Laman Kosong

Laman Kosong
Ingin punya anak


__ADS_3

Arka menyetir mobil sendiri bersama Aira, di jalanan yang tak begitu ramai dan belum pernah Aira lewati sebelumnya.


“Kita mau kemana?” tanya Aira.


Arka tengah menurunkan kaca pintu mobil dan menyulutkan korek api pada batang rokoknya.


“Bentar lagi sampai.”


“Berhenti merokok. Kau dari tadi merokok sampai tiga batang.”


Tangan kanan Arka memegang setir dan sebatang rokok, dan tangan lainnya mencubit dagu Aira.


"Ini yang terakhir. Maksudku hari ini aku terakhir merokok,” Arka mengecup bibir Aira."kita sudah sampai.”


Mata Aira beralih kedepan. Aira tersenyum Arka membawanya kepinggiran pantai. Arka memarkirkan mobilnya dipinggiran pantai yang luas. Meski tidak ada seorangpun disana dan laut terlihat gelap, hanya hempasan warna putih saat gelombang air datang. Ditambah lagi langit gelap bertabur bintang, yang seperti ini sudah cukup bahkan lebih dari cukup malah terlihat suasananya begitu romantis, juga menghibur disaat setelah mendapati hiruk pikuk jalanan kota. Membuat Aira bertambah lega dan menghirup udara pantai lewat jendela pintu mobilnya.


“Hah ... udaranya sangat bagus dan segar. Apa kita akan turun?”


“Jangan. Disini saja. Kau tak tahan dingin. Nanti kau sakit.” sahut Arka cemas.


Pikir Aira tersekat, langsung menaruh curiga pada Arka. Darimana Arka tahu kalau Aira tak tahan dingin.Ya memang betul Arka keceplosan. dasar Arka.


Aira seolah-olah ingin mengintimidasi seorang Arka. “Dari mana kau tahu aku tidak tahan dingin.”


Langsung Arka salah tingkah. Menyadari dirinya telah keceplosan barusan. Tapi tidak lama Arka merubah ekspresi. Memasang muka lebih tenang seperti tak terjadi apa-apa.


"Kau selalu memakai jaket saat pergi kemanapun. Aku pikir istriku tidak tahan hawa dingin,” Arka menggenggam kedua tangan Aira seakan menyalurkan hangat tubuh Arka lewat genggaman tersebut. “Lebih hangat kan. Pindah kebelakang yuk.” ajakan Arka pada Aira.


Mereka pun pindah di kursi belakang. Aira tengah duduk dengan kedua kakinya di atas kursi mobil, menghadap keluar pintu. Membelakangi Arka dan bersandar ke dada Arka yang begitu menghangatkan.


Arka memakai mantel tebal dan ujung mantel tersebut dipakai Arka menyelimuti tubuh Aira dalam dekapannya. “Lumayan hangat kan.” Sedangkan tangan Arka menyelinap ke kantong mantelnya yang tebal. Mengambil sesuatu berwarna emas,sedikit berat dan juga lumayan besar.


“Cokelat! Dapat dari mana coklat ini.” tanya Aira penasaran.


“Tadi ambil camilan saat pesta. Ingat istriku suka coklat dan kebetulan coklat ini kurasa enak.”


“Apa ini termasuk mengutil," Arka tersenyum. “apakah bos Max entertainment jadi salah satu pengutil hanya karena istrinya penyuka cokelat.” Candaan Aira.


Arka mencubit ujung hidung Aira. Mendekap hangat tubuh Aira dari belakang. Menyandarkan kepalanya kepunggung Aira yang dirasa harum untuk Arka, hingga Arka menciumi punggung Aira beberapa kali.

__ADS_1


“Kita lakukan sekarang yuk.” Pinta Arka yang memeluk erat tubuh Aira.


“Ini di mobil. Mana mungkin melakukan di sini.”


“Kenapa. Aku ingin mencobanya.”


Arka mulai menciumi punggung Aira dengan lembut, menyusupkan kedua tangannya ke tubuh Aira yang sebelumnya telah dia buka resletingnya. Menc*mbui. Menyusuri. Ditemani desiran suara ombak malam hari dan gemerlap berjuta-juta taburan bintang di langit yang cerah saat ini. Hingga beberapa waktu mereka lewati dengan penuh gairah yang tak terelakkan.


Aira yang sedang menunggingi Arka merasakan beberapa kali denyutan milik Arka, seakan mengalir ke dalam tubuh Aira. Aira sedikit terkejut sedikit ingin menghindar dari benda tersebut, tapi malah Arka sebaliknya. Arka memeluk lebih erat lagi tubuh Aira. Wajah Aira berpaling kebelakang.


"Arka. Kau memasukkan nya. Aku belum memasang alat kontrasepsi apapun.”


“Biarkan. Aku ingin punya anak darimu.”


“Tapi kau belum ingat siapa diriku.”


