
Setelah kecupan manis itu terjadi ... Arka seakan hendak mencium bibir mungil Aira. Segera Aira menghindar dan turun dari gendongan Arka setelah dia sadar Aira masih dalam gendongan Arka.
“Maaf--" Aira menundukkan kepala.
Aira segera kembali berjalan mengambil pita-pita merah dan meninggalkan Arka begitu saja dengan cepat. Selang beberapa waktu ... matahari sudah tenggelam hingga hanya rona rona jingga saja yang terlihat mata. Pita merah terakhir Aira segera diambil tinggal sedikit lagi mereka akan sampai di Villa tua. Tapi, tangan Aira tiba-tiba seakan tertahan oleh ingatannya kepada kak Fay.
“Melamun apa?” tanya Arka.
Tak memberi jawaban apapun. Aira pergi sambil lalu begitu saja. Saat sampai di villa tua Arka segera menata beberapa kayu kering di lorong perapian. Arka Dari kecil anak yang cerdas dan sangat mandiri sehingga tidak susah beradaptasi meski Arka dalam keadaan sulit. Dari didikan yang keras dari ibunya Arka sedari kecil sudah bisa mengerjakan segala hal tapi tidak untuk memasak, meski sedikit bisa tapi Arka tidak ingin melakukannya sendirian setelah mengingat ibunya. Tangan dan diri Arka terlihat sedikit kotor untuk aktivitas seharian ini, segera Arka melangkah ke arah kamar utama untuk berendam air hangat.
Sedangkan Aira di dapur memasak sesuatu yang sederhana didampingi guru memasak yang siap sedia dari segala penjuru alias youtube untuk makan malam nanti. Saat sesudah selesai masak Aira yang ingat Arka sedang merapikan kayu perapian segera ke kamar utama untuk mandi Aira tidak ingin diganggu Arka terus menerus.
Aira mengunci kamar, melepaskan semua pakaiannya yang digantikan dengan balutan handuk berwarna merah menyala, membuat dirinya begitu menggoda di setiap lekukan dan warna merah yang bisa diartikan gairah membara. Aira tak berpikir kalau ada seseorang di dalam kamar mandi yang tak bersuara. Segera dia masuki kamar mandi dan melangkah ke arah bathtub. Aira terkejut setibanya Aira tak menyangka Ada Arka yang tertidur sambil berendam air hangat. Sedikit menatap wajah Arka ... Aira sedikit terpesona akan ketampanan Arka dan tubuh yang sangat atletis. Aira yang tidak ingin mengganggu tidur Arka segera berbalik meninggalkan Arka dan memilih mandi di luar saja. Sekejap seakan suara kucuran Air, Arka berdiri lalu melingkarkan tangannya ke leher Aira dari belakang dan Aira tampak tertarik oleh tangan Arka.
“Mau kemana?” bisik Arka pelan.
“Aku mandi dibawah saja."
Arka sedikit melepaskan selipan ikatan handuk Aira.
“Hentikan!" gertak Aira.
Arka terhenti dari kemauannya tadi. “Ada yang kau pikirkan, dari tadi kau sedikit tak peduli denganku. Kau memikirkan seseorang? Laki laki mungkin?"
Masih dalam dekapan Arka. "Aku bebas memikirkan siapapun, memikirkan orang yang menyayangiku."
Arka membalikkan tubuh kecil Aira lalu sedikit mencekikkan tangannya ke leher Aira. Tatapan tajam menembus pikiran Aira dan Aira sedikit berpaling.
”Saat bersamaku kau tidak boleh memikirkan orang lain!" geram Arka kesal.
“Aku punya hak atas pemikiranku sendiri Tuan besar Arka, kau bukan siapa siapaku. Lepaskan aku."
Arka yang geram dengan perkataan Aira yang mungkin benar, segera melepaskan Aira dan segera Aira keluar dari ruangan tersebut.
Arka yang begitu emosi mengerjakan mata berusaha menetralkan napasnya yang bernapas penuh tekanan naik turun.
****
Malam hari jam 19.00. Arka dan Aira makan malam dimeja makan yang sama dan saling berhadapan jarak mereka begitu dekat tapi perasaan mereka begitu genting dan terasa jauh. Gemuruh yang menyelimuti hati mereka antara benci dan ingin minta maaf tapi benar benar gimna mengatakannya. Hening terciptakan dari mereka. Sontak terpecah oleh perkataan mereka yang bersamaan tanpa di sengaja.
“Maaf yang tadi,"
Arka sedikit menghela nafas ... Seakan lega yang sangat berarti dari perkataan maaf itu.
"Hari ini mungkin cuacanya akan lebih buruk dari biasanya, kau pake jaket yang tebal setelah ini ke ruang tengah aku sudah siapkan perapian, Aku tunggu disana."
__ADS_1
Arka nampak tiduran diruang tengah, Arka memasang kasur lantai yang tebal sengaja di letakkan tidak jauh dari perapian agar udara dingin yang menusuk tidak akan menyerang mereka berdua karna villa Tua terletak di kaki gunung yang menyebabkan udara sangat dingin menusuk. Sambil tiduran Arka ketiduran saat menunggu Aira yang pergi mengambil jaket dan selimut tebal.
