
Sudah seminggu, tidak ingat-ingat juga dia. Bukankah, ini menyebalkan. Satu jam lalu, Arka mengangkat telfon Keira dengan senang hati. Dan dengan senyum menggelikan yang pernah aku lihat. Aira tengah duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Dengan menekuk ujung bibirnya seraya menatap beku ke bawah. Kurasa aku butuh bantuan Pikir Aira gusar. Terlihat Aira sibuk berganti baju. Dengan setelan celana levis biru muda, dipadukan dengan sepatu Nike putih. Mengambil tas hitam brand Chanel dilemari kaca yang dikhususkan Arka untuk koleksi tas-tas milik Aira.
“Aku pergi dulu ....” seru Aira, pada Arka yang sedang duduk di ruang baca.
“Kemana?” tanya Arka.
“Aku tidak lama. Aku ke rumah Mita dan Nana.” jawab Aira, yang akan menutup pintu ruang baca Arka.
“Tunggu!” Arka berdiri dan bersuara tenang. “Suruh sopir untuk mengantarmu.” ucap Arka.
Aira sedikit bengong. Dalam hatinya terfikirkan sesuatu seraya berkata lirih hampir tak terdengar. “Tunggu. Tunggu-aku akan membuatmu ingat denganku.”
Sampai rumah Mita dan Nana. Terlihat Aira mengintip-intip lewat kaca Mereka bilang ada di rumah ... Beneran kah?. Tapi ini sepi banget .... Tiba tiba dari belakang ada tangan menepuk keras pundak Aira, hingga Aira terjengit. "Intip-intip. Dikira maling entar. Hahahaha.” Sapa Mita yang sengaja mengejutkan Aira. “Ayo masuk.” Ajakan Nana.
“Pak Bos gimana? Sudah ingat kamu belum?” Tanya Mita, yang tengah duduk bertiga dikursi kecil dengan meja bulat kecil dan saling berhadapan dan juga sama-sama membawa camilan ditangan mereka masing-masing. Aira langsung memasang muka lesuh. Bibirnya manyun kedepan. Mungkin Aira saat ini sudah mirip seperti bebek. Selain manyun juga kata katanya wak wek wak wek entah apa saja yang Aira katakan. Sampai-sampai kedua temannya memasang muka serius. Dan terlihat sekali-kali manggut-manggut. Pertanda mereka terlihat paham dengan keluh kesah, hati Aira saat ini.
Hingga ... Braaakkkkkkk kedua tangan Mita menggeprak meja bulat kecil didepannya, hingga sedikit oleng. Dengan cepat tangan Aira segera memegangi kaki meja bulat tersebut. “Kau punya ide, mit?” tanya Aira, dengan satu alisnya berkerut ke bawah. Mita langsung merangkul bahu Aira dan Nana. Terlihat mulutnya komat-kamit entah apa saja dan ide gila apa saja yang Mita utarakan sekarang ini. Bahkan sebelum Aira pulang, mereka berdua mampir ke sebuah toko kecil sebut saja nama tokonya X sexy. Dengan segala keraguan ... Aira sedikit menggerutu saat mau pulang. Karna mungkin saja ini ide yang paling gila yang pernah Aira lakukan.
Aira masuk apartemantnya. Melihat Arka sedang makan siang sendirian di meja makan. “Kau lama sekali.” Seru Arka. Aira tiba-tiba jalan pelan ... pelan ... dengan sedikit gemulai, tapi masih terlihat kaku. Mendekat ketempat duduk Arka. Seraya menggigit bibir bawahnya dan memasang mata yang sayu sayu sensual. Tangan Aira dengan ragu dan sedikit kaku menjulur ke bahu Arka pelan ...
Arka yang sedang memegang supit. Tangan nya ikut tegang dan membeku. Melihat gerak Aira didekatnya yang membuat Arka melongo hingga tanpa terasa menenggelamkan ujung supit miliknya pada mulut Arka. “K-kau ini, sedang apa Aira?” tanya Arka meragu.
