Lahirnya Keturunan Dewa Bulan

Lahirnya Keturunan Dewa Bulan
Chapter 69 - Pembantaian Para Prajurit


__ADS_3

Arata dan Izumi beserta satu prajuritnya yang ikut tadi terus mencari pelaku pembantaian ini di sekitaran hutan itu, sambil menunggu para prajurit yang lainnya datang.


Sementara itu Shogun pergi menaiki kudanya mencari bekas jejak kaki yang mungkin saja ada di luar hutan.


Mereka berempat sudah menebak yang melakukan pembantaian ini adalah para bandit gunung, namun mereka masih merasa ada yang janggal, karena harusnya para prajurit dapat mengalahkan para bandit gunung walaupun mereka kalah jumlah.


"Sebenarnya apa mungkin yang melakukan pembantaian ini adalah bandit gunung?" Tanya prajurit itu. Ia merasa sangat sedih dan kesal karena melihat mayat teman-temanya di bunuh itu.


"Aku juga sepemikiran denganmu, sangat tidak mungkin rasanya para bandit gunung itu dapat mengalahkan para prajurit dengan semudah ini." Balas Izumi.


"Tapi menurutku ini juga sangat aneh, kita banyak menemukan mayat para prajurit kita disini, namun aku sama sekali tidak menemukan satupun mayat bandit gunung di sini. " Balas Arata yang sedang mencari di semak-semak.


Izumi dan prajurit itu langsung saling menatap, mereka terkejut karena baru sadar, kalau tidak ada satupun mayat bandit gunung di sini.


"Arata... Kau jenius! " Teriak Izumi sambil menatap ke Arata


Sontak Arata sangat terkejut melihat Izumi yang tiba-tiba menatapnya, tapi ia juga senang di bilang jenius oleh Izumi.


"Kita harus cepat memberitahu ke, Shogun-sama, tentang ini!" Teriak Izumi.


"Siap! Aku akan segera mengejar Shogun-sama! " Teriak prajurit itu sambil menaiki kuda dan langsung berangkat mengejar Shogun.


Saat di luar hutan ia sama sekali tidak melihat Shogun. Namun, karena ia harus segera menyampaikan informasi ini, prajurit itu langsung bergegas pergi menjauh dari hutan mencari Shogun.


Saat di tengah jalan tiba-tiba prajurit itu melihat bekas jejak kaki kuda, prajurit itu langsung yakin kalau ini bekas jejak kaki kuda milik Shogun, ia pun dengan cepat langsung mengikuti bekas jejak kaki itu.


Di dalam hutan sekarang hanya tinggal Izumi dan Arata saja, mereka berdua pun melanjutkan pencarian mereka untuk menemukan bukti-bukti yang lain.


"Arata, berhati-hatilah aku takut ada jebakan yang mereka pasang. " Ucap Izumi


"Iya, iya, santai aja, memangnya kau pikir aku ini anak kecil sampai harus di kasih tahu. " Ketus Arata dengan nada menyebalkan.


******


Di sisi lain, para prajurit sedang di dalam perjalanan ke hutan. Mereka semua membawa senjata yang lengkap dan memakai baju zirah. Tetapi, para prajurit itu tidak tau tentang pembantaian yang ada di hutan.


"Cepatlah! Kita tidak boleh membuat Shogun-sama menunggu lama! " Teriak komandan yang memimpin para prajurit.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama para prajurit yang sampai persis di depan hutan, sangat banyak prajurit yang datang bahkan mereka seperti sudah mengepung hutan itu.


"Yang akan masuk ke dalam hutan hanya beberapa orang saja, yang lainya menunggu di luar dan amankan kawasan ini!"


Setelah itu 12 prajurit masuk ke dalam hutan itu, namun mereka sudah merasa aura yang sangat tidak enak di dalam hutan ini.


"Izumi-san! Arata-san! Kami sudah datang! Dimana kalian! " Teriak para prajurit.


"Oii! Kami ada di sini! " Teriak Arata sambil melambaikan tangan ke para prajurit.


Belom terlalu jauh Para prajurit masuk ke dalam hutan, mereka langsung menemui Arata yang sedang berdiri di dekat pohon.


"Arata-san, kenapa di sini sangat sepi?"


"Ke mana para prajurit yang lain?"


"Apa ada masalah, Arata-san?"


Setelah mendatangi Arata para prajurit langsung menghujaninya dengan banyak sekali pertanyaan.


