
Semalaman Aira sama sekali tidak bisa tidur nyenyak, pagi pagi buta di depan kaca kamar mandi Aira sangat sangat panik, beberapa kali menggosok gosok bekas cup*ng yang sengaja Fay tinggalnya di dada atas Aira. Aira sangat panik karena ini bekas cup*ngnya tidak bisa hilang hilang juga, berusaha di kasih cream, bedak apapun itu tetep saja terlihat.
Entah kenapa sedari semalam Aira takut kalau ketahuan Arka, harus jawab apa ketika Arka tahu nanti. Segera Aira berganti baju mengambil dompetnya berencana membeli plaster luka.
Tangan Aira Membuka pintu kamarnya, hatinya dan tubuhnya terkejut Arka sudah ada di depan pintu ... memberi sambutan senyuman di pagi hari, Arka begitu tampak bahagia bisa menginap di rumah kecil Aira, meski tidak sekamar ... karena Arka sudah berjanji tidak melakukan apapun pada Aira.
Aira sedikit memberi ekspresi panik di wajahnya tapi berusaha memalingkan ekspresi nya itu. Agar tidak terlihat jelas oleh Arka, tetapi tetap saja. Masih terbaca oleh Arka yang mulai tampak curiga. Sesekali menitiki setiap mimik muka Aira, hingga pikir Arka juga penasaran jam berapa Fay pulang saat dia tengah mabuk berat.
.
.
.
“Jam berapa Fay pulang?” tanya Arka.
“Ah ... itu sebenarnya aku kurang tahu ... aku sudah tertidur nyenyak di kamar.” Aira menjawab dengan sedikit gugup.
“Lalu bagaimana kau bisa pindah ke kamar setahuku kau tengah tertidur di sofa saat aku minum-minum dengan Fay?”
“Itu ... aku tengah malam terbangun, aku pindah ke kemar dan melihat kau tertidur pulas.”
“Lalu fay dimana?” tanya Arka
“Kak Fay sudah tidak ada di situ.”
“Kau bilang tadi kau tidak tahu kapan Fay pulang karena sudah berpindah tertidur dikamar!” nada intimidasi halus seorang Arka.
.
.
__ADS_1
.
Kedipan mata Aira sudah tidak imbang, sedikit memalingkan pandangannya dari Arka. Aira berusaha mencari cari kalimat untuk menjawab nada intimidasi Arka karena Aira sudah terlanjur salah mengatakan sesuatu, dengan terbata bata Aira berusaha menjawabnya. “Ah ... Aku waktu itu sangat kelelahan dan begitu mengantuk.. Ja--jadi tidak terlalu paham.” Sekilas mata Arka yang menatap curiga dengan geligat tubuh Aira, mata dan cara bicara Aira. Arka merubah ekspresi kecurigaannya dengan senyuman manis, Arka memeluk tubuh Aira dari belakang dengan menyandarkan dagunya ke bahu Aira. “Kenapa kau gugup sekali sayang, setiap pertanyaan yang aku berikan padamu.”
Dari bawah Arka melirik ekspresi wajah Aira karena begitu mencurigakan, Arka ingin mencari celah ketidakwajaran Aira saat ini. Tangan Arka perlahan menyusup dada Aira lewat kerah kaos Aira.
Semakin lama Aira semakin sangat resah, tangan Aira menahan kuat tangan Arka yang sudah separuh jalan menyusuri dada Aira, seraya menggeleng-gelengan kepalanya. “Aku ingin ke dapur dulu.”
“Ada yang kau sembunyikan dariku Aira.” nada penekanan dari Arka.
Aira menggelengkan kepalanya, degup jantungnya begitu keras, rasa takut ketahuan Arka begitu menderai di hatinya.
Dengan cepat Arka membalikkan tubuh Aira, mengkoyak hingga terobek baju Aira sontak Aira terkejut tangannya berusaha menutupi dada bagian atasnya dengan kedua tangannya ... yang sudah terlanjur Arka mengetahui ada beberapa bekas cup*ng di dadanya. Pandangan Aira menunduk, matanya tak terarah lagi ... raga panas memenuhi hati dan raut mukanya ... hingga mata Aira berkabut Air mata yang siap terjatuh ke lantai. Aira yang begitu gugup berusaha menjelaskan tentang cup*ng yang ada di dadanya.
