KUYANG

KUYANG
Episode 36


__ADS_3

”Banyak wanita seperti yang kamu gambarkan di tempat ini. Kalau begitu aku yakin sekarang kalau kamu memang salah lihat...”


Jarwo mengernyit tidak terima, ”Tapi aku tak akan salah mengenali wanita itu dengan lehernya yang merah menyala.”


Mendengar ini Wayan menegakan tubuh, ”Merah menyala bagaimana maksudmu?”


”Di tengah lehernya ada guratan melingkar berwarna merah. Hampir semerah api, kalau aku tidak melihatnya sebelum mabuk mungkin aku akan salah mengiranya sebagai kalung.”


”Begitu? Lalu bagaimana kamu memastikan bahwa lingkaran itu ada pada wanita yang satu lagi malam itu?”


”Kan sudah kubilang itu wanita yang sama. Dia memakai pakaian yang sama dengan tanda leher yang sama,” Jarwo bersikeras. ”Memang malam itu aku sedang pergi ke bedeng untuk mengambil tiga botol whiskey lagi sebagai teman jaga. Disana wanita itu mengendap-endap di depan pintu kamar mayat. Dia sedang memastikan kalau tidak ada orang di sekitar situ. Nyatanya memang tidak kan...dengan jam semalam itu dan cerita-cerita gosip mengenai hantu atau mayat dan semacamnya...tidak akan ada orang yang sudi lewat disana...”


”Kecuali seorang pemabuk yang perlu lewat disana untuk mengambil whiskey, yang adalah sumber energinya,” Wayan membatin.


“Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya disana tetapi dia begitu santai.”


”Kamu mengawasinya terus?”


”Hanya sampai ketika dia masuk ke dalam ruangan...” jawab Jarwo.”..setelah itu aku tidak ingat apa-apa. Kurasa karena...mungkin aku sudah tidak tahan untuk menenggak whiskey itu dan terlalu mabuk saat keluar dari bedeng untuk kembali ke pos jaga.”


”Jadi kamu tidak melihat apa yang dilakukan wanita itu?” tanya Wayan setengah kecewa


”Tidak. Lagipula itu bukan urusanku, kan?” jawab Jarwo dengan gaya menyebalkan. ”Saya ini relawan kebersihan…bukannya security! Apa yang dilakukannya bukan tanggung jawabku! Tapi kalau aku melihatnya lagi, aku bisa memastikan wajahnya.”


Ini yang ditunggu Wayan. Diserahkannya sebuah foto yang disimpannya sedari tadi di balik jaket, Jarwo memperhatikan sejenak sebelum berseru keras, “Yeah, ini dia orangnya. Bagaimana anda bisa mendapat fotonya?”


“Sudah kubilang aku punya kecurigaan. Ceritamu itu hanya memperkuat dugaanku.”


”Kalau begitu siapa dia? Semacam maniak gila atau ada kanibal di wilayah ini?”


”Bukan siapa-siapa! Dan aku tidak perlu membagi informasi ini padamu karena ini masih dalam penyelidikan polisi,” Wayan membual.


”Nah, kan benar. Aku sudah menduga anda ini polisi,” Jarwo menepuk pahanya dengan wajah puas, seakan bangga bukan main karena tebakannya tepat.


”Yang aku ingin tahu apakah dia bersama seseorang?” tanya Wayan.


”Tidak. Dia sendirian.”


”Kalau begitu bagaimana wanita itu bisa membawa mayat pria sendirian?” tanya Wayan

__ADS_1


Jarwo terdiam beberapa saat. Jawaban yang keluar dari mulutnya terdengar begitu lirih, ”Dia tidak membawanya. Mayat itu terbang.”


”Terbang?” dokter Assegaf terbelalak mendengar itu.


”Mulanya saya kira saya salah lihat. Terlalu mabuk. Mengira itu burung hantu yang keluar dari jendela ruang mayat. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bentuknya terlalu besar untuk seekor burung, lagipula sosok itu tidak mengepakkan sayap. Seolah dia mengambang di udara dan pergi ke suatu tempat.”


”Kamu sempat mengamati arah perginya?”


Jarwo berpikir sebentar, ”Barat laut.”


”Terima kasih.”


