Laman Kosong

Laman Kosong
Tentang Arka


__ADS_3

"Dasar penipu ...! Aku harus cepat pulang dari villa ini, kalau tidak tubuhku bisa sakit semua karna mafia sex ini”.


“ Hah... akhirnya bersih juga tubuhku ... dia janji hari ini akan pulang aku beres beres dulu."


Masih ada kelegaan dalam kekesalan Aira terhadap Arka yang tidak memberi kesempatan semalam untuk beristirahat dengan nyenyak, Arka berjanji hari ini akan pulang segera Aira ganti baju sweater dan dipadukan celana jeans berwarna steelblue yang sengaja dilipat dibagian ujung kaki begitu styles melekat di tubuh kecil Aira.


Aira ingat kalau sudah beberapa hari ini dia tidak memakai liontin yang diberi Ayah ibunya dan juga diberikan juga pada Selena, segera Aira mengorek ngorek isi tasnya mencari Liontin tersebut sebelum ketemu Liontin-nya, terlihat handphone Aira yang dari pagi ini berbunyi dan ada sedikit sinyal menghampiri handphone Aira saat Aira mandi.


Aira sedikit terkejut ada 40 panggilan yang jelas pasti tidak terdengar karena HP Aira lupa lagi di silent, yang membuat Aira sedikit panik dalam hatinya ... itu panggilan dari kak Fay, Aira memeriksa beberapa pesan terlihat kak Fay memberi pesan Akan pulang waktu dekat ini dan meminta Aira menempati rumah Fay yang ada di kota A. Rumah yang dulu kali pertama Aira bertemu Fay sesaat setelah kabur dari Arka.


Akhirnya liontin kecilnya ditemukan dan segera di pakai kembali dan liontin perak ini adalah satu satunya yang bisa membawa Aira ke kakak perempuannya yang Aira berjanji akan menemukannya.


Sambil memegang erat handphonenya Aira mengerjapkan mata erat erat, bagaimana aku menjelaskan tentang kontrak ku bersama Arka dan aku, "Nggak boleh, jangan terlalu memikirkan kak Fay karna aku dan Fay murni hanya seperti kakak adik, kak Fay nggak pernah bilang apapun selain perhatiannya yang begitu banyak ... dan lagi aku tidak mau tinggal dirumah kak Fay ... ibu kak Fay bakal bertambah tidak suka denganku." Aira hanya pasrah saja karna yang pasti akan menolak ajakan kak Fay untuk tinggal dirumah itu.


Perlahan selesai memikirkan kak Fay, Aira segera keluar ... Masih terlihat Arka tertidur pulas dan segera melewati Arka, Aira ke dapur untuk memasak sesuatu yang sederhana dan beberapa camilan Minuman Aira disiapkan dimeja makan.


Aira ragu ... antara membangunkan Arka atau nunggu saja, tapi Aira ingin cepat pulang. Aira kangen bekerja dan Aira masih ada tanggungan membuat desain dress yang akan di pamerkan untuk memikat para Artis Artis ternama dibawah naungan Max entertainment.


Memutuskan untuk membangunkan Arka, segera Aira ke tempat Arka, Arka sudah tidak ada ditempatnya. Sedikit bertanya-tanya ... “kemana dia ... Apa mungkin dia mandi? ach ... apa kupanggil saja dia, biar cepat makan, ach jangan. Bahaya. Biar aja kesini aku makan duluan saja.”


PRAKKK!!!


“Suara apa itu!” Aira terkejut.


“Bunyinya ... kurasa dari arah sini ...." berjalan waswas perlahan terdengar suara Arka dari dalam ruangan besar berdebu dengan pintu terbuka.


“Aawww”


Aira melihat Arka terduduk dilantai seraya memegangi bahunya terlihat tetesan darah segar memerah meresap ke baju Arka. Aira segera berlari kecil menghampiri Arka, setengah berlutut mengamati luka Arka. Terlihat Arka tergores siku siku pigura yang sudah tua dan rapuh hingga terkena getaran dikit saja akan terjatuh, dan disaat yang bersamaan Arka berada di bawah pigura tua itu yang sedang mengambil lukisan kuno milik kakeknya untuk dibawa ke omma waktu pulang nanti. Aira segera membantu Arka berdiri,


“Pasti sakit, Di kardus logistik kemarin ada obat?” tanya Aira.


“Ada, aku taruh di laci ruang tengah.”


“Lukisannya aku yang bawa, ayo keluar aku obati lukanya,” Aira berjalan lebih cepat mengarah ke laci tempat obat dan Arka mengikuti perlahan langkah cepat kaki Aira.


“Kamu duduk di sofa ya, aku obati lukanya," Arka dengan tenang menuruti perintah Aira.


