Laman Kosong

Laman Kosong
Konflik


__ADS_3


*Fl**ashback*


Malam seusai Fay menemui Arka segera Fay pulang tanpa mampir kemanapun langsung ke arah perumahan, biasanya saat klakson mobil berbunyi ... Paman langsung membukakan pintu gerbang tapi sudah berulah kali Paman tak juga muncul,dalam pikiran Fay mungkin Paman dan Bibi sedang tidur kelelahan ... akhirnya Fay membuka sendiri gerbang pintu tersebut.


Berjalan masuk kerumah ... Fay benar-benar terkejut Paman dan Bibi tergeletak lemas di sofa dan sangat tercium obat bius pada mereka berdua. Segera dengan cepat Fay menuju kamar tamu yang di mana Aira sedang beristirahat di sana, tak lama berlari Fay buru buru membating pintu hingga terdengar benturan pintu ke dinding.


Sangat sangat terkejut bahwa Aira tidak ada di kamar dan bolak balik memanggil dan mencari Aira tak berujung ketemu juga, Fay perintahkan semua bodyguard dan managernya untuk kembali bekerja malam ini. Saat manager dan para bodyguard datang tampak heran, Fay menyuruh dengan nada kasar dan terlihat begitu geram hingga mereka ketakutan, baru kali ini Fay terlihat kasar.


Fay lemparkan id card milik Aira yang bekerja di Max entertainment yang Fay geledah dan ambil dari tas Aira. Fay mau malam ini juga diberi informasi sedetail mungkin tentang Aira dengan perusahannya Arka. Fay begitu frustrasi memikirkan Aira hingga dini hari baru ada kabar tentang Aira, semalaman begitu resah ... ditambah lagi kabar kedekatan Aira dengan Arka selama ini ... hingga mereka sudah sering satu apartemen.


Fay yang berdiri tiba-tiba terduduk lemah dengan memegang erat semua laporan anak buahnya. Tak ingin Aira terlalu lama dalam lingkup yang dibuat oleh Arka ... Fay berpikir keras memikirkan cara mengambil balik Aira ke sisinya.


Detik demi detik Fay memikirkan sesuatu yang dapat membuat Arka menyerah ... hingga akhirnya Fay ingat bahwa Arka begitu takut dan tidak mau seperti ayahnya mengingat kelemahan Arka ... Fay segera bersiap ke apartement Arka.


Alur maju cerita


“AIRA.” panggil Fay dengan cepat dan tegas. Sadar ada orang lain dan seperti suara yang Aira kenal memanggilnya Aira, sedikit mendorong Arka agar terlepas dari ciuman nya saat ini, ketika Aira penasaran dan segera berpaling ke suara tersebut. Benar benar...keterkejutan seakan pisau di lemparkan dari kejauhan yang pas langsung menusuk hati Aira, sesorang yang tidak disangka sangka bisa berada di sini, di apartement Arka ... dan yang lebih perihnya lagi kak Fay melihat diri Aira yang berciuman dengan orang lain.


“Kenalin dia sepupuku Aira ...” bersamaan Arka melemparkan senyum sinis dengan menipiskan bibirnya ke arah Fay yang tangannya masih menggenggam erat tangan Aira .... seakan mengklaim ini milikku siapapun itu tidak boleh memilikinya.


Sebuah jawaban atas pertanyaan yang begitu ditunggu tunggu tapi ... jawaban ini kenapa begitu meruntuhkan hati hingga tak terperi, melihat sesosok lelaki yang mungkin Aira sangat tidak mau orang itu melihat ciuman tadi, apalagi setelah Aira menerima pernyataan cinta Fay terhadapnya.


Aira spontanitas mendorong tubuh Arka yang masih memegang satu tangannya dan segera turun dari mini bar. Dengan kelabakan salah tingkah Aira memandang lalu menundukkan kepala terasa kalau Aira sangat malu dengan apa yang dilakukannya tadi.


Fay berjalan dengan pasti mengarah ke Aira, Fay yang sudah tersulut emosi dalam tubuhnya, langsung menggenggam erat tangan Aira dan Akan menarik Aira menjauh dari Arka tapi keduluan Arka juga menarik tangan satunya Aira. hingga saling tarik menarik tangan Aira di ikuti saling tatap menatap tajam, aura gelap begitu sangat terasa dalam lingkup ruangan tersebut.


Aira yang begitu terkejut diselimuti kebingungan yang mendera dalam hatinya ... tidak ingin dalam situasi ini terus Aira menarik kuat kuat tangannya sendiri dari genggaman kedua pria yang saling beradu tatap seakan tatapan mata yang siap beradu peperangan.


Langkah Aira sedikit mundur dari tempatnya tadi dengan kepala meringkuk penuh rasa bersalah kepada Fay setelah Fay tahu dirinya seakan akan menghianati Fay meskipun secara tidak langsung.


Entah rasa bersalah seperti seorang kekasih yang melakukan perselingkuhan atau rasa bersalah seorang adik yang sedang ketahuan kakaknya telah berani bermain-main dengan lelaki asing. Sedikit memberanikan mengucapkan kata ... yang sebenarnya tapi bagaimana cara menjelaskannya.


