
Karena ini rahasia, para pegawai begitu genting mempersiapkan suatu kejutan untuk Aira. Aira terlihat sangat heran ... Kenapa baru kali ini mereka begitu sibuk apa mungkin ada acara para artisnya Arka tour keluar negeri lagi.
Disitu Aira sedikit membenahi gaun pernikahan mewah tersebut dengan teliti dan tiba tiba ada 3 desainer lagi datang membantu Aira membenahi beberapa kekurangan pada gaun tersebut.
“Sebenarnya ada apa? Kenapa semua karyawan begitu sibuk dan juga bukannya gaun ini masih 5 hari lagi baru dipakai.” Tanya Aira pada salah satu desainer yang bersamanya.
“Tuan Arka bilang. Resepsinya di majuin 2 hari, jadi gaun ini harus selesai terlebih dahulu.”
“Gaun ini. Gaun termewah yang pernah aku bikin juga termahal yang aku tau. Ini sangat bagus. Sampai sampai aku tak percaya ini hasil desain ku sendiri. Aku jadi iri ... Ingin sekali merasakan gaun pernikahan sebagus ini.”
Pegawai Arka tersenyum senyum. “Bisa jadi milik Nyonya Aira nanti lebih bagusan lagi.”
Aira cemberut karena rasanya tak mungkin. Dan Aira sedikit sebal. Dari tadi Arka di hubungi tidak bisa. Dikirimi pesan cuma di Reading saja.
Malam hari di apartemen Arka. Aira tengah membuka tirai kamarnya, termenung sembari melihat lampu lampu kota. Hasil ulang sample darahku harusnya hari ini sudah ada kabar ... Apalagi Arka sendiri yang kesana. Hasilnya apa...? Kenapa Arka tidak ada kasih kabar apapun. Pesan ku juga banyak yang tidak terbaca. Huufff... Aku takut. Aku takut kalau hasilnya positif mandul dan Arka tidak mau terima ini. Hah ... Harus bagaimana aku. Suara hati Aira yang tengah resah gelisah terduduk di sofa dekat jendela kaca.
.
.
.
Sepertinya ada beberapa pesan, pikir Arka. Saat Arka hendak membaca pesan dari istrinya. Tapi keburu salah seorang petugas wedding Organizer nya berlari menghampiri Arka untuk memilih tatanan bunga bunga yang sesuai selera nona Aira. Karena waktu yang begitu singkat. Arka terpaksa harus cepat menyelesaikan hal hal yang harus dia sendiri yang memilih milih. Karena tujuan Arka adalah sesempurna mungkin untuk resepsi pernikahannya.
Pekerjaan yang begitu mendadak dan juga menumpuk sampai-sampai membuat Arka begitu kelelahan dan tak sadar tertidur di sofa di kantor salah satu tim wedding organizer nya. Karena terlalu lelahnya Arka sampai belum sempat membalas pesan dari istrinya hingga sampai pagi Arka tertidur pulas kelelahan... tidak ada yang berani membangunkannya karena sangat Arka benar-benar terlihat jelas kalau Arka sangat kelelahan.
Sampai pagi Aira terbangun dari tidurnya yang juga tertidur di sofa. Aira berpaling muka, melihat tempat tidurnya juga masih rapi dan Arka belum pulang ... Aira mengecek handphone nya, juga tidak ada pesan masuk dan Cuma dibaca saja.
__ADS_1
Aira kembali tiduran bersandar di sofa. Bibirnya terdiam seakan menipiskan kedua bibirnya. Hati kecil Aira begitu tidak tenang dan tak terasa air matanya mengalir pelan hingga terjatuh ke sofa setitik rasa sedih tertumpah di sofa miliknya.
Disaat yang sama Keira datang. Kali ini dia memasak di rumah dan langsung dibawanya ke kamar Aira. Yang sebelumnya Keira mengetuk pintu terdahulu dan Aira dengan pelan menyuarakan untuk ‘masuk saja' Sebelumnya Aira tahu kalau Keira datang. Dia segera mengusap air mata kegelisahan dari kedua pipinya.
“Kau tampak tak sehat lagi.”
“Tidak. Aku lagi malas cuci muka.”
Keira kini duduk di kursi kecil depan sofa Aira. “Aku masak enak hari ini. Aku semalam minta saran dokter kenalanku. Makanan yang sehat untuk rahim, dan ini langsung aku buatin. Rasanya juga enak. Kau harus makan yang banyak," melihat Aira sedikit diam dari yang pernah Keira lihat. Keira berinisiatif menyuapi Aira. “aku suapin ya. Ayo Ak.”
Tidak membuka mulutnya. Malah Aira mulai menangis yang semula biasa dan dengan cepat tangisnya tersedu sedu di depan Keira. Karena ketidak sanggupannya menerima kalau saja benar Arka menghindarinya karena dirinya positif mandul. Padahal ini hanya salah paham semata. Sedangkan Arka belum terbangun dari tidur lelahnya.
Keira langsung terkejut mendapati adiknya menangis tersedu-sedu dan karena apa Aira menangis. Keira belum tahu. Dan tak mau sungkan lagi. Keira menaruh piringnya tadi dan langsung memeluk adiknya. Menepuk-nepuk pelan punggung Aira.
“Kau ini kenapa? Apa kau terlalu cemas dengan rahimmu dan apa Arka sudah berangkat kerja ...? jangan terlalu cemas. Bukannya masih diperiksa lagi.”
Masih keadaan menangis. Aira menggelengkan kepalanya. Bersuara pelan di pelukan kakaknya.