Selang satu jam Arka yang ketiduran di kasur dekat parapian tiba tiba terbangun dan teringat Aira belum turun juga, Arka bergegas menemui Aira. Saat pintu akan dibuka dan Arka memanggil manggil Aira tapi tidak ada jawaban apapun. Pintu seperti terkunci saat Arka mengambil kunci cadangan tetap saja tidak bisa terbuka. Arka mengira Pintu silinder anakan kunci tersangkut.
Takut Aira kenapa kenapa Arka segera mendobrak pintu sekuat kuat mungkin.
Arka segera menuju Aira yang sedang mengigil berselimut tebal. Arka baru kali ini begitu cemas dan panik, Aira enggak hanya tidak kuat hawa dingin biasa tapi lebih ke hiportermia saat terlalu lama di udara yang dingin. Arka dengan cepat meraup tubuh Aira bersama selimut yang menyelimuti Aira. Arka melangkah dengan cepat membawa Aira ke perapian ruang tengah dan membaringkannya
Arka yang tengah dilanda kepanikan pergi mencari kotak logistik yang dibawakan Omma mungkin ada obat yang bisa mengatasi kedinginan Aira, Arka yang tengah panik mendadak tubuhnya lemah tersandar ke kursi yang ada didekatnya dengan tangannya menelangkupkan ke dahinya. Teringat obat yang dikasih Leon, yang efeknya bisa memanaskan suhu tubuh Arka sedikit berlari segera mengambil botol kecil tersebut.
“Maafkan aku Aira...” Arka berpikir merasa bersalah telah memberikan obat perangsang ke Aira tapi hanya obat ini yang di sini yang paling cepat menetralkan suhu tubuh Aira. Sesudah meminun cairan itu Aira masih seperti yang sebelumnya masih menggigil.
Saat Arka menyuruh Aira terlentang, Aira menolak Aira ingin duduk menghadap perapian yang sangat menghangatkan tubuhnya. Arka yang sedikit tenang dengan kepanikannya segera mendekat dan mendekap dari belakang tubuh gadis kecil itu.
“Sudah mendingan ...?” tanya Arka.
“Iya ..., terimakasih,”
“Tidulurlah. Aku akan menjagamu.”
Aira sedikit bersandar dalam pelukan Arka yang menghangatkan dan sangat nyaman itu. Tapi Aira sedikit merasa Aneh ... begitu tidak nyaman ... tubuhnya malah terasa sedikit memanas dan gerakan tubuhnya yang gelisah secara refleks.
Obatnya bekerja...? Aku hanya menuangkan sedikit tadi. pikir Arka sambil mengamati geligat tubuh Aira yang melepaskan selimutnya sendiri.
“Aira pakai lagi selimutmu. Kau akan kedinginan ...!”
Aira yang begitu dekat dalam dekapan Arka perlahan meletakkan kedua tangannya ke dada Arka dan menggenggam kuat jaket Arka. Perlahan mendongakkan kepalanya dengan tatapan Aira yang sudah sayu dan berkabut, juga bibir Aira yang sedikit terbuka dan terlihat jelas oleh Arka. Aira sudah sangat menginginkan untuk melakukan hubungan intim dengan Arka Max.
“Aku ingin melakukannya sekarang ...” pinta Aira manja.
“Bukannya tadi kau tidak mau, Aira."
“Maaf yang tadi ...” Aira semakin mendekatkan diri ke Arka.
“Benarkah." Arka tersenyum lega dan sedikit ingin bermain main dengan reaksi Aira sekarang yang sedang di dekat leher Arka. Sedikit mendorong tubuh Aira.
“Berhenti Aira! Aku sekarang lagi tidak ingin melakukannya.”
“Tapi Arka ... kau biasanya yang mau," nada manja masih menatap sayu mata Arka. "bagaimana biar kamu mau ...?"
“Buat aku untuk menginginkanmu. Tunjuk mana yang kau mau."
“Sekarang ...?"
“Iya."
__ADS_1
Aira perlahan telunjuknya mengarah ke bibir Arka..
“Apa Cuma itu saja? Pegang yang lainnya juga."
Telunjuk Aira perlahan menyusuri dari bibir hingga turun kebawah.
“Aku menyuruhmu memegang bukan menunjuk saja sayang ...,”
Aira menunduk. “Tapi Arka ...,”
Arka menyelipkan tangan Aira ke bagian yang dia mau. Arka mencengkeram baju Aira berusaha sebisa mungkin menahannya dirinya saat ini lalu sedikit mendorong Aira keposisi semula.
“Cukup Aira. aku masih tidak ingin melakukannya."
“Arka ..."
“Tapi asal kau bisa menggodaku dengan hal lainnya."
“Kau ingin aku gimana? Aku tidak bisa menggoda seseorang...”
“Mungkin kau bisa sedikit membuka yang kau pakai.” jahilan Arka.
“Tapi....”
Arka melemparkan tatapan menggoda pada Aira.
"Lakukan sayang."
Perlahan Aira membuka apa yang Arka mau dari Aira.
“Aku sudah lakukan ...,"
“Aira aku menyukai caramu itu ...” bisik Arka, dengan nafas panas dan segera melakukan apa yang dia mau.
Arka tak mengira Aira akan lakukan hal yang sangat menggoda. Arka mencium bibir dan dagu Aira hingga lagi mereka lakukan kembali permainan mereka.
.
.
.
.
Chapter ini sudah terevisi oleh Author. Sengaja menghilangkan kata kata Vulgar di dalamnya.
__ADS_1
Supaya yang dibawah umur, masih tetap nyaman membacanya 😃
lanjut baca ya...