“Kak Fay ... aku ...,” dengan cepat Arka mendekat pada diri Aira.


“Dia Aira wanitaku, eh bukan kekasihku aaahh ... tepatnya lagi dia pacarku,” sahut Arka. Aira dibuat terkejut dengan perkataan Arka barusan dan segera pandangannya mengarah ke Fay dengan cepat melambaikan kedua tangan. Memberi isyarat kalau semua yang dikatakan Arka itu semua bohong.


“Ikut aku pulang!!” ajakan tegas Fay.


Mendengar kata kata Fay ... mata Arka melotot sinis dan dengan cepat meraup merangkul bahu Aira dalam dekapannya seraya Aira lagi lagi ketimpa keterkejutan yang tak berujung. Tak terima Arka begitu agresif kepada Aira ... Fay mengambil tindakan menarik tangan Aira hingga tubuh Aira sempoyongan, tapi tangan Arka masih begitu kuat menahan leher Aira agar tidak mengikuti laki laki yang dianggap kakaknya itu. Dan akhirnya tarik menarik terulang kembali.


Hah... Benar benar suasana yang sangat panas dan menjengkelkan...kenapa ini bisa terjadi dan ingin sekali cepat berakhir.


Disaat persengitan masih terjadi ... suara aneh terdengar begitu jelas ... “krucuk ... Krucuk ...” suara yang bukan sebenarnya lagi, tapi ini benar benar suara yang sangat memalukan di tengah kegentingan antara Arka dan Fay.


Arka terkejut mendengar suara perut lapar dari Aira dan Aira terpaksa menorehkan senyuman meringis yang tertahan oleh perasaan malu yang menderai pikirannya. Sementara itu kak Fay memejamkan mata sembari menghela nafas atas yang terjadi barusan bersama Arka.

__ADS_1


******


Aira duduk di kursi paling ujung ... sedangkan mereka berhahapan dari sisi berlawanan. Rasa lapar yang begitu amat sangat, Aira sedikit tak menghiraukan mereka berdua yang masih beradu tatapan mata. Aira berdehem sambil memberikan senyum keraguan ... Aira ingin mereka menghentikan tingkah laku mereka. “Apa kalian tidak lapar ...?”


“Tidak" Arka,Fay


“Aku sangat lapar ... apa aku harus berhenti makan agar kalian berhenti saling menatap,”


“Jangan, makan saja jangan hiraukan kami,” Arka.


Akhirnya Aira memilih menyerah saja dan melanjutkan memakan makanannya, tak lama ... kak Fay menyerukan kata-kata ajakan untuk Aira.


“Berhentilah bekerja di Max entertainment Aira, dan tinggal di rumah kak Fay saja.” Aira berhenti makan lantas memikirkan sesuatu.


“Tidak akan bisa, Aira terikat kontrak denganku dan perusahaanku, Aira harus mengganti 100 miliyar kalau ingin kabur dariku,” nada Arka yang begitu kesal dengan yang dikatakan Fay.


Mendengar semua itu Fay benar benar geram, Arka mengikat Aira dengan sebegitu banyak jumlah uang yang tidak mungkin Aira bisa membayarnya. “Aku yang akan mengganti uang kopensasinya.”


Arka menarik sedikit bibirnya dengan sedikit senyum ... menatap Fay. “Bukan uangmu tapi uang Aira sendiri yang bisa membatalkan kontrak.”


Aira mengeleng-gelengkan kepala ke Arah Fay ... dengan sedikit takut dan malu menatap kak Fay. Untuk menghentikan semua ini ... Aira berpikir sedari tadi dan semoga mereka menyetujuinya.


Aira meminta untuk mengontrak rumah sendiri meski itu kecil bagi Aira sangat tidak masalah. Mendengar permintaan Aira. Arka dan Fay sedikit tersekat dalam pikiran mereka dan benar benar tidak rela Aira jauh dari mereka berdua ... akhirnya mereka berpikir ulang lagi, yang dari pada Aira tinggal di apartement Arka atau di rumah Fay yang sama sama merasakan sifat kekesalan kalau Aira malam memilih tinggal bersama salah satu dari mereka.


Akhirnya kedua lelaki itu setuju atas permintaan Aira, tapi Fay sebelumnya sangat penasaran tentang hubungan mereka saat ini yang akhirnya menanyakan hal yang pasti ke Aira. Pertanyaan apakah benar sudah berpacaran dengan Arka tanpa paksaan dan sama sama saling menyukai atau hanya paksaan saja.


Perjanjian pun terealisasikan Aira mengontrak rumah kecil sesuai permintaan Aira,siapa yang membayar kontrakan masih saja berebut akhirnya Fay yang memenangkan perdebatan itu, tapi Arka meminta Aira tetap harus bekerja di max entertainment dan lantas membuat tak puas diri Fay. Fay juga mengajukan persyaratan tidak boleh ada kontak fisik kepada Aira meski itu hanya ciuman, dilarang menginap di kontrakan Aira siapapun juga sampai Aira memberi keputusan dengan siapa dia harus menjalin hubungan.


