
Author jelasin lagi juga ingetin lagi ya ... kalau novel ini pertama dibuat memang di setting ber-genre Misteri. Romantis dan contest
Jadi kalau kalian ada yang tidak suka atau tidak Terima dengan alur ceritanya terserah kalian.
Author jelasin lewat scren ini saja ya.
Kalau yang ini scren komen aku di salah satu komik yang genre-nya misteri. Kadang komiknya sering dapat hujatan juga. sama kayak punyaku hehe.
Sekarang Author tidak mau ambil pusing. Author update untuk yang setia membaca saja.
Terimakasih
Desiran hingga jantung berdetak kencang, tengah di rasakan sang dokter itu. Disaat dia membuka pintu yang di mana ruangan itu ada Arka juga Aira yang tengah duduk menunggu hasil uji tes saat itu juga. Dokter specialis itu memasuki ruangan bersama kedua suster perawat yang menguji sample darah Aira.
Dokter tersebut seakan-akan berusaha menenangkan diri dan menghela nafas dalam dalam dari dalam rongga tubuhnya, sebelum menghadap pada Arka Max. Hingga dirasa dokter itu lebih bisa lebih tenang. Kini dia tengah mengambil duduk di depan Arka dan Aira. Sebelum menjelaskan tentang hasil tes darah milik Aira. Dokter itu mengatakan meminta ijin pada Arka untuk bicara secara pribadi.
“Sebelumnya maaf Tuan Arka ... kalau diperbolehkan, bolehkan saya bicara secara pribadi pada Tuan Arka.” Ucap sang Dokter.
Arka Mengerutkan keningnya seakan-akan bertanya-tanya 'ada apa ini. Apa ada hal sangat serius dengan kesehatan Aira' sedikit menahan rasa ketiksabarannya. Satu tangan Arka menggenggam salah satu tangan Aira. Meminta ijin pada istrinya untuk menunggu di luar ruangan. Aira sedikit berpaling dari Arka dan setengah mengerutkan bibir-bibirnya. Tanda kalau Aira tidak mau. Kenapa harus keluar, ini rahimku yang diperiksa adalah calon janinku. Kenapa Aku yang mungkin akan jadi seorang ibu tidak boleh mendengar keterangan tentang rahimku dari hasil tes darah ini. Arka yang disamping jelas sangat tahu kalau istrinya tengah tidak mau, dan kini Arka harus sedikit membujuk istrinya untuk mendengarkannya.
Tapi malah hal lain yang Arka dapati, baru ini Aira sedikit membangkang. Aira sedikit tertunduk membatu. Ia saat ini tengah memberikan sikap keras kepalanya untuk Arka. Dan Aira hanya menggeleng kepalanya saat Arka membujuknya. Arka menghela nafas. Berusaha memahami Aira, kalau bukan hanya dirinya saja yang cemas dan cepat ingin tahu hasil tesnya, tapi Aira jelas ingin lebih tahu lagi. Ini rahimku kenapa harus sembunyi sembunyi dariku pikir Aira.
Karena Arka tahu, ini tak kan bisa membujuk Aira. Arka mempersilakan Dokter tersebut untuk menjelaskan tentang hasil tes darahnya. Tanpa harus Aira keluar ruangan.
Tapi tangan yang menelangkupi tangan kecil Aira saat ini. Jemarinya sedikit meng elus-elus tangan Aira. Berusaha seakan menenangkan diri Aira sebelum yang mungkin saja ada berita buruk yang akan mereka dengar. Sang Dokter mungkin kalau tengah diterawang seakan membaca matra sebelum membacakan hasil tes tersebut dengan kedua suster yang ada di ruangan itu juga. Dokter tersebut mulai membuka lembaran kertas putih dengan beberapa ketikan dan Dokter itu mulai menerangkan bahwa
“Dari hasil tes uji darah yang telah teruji ... Kami mendapati pelepasan sel telur tersebut mengalami masalah, sehingga mengakibatkan sel telur tidak dilepaskan sama sekali atau terjadi pelepasan dalam waktu yang lebih lama dari yang seharusnya. Masalah ovulasi disebabkan oleh beberapa hal berikut ini, yaitu:
Kegagalan Ovarium Prematur: merupakan kondisi di mana ovarium wanita berhenti bekerja atau kehilangan fungsinya (melepaskan sel telur) sebelum usia 40 tahun.