Itupun membuat kepala dan kuping Arata menjadi panas, karena terus-menerus di tanya oleh 12 prajuritnya, ia pun menjadi sedikit kesal karena itu.


Seketika para prajurit langsung terdiam seperti patung, para prajurit langsung menjadi seperti anak kecil yang habis di marahi oleh orang tuanya.


"Bagus! Sekarang ikuti aku dan jangan banyak tanya lagi. Mengerti?" Ucap Arata menatap serius ke para prajurit.


"Siap! Pak! " Jawab serempak para prajurit.


Arata jalan di depan dan para prajurit mengikutinya dari belakang, para prajurit masih bingung dengan yang sebenarnya terjadi di hutan ini, tapi mereka sudah tidak berani tanya ke Arata lagi setelah di bentak olehnya.


Wajah Arata juga seperti mengisyaratkan ke mereka semua untuk tidak ada yang berbicara lagi.


"Woi, sebenarnya apa yang terjadi di sini sih?" Tanya pelan prajurit yang ada di belakang ke temannya.


"Aku juga tidak tau! Tapi mungkin kita akan segera mengetahuinya. " Jawab prajurit itu.


Semakin lama Arata membawa para prajurit masuk lebih dalam ke hutan, para prajurit semakin merasa ada kejadian yang sangat buruk di hutan ini, salah satu dari mereka pub memberanikan diri bertanya ke Arata.

__ADS_1


"Arata-san! Sebenarnya apa yang terjadi di sini?! " Teriak prajurit itu dengan nada marah.


Sontak Arata langsung berhenti berjalan, para prajurit yang ada di belakang sangat terkejut mendengar temanya berteriak sangat kencang ke Arat, tapi mereka sebenarnya juga ingin bertanya banyak hal ke Arata.


"Iya betul Arata-san! Sebenarnya apa yang terjadi?


"Pergi ke mana para prajurit yang bertugas seharusnya di sini?! "


"Jangan diam saja! tolong jawab kamu Arata-san! "


Arata pun langsung berbalik badan ke arah para prajurit, tapi para prajurit malah terkejut melihat Arata mengeluarkan air mata. Seketika para prajurit langsung merasa bersalah, para prajurit mengira Arata menangis karena pertanyaan mereka menyinggung dirinya.


"A-arata-san a-ada apa?" Tanya serempak para prajurit yang panik.


"Pa-para prajurit yang bertugas di sini telah di bunuh semua... Ta-tapi kami masih belum mengetahuinya siapa dalang dari pembunuhan ini... "Jawab Arata dengan sangat sedih.


Seketika para prajurit langsung terkejut mendengarnya, bahkan ada beberapa yang langsung terjatuh ke tanah. Para prajurit sangat bingung mau berkata apa lagi, mereka ingin mengira kalau Arata hanya bercanda, tapi itu semua tidak mungkin karena Arata saja sampai menangis seperti itu.


Tiba-tiba, ada suara langkah kaki dari belakang pohon yang ada di depan mereka. Sontak mereka semua langsung menatap serius ke arah pohon itu.


"Oi, kalian semua sudah sampai di sini..." Ucap Izumi yang datang dari belakang pohon itu.


Para prajurit langsung menghela nafas lega, karena yang muncul adalah Izumi bukanya musuh. Tapi, Izumi terheran-heran melihat mereka tampang para prajurit sangat sedih dan ia juga sangat terkejut melihat Arata menangis.


"A-ada apa ini?" Tanya Izumi sambil berjalan menghampiri mereka.


Namun tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaannya, tapi Izumi yang cerdas langsung bisa menebak apa yang terjadi.


"Oi, Arata, kau sudah menjelaskan ke mereka ya? " Tanya Izumi berbisik di kuping Arata.


Arata pun menganggukkan kepalanya sambil masih menangis. Izumi pun menghela nafasnya, yang ia harus lakukan hanya perlu membawa mereka ke tempat para prajurit di hutan ini di bunuh.


"Sudah... Jangan bersedih kita harus segera menemukan pelakunya pembantaian ini. " Ucap Izumi sambil tersenyum.


Sontak Arata dan para prajurit langsung terkejut melihatnya, mereka sangat jarang melihat Izumi tersenyum seperti itu. Namun karena senyuman Izumi, membangkitkan semangat para prajurit untuk bisa menemukan pelakunya.


"Ayo semuanya ikuti aku! Aku akan mengantarkan ke tempatnya. " Ucap Izumi.

__ADS_1


Para prajurit pun langsung mengikuti Izumi dari belakang.


__ADS_2