
"Kuro-sama! Ada masalah besar! " Teriak seorang lelaki yang memakai pakaian seperti pelayan. Ia membuka pintu besar dan tinggi yang terdapat ada bercak-bercak darah yang lumayan banyak, dan tepat di tengah pintu yang besar itu terdapat kepala patung naga yang besar.
Di dalam ruangan itu sangat gelap, ada banyak obor yang tertempel di dinding, namun obor itu semua tidak ada yang menyala satu pun.
Pelayan pria itu terus berjalan, sampai ia berhenti lagi di depan sebuah kursi yang sangat megah.
Ia langsung berlutut tepat di depan kursi megah itu. Di kursi yang megah itu ada seseorang Kuro yang sedang duduk menyilangi kakinya. Kuro menjentikkan jarinya dan seketika semua obor langsung menyala.
"Ada apa?! Cepat katakan!" Tanya Kuro yang sangat penasaran.
"Ku-kuro-sama, bandit yang berada di kota Arakawa telah di kalahkan oleh Shogun. " Jawab pria itu.
Kuro bukanya terkejut ia malah tersenyum dsn tertawa.
"Hahaha, ini seperti dugaanku! " Jawab Kuro.
Pelayan itu pun terkejut melihat Kuro yang santai-santai aja, bahkan ia tidak kesal sedikitpun.
"Kau cepat panggilkan Empat Pilar Neraka ke sini! Suruh mereka datang ke hadapanku sekarang! " Perintah Kuro kepada pelayan itu.
"Baik, Kuro-sama. " Jawab Pelayan itu, ia pun langsung berjalan keluar dari sana.
"Hahaha, Shogun sialan!Sekarang aku sudah tau semua pergerakan mu, kau sudah berada dalam kendali ku! Kali ini! kali ini! aku akan menang melawan mu Shogun! " Ucap Kuro sambil menunjukan senyuman yang mengerikan.
******
Pelayan pria itu sekarang sudah berada di depan kuil tua tempat para Empat Pilar Neraka. Kuil itu sangat gelap gulita seperti biasanya, pelayan pria itu berjala dengan cepat dan akhirnya sampai di depan patung Buddha yang sangat besar. Pelayan itu tidak berdoa, ia langsung saja menyentuh tubuh patung Buddha.
Terowongan pun langsung terbuka di bawah patung Buddha itu, pelayan itu langsung berjalan masuk ke dalam. Ia pun akhirnya bertemu dengan Empat Pilar Neraka. Mereka berempat memakai topeng rubah dengan coran warna yang berbeda-beda, sama seperti sebelumnya
Ke Empat Pilar Neraka langsung melirik ke arah pelayan itu. Mereka berempat sangat angkuh, bahkan mereka juga mengeluarkan aura Ki mereka untuk menakuti pelayan pria itu.
"Kalian semua di panggil oleh, Kuro-sama. " Ucap pelayan itu.
Seketika keempatnya pilar neraka yang tadi sangat angkuh, langsung merasa ketakutan dan keringat dingin pun mulai banyak keluar dari tubuh mereka.
"Baiklah, kami akan segera ke sana. " Jawab orang yang memakai topeng rubah berwarna merah.
"Sebaiknya kalian cepat datang, jangan membuat beliau menunggu terlalu lama. Kalian semua tau kan apa yang terjadi jika beliau sudah marah? " Jawab pelayan itu.
"Iya, iya, ini kami sudah akan pergi. " Jawab ke Empat Pilar Neraka.
Mereka berempat pun pergi menemui Shogun di markas goa tempatnya.
Sesampainya di depan pintu ruangan tempat Shogun berada, Empat Pilar Neraka langsung menarik nafas mereka untuk membuat mereka tenang dan siap jika Shogun mengeluarkan aura Ki nya yang sangat dahsyat.
Pelayan itu pun membuka pintu besar itu dan berjalan duluan membelakangi Empat Pilar Neraka.
__ADS_1
"Kuro-sama! Aku sudah membawa mereka. " Ucap pelayan sambil menunduk kepalanya.
"Hahaha, bagus! Hampir saja aku kehabisan kesabaranku karena menunggu kalian. "
*Kuro-sama, kami siap menerima perintah apapun dari mu. " Ucap serempak ke Empat Pilar Neraka sambil bersujud di hadapan Kuro.
Kuro menghampiri mereka berempat, ia juga mengeluarkan aura Ki nya yang sangat mengerikan itu.
"Kalian berempat seperti sudah bertambah kuat dari sebelumnya ya... " Ucap Kuro yang merasakan aura Ki ke Empat Pilar Neraka bertambah kuat dan banyak.
"I-itu semua berkat anda, tuanku. "
"Hahaha, benar itu semua karena aku! akulah yang terkuat bukan?! " Ujar Kuro sambil tersenyum mengerikan.
"BENAR TUAN!" Jawab serempak mereka berempat.
"Kalian berempat aku perintahkan untuk menemani ku ke kota Arakawa!" Ucap Shogun dengan suara yang lantang.
Mendengar itu membuat ke Empat Pilar Neraka dan pelayan tadi terkejut, karena di kota Arakawa ada Shogun dan pasukannya.
"A-apa, Kuro-sama, bermaksud menyerang Shogun? " Tanya pelayan itu.
"Hahaha, tentu saja! Kali ini aku akan menghabisinya! " Jawab Shogun. " Oh, iya, satu lagi. Kau berikan perintah ke para yakuza untuk mengacaukan kota Edo. Hancurkan kota sampah ini! " Lanjutnya.