Aira yang dari tadi menahan nahan agar bisa melakukan opsi pertama dari mita kelihatannya gagal. Aira begitu canggung,kaku,juga malu bercampur aduk. Hingga membuatnya mengerjapkan matanya erat erat dengan menenggelamkan kedua bibirnya rapat rapat kedalam, di depan Arka.
"Tidak. Mungkin ada roh kucing liar yang merasukiku barusan.” Aira pergi sambil lalu begitu saja didepan Arka. Dan ... opsi pertama gagal pikir Aira.
*******
Pagi pagi. Arka terlihat sedikit kebingungan. Arka lupa menaruh jam tangan favoritnya. Melihat Arka pagi pagi kebingungan ... Aira perlahan bangun, dengan tubuh sedikit lunglai berjalan ke arah lemari besar. Menaiki kursi plastik untuk mengambil jam tangan Arka yang kemaren lupa Aira taruh diatas. Tapi. Tiiingggg ... Aira langsung tegap dan terlihat hidup lagi, dengan posisi Arka menunggu Aira mengambil jam tangan di lemari atas. Dan ... opsi kedua coba Aira laksanakan kali ini pasti sukses hahaha. Pikir Aira.
Aira tiba tiba dengan sengaja, seakan akan kaki Aira terpelincir dibibir kursi saat mau turun dan sengaja menjatuhkan tubuhnya agar Arka mau menangkapnya ... tapi ... langsung terdengar keras suara Brruukkk. "A-aaghh sakit ....” Aira merintih sakit dengan mengelus-elus pantatnya. “Kenapa kau tak menangkapku hah!!” Nada tinggi Aira pada Arka yang seakan berpaling sedang menahan tawanya. “Kau tadi, terlihat sengaja ingin menjatuhkan tubuhmu. Jadi Aku biarkan saja kau jatuh. Kan, kau yang ingin jatuh tadi.” Arka tertawa. Aira berteriak. “Hyaahhh ... Kau memang brengsek Arka ...!!” teriak keras Aira.
******
Arka dan Aira mulai hari ini sudah kembali bekerja seperti biasanya. Karena meski Arka sedikit kehilangan ingatan tapi secara fisik dia sehat sehat saja. Meskipun Arka terkadang merasakan sakit saat ada hal hal yang dia ingat muncul begitu saja. Dia harus rutin ke psikoterapi yang dikhususkan dokter untuk Arka.
Sementara itu Arka sedikit memaksa Aira untuk membuat satu set gaun pernikahan untuk salah satu rekannya bisnisnya yang sudah berjasa selama ini. Padahal tahu sendiri, saat ini Aira sibuk sibuknya mengerjakan beberapa pekerjaan menumpuk selama dia cuti. Masih saja Arka memaksa Aira yang membuatnya. Tapi Aira pasrah saja dech ... Karena bos besar mana bisa dibantah. Meski sedikit kesal ... tapi lihat saja nanti. Aira akan melakukan opsi ketiganya.
Thik thik thik detik jam ditangan Aira memperlihatkan kalau ini udah hampir jam pulang kerja. Aira benar benar gak sabar, setelah dibuat kesal seharian. Membuat Aira akan melakukan opsi ketiganya, meski ini sedikit gila.
Saat di apartemen. Arka dengan sedikit kelelahannya, bersandar di sofa merebahkan tubuh dan kepalanya di punggung sofa. Dengan mata tertutup. “Bikinkan jus dan sandwich telur. Taruh di meja makan ya.” Suruh Arka. “ Ya...” jawab Aira sedikit ketus tapi nurut. Setelah berganti baju santai. Aira yang sedikit mengerutu. Membuat jus juga sandwich telur sesuai permintaan Arka. "Yah lama-lama aku jadi pembantunya sekarang, bukan lagi istri." gerutu Aira, sambil membuat sandwich yang hampir selesai.