“Apa masalahnya. Aku meniduri istriku sendiri. Jadi bukankah legal, meski aku masih belum ingat dirimu,” Arka terduduk dan masih memeluk Aira. Mengambil tisu, membersihkan milik Aira dan membersihkan miliknya sendiri. Arka memasangkan baju ke tubuh Aira dan menyuruh Aira tiduran dengan kepala di pangkuan Arka. Seraya tangan Arka memijat-mijat pinggang Aira, yang mungkin prakiraan Arka, Aira sedikit kesakitan karena bermain dalam mobil.


“Aira ... aku ingin punya banyak darimu. Bersama sama menjalani hidup sampai tua nanti.”


Aira membalas senyuman,menghadap ke wajah Arka. “Jadi karena ini, suamiku mau berhenti merokok.”


Arka memberi menghadiahi kecupan di kening Aira. “Tidurlah. Mulai hari ini istriku harus banyak-banyak istirahat.”


******


Pagi dikantor Arka. Aira tengah sibuk mengerjakan gaun pernikahan atas permintaan Arka yang akan dihadiahkan pada salah satu rekan bisnisnya. Dan kebetulan Leon juga tengah berkunjung. Leon menyempatkan diri mengunjungi kakak iparnya yang tengah sibuk, dan membawakan camilan untuk Aira.


“Dimakan ya kakak ipar. Aku ke ruang kerja kak Arka dulu.


“Em, ini sangat enak. Dimana kau membelinya?”


“Kalau lagi kepingin, minta aku saja kak. Nanti aku bawakan. Aku pamit dulu ya bye ....” Lalu Leon segera keruangan nya Arka, dan sedikit terkejut mendapati kak Fay ada diruangan itu juga.


Karena hari ini ada beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan perusahan Arka. Fay harus pagi-pagi sekali membereskan pekerjaan yang tengah dia kerjaan. Ada yang aneh dari Fay. Mata Fay berkantung hitam tanda semalaman Fay tak bisa tidur nyenyak. Dan apalagi kalau bukan karena mikirin ciuman atas godaan setan saat mati lampu hehe. Disitu Arka ingin sekali bertanya, kenapa mata Fay kok bisa sampai hitam seperti itu.


Leon segera masuk. Menyapa Fay dan kakak tercintanya, lalu memberikan beberapa laporan perusahaan yang Leon belajar kelola sendiri saat ini. Setelah selesai melaporkan pekerjaannya. Tak disangka ada Keira yang tengah video call ke handphone Leon. Leon penasaran tumben Keira telfon. Dan segera Leon mengangkat video call dari Keira.


Ketika video call di angkat. Langsung terlihat wajah sangar Keira pada Leon.

__ADS_1


“Kembalikan—liontinku, Leon!”


“ka-kau tahu dari mana.” Nada terbata-bata Leon.


“Tentu saja, kakak kesayanganmu.” seru Keira.


“Bilang saja ndek laci kerjaku.” ucap Arka untuk Leon.


“Kau dengar sendiri kan. Aku hanya suruhannya saja. Eh, bentar dulu dech. Mata dan bibirmu kenapa. Kantung matamu hitam. Terus bibirmu habis digigit siapa tuh. Hahahahaha. Lihat ini dech kak. Si perawan tua kayaknya sudah laku.” Leon yang tertawa sambil mengulurkan layar hanphone nya untuk dilihat Arka. Keira langsung salah tingkah.


“Eh. Kalian jangan salah paham.ini—ini semalam kejedot pintu.” Alasan Keira.


Arka tertawa tawa kecil dengan sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu tangannya yang memegang handphone nya Leon, langsung membalikkan handphone itu ke arah Fay yang tengah berpura-pura tenang tapi sebenarnya dia resah saat keira video call. "Yang kau maksud, pintu yang ini." Arka tertawa-tawa kecil.


“Hyah! Kenapa ada dia disina?!” Keira yang kaget langsung mematikan ponselnya. Ach..kok sial sekali sich ... Pikir Keira.


Arka bersandar ke kursi kerjanya dengan senyum senyum jahilnya yang terarah pada Fay dengan satu tangannya menepuk nepuk pahanya sendiri. “Tanggung jawab Fay.”


Tangan Fay menelangkup ke dahi dan sesekali memejamkan matanya. “Ini enggak seperti yang kalian pikir--”


“Wah pria-pria ini semua diam diam menghanyutkan ya.” Timbal Leon untuk Arka dan Fay


“Bukan. Lebih tepatnya diam diam menenggelamkan.” kata Arka.


“Hahahahaha.” Leon langsung tertawa lepas.


.


.


.


****


Chapter sudah terevisi.


Sempatkan Votmen ya alias vote and komen.


Berikan dukungan kalian juga, mungkin rasa suka. Rasa Terima kasih atau Rasa menghargai kerja Author lewat Votmen.

__ADS_1


karena Votmen gak harus keluar uang hanya tinggal berbagi dan ketik-ketik sedikit 😅😅😜


thanks dan salam baca by ulanZu 🐒🙉🙈🙊🐵🐸🐥🐣🐦🐤🐞🦋🐌🦉🐺🐗🦅🦆🐝🐜


__ADS_2