Aira yang berdiri di belakang Arka yang tengah duduk di sofa bersiap membawa kapas alkohol untuk tahap pertama mengatasi luka ringan. Arka setengah membuka baju kemejanya hingga melincir kebawah.


Aira terdiam tertegun matanya terarah ke Tatto berukuran tidak terlalu besar di punggung Arka yang selama ini Aira tidak terlalu memperhatikan kalau ada tatto di punggung Arka, Seraya menenggelamkan bibirnya Aira tersenyum lalu menggelengkan-gelengkan kepalanya dengan cepat. Arka memiringkan kepalanya sedikit melirik dan tersenyum melihat ekspresi Aira saat ini.


“Kau menyukainya?" Aira sedikit tersadar dari sikapnya tadi.


"Hah. eh- aku lihat Cuma bagus kok."


“Aku bisa menambah Tatto lagi kalau kamu mau,"

__ADS_1


“Ah, jangan satu aja malah lebih bagus."


“Berarti kau menyukainya?"


“Iya aku suka,”


“Suka apa?"


“Tattonya,”


“Bukan ... maksudku suka akunya,”


“Iya. eh- nggak, dasar kau!” cemberut kesal.


Arka tersenyum puas lagi-lagi bisa jahilin Aira yang selalu polos dalam berkata.


****


Setelah selesai memperban luka Arka, Aira segera mengambil makanan duduk di samping Arka lalu menyuapinya.bArka sedikit terkejut, Aira begitu perhatian hanya karna luka kecil dan nggak ingin menahan lagi untuk bertanya alasan Aira lebih perhatian dengannya.


"Kau perhatian sekali, ini bukan luka yang berat dan sakit ...?!”


"Aku terbiasa saat sakit mengurus diriku sendiri ... suatu hari nanti aku ingin saat aku sakit aku diperhatikan seperti aku saat memperhatikan orang lain yang sedang sakit,” sambil mata menatap kebawah.


“Taruh piringnya,”


“Kenapa?” seraya meletakkan piring di atas meja.


“lain kali hanya aku yang boleh perhatikanmu.”


“Kenapa hanya kamu yang boleh perhatikan aku.” seraya menatap mata Arka.


Pertanyaan Aira membuat raut wajah Arka terlihat jelas resah mau menjawab apa, karna Arka sendiri juga tidak tau ... karna Arka biasanya merayu wanita hanya dengan kata


“Nanti aku akan perhatiin, bukan kata kata hanya aku yang boleh perhatiin.”


Pertanyaan ini membuat Arka mengeluarkan senyuman tak percaya kalau dia akan kesulitan menjawabnya.


“Kau bersiap-siaplah, siang ini kita pulang.”


“Baiklah.” Aira berdiri akan meninggalkan Arka yang tengah duduk, tapi tangan Arka dengan cepat menarik tangan Aira hingga membuat Aira terbalik dengan tubuhnya membungkuk terlihat muka Aira sedikit lebih dekat dengan wajah Arka.


Saat Arka hendak mencium Aira penglihatannya tak sengaja mengarah ke Arak Liontin Aira yang tidak pernah dipakainya, dengan cepat pikirannya membatalkan ciumannya tersebut lalu pikiran Arka terpusat pada liontin Aira hingga sejenak mengamati liontin yang sedikit tak asing bagi Arka.


“Sejak kapan kau punya liontin ini?"


“Sejak kecil, kenapa?"

__ADS_1


Arka mengerutkan kening seakan akan berusaha mengingat sesuatu, sepertinya aku pernah melihat Liontin yang sama, "ach mungkin memang banyak yang sama di toko pasaran, hehe ....” Aira turun dari pangkuan Arka lalu menuju ke kamar.


“Mana mungkin ada yang sama, liontin perak ini desain khusus yang dibuat oleh ayah di tempat temannya yang berjualan emas dan perak dan kedua liontin ini adalah hasil tabungan ayah berbulan bulan. Dasar Arka mesum!” gumam Aira.


****


Detik berganti menit berubah berganti jam dan hari mulai siang dan sinar matahari tak enggan memancarkan cahaya terang silau saat mata hendak melihat langit biru cerah di atas. Mereka berdua segera meninggalkan Villa tua dengan mobil jemputan yang sudah Arka pesan lewat bodyguardnya yang berjaga jaga sekitaran villa.


4 jam perjalanan cukup memakan waktu untuk perjalanan pulang, Arka meminta sopir mereka untuk kerumah utama terlebih dahulu untuk memberikan lukisan pesanan omma sebelumnya, meski awalnya lukisan itu hanya di jadikan alibi tapi Arka tau ... memang lukisan itu salah satu kenangan Omma yang omma simpan di villa dulu tempat omma tinggal.


sebuah lukisan yang menunjukkan kalau kakek Arka begitu tertarik dengan omma Nena hingga tiap kali sehabis omma keluar dan sebelum masuk kerumah si kakek Arka selalu godain omma agar tidak segera masuk rumah hanya sekedar bercanda tapi setiap sedikit senyuman Omma sudah membuat hati kakek sangat bahagia dan sekarang ini omma berharap cucunya bisa seperti kakeknya yang sangat peduli dengan pasangannya.


