
Sesampai di kontrakan Aira
Malam baru saja dimulai ... Arka dan Aira baru saja sampai dari keliling taman kota ... Setelah selesai memparkirkan motornya, Arka masuk kontrakan menghampiri Aira yang tengah duduk lelah di sofa ruang tamu. Tiba-tiba Arka jongkok memegang kedua tangan Aira seraya memasang wajah memelasnya... sampai terucap permohonan minta ijin kepada Aira dan berharap Aira tidak keberatan.
“Ijinkan aku sekali ini minum sampanye disini ya Aira ... sejak kembali bertemu denganmu aku hanya minum minuman alkohol sekali saja, maaf aku belum bisa langsung meninggalkan kebiasaan burukku itu.”memelas Arka.
“Eemm bukannya itu buruk buat kesehatan, tapi kalau itu maumu kau bisa cepat pulang dan meminum sampanye di apartemenmu.”
Arka menggelengkan kepala dan tangannya dan masih memegang halus kedua tangan Aira
“Enggak ... aku ingin kau temani, kau cukup menemani ku di sini, bolehkah ...?”
“Tapi ... kau nanti bisa tertidur di sini, ini sudah hampir malam," ujar Aira. Arka menyusupkan kepalanya ke kedua paha Aira yang tengah duduk merapat. “sekali ... ini saja, aku tidak akan berbuat aneh-aneh malam ini, tolonglah ... aku hanya sangat ingin minum sekali ini."
“Tapi, sebelum jam 11 kau harus pulang.”
“Iya ... nanti sopirku yang jemput.” diiringi bibir Arka mengecup kedua tangan Aira yang masih dalam genggamannya.
Arka keluar sebentar membeli sampanye-nya.
Aira yang masih terduduk, mengerjapkan matanya kuat kuat, bibirnya menipis mengingat apa yang dia lakukan di taman kota bersama Arka ... Aira berpikir, dia seperti hilang kendali. Tidak memberi jarak apapun pada Arka, Aira terasa begitu nyaman dengan Arka yang sekarang ini. Tubuh Aira yang masih terduduk perlahan menidurkan tubuhnya ke sofa yang sangat halus membayangkan setiap perlakuan Arka padanya. Hingga terpikirkan kata kata ... apa aku menyukainya? Rasa ini ... apa benar benar rasa sayang ...?,perasaan ini sedikit berbeda saat aku bersama sama kak Fay.
Selang beberapa waktu Arka datang, Aira sudah selesai mandi dan berganti baju duduk duduk di ruang tengah seraya maen game dan memakan camilan, Arka yang baru membawakan makan malam untuk Aira saja, karena Arka hanya ingin minum. Perutnya tidak terlalu lapar, Arka duduk di lantai bersandar meja, ditangannya membawa satu sloki gelas kecil sampanye seraya memandangi Aira yang tengah makan, entah kenapa Arka terlihat begitu biasa. Kalau mengingat dulu ... Arka sangat terlihat garang dan mungkin sedikit elegan di depan orang. Di depan Aira, Arka jadi sosok lelaki biasa ... sikapnya yang apa adanya di tunjukkan pada Aira tanpa sungkan-sungkan.
Beberapa obrolan atau candaan mereka lalui malam ini sampai sampai lantai Aira di buat kotor oleh Arka yang sedari tadi makan kacang,lalu setelahnya membuang kulitnya buat melempari Aira yang sedari tadi maen game di handphonenya tak peduli Arka sama sekali, sampai Arka sudah sedikit mabuk dan tertidur ... Aira berusaha membangunkan Arka untuk segera pulang, tapi dari arah pintu depan terdengar langkah kaki perlahan lebih jelas menuju ruang tengah, nggak lain adalah Fay ... yang seharian tidak bisa mengunjungi Aira, Fay berniat memulai keArtisannya dan seharian mengurusi berbagai persiapan untuk selanjutnya.
Mata, pikiran dan juga tangan Aira langsung tegang melihat Fay datang dan melihat Arka tiduran dilantai, yang terdapat karpet berbulu lembut dan juga beberapa sampah kacang berserakan. Mata Aira yang masih menegang, diri Aira beranjak berdiri, kaki Aira satunya menendang nendang tubuh Arka ... yang bermaksud membangunkan Arka.
Fay yang sedikit geram, mendengus nafas kecil kekesalan lantas melangkah mendekati Arka yang setengah tertidur dan sudah sedikit mabuk. Kaki Fay menggulingkan tubuh Arka sembarangan, hati Fay yang kesal sedikit menendang nendang tubuh Arka seraya bibirnya memanggil manggil Arka.
