
Langkah kaki Arka tengah berjalan dengan cepat seakan mengabaikan Aira yang di sampingnya dan segera masuk dalam villa menuju dapur.
“Hah mereka benar-benar mempersiapkannya dengan baik." tampak berdus-dus logistik makanan dan semua keperluan mereka sangat lengkap tak tertinggal satupun. Semua ruangan begitu bersih dan harum.
Arka langsung menuju kamar utama yang dulu pernah dipakai ayah dan ibunya dan sekarang jadi kamar Arka. Arka dengan cepat membuka lemari. Omma dan Leon benar benar mempersiapkan semua hingga baju Arka dan segala perlengkapan Aira terisi penuh dalam lemari, Arka segera mengambil jaket tebal berbulu yang sangat halus dan segera meninggalkan lemari. Tapi, langkah kaki Arka terhenti saat melihat ada botol kecil yang berisi cairan bening dan di samping botol terdapat tulisan.
“Gunakan ini bila diperlukan 🤭"
Geram arka mengingat mereka pasti lagi bersenang senang sudah berhasil mengelabui Arka dan Aira. Arka bergegas keluar menemui Aira yang sedang duduk di ruang tamu. Tampak Aira kedinginan tangannya mendekap tubuhnya sendiri.
“Sepertinya kau tidak tahan hawa dingin, pakailah ini! Eh, enggak biar aku saja!”
Aira merebut jaket dari tangan Arka. “Aku saja, siapa tau kau mau berbuat jahat.” Arka terlihat menahan tawa.
Udara di Villa tua sangatlah dingin hingga Air di sana tidak jauh berbeda seperti bongkahan es yang dilelehkan. Apalagi saat malam hari udara bisa semakin membeku meski tidak turun salju tapi kerap kali angin malam bisa berhembus tajam memasuki celah celah ventilasi udara di perumahan bahkan saat cuaca buruk seakan hawa dingin tak segan segan menembus ke dalam dinding dinding villa. Villa tua memang tampak menyendiri tapi sebenarnya tidak jauh dari villa tua ada sebuah pemukiman kecil yang asri dan sebagian penduduknya kebanyakan bercocok tanam untuk menghidupi sanak dan keluarga sederhana mereka.
“Maksudmu kita dijebak disini oleh Omma dan Leon." Aira tampak diselimuti kecemasan dalam benaknya. Aira terfikirkan tentang pekerjaannya. "Apa tidak bisa pulang sekarang?”
“Disini sinyalnya kurang bagus, seumpama aku bisa suruh anak buahku pasti akan dicegah terlebih dahulu di perbatasan."
“Jadi kita harus di sini sampai ada jemputan datang?” Aira.
Arka yang tengah duduk mengangguk menjawab pertanyaan Aira.
"Bagaimana dengan pekerjaanku?."
“Leon pasti sudah mengurus semuanya."
Aira menunduk pasrah bercampur kesal. dengan ekpresi bibir manyun kedepan. Arka yang sedang duduk disamping Aira sedikit menahan tawa melihat ekspresi yang berubah ubah pada gadis itu. Arka mengulurkan tangan lalu menarik lengan Aira hingga Aira dengan cepat jatuh dalam pelukannya. Aira menolak pelukan Arka tapi tertahan pelukan Arka yang semakin erat.
“Kau takut ? kamu harus selalu dekat denganku karena di sini jarang di huni jadi kalau malam banyak suara suara aneh dirumah ini.”
Arka tak henti hentinya menceritakan hal seram kepada Aira hingga membuat tangan Aira mengepal hingga bulu kuduk berdiri merinding.
“Berhenti!! itu Cuma karanganmu saja."
Arka lantas tersenyum lebar, puas bisa jahilin Aira yang terlihat penakut. Saat melihat di dapur begitu banyak logistik dan barang barang dalam kardus Arka mengajak Aira mengeluarkan semua barang barang tersebut dan segera masak untuk siang ini. Mereka tampak kompak begitu cepat menata barang barang yang begitu banyak dalam kardus.dan segera memasak masakan sesuai selere mereka.
“Kau bisa masak?" Ujar Arka penasaran.
Aira menoleh ke arah Arka melemparkan senyum masam.
"Aku dulu bantu ibu di warung tapi Cuma antar makanan saja tidak pernah sempat belajar masak tapi aku bisa masak nasi goreng."
Arka yang juga sedikit terdiam sedang memikirkan sesuatu yang sebenarnya Arka juga tidak bisa masak. Arka mendekat ke Aira dan mendongakkan dagu kecilnya. "Masak apa saja yang kamu bisa."
Perlahan Arka memiringkan mukanya dan mencium bibir Aira lembut ... ciuman yang terbawa perasaan bukan ciuman nafsu. Dan Aira entah kenapa tidak menolak, tangannya hanya memegang erat jaket yang diberi Arka tadi seperti jatuh dalam pesona Arka. Ciuman ini hanya ciuman lembut biasa dan perlahan Arka memundurkan kepalanya dan tangan masih memegangi dagu Aira lembut. Arka menatap Aira lembut dan membuat pipi mereka menjadi merah merona bersamaan. Dengan cepat Arka dan Aira memalingkan pandangan mereka masing masing dan sangat terlihat jelas mereka sedang merasa malu apa yang mereka lakukan tadi.