****


Di depan pintu gerbang putih besar tampak para bodyguard membukakan pintu untuk Tuannya Arka memasuki rumah utama.


Aira tampak menurunkan kaca pintu mobil memasang ekspresi takjub juga heran. Pertama ini Aira melihat dan memasuki rumah yang begitu megah, luas dengan mengusung gaya minimalis modern dan membentang taman yang begitu luas dan benar benar bersih dan tampak beberapa pekerja kebun membersihkan taman dan sesegera memberi hormat ke Tuannya Arka Max.


Sebelum memasuki pintu terlihat omma dan asistennya menunggu Aira dan Arka segera mendekat dan ingin sekali cepat bertanya keadaan Aira dan sedikit minta maaf sudah memaksa Aira tinggal di Villa Tua.


Aira yang disambut dengan senyum dan pelukan hangat membuat Aira hanyut dalam benaknya yang sangat merindukan keluarganya dan sedikit teringat, andai ibu kak Fay seperti Omma ... tapi Aira segera memusnahkan khayalan itu karena itu tidak mungkin .


Segera omma meminta Aira untuk duduk di sampingnya, Omma nampak melihat perut Aira ....” di dalam sini sudah ada cucu omma belum?”


Sedikit terkejut dan melongo, Aira melemparkan senyum manis tapi kecut, karna itu tidak mungkin Aira mau hamil anak Arka, Aira berharap bisa punya anak bersama orang yang dia cintai.


“Lanjutkan obrolan kalian, aku mau lihat kamarku dulu dan juga ini omma aku bawakan lukisan dari kakek." segera Arka meninggalkan obrolan mereka berdua yang tadi omma tampak tersenyum senang memegangi lukisan suami omma nena yang masih muda.


****


“Sony namanya ... laki laki yang setia menemani Omma dalam keadaan apapun, pria yang bertanggung jawab dan selalu menghibur hati omma,aku berharap Arka dan Leon seperti kakeknya. Saat melihat Leon omma tidak terlalu cemas dengan sikap lembutnya ke wanita.


Tapi setiap melihat Arka omma benar benar khawatir, Aira tampak bersungguh sungguh mendengarkan setiap perkataan omma nena.


Begitu banyak wanita wanita yang Arka permainkan begitu saja tanpa kejelasan status apapun dan akan hanya berakhir beberapa hari dengan Arka, meski wanita wanita tersebut tidak keberatan tanpa status Arka tidak akan tertarik lagi dengan wanita cantik yang gila harta dan yang hanya memetingkan kepuasaannya saja.


"Apa Arka sudah mengatakan perasaannya terhadapmu Aira?”


Aira menunduk entah mau menjawab apa, Aira terjebak kontrak dan Arka menyimpan foto-foto telanjangnya juga foto bersama Arka, Aira terkadang takut kalau kak Fay tahu semua ini jadi setidaknya saat ini harus menuruti kemauan Arka tapi dalam hati Aira begitu sangat malu ... bagaimana kalau orang lain menilai Aira wanita murahan.


“Kau tampak resah Aira, Arka tidak akan mengatakan perasaannya meski itu kamu yang sudah 3 tahun Arka cari dan Arka tunggu tanpa berhubungan dengan wanita manapun."


Aira nampak terkejut tertegun dengan mata terpaku mendengar Arka menunggunya selama 3 tahun.


"Ini karena sikap ibunya, karena depresi yang amat sangat, ibunya melampiaskan kekesalannya pada Arka kecil dan Ayahnya."


Arka punya masa lalu yang pahit tentang ibunya,semua berjalan tak semestinya Ayah Arka saat itu pengusaha kaya dan berkuasa dimasanya banyak wanita yang dia kenal tapi ayah Arka Rendra Max mempunyai minat dengan anak pengusaha yang sedang pailit.gadis itu sangat cantik ... hingga membuat rendra memaksakan diri memiliki wanita tersebut dengan tidak melihat kepribadian wanita itu dan Rendra begitu terpesona dengan wanita itu.

__ADS_1


Rendra yang sangat berkuasa bersedia membantu ayah gadis itu “Vena” bangkit dari kebangkrutan dengan syarat meminta vena jadi istrinya tanpa meminta ijin kepada hati vena,rendra memaksa vena untuk bersedia bahkan rendra tidak peduli kalau vena sudah memiliki kekasih karena rendra benar benar sudah terlanjur menyukai vena dan tidak boleh sampai jatuh ke tangan orang lain.


Continued...


__ADS_2