“Hei bangun! cepat bangun!” Arka yang sedikit mulai sadar ... dan mata masih setengah sayu ... pandangannya sudah tak jelas lagi. Arka terduduk lalu menggerakkan tangannya meranjuk tangan di depannya lantas menarik tangan itu kuat-kuat “Aira sayang ... ayo tidur, buka bajumu ... ayo tidur sama aku ....” guman Arka yang sudah nggak karuan sudah tak sadar lagi apa yang dia katakan.
Aira yang masih berdiri canggung ada Fay di sini, sedikit memalingkan mukanya, mengerjabkan matanya dalam pikirnya, dasar Arka mesum, udah teler masih juga mesumnya ikut. Bukan tangan Aira ... tapi tangan yang di tarik oleh Arka tangan Fay, masih keadaan mabuk Arka memeluk Fay, kedua tangan Arka menarik leher belakang Fay yang di kira Aira ... lalu hendak mencumbui bibir Fay. Fay yang benar-benar kesal dan jengkel ... tangan Fay meraih botol plastik mineral di dekatnya, diketuk nya kepala Arka sedikit keras hingga membuat Arka sedikit tersadar. Lantas dengan cepat melepaskan kedua tangannya yang sedang merangkul leher Fay.
Arka beberapa kali mengerjabkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala ingin menyatukan kembali segala ingatannya dan semua tubuh normalnya. Setelah lebih jelas bahwa yang di rangkul nya tadi Fay, tak pelak Arka memasang muka masam seraya melemparkan tatapan layaknya busur panah terarah tepat ke kedua mata Fay, bahwa Arka tak suka dengan kehadiran Fay sekarang ini.
"Ada perlu apa kau kesini?” Fay membalas balik lirikan Arka, Fay tak menggubris pertanyaan Arka, Fay kembali berdiri memilih duduk di sofa yang disampingnya ada Aira yang masih gusar pikirannya karena mereka berdua yang seperti nya memang susah untuk akur layaknya saudara sepupu. Fay menyodorkan tas kecil yang isinya handphone baru, mata Aira yang sedikit penasaran segera menanyakan.
__ADS_1
“Ini apa?” tanya Aira.
"Handphone buat mu ... hubungi kak Fay saat kau butuh apapun.” jawab Fay
Disisi lain, percikan api mulai tersulut, “Buang Aira, aku sanggup membelikan yang lebih mahal!!” cecar Arka.
Aira tak menggubris seruan Arka. “Makasih kak Fay ... saat aku gajian aku akan mencicilnya.” ucap Aira.
Fay menatap lembut Aira. “Boleh ... tiap bulan aku tagih pembayarannya, dibayar pakai kencan bersama saja." kata lembut Fay.
Percikan Api ternyata berubah bara api yang siap membakar, Arka yang duduknya tak jauh dari mereka tidak sabar lagi merebut handphone Aira. Dengan nada penekanan yang horor ... Arka menyerukan suaranya. “Tidak akan pernah ada kata mencicil lalu digantikan dengan kencan!” geram Arka.
Ganti Aira yang merampas ponselnya dari tangan Arka. “Apa hakmu, aku sudah biasa pergi jalan jalan sama kak Fay,” gerutu Aira.
Sangking senangnya Fay dengan jawaban yang dilontarkan Aira ... Fay dengan gemas mencubit pipi Aira yang putih halus.
.
.
.
.
Aira begitu gusar dalam hatinya. Mengingat Fay tidak terlalu tahan dengan Alkohol, begitupun Fay ... Tapi Fay jelas tidak memperlihatkan keresahan nya kepada Arka.
“Baiklah, aku Terima!” jawab Fay.
“Tunggu!!! bolehkan aku mempersilakan kalian pulang saja. Aku juga ingin istirahat tenang?!" celetuk Aira.
“Tidak!!” Arka, Fay. Lagi lagi mereka saling menatap. Arka yang setengah mabuk begitu senang mendengar Fay menerima tawarannya ... karena Arka pikir pasti dialah pemenangnya. Tapi, Arka lupa kalau saat ini dia setengah mabukn ... sehingga membuat kewaspadaan Arka sedikit menurun.