”Apa yang kudapatkan setelah menceritakan semua ini?” Jarwo mengerutkan kening.


”Kopi dan roti itu cukup sebagai imbalannya. Hitung-hitung agar kamu tidak mabuk hari ini,” Wayan menanggapi sebelum meninggalkan Jarwo bersama dokter Assegaf.


Sang dokter bertanya pada Wayan beberapa saat setelah mereka berada di ruangan lain, ”Kalau begitu kamu sudah punya dugaan siapa si kuyang ini?”


”Kira-kira begitu...”


”Siapa dia?”


”Pacar seorang teman di kantor.”


”Kamu tahu kasus hilangnya bayi wanita Amerika bernama Stella itu?”


”Stella Felds...ya, tentu...pasangan itu kemari untuk mencari pertolongan pertama.”


”Yang mana saat misa perkabungan anak mereka, Seto datang kesana. Dia sempat bertemu dengan temanku yang berpacaran dengan gadis ini dan salah langkah karena Seto memberi peringatan yang tidak diindahkannya. Sebaliknya, orang itu mungkin saja tanpa sengaja memberi tahu identitas Seto pada si kuyang.”


”Apakah temanmu itu...mungkinkah dia bakal menjadi penabur?”


”Kurasa begitu. Tapi kurasa dia baru menjalankan langkah pertama. Hubungan mereka belum terlalu akrab. Namun aku yakin kalau si kuyang memang memilihnya. Dan pada tahap yang terlalu dini itu Seto datang mengintervensi.”


”Bisa kubayangkan, pasti gadis itu tidak menyukainya.”


”Sangat tidak suka. Mungkin juga Seto sempat mengatakan sesuatu yang membuat temanku bertanya-tanya. Kuyang itu tentu tidak ingin gerakannya dipersempit oleh kecurigaan.”


”Untuk itu dia cepat membungkam Seto. Ada kemungkinan si pemuda mencarinya.”

__ADS_1


”Persis. Dan mengalahkan orang yang berpengalaman seperti Seto perlu menggunakan teknik tinggi.”


”Yang artinya melanggar batasan membunuh manusia hidup selain korbannya.”


“Untuk itu Seto harus jadi korban, jadi santapannya dengan kata lain. Padahal seperti kita tahu, kuyang tidak makan manusia dewasa.”


”Kalau sudah tahu pelakunya tentu gampang menelusurinya, dong?”


”Tidak semudah itu. Aku masih belum tahu dimana dia tinggal.”


”Kamu kira dia akan meninggalkan alamatnya begitu saja?”


”Sebenarnya aku tidak yakin tapi ada satu tempat yang memungkinkan untuk itu.”


”Dimana itu?”


”File personalia KPC.”


***


Roket mengendus kesana-kemari menembus semak-semak rimbun dan kerumunan bunga-bunga liar sementara Wayan memicingkan mata melawan cahaya matahari yang merembes diantara dedaunan pohon yang membentuk semacam atap alami setinggi gedung berlantai lima, membentuk tirai cahaya putih kekuningan yang luar biasa indah. Sayangnya bukan itu yang menarik perhatian kedua makluk berlainan jenis itu saat ini, mereka tengah memburu makluk itu...


Kuyang biasanya menyembunyikan identitas mereka dengan baik, oleh karena itu mengetahui bahwa Mirna adalah kuyang pada pertemuan pertama merupakan sesuatu yang tidak sengaja.  Itu terjadi saat insiden di rumah makan Ca’Soleh. Saat  Roket, anjing tekelnya, memergoki Mirna. Roket tinggal bersama Wayan sejak kecil, selama itu dia kerap mencium bau kuyang yang diperangi majikannya dan ikut membencinya, dengan indera penciumannya dia kerap membantu Wayan menemukan bau manusia penganut kuyang. Dan itulah yang didapatinya dari Mirna,yang saat itu sedang makan dengan Yudi.


Dia pernah melihat gadis itu beberapa kali di kantornya. Wayan mencium niat busuk si kuyang, entah dia gila atau terlalu polos, si kuyang agaknya memilih KPC sebagai tempatnya mencari korban. Korban yang dia maksud, adalah senajo atau korban induk pembuahan, sebab banyak pria yang bekerja di KPC yang tentunya bisa dipilihnya dengan mudah.