Di sisi lain ada jiwa yang begitu sakit!! Tak b?terperi lagi. Wajah Arka menggelap dengan tatapan sadis yang berkunang air mata, menerka-nerka setiap ekspresi Aira, mata dan ekpresi muka Arka benar benar siap mengintimidasi seoarang Aira yang sudah memporak porandakan hati dan kepercayaan Arka.
“Kau pasti akan salah paham.” bibir Aira gemetar saat membicarakan kata yang barusan.
“Jawab pertanyaanku yang ini saja, kau di paksa atau kau juga mau dengannya?"
“Aku aku tidak melakukan itu dengannya.” jawab Aira gugup.
“Lantas kau mau saja disentuh dia, kalau kau dipaksa olehnya, KENAPA KAU TIDAK MINTA TOLONG PADAKU AIRA!!!!!!” bentak kasar Arka seraya napasnya naik turun dengan cepat.
Mendengar Arka membentak keras dirinya Aira meringkuk menangis tersedu-sedu seraya menggelengkan kepalanya. “Tolong percaya padaku ....”
Tak menghiraukan Aira lagi yang sedang tersedu-sedu menangis, Arka dengan cepat mengambil jaket lalu keluar rumah Aira.
Rasa pilu dalam hati Aira yang tak bisa dimengerti olehnya ... entah kenapa begitu takut ditinggalkan Arka. Mencoba berlari mengejar Arka dengan runtuhan air mata yang membanjiri pipinya.
Arka yang hendak menaiki motor, dari kejauhan Aira berteriak, “Arka kau salah paham. Tolong jangan perg ...!" “ Arka yang tak peduli lagi ... dengan cepat melajukan motornya tanpa menoleh kebelakang lagi. Tubuh Aira runtuh ke bawah ... tangan satunya menutup bibirnya yang tengah menangis keras menangis penyesalan yang begitu dalam dia rasakan ... dan belum pernah Aira rasakan sebelumnya ... hingga dalam rintihannya selalu mengatakan. “Aku takut kehilangan dia, aku takut kehilangan dia ... Tuhan ... kenapa hatiku begitu sakit ... melihat dia kecewa denganku."
__ADS_1
Motor Arka melaju dengan kecepatan penuh, hingga suara motornya menderu di setiap telinga yang mendengarnya, dengan membawa rasa emosi yang begitu dalam sangat dalam hingga ketitik dasar hatinya. Arka menghentikan motornya di depan rumah Fay, langkahnya pasti menapaki depan rumah Fay, tak tertahan lagi Kaki Arka mendobrak dengan kencang pintu rumah Fay seraya berteriak teriak memanggil Fay..
Beberapa orang penjaga kediamannya Fay sangat terkejut dan berusaha menghalangi langkah Arka yang jiwanya dipenuhi rasa kemarahan yang begitu dalam, tapi dengan tatapan seakan siap membunuh seseorang. Para penjaga rumah Fay malah ketakutan dengan sendirinya, sampai Fay mendengar Arka datang dan berteriak-teriak, Fay lantas langsung keluar kamarnya ... tapi Fay malah mendapat sambutan beberapa bogeman mentah dari Arka hingga wajah Fay berdarah darah, sedikit tatapan Fay yang begitu terkejut Fay berusaha melawan mendorong tubuh Arka dengan kuat. “Sopan sedikit saat dirumah orang!”
Perkataan Fay malah kembali membakar kemarahan Arka, Arka maju ke depan satu tangannya mencekik kuat leher Fay. “Apa kau juga berperilaku sopan pada wanitku !!!!!" geram Arka.
“Heh- kau menyebut Aira wanita mu ...?! apa dia sudah menyatakan suka dengan mu, apa ingatanmu sudah mulai rusak! keegoisanmu itu, apa kau tahu sudah memaksakan Aira hanya untukmu seorang!” Arka semakin memperkuat tangannya.