Adu kuat meminum Alkohol akhirnya dimulai, sudah beberapa sloki Arka meminumnya ... Arka tidak paham kenapa Fay bisa lebih kuat darinya, setau Arka Fay dulu tidak sekuat ini. Hingga kewaspadaan Arka menghilang. Sebenarnya lebih bisa di katakan dewi Fortuna lagi memihak kepada Fay. Pas di samping Fay ada tempat sampah kecil, yang dia gunakan Fay membuang sebagian alkohol dari Arka yang sudah sangat mabuk dah hilang kesadaran. Sampai detik ini ... Arka benar benar sudah hilang kesadarannya dan tertidur di lantai.
Beberapa jam Arka dan Fay lalui untuk perlombaan mereka ... membuat Aira yang sedari tadi menunggu di sofa akhirnya setengah tertidur. Fay yang amat rindu karena seharian tidak bertemu membuat Fay ingin berlama lama menatap Aira yang tertidur di sofa. Perlahan tangannya membelai helaian rambut Aira.
Aira yang sedikit terbangun. Lalu memanggil kak Fay ... yang sudah Aira sadari Fay tengah membelai halus rambut Aira seraya memandang lembut ketulusan untuk Aira seorang. Melihat Aira sudah terlihat ingin tidur lagi Fay meraup lembut tubuh Aira dalam gendongannya, berjalan pelan menuju kamar Aira.
__ADS_1
Setibanya sebelum langkah Fay masuk kamar Aira, Aira tersadar tubuhnya terkejut kak Fay menggendong Aira. “Kak Fay turunkan aku, aku ingin berjalan sendiri."
Perlahan Fay menurunkan Aira di depan pintu kamar tidurnya “Aku masuk dulu kak.” ujar Aira yang sudah terlihat ngantuk sekali. Fay mengangguk pelan seraya matanya memandang Aira, hingga Aira membalikkan badan dan tubuhnya membelakangi Fay. Aira membuka pintu kamarnya. Fay yang setengah mabuk, dari belakang punggung Aira secara tiba-tiba melangkah dan tubuhkan seakan mendorong punggung Aira melewati pintu kamar Aira.
Tubuh Aira yang terdorong tubuh Fay, amat terkejut! Bibirnya sedikit menganga menoleh ke diri Fay dan memberi reaksi kebingungan dengan perilaku Fay yang tak pernah seperti ini sebelumnya, hingga punggung Aira terdorong ke dinding tembok. Wajah Aira meringkuk seraya menggenggam kedua tangannya. “Kak Fay sedang apa? Aku mau tutup pintunya." Tanya Aira dengan gugup. Tangan Fay merentang ke Atas mematikan tombol saklar lampu kamar Aira. “Mematikan lampu.” ujar Fay tenang.
Masih posisi membelakangi tubuh Fay yang begitu dekat dengannya “Aira bisa matiin lampu sendiri. kak Fay nggak pulang?" Fay memutar balik pinggang Aira, menarik pinggangnya Aira, menempelkannya berhadapan langsung ke tubuh Fay. Seketika itu Aira sangat terkejut! "Kak Fay! kau sedang apa?” suara Aira terkejut.. pinggang Aira begitu menempel ke tubuh Fay, dan tangan Fay memeluk erat pinggang Aira. Sedangkan Aira berusaha keras ingin terlepas dari dekapan kakaknya itu.
Fay yang semakin mendekap tubuh Aira. Aira sedikit takut juga gugup, ini bukan Fay yang biasa dia kenal. Di tambah lagi jari telunjuk Fay menyusuri menggaris tengah bibir Aira lembut. Membuat Aira benar-benar ingin terlepas tapi tertahan tak bisa. Lalu Fay mengatakan hal yang tak diduga duga oleh Aira. “Bolehkah ... aku mencium bibirmu?" nada lembut Fay dan tatap mata sayunya.
Jantung Aira yang seakan ingin meledak bahwa ini tidak benar, segera melakukan penolakan mendorong tubuh Fay dengan sangat kuat. “Kak Fay mabuk lagi. kak Fay cepat pulang. Ini sudah malam!” alasan dari Aira yang tengah berdegup kencang. Yang sudah ingin sekali menghindari suasanan seperti saat ini. Fay menatap lembut ... terlihat menyesal, Aira Tak ijinkan Fay mencium bibirnya ... perlahan Fay melepaskan tangannya yang sedari tadi memeluk kuat pinggang Aira. “Mana mungkin aku pulang, lelaki perampas itu masih tidur di sini, kau tidurlah. Aku tidur di luar.”
