Laman Kosong

Laman Kosong
Pisau untuk pengkhianat


__ADS_3

“Turunkan aku Tuan Arka ...!” Gerutu Aira. Lantas Arka menurunkan Aira lanjut Aira segera masuk rumah tanpa peduli Arka yang dibelakangnya tertutup pintu yang dengan sengaja Aira menutup pintunya. Bibir Arka seakan menggurutu, mengerjabkan mata seraya mengendus napas kecil dari rongga nya dan mengumpat kata kata “Gadis kecil ini ....” Jengkel dalam hatinya.


Arka mengambil handphone di sakunya, menahan tombol 1 yang memang khusus untuk kontak nomer Aira. Tanpa ada rasa curiga pun terpikirkan oleh Arka bahwa handphone Aira masih di tangan Key dan masih Aktif sampai sekarang. Tanpa ada respon apapun dan tidak juga tertangkap telfonnya membuat Arka bertambah kesal, yang akhirnya memilih mengetuk pintu seraya memanggil manggil nama Aira meminta dibukakan pintu.


Aira duduk di sofa ruang tamu lengannya menyiku bertumpu ke lututnya dengan tangan menutup telinganya, hatinya mengumpat Lelaki yang dibalik pintu rumahnya itu, "Pria itu berisik sekali ... Argghhh benar-benar menyebalkan!”


Keputusan membukakan pintu untuk Arka akhirnya ada juga pada Aira, dengan pelan dan sedikit mengendap-ngendap lantas pas bertatap muka dengan Arka yang sudah mulai suram di aura mukanya, Aira mengajukan syarat untuk Arka, “10 MENIT, HANYA 10 MENIT!! setelah itu kau harus pulang!"


Aura Arka yang sudah mulai menggelap dengan tingkah Aira ... langkah Arka pelan tapi dengan pasti ingin menyergap tubuh Aira, hingga langkah Aira berjalan mundur-- mundur-- yang awalnya pelan hingga berubah jadi larian kecil saat merasa jiwa Arka sudah tidak normal lagi, yang terpikirkan Aira hanyalah lari menghindari Arka yang pasti akan menyentuhnya kembali.


Berlari ke kamarnya sendiri lanjut melentangkan tubuh dan secara tiba-tiba si gadis kecil itu menggulungkan tubuhnya ke selimut hingga benar benar serupa dengan kepompong putih yang hanya terlihat kepala dan mukanya, Arka yang mengikuti larian kecil Aira terheran heran, anak ini mau ngapain ... seraya alisnya tertarik kebawah dan tangan Arka sebelah kiri mencubit-cubit bibir bawahnya terheran heran melihat tingkah Aira. Apa yang dilakukan Aira sekarang malahan membuat senyuman tipis tipis dari bibir Arka seraya mata Arka yang berbinar, menggelengkan kepala hingga kakinya melangkah menghampiri Aira dan duduk di sebelah Aira.


Arka Duduk Disisi pinggir tempat tidur Aira yang terlentang layaknya kepompong. “Kau pria mesum, kau tidak akan bisa apa-apain diriku lagi sekarang!" umpat Aira. Arka yang duduk disampingnya-- "Benar sayang, aku tidak akan bisa apa-apain kamu.” tapi tangan Arka malah memegang ujung selimut ... Arka selipkan ujung kainnya yang malah bisa mengunci Aira agar tidak bisa terlepas, lalu Gerak tangan Arka mencengkeram lengan lengan Aira hingga menyandarkan tubuh Aira ke sandaran tempat tidur.


Mata Aira kebingungan, melihat Arka malah mengunci selimutnya. Arka dengan posisi duduk dan tenang melemparkan pertanyaan untuk Aira.


“Dimana handphonemu?” tanya Arka.


“Sudah lama hilang.” Sahut Aira, mata Arka bertambah memandang tajam pada diri Aira.


“Ada orang yang mengancammu atau kau diberi pesan yang aneh?”

__ADS_1


“Tidak, Tidak aneh mereka mengirim foto wanitamu yang kau habis berenang dengannya lalu menggendong wanita itu sampai masuk kamar, tidak aneh, 'kan!”


Arka terjengit, pikirannya tersekat dalam hatinya menerka-nerka seseorang yang berani merencanakan ini semua dan sampai melukai hati Aira nya, bahwa tidak hanya foto dirinya bersama Aira atau dirinya yang bersama Yura saat di kelab dan di kabin pesawat tapi juga saat di apartemen miliknya.


