
Ughh ... Tidurku nggak nyenyak sama sekali. Aku ngerasa badanku lengket semua, pinggang ku, kulitku... Terasa nyeri semua. Sinar matahari kenapa sudah tampak terang. pikir Aira.
Ketika Aira berusaha mengumpulkan bagian bagian dari jiwanya dari tidur yang melelahkan, saat mata masih enggan terbuka tapi raganya sudah bisa terbangun perlahan lahan. Setengah lunglai Aira terbangun dengan posisi menungging, dia duduk segera mengumpulkan sisa sisa jiwa yang hilang dan energi yang tersisa.
Mata Aira perlahan terbuka. Mengusap tubuhnya yang tidak dia sadari kenapa dimana mana sangat lengket mengering dan beberapa lainnya bekas diusap dengan kain, dan lebih terkejut lagi tanda merah bekas sesapan begitu amat sangat banyak. Aira berfikir 'Arka semalam pasti melakukannya... Tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali ....'
Aira yang tengah duduk. Terlihat Arka masih tertidur tapi mata Aira sesegera memandangi seksama, Aira sedikit terkejut bahu Arka begitu banyak tanda merah. Aira yang masih penasaran perlahan sedikit membuka selimut Arka.
Seakan tersengat listrik. Mata Aira terbelalak dengan kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga akibat terkejut begitu tanda merah sesapan bibir di hampir semua bagian tubuh Arka.
Aira segera menutup mukanya. apa mungkin aku yang melakukannya??!! kenapa aku mau... Aghh ... Apa aku ini cewek gampangan yang gampang terpesona laki laki, Aggrrhhhh bodoh. Sial bodoh sekali aku ini. Pikir Aira. Menutup mata sambil menggeleng geleng kan kepala dengan cepat.
Tiba tiba Arka terbangun segera menggeser kan tubuhnya ke arah Aira dengan tangan memeluk pinggang Aira yang tengah duduk tak memakai baju dan menyusupkan kepala Arka ke lekukan perut Aira. Aira sedikit terkejut dan menghindar tapi tertahan tangan Arka yang memeluk pinggangnya dengan erat.
“Kau kenapa ...?” tanya Arka.
Tangan Aira mengepal dengan aura muka tampak keraguan untuk bertanya kepada Arka.
“Arka... apa benar aku yang melakukan itu.”
“Itu apa?”
“It. itu... Merah merah di tubuhmu.”
“Apa kau tidak ingat, kau semalam begitu sangat menggodaku dan bermain dengan sexy diatas tubuhku. Aira ... Aku inginkan kau seperti semalam saat bercinta” Sambil mengecup perut Aira.
“Tidak! tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali ..."
“Kau yang meminta diriku bermain denganmu apa kau juga tidak ingat?"
Pipi Aira memerah. “Bukannya aku semalam terkunci dikamar lalu kedinginan."
“Aku yang membawamu kesini."
“Terus bagaimana bisa aku meminta itu padamu."
Tubuh Arka setengah terbangun didekatkan mukanya dengan wajah Aira sambil lengannya bertumpu menyiku di sprei.
“Apa kau menyesal sayang ...?"
Aira terdiam menundukkan kepala dengan bibir mengerucut.
“Jangan pikirkan yang aneh aneh. Ayo mandi bersama sama sayang.”
“Kau mandi sendiri sana.”
“Kalau gak mau, aku mainkan jariku ya." Tangan Arka yang sudah mendekat menyusup ke bagian itu yang sedikit memasukannya..
“Nggak..! Iya ayo mandi."
Hati Arka benar benar cerah hari ini dan memberi senyuman ke Aira, lalu mengangkat Aira menggendongan nya dengan posisi Aira seperti terduduk kakinya melingkar ke pinggul Arka, perlahan berjalan ke kamar mandi diiringi ciuman Arka dalam bibir manis Aira.
Sepertinya niat Arka memang hanya untuk memandikan Aira dan dirinya sendiri dengan air hangat setelahnya Arka sendiri yang memakaikan baju Aira meski Aira sendiri bisa tetap saja tidak bisa menolak kemauan tuan muda Arka ini.
“Setelah makan ikut aku.” kata Arka.
“Kemana?"