Sindrom Ovarium Polisistik: Adanya gangguan hormon yang menyebabkan ovarium kesulitan untuk memproduksi sel telur (ovum). Hal itu menyebabkan ovulasi terganggu karena kurangnya jumlah sel telur.
Gangguan Tiroid: Gangguan pada kelenjar tiroid menyebabkan terganggunya organ reproduksi yang menyebabkan ovulasi menjadi tidak teratur. Dan dari keterangan semua ini...,” Dokter berbicara dengan memandang Arka dan Aira dan mempersiapkan dirinya sendiri. Disaat itu Aira menggenggam rapat kedua tangannya yang tergenggam satu tangan Arka “dari hasil tes ini. Maaf Tuan Arka dan Nyonya Aira. Nyonya telah positif mengalami kelainan yang membuat Anda tidak bisa memproduksi janin dalam rahim anda.”
__ADS_1
Dalam duduknya yang sedikit menegang, Aira beberapa kali mengerutkan kening, berusaha mempelajari apa saja yang dikatakan dokter tersebut. Aira masih belum jelas dengan yang dijelaskan dokter itu. Hingga Arka yang begitu seksama cepat memahami penjelasan dokter tersebut kembali mempererat genggamannya pada Aira. Mata Arka sudah mulai suram dengan berkata pada dokter di depannya.
“Katakan lebih jelasnya saja.”
Dokter itu menunduk takut. Tapi dia berusaha menjelaskannya. “Maaf Tuan Arka. Hasil tes kami telah terbaca, kalau nyonya Aira dalam keadaan mandul.”
Sontak ratusan pisau seakan menusuk punggung Aira. Dengan mata membulat sempurnakan tangan Aira reflek menggenggam erat tangan Arka. Seketika mendengar itu semua Arka tak kalah terkejutnya. Arka mengerutkan keningnya dan Arka langsung beraura gelap juga suram. Awan hitam pekat telah berpusar pada tubuh dan hati Arka. Arka yang mendapati Aira yang begitu terkejut juga sudah mulai menampakkan kesedihannya. Kini Arka menggenggam erat tangan Aira dan tangan yang lain merebut kertas hasil uji tes darah di tangan Dokter itu yang dari tadi juga hanya bisa diam dalam resahnya begitu juga kedua suster yang ada di ruangan tersebut.
Lembaran demi lembaran Arka baca dengan muka yang amat suram. Arka yang tahu betul riwayat kesehatan Aira. Jelas Arka tak terima dengan hasil tes dari rumah sakit mahal itu. Arka tak bisa lagi mengendalikan dirinya. Dia buang sembarangan kertas kertas itu.
Dengan posisi yang masih terhalang meja, kedua tangan Arka yang tak mau dia kendalikan lagi. Meraih kasar kerah dokter yang ada didepannya hingga setengah berdiri.
Setiap intonasi kekejaman seorang Arka, mengintimidasi kejam dalam gerakannya. Matanya melotot dengan rapatan gigi giginya dengan nada paraunya. “Kata—kan. Hasil tes itu sekali lagi.”
Dengan terbata bata Dokter itu menjawab perkataan Arka max. “Ma. Maaf Tuan. A-alat canggih kami sangat akurat. Kami bisa pastikan itu.”
Tak Urung Arka semakin geram. Memerah. Emosinya memuncak tajam. Hingga keluar dari tempat duduknya. Keadaan tangannya yang masih menarik keras kerah Sang Dokter. Arka mendorong kejam Dokter tersebut hingga punggung sang dokter terbentur lemari besi dibelakangnya. Di sisi lain kedua bidan itu berusaha melerai tindakan Arka pada Dokter tersebut. Di sisi lain Aira, dibuat termenung dengan hasil tes itu hingga tak merespon tindakan suaminya saat ini.