Sesuai siklus masa perkawinannya, kuyang harus melahirkan generasi penerus untuk mewariskan kekuatan dan memperpanjang usia ilmunya. Bila tidak, penganut kuyang akan termakan ilmunya sendiri. Dan Mirna amat pintar memilih Yudi, karyawan yang masih tergolong baru dan tidak tahu apa-apa soal mitos kuyang, dan mungkin juga tidak terlalu ambil pusing dengan kearifan lokal karena pemuda modern sepertinya mana percaya soal hantu dan makluk supranatural. Sesuatu yang baginya terdengar seperti cerita bodoh....


Wayan tidak menyukai pemuda itu. Pemuda sok yang merasa dirinya pintar dan bisa mengatur segala sesuatu hanya karena mengecap pendidikan bagus dan berasal dari ibukota. Sangat menyedihkan, menurutnya, tetapi biar sebagaimanapun tidak sukanya, dia tidak bisa membiarkan monster itu membunuh Yudi. Seperti halnya belalang sembah, kuyang membunuh pasangannya setelah kawin. Mereka juga akan membunuh anaknya bila mendapati anak itu ternyata laki-laki. Yang dipertahankan oleh garis keturunan kuyang hanya keturunan berjenis kelamin perempuan agar mereka bisa menjadi penerus ilmunya.


Dan si kuyang bergerak amat cepat, layaknya laba-laba mengurung mangsanya, dia membelenggu Yudi dengan asmara yang membuatnya mabuk kepayang, yang diakhiri dengan tidur bersama di kamar mess Yudi, membuatnya terlambat ke bandara dan menculiknya hingga lelaki itu hilang entah kemana selama tiga bulan ini.


Entah apa yang terjadi pada pemuda itu. Tiga bulan bukan waktu yang sebentar. Dan bila berurusan dengan kuyang maka sudah pasti pemuda itu sudah tewas. Satu-satunya petunjuk yang dia punya hanya formulir personalia ini yang...rasanya konyol membayangkan si kuyang menuliskan alamat tempat tinggalnya di form karyawan.


Kuyang adalah warga bayangan yang bisa seenaknya muncul dan menghilang. Mereka tidak pernah merasa perlu direpotkan soal surat keterangan diri tapi kuyang yang satu ini…dia bertingkah seolah dirinya manusia biasa...dan ego itulah yang membuat Wayan bisa mendapat banyak informasi tentang Mirna di formulir personalia perusahaan, seperti alamat yang ditulis secara lengkap dan KTP. Wayan tertawa dalam hati, bagaimana kuyang ini bisa punya KTP?


Dan dia akhirnya mengikuti alamat yang tertera disana, satu-satunya petunjuk yang bisa didapatinya, desa Nganjalu. Masuk akal, karena desa itu berdekatan dengan tempat dimana Seto menghilang. Sahabatnya itu pasti mengikuti benang penjejak yang mereka tinggalkan terakhir kali di dalam hutan Rawen saat mengikuti kuyang, dan salah satu desa yang bertepian dengan Rawen adalah Nganjalu yang terletak di sebelah timur.


Sebelum melakukan pencarian ke Nganjalu, Wayan menyempatkan pergi ke lokasi tempat Seto terbunuh. Sebuah tempat yang ditumbuhi pohon pinus dengan batang kehitaman yang terpanggang matahari selama ratusan tahun dan masih terpasangi pita kuning polisi. Berharap menemukan sesuatu yang luput dari perhatian polisi atau wartawan.

__ADS_1


Sayang, jarak waktu antara terjadinya pembunuhan itu dan kehadiran dirinya ke tempat itu sudah terlalu lama sehingga ia tak menemukan hal aneh. Darah mungkin telah mengering, ranting yang patah mungkin telah digantikan yang baru, dedaunan yang rebah telah berdiri kembali dalam kesegaran embun, bekas jejak kaki macan kumbang atau cakarnya mungkin telah terhapus debu, dan apapun yang mungkin menjadi saksi bisu pergumulan Seto dengan makluk siluman itu telah tersimpan rapat dalam pelukan hutan yang berwibawa.


***


__ADS_2