“Gak jauh dari sini ada pantai datang siang hari udaranya tidak akan terlalu dingin." Arka berganti memakai baju setelah memakaikan baju Aira. Aira sedikit berjalan menapakkan kaki melihat hiasan hiasan kuno dikamar Arka dan terhenti di satu foto yang terlihat seorang wanita cantik menggendong anak. Aira tak tahan menyuarakan pertanyaan. "Apa ini foto ibumu?”
__ADS_1
Arka dengan posisi membelakangi Aira tampak menegang dan segera membalikkan badan tapi dengan ekspresi muram dan gelap. Segera menuju ke arah Aira dan menutup Foto itu ke meja. Dengan tatapan bergemuruh. "Jangan tanyakan tentang wanita ini.” Arka cepat pergi keluar begitu saja meninggalkan Aira setelah memandang tajam mata Aira. Aira pikiran dan tubuhnya membeku melihat ekspresi Arka yang nampak geram tanpa Aira tau alasannya.
Hati Aira bertanya tanya sepertinya aku menyinggung masa lalu Arka, tapi apa peduliku arghhh ... koq malah aku yang gelisah, ini menyebalkan!
Aira yang keluar dari kamar Arka berjalan lalu melihat Arka tengah duduk di sofa berwarna soft pink warna kesukaan nenek, Aira ragu sekarang Aira mau apa mau kedapur harus melewati sofa yang dipakai Arka duduk, mau ke tempat lainnya... Dihalaman rumah juga mau ngapain... Perut dah kosong belum masak juga, sudah mau kelaparan juga. Aira mengerjakan Mata bagai membaca mantra dalam hatinya.
Cuek aja, cuek aja, cuek aja.
Sambil berjalan perlahan melewati Arka.
“Aira."
“IYA.” tegak membeku.
“Kesini."
Dengan ragu dan ekspresi Aira layaknya anak kecil yang takut akan dimarahi orang tuanya, Aira mendekat ke posisi Arka. Tanpa terpikirkan apapun, Arka meraup tubuh Aira Dari depan, memelukkan tangannya ke perut Aira dengan kepala bersandar ke perut Aira dengan posisi Aira berdiri dan Arka masih duduk di sofa.
Arka tak mengeluarkan kata kata apapun... hanya memeluk erat perut Aira dari tadi. Aira semakin bingung ... Aira mau berkata apa. Dan akhirnya memberanikan bertanya.
“Maaf aku tadi sembarangan bertanya."
Arka tak bersuara juga hanya memejamkan mata dan memeluk erat tubuh Aira. Terlihat ada sesuatu yang terpendam sangat dalam yang tidak ingin Arka ungkapkan. Perlahan tanpa sadar jari Aira menggulung gulung kecil rambut Arka dengan jarinya karena Arka yang sedikit lama tak bersuara juga.
“Arka... Ayo makan..." memelas Aira. Baru Arka melepaskan pelukannya dan mendongakkan kepalanya memandang wajah Aira.
“Gadis kecilku udah lapar ya, mau masak apa?"
“Capcay udang, tumis ayam."
“Bisa?"
****
Setelah selesai makan ... Arka dan Aira segera bersiap ke pantai. Aira yang duluan selesai ganti baju sweater dress jingga, Aira gak berani memakai pakaian yang terbuka karena bagi Aira udaranya masih terasa dingin meski siang hari. Lalu Arka keluar kamar dan hanya memakai celana pendek dan kemeja tipis terbuka tanpa dikaitkan kancing kancingnya entah sengaja atau gimana membuat Arka benar benar sangat menggoda dengan garis garis halus di perutnya yang membentuk begitu sexy.
Aira yang nggak terlalu jauh tiba tiba merapatkan bibirnya dan sedikit menelan ludah. Segera Aira memalingkan muka saat Aira sadar pipi Aira memerah.bArka berjalan begitu saja sambil menoleh ke arah Aira
“Apa kau terpesona? Pipimu merah tuh?”
Dengan menebar senyum tipis tipis ke arah Aira, hingga Aira terasa malu. Jarak pantai dan villa memang tidak jauh, berjalan pun tidak akan membuat mereka kelelahan.
Saat kaki mereka sampai ke pantai pikir Aira sedikit bertanya di pantai yang sepi ini kenapa ada rumah kayu yang begitu mewah di dekat pantai bukannya rumah penduduk jauh dari pantai ini.
“Ada rumah kayu di sana.” ujar Aira
“Itu milikku juga.” di sekitar pantai ini sudah jadi daerah pribadiku.
“Tapi... Sepertinya ada orang di sana.”