Menduakan pikirannya tentang kecurigaannya tadi, Arka lebih memilih untuk fokus dahulu dan tidak ingin Aira akan salah paham mengenai dirinya selama di negara S. “Aku melupakan sesuatu dari tadi, bukannya kau tadi haus?” ucap Arka.


Aira menggangguk seadanya seolah-olah tak peduli apa yang dikatakan Arka Max padanya, karena pikir Aira ... Arka seakan mengalihkan semua topik yang barusan mereka bahas ... dan apa itu berarti iya benar apa adanya, pikir Aira.


Arka berdiri dan masih memandang Aira. “Aku keluar dulu.” seraya Arka memalingkan tubuhnya.


“Tunggu! Bisakah kau lepaskan selimut ku ...? i-ini ... sedikit sesak,” pinta Aira diikuti wajah memelasnya.


Sambil lalu Arka menaiki motor sport-nya, melaju dengan cepat lalu berhenti di sebuah mini Mart kecil, beberapa air mineral dan berbagai camilan hingga satu kantong kresek Arka bawakan untuk Aira. Tidak lama di jalan ... Arka segera kembali memasuki kamar Aira yang masih mendapati tubuh Aira yang berbalut selimut. Kembali Arka duduk dipinggiran ranjang Aira, seraya menyodorkan botol air mineral.


Aira mendengus kesal, “Aku tidak bisa mengambil dan juga meminumnya!” ucap Aira kesal karena Arka tak juga membukakan selimutnya. Tanpa di duga duga... Arka membuka tutup botol lalu meminumnya seraya melirikkan Matanya tertuju ke Aira, dengan mulut yang masih terlihat mengantongi air yang diminum nya ... tubuh dan wajah Arka mendekat, tangan Arka sebelah kanan mencongakkan dagu Aira ... bibir Arka Menempel dan memanggutkan mulutnya hingga membuat Aira terkejut hingga bola matanya membulat ... Arka meminumkan minumannya lewat bibirnya yang sedikit memaksa Aira harus menelan semua air yang ada dalam rongga mulutnya ... Hingga habis tak tersisa Aira lagi lagi menerima ciuman dari Arka.


a“Apa yang seperti ini kau masih percaya kalau aku ada main sama perempuan selain kamu? Dan juga apa belum cukup aku saat ini lagi cemburu kau hari ini jalan bersama Fay, kau tersenyum lepas di depannya, Apa yang sudah Fay lakukan kepadamu hingga kau begitu nyaman dengannya?”


Aira masih terbatuk batuk tersedak air yang secara paksa Arka meminumkannya, mimik muka Aira menyengir mengerjabkan mata dengan tertahan-tahan, ini aku bener bener bodoh ... membuat diriku layaknya kepompong biar Arka tidak bisa menyentuhku... masih saja dia punya cara lainnya. pikir Aira.


“Lepaskan aku dulu, Tuan mesum!” cela Aira. Perlahan Arka melepaskan ikatan selimut yang dia buat, hingga selimut terbuka ... Aira tidak langsung menjawab pertanyaan Arka dan malah mau kemana Aira berpindah bangun dari tempat tidur menghindari Arka. Arka yang merasa sejak Aira pindah dari apartementnya sikap Aira berubah lebih kaku dan cuek. Sedikit hati Arka kecewa, Arka menarik tangan Aira ... Hingga tubuhnya terlempar di tempat tidur, Arka menyusul ... lututnya melangkahi pinggang Aira, sejenak menatap sayu mata Aira hingga Arka mengeluarkan kata-kata “Kau semakin menolakku, hingga aku harus berbuat seperti ini ...”

__ADS_1


Lutut Arka mempererat gerak Aira ... melihat Aira di depannya yang sudah resah oleh tindakannya ... membuat Arka sedikit gerah ... jemari Arka menyapu rona pipi Aira yang sudah memerah, bibir Arka mulai mendekati bibir Aira ... melum*tnya dengan lembut berusaha menunjukkan rasa sayangnya pada Aira, tapi gerak tangan Aira yang mendorong tubuh Arka, membuat kedua tangan Arka harus terpaksa merentangkan tangan Aira ke sprei dan menguncinya dengan kuat.


Dari pengalaman Aira bersama Arka. Aira pikir pasti Arka ini ingin yang gituan. Cepat-cepat memikirkan sesuatu untuk menghentikan Arka yang hampir berlanjut lagi. Dan Aira dapat ide, dan semoga berhasil. “Haruskah kita berkencan dahulu?” dan ternyata berhasil! Arka berhenti saat Arka sudah mau menjam*hi Aira kembali.