Terlepas dari semua perlakuan Fay yang tiba tiba terlihat mendadak dan mengejutkan. Aira merasa tidak enak kalau ada 2 pria memperlakukannya dengan sama seperti itu.Yang tiba tiba dengan mudah mereka melakukan kontak fisik dengannya. Mata Aira yang masih sangat terasa mengantuk, tanpa waspada apapun segera terlelap dalam tidurnya yang begitu nyenyak ... karena juga merasa lelah seharian bermain di taman kota.
Detik demi detik menuju ke arah menit dan menempatkannya ke arah jam yang sudah larut malam sampai tengah malam, di ruang tengah yang setengah cahayanya redup. Hanya lampu sudut rumah berwarna kuning menerangi setiap sudutnya. Redupnya lampu ... tapi tidak dengan sepasang mata lelaki yang pupil matanya masih begitu terang, seraya memegang hanphonenya dengan kuat lelaki itu yang sedari tadi duduk di lantai tiba tiba gerak tubuhnya berdiri ... Berjalan menuju kamar Aira, membuka pintu kamar Aira yang terasa gelap sedikit remang remang disinari lampu tidur yang redup.
Mata lelaki itu menelusuri Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki Aira ... yang hanya memakai piyama panjang dan selimut yang sudah tersibak oleh kaki Aira. Selesai menatap tubuh Aira. Kaki lelaki itu tiba naik ke tempat tidur menatap wajah Aira dengan seksama dan lembut tubuh Aira. Dan perlahan pria itu mencium hingga melum*ti bibir Aira. Perlahan-lahan Aira sedikit tersadar. Aira sempat mengira kalau itu pasti Arka. Siapa lagi kalau bukan Arka yang berani melakukan hal seperti ini.
Mengira kalau itu Arka. Aira hanya mendorong-dorong biasa agar pria itu pergi dari dekatnya. Tapi bau tubuh pria itu sedikit berbeda, bukan seperti bau tubuh Arka. Dan mencoba mendorong kembali ciuman tersebut. "Arka pergi!" dan Aira hampir tersadar. Pria itu menyahut perkataan Aira.
"Aku bukan Arka, aku kak Fay." Aira sejenak terdiam. Dan membuka mata cepat menyadarkan dirinya sendiri. Betapa terkejutnya dia. Di kamar gelap remang itu. Aira menyadari baru menyadari kalau pria yang mencumbuinya tadi bukan Arka, melainkan Kak Fay.
“KAK FAY...!” Sontak tubuh Aira meringkuk kedua tangannya menyilang di dadanya.
“Sepertinya kau sudah sangat terbiasa dijamahi oleh Arka, bahkan kau terlihat menikmatinya tadi, kenapa denganku? Kenapa aku tidak boleh melakukan itu juga bahkan setelah tau itu aku, kau sontak menghindar dengan cepat. Apa kau sudah mengatakan kata kata cinta untuk Arka?"
Aira dengan wajah meringsut takut dan malu kepada Fay, menggelengkan kepala tanda seruan Aira yang belum berani berkata apapun, setiap Fay yang mengintimidasi nya.
“Kalau kau berani mengatakan kau menyukai Arka, aku akan menjamahimu bahkan merperkosamu Aira ....” nada nada seruan yang begitu menakutkan untuk Aira.
"Kak Fay, apa ini sebuah kata kata ancaman buat Aira. Kak Fay sudah lancang denganku." tanya Aira.
"Kalau aku sangat ingin memilikimu, apa ini bisa disebut ancaman dan melancangi dirimu?" Aira tertegun perkataan Fay kenapa perkataan itu membuat rasa sakit juga ironi buat Aira.
Selepas itu semua ... dan Aira masih sangat terasa takut, Fay turun dari sisi Aira. Tangannya mengambil sebagian selimut dari laci Aira dan keluar kamar begitu saja tanpa menolehkan wajahnya pada Aira. Entah apa yang membuat Fay tiba tiba berubah seperti itu, setelah menutup pintu kamar Aira Fay tersandar di dinding pintu Aira, memegang erat ponselnya yang sepertinya terdapat foto foto seseorang. Tak lama Fay melakukan panggilan kepada seseorang.
“Kau dimana?” tanya Fay
__ADS_1
“Haha ... jadi kau sudah setuju dan baru menyetujui nya setelah aku kirim foto foto Arka dan Aira seharian ini, seru sekali ... Kemarilah aku di Dev'r Billiard,“ jawab Key.
Bersambung ... jangan lupa like ya...