“Itu bodyguard ku semua, mereka berjaga jaga sewaktu waktu ada apa apa dengan kita."
“Maksudmu, kamu sendiri yang ngerencanain aku terjebak disini."
“Itu suruhan Leon yang mengirim kesini, setidaknya aku lebih senang dijebak mereka berdua." Arka tersenyum.
“Kau ...!“ geram Aira.
__ADS_1
“Dan sepertinya Omma sadar akan kondisimu yang tidak kuat dingin jadi omma memilih villa tua yang ditempati. Bukan di jebak di daerah bersalju." candaan Arka.
Setelah bodyguard itu sadar ada Tuannya berada dipantai, segerombolan orang orang bertubuh kekar memakai baju hitam hitam menghampiri Tuannya.
“Maaf tuan Arka, kami baru mendapat telefon dari penjaga di villa kalau Tuan Arka kearah pantai dan kami baru menyadari Tuan sudah ada disini. Kami sudah bersihkan rumah kayu tersebut Tuan, Tuan Arka bisa istirahat di sana.”
“Kalian kembalilah ke sana, anggap saja ini juga liburan buat kalian, aku ingin diluar saja."
“Tapi Tuan.” Tatapan Arka segera mengisyaratkan untuk segera pergi.
Para bodyguard Arka segera kembali ke rumah kayu sesuai perintah Arka.
“Kau ingin berendam air laut?" tanya Arka.
“Tidak! disini bagiku dingin.”
Arka berjalan mengarah ke Daybed kayu yang begitu terasa teduh dan menenangkan tidak jauh dari pantai. Arka terasa menikmati di setiap hembusan angin yang mendarat lembut di area pantai tersebut. Arka Berganti mengalihkan pandangannya ke tempat Aira berdiri.
“Kenapa kau berdiri saja."
“Kenapa kita bisa disini bersama, seharusnya bukan aku, seharusnya orang yang kamu sukai yang ada disini."
“Kau ingin cepat pulang?"
"Iya."
“Kalau kau naik kesini lalu duduk di pangkuanku, sehari lagi kita pulang."
Aira sama saja seperti berinisiatif sendiri menyodorkan tubuhnya dipangkuan Arka tapi Aira benar benar tidak tahan dengan hawa dingin yang ada di daerah ini, memaksakan diri yang Akhirnya tubuhnya mendekati Arka dan perlahan duduk dengan mata waswas terhadap Arka.
“Kau ini apa saja yang kau pikirkan, kenapa hanya duduk saja seperti memasuki kandang yang berisi singa yang kelaparan."
Aira yang duduk menyamping di pahanya. Arka terasa tidak puas lalu menarik kaki satunya Aira melingkari pinggulnya dan menghadap pas ke tubuhnya, Arka tak ingin Aira memalingkan pandangan Aira ke arah lainnya.
“Kau bilang aku harus dengan orang yang kucintai saat disini.., apa kau enggak mencintaiku atau menyukaiku?”
“Kau ini bicara apa, tentu saja tidak.” Aira memalingkan muka.
Arka memeluk Aira dengan kuat menarik tubuh Aira hingga menempel ke permukaan dada Arka dan membuat wajah mereka begitu dekat hingga hidung mereka saling menyentuh.dengan posisi tangan aira di dada Arka.
Arka memegang kedua pergelangan tangan Aira lalu menuntun tangan Aira untuk melingkar di sekitaran lehernya lanjut Arka sedikit merenggangkan mukanya dengan muka Aira, Arka memperjelas tatapannya ke mata Aira dengan tatapan tenang tapi begitu menusuk kearah tatapan Aira dengan reaksi bibir sedikit tertarik. Tatapan yang tak bisa dijelaskan tatapan yang tak bisa dihindari perempuan manapun, siapapun pasti akan jatuh dalam pesona yang Arka buat.
“Berhenti menatapku seperti itu."
“Jantungmu berdegup kencang, pipimu memerah, matamu tak terarah dengan benar, kau menyukaiku Aira kenapa kau tak mengakuinya."
Segera Aira mendorong tubuh Arka dan menunduk Malu, semua wanita akan seperti ini kalau kau melakukan ini."
Arka tersekat dalam tatapannya.
“Benarkah, mungkin benar tapi aku merasakan hal sama seperti Aira. beda dengan perempuan lain saat bersama, aku belum pernah merasakan ini."
__ADS_1