"Si-siap tuan! "
"Ayo kita berangkat! " Teriak Kuro, berjalan duluan mendahului mereka semua. Ke Empat Pilar Neraka mengikutinya dari belakang.
******
Tsuki sedang berlatih sendirian di rumah, ia berlatih sendirian karena Asahi yang biasa menemaninya sedang pergi menemui para tetua menggantikan Shogun dan tentu saja Tobi dan Zax menemaninya.
"Asahi, lama sekali ya... " Ucap Tsuki yang sudah merasa bosan latihan sendirian.
Tsuki pun memutuskan menyudahi latihannya, ia langsung pergi mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kotor karena habis latihan.
"Wahhh, emang enak banget setelah latihan langsung berdendam air panas. " Ucap Tsuki yang merasakan lelah di tubuhnya perlahan menghilang. Tsuki mandi cukup lama, karens Tsuki sangat menyukai berendam di air panas seperti di rumahnya dulu.
Mengingat itu Tsuki pun jadi teringat ibu nya juga, ia sudah beberapa minggu tidak pulang karena harus menemani Asahi.
"Ibu, gimana ya kabarnya...?Setelah mandi aku akan pergi menemuinya, deh. " Ujar Tsuki sambil tersenyum membayangkan wajah ibunya yang akan senang melihatnya nanti.
Selesai mandi Tsuki langsung memakai pakainya dan bersiap untuk pergi.
"Tsuki-sama, anda mau kemana? " Tanya pelayan perempuan yang melihat Tsuki membuka pintu pagar.
"Aku ingin menemui ibuku sebentar. Tolong jaga rumah ya. " Jawab Tsuki sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Baik, Tsuki-sama. Tolong berhati-hatilah. " Balas pelayan perempuan itu sambil tersenyum juga.
Di perjalanan Tsuki selalu teringat dengan ibunya, ia sangat rindu dengan masakan dan rindu melihat senyuman ibunya yang begitu tulus.
"Tuan! Tolong lepaskan aku! " Teriak seorang perempuan
Tsuki yang mendengar suara teriakan itu langsung mencari sumber teriakannya. Ia pun melihat seorang perempuan sedang di ganggu di depan toko teh, oleh dua orang pria yang keliatannya seperti preman.
"Woi! Lepaskan tangan wanita itu! " Teriak Tsuki yang berlari ke arah mereka.
Kedua preman itu langsung menoleh melihat ke arah Tsuki, tapi mereka tidak melepaskan tangan mereka dari tangan wania itu.
"Pulang sana kau, bocah! Kami tidak ada urusan denganmu! " Teriak kedua preman itu sambil menatap sinis ke arah Tsuki.
Tetapi tentu saja Tsuki tidak gentar melihat tatapan mereka, malah Tsuki menambahkan kecepatan dan seperti ingin menabrak kedua preman itu dengan tubuhnya.
"Bocah sialan! Jika kau tidak berhenti akan ku tusuk tubuh kecilmu itu! " Teriak salah saty bandit yang langsung mengeluarkan pisau dari saku celananya.
Saat Tsuki sudah dekat preman itu langsung melayang pisaunya tepat ke wajah Tsuki, namun Tsuki berhasil menghindari dan memukul rahang preman itu dengan sangat keras.
'BUGH! '
'ARRGH! '
Dengan sekali pukulan preman itu langsung tergeletak di tanah. Temannya pun langsung ingin memukul Tsuki, tapi Tsuki dengan cepatnya langsung menahan pukulan itu dengan tangan kirinya dan membalasnya memukul dengan tangan kanannya.
'BUGH!'
'ARGH! '
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Tanya Tsuki sambil tersenyum ke arah perempuan tadi.
"I-iya, aku baik-baik saja... " Ucap perempuan itu yang takjub melihat kekuatan dari Tsuki. Padahal umur Tsuki lebih sedikit muda dari perempuan itu, namun ia bisa mengalahkan kedua preman itu hanya dengan sekali pukulan.
"Terimakasih. Kamu sangat hebat... " Ucap perempuan yang memuji Tsuki sambil tersenyum manis ke arahnya.
Tiba-tiba wajah Tsuki memerah melihat senyuman yang sangat manis dari perempuan itu, ia sekilas melihat kemiripan senyuman itu dengan senyuman ibunya.
"Na-nama kamu siapa...? " Tanya Tsuki yang gugup.
"Namaku Reina Akena! Kalau kau? " Jawab Akane yang semangat memperkenalkan dirinya.
"Na-namaku, Shinigami Tsuki. " Ucap Tsuki yang ragu memperkenalkan dirinya. Karena ia tau nama keluarganya itu banyak tidak di sukai oleh masyarakat Edo.
"Shinigami Tsuki ya... Namamu sangat mencerminkan dirimu ya! " Jawab Akane.
Sontak jawaban Akane sangat membuat Tsuki terkejut, karena ia kira Akane akan langsung meninggalkan setelah mengetahuinya namanya.
__ADS_1
"Hahaha, terimakasih atas pujiannya. " Balas Tsuki.
Mereka berdua pun berbincang-bincang di depan toko teh itu, sampai akhirnya Tsuki berani mengajak Akane untuk meminum teh bersamanya. Akane dengan senangnya menerima tawaran Tsuki, ia langsung mengandeng tangan Tsuki dan membawanya masuk ke dalam toko teh.