“Arka tidak pulang semaleman ... dan tidak memberi kabar apapun. Seharusnya dia sudah tahu hasil tes nya. Tapi ... apa mungkin karena aku positif mandul. Arka langsung menghindari ku dari semalam. Bahkan sampai sekarang pesanku hanya dia baca saja. Tak ada yang dibalasnya.”
Tak lama handphone Aira berdering telfon dari Arka. Secepat kilat Aira menerima telfon dari Arka.
“Sayang, maaf semalem aku mendadak ada kerjaan. Kau tidak apa-apa.” Kata kata kepanikan seorang suami.
Tak segera menjawab malah Aira menangis. “Huhuhuhu ... Apa kau akan meninggalkanku.”
Arka langsung terkejut juga merasa bersalah hingga hati kecilnya bersuara. ‘Ya Tuhan. Aku sangat beruntung mendapat istri yang sangat sayang denganku. Begitu sebaliknya aku lebih menyanyangi dirinya’
“Jangan menangis. Suamimu ini sangat cengeng kalau mendengar istrinya menangis. Jangan cemaskan apapun. Aku beneran bekerja disini. 2 hari lagi bodyguard ku akan menjemputmu di hotel The Westin. Aira dengarkan aku. Aku minta maaf tidak bisa pulang 2 hari itu. Nanti ketemu aku di hotel yang aku sebut tadi. Jangan pikirkan hal yang aneh aneh ya sayang. Aku mencintaimu.” Suara Arka.
__ADS_1
Akhirnya Arka dan Aira bisa saling berbicara lewat ponsel mereka. Meski hanya sebentar saja setidaknya Aira sudah sangat lega selega leganya. Maklum Aira hamil muda, hormon nya sedang tidak seimbang jadi dikit dikit ngambek dikit dikit prasangka buruk datang begitu saja. Musti ada yang janggal sebenarnya. Saat Aira tanya hasil tes nya Arka mengalihkan pembicaraan yang lainnya. Karena Arka ingin berita bahagia itu, Arka ungkapkan bersama resepsi pernikahan mereka.
Keira yang mendengar percakapan mereka juga merasa sangat lega melihat adiknya tidak lagi menangis. Tapi... Kini hati Keira yang tengah gundah. Keira bingung. Di waktu mana yang pas buat katakan kalau dirinya ini adalah kakak Aira yang selama ini Aira cari cari.
Setelah mendapati Aira selesai makan dan sedikit beberapa percakapan. Hati Keira tengah gusar segera ingin pulang karena dia tengah tak mampu mengatakan yang sebenarnya pada adiknya tersebut. Dan akhirnya Keira berpamitan pulang berbalik badan dan pelan meninggalkan Adiknya.
“Kakak.”
Panggilan Aira yang baru saja Aira lontarkan sekejab membuat kaki Keira tersentak langsung terhenti. Hati Keira langsung tersekat tubuhnya gemetaran saat kata kakak tersebut Aira katakan dari kedua bibirnya. Dan perkataan yang tak pernah Keira sangka sangka Aira tahu duluan sebelum Keira mengungkapkannya.
Muka Keira berpaling ke sofa tempat duduk Aira. “Maksudmu kau sekarang memanggilku kakak.”
“Tidak. Aku memanggil kau kakak karena kau memang kakakku.”
“Maksudmu.”
“Maksud apa lagi. Kau lama sekali. Hanya Cuma bilang ‘aku kakakmu' begitu saja lama sekali. Aku tidak sabar menunggunya.”
Kabut juga air mata Keira sudah tak sanggup lagi terbendung. Keira berlari memeluk Aira. Memeluk erat. Pelukan penuh kasih sayang hingga tangisannya pun mengucur deras tak terkendali lagi dengan suara isikan dari tangisan Keira. Tak pelak Aira pun menangis deras. Aira lega Bisa langsung jujur mengatakan apa yang tengah dia rasakan.
“Maafkan aku Aira ... Aku sungguh tak sengaja meninggalkan kamu yang terluka dan juga Ayah, Ibu waktu itu.”
“Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Bisa kembali bertemu dengan kak selana saja. Aku sudah sangat senang. Aku masih punya keluarga di kehidupan ini. Jadi jangan pergi lagi.”
“Tidak.tidak. Mana mungkin aku pergi. Tapi dari mana kamu tahu kalau aku Selena.”
“Dari semuanya. Suaramu. Masakanmu. Cerewet mu semua aku masih hafal meski raut wajahmu berubah semua. Tapi kakakku yang dulu juga tidak kalah cantiknya dengan yang sekarang.”
Dengan mata merahnya Aira sedikit tersenyum saat bercandain kakaknya.
Keira tersenyum setengah memeluk Aira.
__ADS_1
“Setelah kecelakaan beberapa harinya aku kembali ke tempat kejadian mencari kalian. Dan dapat info kalau semua korban ada di rumah sakit xx. Aku segera kesana dan mendapati Ayah Ibu saja. Aku cari cari informasi tentang dirimu ... Sama sekali tidak ada. Dan akhirnya Ayah dan Ibu aku makamkan tidak jauh dari sini. Setelah pekerjaanku selesai. Aku akan membawamu ke makan ayah dah Ibu. Lalu Adikku saat itu sedang dimana?”
Aira bersandar di pelukan Keira. Pelan pelan menceritakan semua yang dia alami dan sampai bertemu Arka. Dan kakak adik tersebut bercerita panjang lebar. melepaskan kerinduan mereka. Sembari Keira menemani Aira di pagi hari sebelum pergi ke kantor.