__ADS_1
“Arka ... sudah selesai ... aku taruh dimeja makan.” Seru Aira sedikit keras. Memanggil Arka yang sedang berganti baju santai dalam kamar.
"Iya ..., Bentar lagi aku keluar.” jawab Arka.
“he-he-he-he baiklah ... sebentar lagi juga dimulai.” ucap lirih Aira dengan senyum seringainya itu.
Tidak lama Arka turun kebawah. Mengambil posisi duduk di kursi meja makan, yang sudah tersedia jus dan sandwich sesuai permintaannya. Perlahan Arka menikmati makanan yang sudah Aira buatkan. Tapi sesekali Arka mentolah-tolehkan kepalanya mencari-cari Aira yang tak terlihat disekitaran jarak pandang Arka saat. Sempat penasaran, tapi niat Arka yang mau memanggil Aira, dia urungkan. Mungkin selesai makan baru cari Aira.
Disisi lain. Dibalik sikuan dinding dapur. Ada jiwa bersembunyi dan tubuh yang sedikit membungkuk. Mengendap-endap, layaknya kucing yang ingin menerkam mangsanya dari kejauhan. Mungkin ini akan berhasil memulih ingatannya.Tapi kalau dia kesakitan gimana ...? Tapi dia sudah sehat kok. Cuma otaknya saja konslet. Bagian samping saja dech biar enggak resiko. Yups mari beraksi!! Pikir tegas Aira.
Dan dengan keyakinan penuh. Aira mengambil dengan cepat sesuatu yang ada di meja dapur. Dengan langkah pasti Aira berjalan dari samping ke arah Arka yang tengah makan sandwich lalu .... tindakan yang tak pernah di duga-duga Arka. Pyyaangggg ...!! Benda bulat hitam, berukuran sedang dan memiliki gagang, alias teflon menghantam kepala Arka sedikit keras. Seketika langsung itu juga Arka benar benar dibuat terkejut hingga tubuhnya menegang membeku kaku. Efek dilanda keterkejutan. Hingga sejenak mata Arka terbelalak dan belum bisa berkata apapun dan layaknya robot. Arka memalingkan muka pada Aira yang masih meringkuk terdiam di dekatnya.
“K-kau, tidak apa-apa?”
“Aiirraaaaaaa ...!!! Teriak Arka yang sedikit kesal dengan tingkah aneh istrinya tersebut.
Aira menutup kedua kupingnya. Sementara itu tangannya masih memegang teflon yang sebenarnya tanpa sadar Aira salah ambil.
“Apa kau sudah ingat siapa aku? Kata temenku, orang yang amnesia bisa kembali ingatannya, kalau juga terbentur sekali lagi.”
Arka menghela nafas kekesalannya dalam dalam. Sekilas memejamkan matanya. “Benar sekali. Aku sudah ingat sekarang. Kau istriku yang paling unik yang aku miliki saat ini.” Dengan memejamkan mata kekesalan. Arka membenahi rambutnya. Tapi ada yang aneh di telapak tangan Arka, sedikit menghitam saat menempel dirambutnya. “Tunggu Aira ... Kok tanganku hitam?” tanya Arka.
“Benarkah. Aku tadi ambil teflon yang bersih.” Melihat tangan Arka bertambah hitam saat mengusap-usap rambutnya sendiri. Aira segera melihat teflon yang dia bawa. Dan Aira terkejut, pantat teflonnya hitam karena belum dicuci Aira sadar bahwa dia salah ambil teflon. Dan segera menaruh teflon tersebut dan membantu Arka menghilangkan warna hitam hitam dirambutnya.
Aira tertawa. “Aku pikir ini berhasil.”
"Berhasil, membuatku marah maksudmu. Bagian sini.” Suruh Arka.