“IstriKU selalu bersamaku! tidak pernah sakit yang berarti. Bukan alatnya yang tak canggih! Tapi otak kalian yang tak becus!” Dokter itu meringkuk ketakutan. “Kalian periksa ulang lagi. Apa aku tuntut kalian.” Arka melirik kedua suster perawatan yang tak jauh dari posisinya. Mereka semua begitu ketakutan. Dengan amarah yang Arka ungkapkan.
“Besok aku kesini. Tunjukkan hasil tes sebenarnya!” Nada kasar juga ancaman dari mulut Arka. Kenapa Arka berani berbuat seperti itu. Karena tanda kehamilan Aira begitu jelas, ditambah lagi Aira pernah sekali sakit dan disaat bersamaan Arka meminta laporan kesehatan untuk Aira dan Aira tak punya riwayat sakit yang serius. Tapi tindakannya itu juga sebagian kecil pelarian dari hati Arka, yang tak Terima kalau istrinya di bilang mandul.
Hari sudah mulai sore. Arka menggandeng tangan Aira keluar ruangan itu dengan wajah yang begitu suram. Langkah kaki mereka mulai keluar dari rumah sakit tersebut tapi Aira hanya diam menunduk seakan akan pikirannya tengah kosong. Dalam langkah kaki Arka. Tangannya yang menggenggam erat tangan Aira ... membuat Langkahnya terhenti. Arka seakan mendapati Aira hanya terdiam saja. Pandangan dan tubuh Arka sekarang tengah menghadap kesisi Aira.
Mengamati ekspresi Aira yang pandangannya tengah kosong tak bisa terbaca sekalipun oleh Arka. Dimana disaat titik terendah seseorang saat terlalu terkejut. Terlalu panik. Terlalu sedih kadang seseorang itu hanya memberi ekspresi diam kosong.Padahal dalam hatinya dipenuhi pikiran pikiran yang tidak bisa dia atasi hingga satu titik ruang saja tak tersisa untuk Aira mengekspresikan kesedihannya.
Arka memeluk Aira dengan membawa rasa nyaman dalam hatinya untuk Aira. “Aira ... kenapa kau diam saja? Menangislah kalau kau ingin menangis.” Arka memeluk erat istrinya yang masih terdiam. Kini ratapan nanar juga terdapat diraut wajah Arka. Arka benar benar takut kalau Aira terlalu syok.
“Aku tidak apa apa. Tadi dokter sudah bilang mau di cek ulang.” jawab Aira. Arka berusaha menahan perih mendengar perkataan Aira. Karena Arka sendiri juga takut kalau hasilnya positif... pikir Arka, bagaimana Aira bisa menerima tentang kondisinya sendiri.
“Kita pulang ... Aku temani. Nanti aku buatin masakan yang enak.” ucapan hiburan Arka untuk Aira. Aira hanya menoleh pelan pada muka Arka, tanpa sepatah katapun Aira kembali pelan pandangannya kembali menunduk satu arah.
Mereka sedang dilanda dilema saat ini ... Saling menahan satu sama lain atas luapan hati mereka.Terkadang mereka berpikir ... Kenapa kehidupan mereka begitu kejam. Tidakkah rasa adil juga kebahagian seperti yang orang lain punya. Kenapa mereka hampir kesulitan mendapatkannya.
Sesampai di apartemen. Arka memasak buat istrinya. Baru pertama ini Arka memasak. Memasak sebisa dia, berharap dengan hal kecil ini Aira mau. Setidaknya sedikit tersenyum seperti biasanya.
Arka menyuapi Aira. Memberikan ekspresi menghibur. Selalu berusaha membujuk Aira tersenyum. Tapi ini sangat aneh. Apa yang sebenarnya Aira rasakan. Apa memang menunggu hasil tesnya dengan sabar atau malah sebaliknya. Arka sudah banyak sekali pikiran, yang dia sendiri berusaha tegar di depan istrinya yang begitu resah, dan akhirnya Arka menelpon keira untuk datang ke kantornya saat ini juga.