Aira yang masih dibawah tubuh Arka, Arka sedikit tercengang dengan kata-kata tersebut “Kencan ...?!” tiba-tiba pipi Aira merah merona dan sedikit memalingkan wajahnya, karena selama ini Aira belum pernah merasakan kencan, dan kencan itu seperti apa, apa mungkin nonton film di bioskop, apa mungkin juga makan malam di restoran mewah, aahh Aira benar benar canggung kalau kalau Aira salah mengartikan kencan yang sebenarnya itu seperti apa.


“A-Apa kau akan berhenti melakukan ini jika aku bersedia kencan denganmu? tapi ..., tunggu dulu kalau kita sudah berkencan bukan berarti kita sudah pacaran 'kan?” Setelah pertanyaan Aira tersebut, membuat Arka berpindah dari tubuh Aira lalu duduk di sebelah Aira. Wajah Arka terlihat canggung Tangannya menggaruk serampangan rambut belakang kepalanya. Pertanyaan ini benar benar yang pertama kalinya ..., pikir Arka, Seperti apa rasanya pacaran, karena setau Arka menikmati satu sama lain itu sudah cukup dan memberi imbalan atas kenikmatan yang telah para wanita berikan padanya itu sudah dirasa cukup. Dan ini pertama kalinya dia membuat janji kencan dengan seorang wanita.


“Baiklah aku tidak akan lanjutkan memakanmu kalau kau besok janji untuk berkencan." Setelah percakapan dengan Aira selesai dan Aira kembali memakai sweternya meski sempat tangan Arka jahil memegang bagian dadanya, dengan sigap tangan Aira menampel keras tangan Arka yang bisa dikatakan tangan Nakal.


Selang beberapa menit, bunyi handphone Arka terdengar.Terlihat Leon menelfon dan seakan memberi kabar penting kepada Arka ... karena sangat terlihat mimik muka Arka yang begitu serius hingga kulit kening dan alisnya mengkerut tajam ke bawah. Tidak Lama Arka membantu Aira memakai sweater nya lantas berpamitan pada Aira, menyuruh Aira meminum air yang banyak dan memakan camilan yang Arka belikan buat Aira tadi dan setelah selesai dengan Aira Arka segera menaiki motor dengan cepat.


****


Malam yang gelap Arka sudah sampai di area gedung gedung penyimpanan barang barang rusak, dan sangat terasa kental suasana yang mencekam mengerikan ketika Arka dengan jaket, celana, helm serba hitam dan juga memakai masker hitam memasuki ruang gelap yang hanya ada satu lampu gantung yang disekelilingnya beberapa bodyguard Arka yang sedari tadi menunggu Tuannya. Di sisi bawah lampu gantung terikat kuat seorang laki laki yang benar benar tampak ketakutan, raganya bergetar hingga jiwanya terasa lemah saat Arka melepaskan helm hitamnya dan di letakkan di atas meja yang sedikit jauh dari lelaki yang sudah terikat tadi.


Suasana yang begitu mencekam, ketakutan, rasa ingin lari telah dia rasakan oleh lelaki itu ... yang tidak lain adalah Glen yang sudah ketahuan pengkhianatan nya kepada Arka yang sudah 8 tahun iku bersama Arka sejak Arka remaja. Leon yang sudah mengantongi beberapa daftar pemilik jam tangan seseorang yang memotret Arka dengan Yura, dan salah satunya adalah Glen.dengan begitu memudahkan Leon mendapatkan salah satu pelakunya karena Glen saat itu juga berada di Kota S.


Arka lemparkan tatapan yang amat tajam seraya seringai yang dia tujukan ke Glen, Arka memilih duduk dahulu sebelum mengintimidasi Glen. Menikmati memandang Glen dari jauh ... seraya memikirkan sesuatu. Tangan Arka menengadah kesamping, menyuarakan kata pisau ke bodyguard yang tepat berada di sampingnya. Dua mata pisau kecil dan runcing ... Begitu pas untuk mencabik-cabik kulit seseorang.


Mungkinkah Arka akan setega itu, dengan asistennya yang sudah 8 tahun bersama. Hanya untuk membalas pengkhianatannya, yang telah berani menyakiti hati wanita yang amat dia sukai.

__ADS_1


__ADS_2