“Ach wajahmu juga terkena sedikit hitam.” Aira tanpa sengaja mengusap muka Arka, dengan tangannya yang tanpa Aira sadari lebih kotor dan hitam dan membuat kekacauan ini tambah parah. “Loh. Loh.Loh Mukamu tambah hitam-hitam semua hahahahaha.”
Arka berpaling ke arah kaca, disisi lemari yang tak jauh dari tempatnya duduk. Dan semakin geram melihat mukanya malah tercoret coret noda hitam. “ Kau—kau, benar-benar kau keterlaluan Aira ...!!!” Aira malah tak bisa menahan tawa dan malah tertawa riang. Membuat Arka jadi jengkel juga gemes. Arka memeluk Aira dan menggelitiki tubuh Aira dengan senang dan canda tawaan mereka.
Sudah lewat 3 hari. Tetap saja tidak ada hasilnya ... Arka tak juga ingat apapun pada Aira. membuat Aira harus berpikir ulang, cara apalagi agar Arka benar benar ingat kalau Aira istrinya. Aira tengah mendapati telfon dari Mita.
“Gimana? Ada perubahan enggak?” tanya Mita.
“Tidak ... Arka masih tetap dingin. Meski dia sudah mau tertawa denganku.”
“Kan, masih ada opsi terakhir. Ayolah ... Kau coba saja Aira ... Siapa tahu berhasil dengan sedikit menyentuhmu. Hi-ho-hi-ho Hihihi ... siapa tahu berhasil kan haha."
“Malu ah..., Aku tidak pernah memakai yang begituan. Itu terlalu sexy.”
__ADS_1
“uugghhhh. Kenapa aku yang greget ya. hahaha. Sudah pakai saja, ini opsi terakhir. Siapa tahu kalau dicoba akan berhasil.pokoknya di coba ya. Semoga berhasil cantik he-he.” Mita mematikan saluran ponselnya.
"Mita apa kau gila? Tapi ... Malam ini apa aku coba saja ya. Sebentar lagi Arka pulang. Aku mandi dulu aja dech." Setelah mandi. Aira benar benar ragu. Memakai lingerie yang mereka bertiga beli waktu kerumah Mita. Sebentar di taruh lagi. Dipakai. Dilepas lagi hingga 3 kali berturut-turut. Karena Aira malu juga canggung. Meski sudah suami istri Aira belum pernah memakai hal yang sangat sexy seperti ini.
Dan ... Akhirnya dengan tekad yang meragu, akhirnya Aira memakainya lingerie hitam tersebut, tapi Aira membalutnya dengan piyama kimono warna merah hati yang begitu menggoda mata yang melihatnya. Tepat sekali bel pintu apartement Aira berbunyi. Aira sedikit gelisah. Tapi setidaknya harus membukakan pintu dulu untuk Arka. Tapi anehnya kenapa Arka tak membuka pintunya sendiri?.
Aira berjalan menuju pintu masuk. Tapi kakinya mendadak berhenti. Ketika dia tidak sengaja melihat ke arah kamera monitor LCD pintu apartemen nya. Aira tertegun melihat Arka bersama Keira. Meski Keira Cuma terlihat Cuma mengantar dan langsung berpamitan, tapi hati Aira sedikit perih melihat Arka pulang dengan orang lain. Lalu Aira mengurungkan niatnya membukakan pintu untuk Arka dan kembali lagi ke kamar, dan Aira ingin sekali cepat cepat melepas lingerie yang ia kenakan saat ini.
Arka yang menunggu Aira tak kunjung membukakan pintu juga. Arka masuk sendiri. Berjalan menaiki tangga, menuju kamar dan membuka pintu kamarnya. Tapi ... Arka sedikit tertegun melihat Aira yang tengah sedikit menurunkan piyama kimono yang Aira kenakan, yang mungkin akan melepasnya.