“Dengarkan baik baik, Aku sangat tahu dia menyukaiku dia tidak berani mengungkapkannya karena terhalang kau yang dikira itu mungkin rasa suka tapi sebentar lagi Aira akan sadar bahwa rasa yang dia miliki buatmu hanyalah rasa sayang adik kakak, dan hanya sebatas itu!!!" setelah kata kata itu Arka ucapkan, Arka melepaskan tarikan tangan Arka yang begitu kuat dan meninggalkan Fay dengan melaju motor dengan gilanya.
*********
Dengan sedikit gemetar Aira bangun dari tempatnya tadi, ingin sekali lagi menyakinkan tentang hatinya sebelum mengejar cinta Arka yang segera hilang sebelum Aira rasakan. Aira mengambil handphonenya ... satu satunya orang yang sudah Aira anggap neneknya sendiri karena ternyata Aira sadari dia Hmhanya punya Arka, Fay dan Omma Nena saat ini, kalau salah satu dari mereka menghilang ... Aira tidak tahu harus dengan siapa menghadapi kehidupan yang keras dikota ini.
“Hallo Omma ... bolehkah Aira mengganggu waktu omma sedikit saja saat ini ....”
“Tentu saja Aira, tapi ... Omma rasa suaramu sedikit berbeda? Apa ada hal yang terjadi? Apa kau baik baik saja dengan Arka, sayang?”
Tak tahan dengan pertanyaan Omma saat ini membuat hati Aira yang perih ditahan tahan, tapi akhirnya tidak sanggup juga Aira tahan ... untuk tidak menangis saat omma menanyakan keadaannya, seraya menangis Aira menjawab pertanyaan omma.
“Tidak baik ... Aira melukai hati Arka ... Aira menyesal omma ... maafkan Aira omma ....” tangis tersedu-sedu Aira.
Sejenak Omma terdiam memikirkan apa yang harus omma tanyakan dan berusaha memahami perasaan Aira saat ini. “Apa yang membuatmu bisa melukai hati Arka saat ini ...?”
“Ketidakpastian hati Aira ..., Aira sulit membedakan antara cinta seorang kekasih dan seorang kakak bagi Aira, bolehkan Aira tanya sesuai tentang keyakinan perasaan cinta seseorang?” tanya Aira.
“Airaku memang masih kecil, banyak hal yang harus kamu lalui untuk jadi dewasa ... Omma tidak akan marah saat tahu cucu omma sedang terluka saat ini. Omma begitu senang ... kau apa adanya dan terbuka pada omma" "Sudahkah kamu rasakan dalam hatimu selalu ingin menjaga sikap untuk lelaki itu ...? sudahkan kau merasa sangat nyaman dalam pelukannya? sudahkan kau merasa kau ingin selalu dekat dengan lelaki itu saat dia jauh? menangisi lelaki itu saat dengan perempuan lain? dan sudahkah kau selalu memasang senyum mata berbinar binar setiap kau bertemu dengan lelaki itu? Pilah pilah setiap rasa yang kau dapati saat ini ... naka kau akan tahu mana yang cinta mana yang hanya sebatas sayang seorang adik."
Semua perkataan omma membuat pikiran Aira tersekat, karena rasa yang ditanyakan omma ... sudah Aira rasakan hanya untuk Arka ... sejenak Aira terdiam dalam telfonnya. Dan membuat omma kembali ulang mengatakan sesuatu.
“Mapapun yang terjadi dan kamu alami saat ini adalah suatu teguran juga keberuntungan ... karena kalau tidak ada kejadian saat ini. Maka kau lama tidak akan tahu perasaan mana yang harus kamu kasih untuk Arka. Jadi ... apa Aira yang sudah omma anggap cucu sendiri, sudah mau mengakuinya di hadapan Arka dan mengejar cinta Arka kembali ??? "
__ADS_1
Kembali Aira menangis sedih juga menangis bahagia ... akhirnya bisa memastikan perasaaannya yang bimbang selama ini. “Iya Omma ... Aira akan berusaha dan mengejar cinta Arka agar kembali pada Aira lagi ....”
Bersambung... jangan lupa like ya