__ADS_1
Aku tadi menciumnya lagi ... Dan di luar nafsuku hufff jangan lakukan lagi Arka... Dalam pokiran Arka yang sudah kembali ke meja dapur. Aira yang masih dalam pikiran kosong lansung tersadar cepat melangkah memasak sebisanya dia.
Pro kontra memasak nasi goreng
“Pakai ini enak.” Arka.
“Jangan baunya sangat menyengat.”
“Jangan pake vitsin!!!"
“Hehe."
“Cabenya banyak banget.”
“Aku suka pedas."
“Aku enggak suka.”
“Garamnya kurang banyak.”
“Apa kau minta nikah.”
“Huuufffff."
“Taraaa... Selesai juga. Tolong bawa minumnya.” suruh Aira.
“Aku tidak suka disuruh.”
Aira dengan beraninya melirikkan tatapan tajam pas ke pandangan Arka.
***
Saat dimeja makan
“Baunya agak aneh." Arka
“Kurasa enggak."
“Kalau enggak enak nanti malam layani aku.”
“Aku ingin permintaan lainnya.”
“Baiklah ... aku pikirkan nanti, sekarang kita coba barengan.”
"1,2,3" Arka Aira.
°
°
°
__ADS_1
Mata Arka dan Aira dengan secepat kilat melebar dan langsung lari ke arah wastafel.
“HAHHH.. PEDAS, ASIN ini masakan Alien.”
“Maaf... aku masakin lagi ya ... " memelas Aira.
“Jangan, kita masak mie aja sementara. Udah mau sore kita harus keluar cari kayu bakar.”
Satu jam setelah mereka makan dan bersih bersih Arka dan Aira segera keluar villa mencari kayu bakar di kebun dekat villa tua.
Memakai jaket tebal sepatu boots, membawa clurit,parang dan karung segera mereka siap mencari kayu untuk perapian karena pemanas portable villa sudah tua membuat kerjanya kurang maximal. Dengan membuat perapian akan membuat Aira lebih nyaman yang tidak tahan dingin.
Setelah berkeliling kebun ... belum juga Arka menemukan kayu yang sudah kering sementara Aira memetik berbagai bunga tanaman liar, Arka tidak keberatan Aira yang tampak sibuk sendiri sesekali Arka menipiskan bibirnya dan terlihat senang Aira tidak menjaga jarak dengannya.
“Aira beri tanda di beberapa pohon.” Pinta Arka untuk lebih mudah pulang.
Beberapa pita merah Aira kaitkan dan terus mengikuti Arka yang sudah dapat beberapa kayu kering tapi Arka harus cari lebih banyak untuk persediaan beberapa hari.
Setelah berjalan lama Aira yang sedikit lelah berjalan menyeret kaki kakinya dan mengayunkan kepala secara lunglai dan Aira membuat tanda untuk dirinya sendiri kalau Aira cukup lelah mengikuti tubuh kekar Arka yang masih sangat sehat dan kuat berjalan.
“Ayo pulang, kayunya sudah cukup.” Arka yang berdiri disisi Aira yang kelelahan sengaja cuek dengan tingkah Aira tapi dalam bibir Arka dia menahan senyum.
“Baiklah... Ayo jalan lagi..." Muka datar Aira.
“Kau jalan duluan dan lepas semua tanda yang kamu ikatkan tadi.”
“Siap.”
Aira berjalan perlahan, sesekali berhenti untuk melepas ikatan tanda jalan yang di lewati saat berangkat tadi. Di ikatan ke 7 dengan lunglai tanpa melihat disekeliling pohon Aira melepas ikatan pita merah tersebut. Seperti ada benda lumayan kecil berbulu berwarna hitam kuning terjatuh di lengan Aira dan dengan luwes berlenggak lenggok merayapi lengan Aira.
Aira sedikit tersadar ada yang jatuh di jaketnya, segara Aira berpaling dan seketika melongok dan mata membesar melihat ulat bulu merayapi lengannya. Tak ada ruang berpikir lagi, Aira lari sekuat kuatnya berteriak kencang berlari ke arah Arka yang agak jauh dibelakang. Arka yang dari jauh terheran heran dengan tingkah gadis ini sedikit bertanya tanya kenapa lagi ini anak,
Dengan secepat kilat Aira menggelantung ke tubuh Arka dengan kaki melingkari pinggul dengan eratnya. Aira seraya berteriak.
“ULAT ARKAAA!!"
“Di mana?"
“Di lenganku!” Aira meringkuk di leher Arka, merasa takut juga geli dengan ulat tersebut
Arka yang melihat ulat itu sebenarnya udah terjatuh, tersenyum lebar hingga terdengar Aira.
“Sudah...??" tanya Aira yang masih meringkuk menggelantung dengan erat di tubuh Arka, perlahan menghadap ke wajah Arka. "kau kenapa ketawa?"
Dengan senyum “Kau sangat lucu dan menarik Aira.” Arka memberi kecupan di kening Aira diiringi senyuman manis Arka Max.
__ADS_1