__ADS_1
“Sayang ... Aku keluar sebentar ya," Aira mengangguk. “ayo ngomong kenapa diam saja. Aku tidak suka.”
Aira dengan sedikit cemberut menggelengkan kepala. Akhirnya Aira sedikit memberikan ekspresi, dari wajah datarnya sedari tadi. Membuat Arka menjadi tersenyum pilu...
“Kenapa. Apa kau takut? Kau takut tak punya anak apa kau takut aku meninggalkanmu.”
Bibir Aira samar samar bergemetar, dua mata cantik itu sudah mulai berkabut. Detak jantungnya naik turun saat akan menjawab pertanyaan suaminya.
“Semua. Semuanya. Bagaimana kalau kamu tidak Terima kalau aku tidak punya anak. Dan lama lama kamu pasti jenuh denganku dan mencari seorang yang lebih cantik dan bisa punya anak.”
Di tempat tidur mereka. Arka memeluk erat erat tubuh Aira. Seakan-akan Aira hanya miliknya. Pelukan yang menandakan tidak ada wanita lain selain kamu. Di pelukan Arka, Aira menangis menggeru terisak isak. Tangisannya pecah di dekapan suaminya, hingga untuk menghirup oksigen pun Aira tak mampu karena tangis yang luar biasa.
“Jangan menangis terus. Suamimu ikut menangis mendengar tangisanmu,” Arka pun tak kuasa untuk tak ikut menangis mengeluarkan air mata. “kau boleh takut tidak punya anak. Tapi tidak perlu takut kehilanganku karena suamimu tidak akan meninggalkanmu ...! sayang ... Ada 3 rahasia yang tidak kamu ketahui. Apa kau ingin tahu.”
Hati Aira sedikit terurai setelah tangisnya yang menderu-deru barusan. Aira perlahan mendongakkan dagunya. Penasaran dengan 3 rahasia Arka.
“Rahasia apa?”
Mata Arka yang masih memerah dari rasa sedih dan tangisnya tadi menjawab rasa penasaran Aira. Dengan kepala menunduk berhadapan dengan muka istrinya.
“Pertama. Aku selalu mengatakan dalam hatiku ‘aku mencintaimu Aira' setiap kau tertawa, kau hendak tidur, saat berangkat kerja. Tapi sepertinya setiap aku bertemu kamu.”
Aira mulai tersenyum. “Yang Kedua?”
Arka mencium kening Aira dan tersenyum.
"Aku ... Sudah mengenalimu. Mksudku aku sudah tidak amnesia lagi.”
“Benarkah!”
“Kau terhibur.”
Mata sebab Aira berbinar-binar. “Jadi kau sudah ingat, dulu kau jahat padaku.”
Arka tersenyum. “Lebih awal lagi. Aku ingat saat mempekosamu. Dan sekarang akan aku ulangi lagi.”
Tangan Aira sedikit menahan dada Arka yang semakin dekat. “Tunggu. Yang ketiga belum. Dan lagi aku dibilang sakit di rahimku.”
“Aku tidak percaya. Aku sudah pernah cek kesehatanmu. Besok aku masih mau ke rumah sakit. Yang ketiga biar orangnya saja yang bicara. Sekarang bercinta dulu. Aku sudah tidak tahan lagi ...,” Arka mendekati daun telinga Aira dan menggigitnya dan dengan suara parau sensualnya, berbisik “kau sangat sexy dan sangat menggoda saat bercinta. Itu juga yang membuatku gila kalau tidak menyentuh seluruh tubuhmu.” Bisikan Arka begitu panas terdengar dikuping Aira, hingga desiran panas itu mengalir dalam rongga tubuhnya. Melakukan hal begitu intim, setelah raga mengeluarkan rasa emosi dalam dada, akan terasa lebih bergairah saat di lakukannya dengan sukarela.
__ADS_1