Aira langsung terhenyak. Mendapati Arka sudah masuk kamarnya dan dengan cepat merapatkan kembali piyamanya dan ingin berganti baju tidur biasa di kamar mandi saja. Saat Aira hendak berjalan ke kamar mandi, dan membawa baju tidur biasa. Tapi langkahnya terhenti, saat Arka sudah dekat dengannya dan satu tangan Arka menghadang tubuh Aira yang hendak menghindari dirinya. “pakai saja.”
Arka memeluk tubuh Aira. Mempererat tangannya yang tengah melingkar di pinggang Aira Dan Satu tangannya menyelinap ke rambut Aira. Dengan sedikit terbawa gairah , Arka mencium dan melumat bibir Aira yang manis dan ranum.
Tapi ..., Aira mendorong kuat tubuh Arka dan ingin terlepas dari tubuh Arka. “Aku ingin dicium kalau kau benar-benar cinta denganku. Bukan karena nafsu saja.” Ucap Aira, seperti membalas perkataan Arka waktu itu saat Aira hendak menciumnya. Arka menelisik wajah Aira yang terlihat muram. Mungkin karena melihat Keira yang tengah memberikan obat titipan dari omma, untuk Arka Dan bertepatan Arka pulang dari urusan kantor yang hingga larut malam. Jadi yang membunyikan bel pintu tadi bukan Arka, melainkan Keira.
Arka melangkahkan kakinya, menggiring tubuh Aira mundur ketempat tidur dengan tatapan yang tak berpaling kemanapun selain menatap mata Aira. Aira sedikit gugup dan perlahan mundur hingga terduduk ke tempat tidurnya, tapi Arka terus perlahan dan pasti mengarah ke tubuh Aira. Hingga Tubuh Aira condong ke belakang.
Aira memalingkan pandangannya. Pertanda kalau Aira sedang marah. Arka sedikit mendorong tubuh Aira, hingga tertidur. Arka mulai merangkak di atas tubuh Aira. Mendapati Aira masih cemberut, Arka tersenyum dan mengatakan hal yang diinginkan Aira selama ini.
"Aku ... Aku mencintaimu. Saat ini aku menyukaimu sangat menyukaimu. Entah kenapa aku belum bisa mengingatmu tapi aku menyukaimu.”
“Kau bohong.” Sahut Aira.
“Lalu dengan apa aku membuktikannya?” sedangkan tangan Arka perlahan menarik ikatan tali kimono Aira. “kau yang pembohong Aira ... Kau hanya agresif padaku. Tapi tak pernah mengatakan rasa cintamu itu padaku. Bagaimana kalau waktu itu aku hanya menilaimu karna nafsumu.”
“Tidak. Aku beneran suka padamu.”
“Lalu juga buktikan padaku.”
Aira sedikit gugup. Tak tahu harus yang bagaimana. Dan sangat jelas terbaca oleh Arka yang sedang menatapnya.
“Kau bisa lakukan itu duluan padaku.” Suruh Arka.
“Ma—maksudmu?"
Dengan cepat Arka membalikkan tubuh Aira diatas tubuh kekar Arka yang tengah terduduk. Aira sedikit terkejut dan sedikit tidak nyaman berhadap sangat dekat dengan wajah Arka. Lalu tangan Arka tiba-tiba dengan cepat ssrraattkkk ...,menarik hingga terlepas kimono Aira.
"Aaaakkhhh ...," Dengan cepat tangan Aira menyilangi dadanya. Aira malu karena gaun linggerie hitam yang ia kenakan begitu transparan di setiap sudutnya. Dengan tatapan sendu berkabut nafsu dan gairah. Arka melepaskan jas yang dia kenakan. Lanjut melepaskan jam tangan yang dia pakai dan juga manarik kuat dasi yang Arka pakai. Mata yang terselimuti kabut tersebut, masih memandang Aira dan kini berganti menatap mata Aira. “Selanjutnya kau yang lakukan semua sayang,buktikan kalau kau juga menyukaiku.”
__ADS_1
**************