Dengan seksama Aira mendengarkan kak Fay nya memberi saran dan sesekali Aira mengangguk angguk dengan pasti dan menerimanya dengan senang hati seraya dari tadi melihat ke arah kak Fay,Sebuah saran dan keputusan yang adil dari seorang yang lebih tua dari Aira yang selama ini melindungi Aira.


Tidak dengan Arka, mendengar semua ini Arka begitu geram dan berwajah suram. “Aku tidak mau janji untuk hal itu!” Arka.


“Apa kau ingin seperti Ayahmu, memaksa tanteku me-” kata kata Fay langsung tersalip nada tinggi Arka, “Diam kau!" Ternyata ada yang manfaatin situasiku.” sahut Arka.


Fay membalas senyum manis ke diri Arka yang saat ini sudah jelas terlihat kesal dan sedikit kalah dari Fay. Bersamaan Aira selesai makan ... Fay berdiri lantas memegang tangan Aira, mengajak Aira mencari kontrakan.


“Singkirkan tanganmu Fay, siapa yang ijinkan tanganmu menyentuhnya!”


“Aira butuh kontrakan, aku mengajak Aira memilih kontrakannya dia sendiri. Kurasa tidak masalah.”


“Heh- bisa bisanya kau, aku harus ikut!”


“Apa ini yang disebut kebebasan tapi kau masih saja membuntuti Aira yang jelas jelas tidak mau dalam situasi ini."


Aira diam tak berkutik di tengah perdebatan mereka. Sampai akhirnya Fay mengeluarkan pertanyaan untuk Aira, “Kau masih ingin tetap disini apa ngontrak sendiri?!” tanya Fay.


Pertanyaan yang membuat Aira terbangun dari diamnya tadi seraya matanya mengarah ke Fay dengan ragu, pertanyaan yang amat berat di jawab di depan Arka ... tapi Aira ingin kebebasannya dan Aira ingin memastikan perasaan yang selama ini dia rasakan,dan tidak mau menggantung harapan Fay dan Arka.

__ADS_1


“Aku ikut kak Fay.” Fay tersenyum menatap Aira yang memilih bersamanya dari pada tetap tinggal bersama Arka,tangan Fay yang masih memegang tangan Aira, tertarik ketika Fay mulai berjalan ke arah pintu keluar ... mendengar jawaban dari Aira yang sangat tidak ingin didengar itu ... Arka mengerutkan kening, menahan kerjapan mata lantas menghela nafas pendek. Kaki Arka mengikuti mereka yang sudah dekat dengan pintu, dengan cepat menarik tangan Aira ...


Arka ingin sekali menahan Aira agar tetap tinggal bersamanya ... tapi kalau Arka selalu berpikir seperti itu dia tidak akan tahu Aira benar benar tulus mencintainya apa hanya akan terbiasa terlalu nyaman dengan hubungan intim mereka yang hanya bersifat kesenangan dan nantinya bisa saja kalau Aira sudah jenuh ... Aira akan pergi begitu saja dan meninggalnya banyak kekecewaan saat hubungan sudah dimulai ke arah serius.


“Kau ingin tetep menahan Aira?” tanya Fay. Arka mulai perlahan melepaskan tangan kecil Aira ... sempat Aira menatap mata Arka dan Arka yakin Aira suka dengannya tapi hanya belum sadar saja. Terlepas dari tangan Arka.


“Aku pergi dulu.” ucap Fay. Hah-- sebuah perkataan yang menjengkelkan. Fay bisa menang dan membawa Aira, Fay membawa Aira pergi dihadapan Arka, setelah langkah mereka terlihat menjauh. Genggaman Arka begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih tak hayal membuat Arka menendang pintu apartementnya dan ingin sekali meluapkan emosinya saat ini.


Sesampai di garasi mobil Fay membukakan pintu untuk Aira ... begitu baik tapi tidak untuk raut wajahnya yang terlihat suram dan hanya diam saja tanpa ada sepatah katapun untuk Aira. Masih merasa sangat tidak enak dalam hati Aira untuk berkata kata apapun dan suasanan ini belum pernah Aira rasakan ... Aira begitu canggung rasa yang tidak bisa dikatakan saat Fay yang semalam menyatakan perasaannya dan paginya melihat orang itu berciumam dengan adik sepupunya sendiri.


Fay yang tengah duduk diam memegang setir mobil, menggerakkan kepala menunduk terlihat menorehkan senyun sinisnya, “Heh, masih saja Arka bodoh, belum juga sembuh dari traumanya itu.” Aira yang duduk disebelahnya tampak heran dan menilai setiap mimik wajah kak Fay yang belum pernah Aira lihat sebelumnya.


Sadar bahwa Aira sedang memperhatikannya, Fay melemparkan lirikan tajam langsung pada mata Aira hingga Aira langsung memalingkan muka terasa takut, Aira lupa kalau Fay sekarang lagi marah ... karena biasanya Fay marahnya tidak akan bertahan lama ... tapi kali ini beda...Fay yang sudah menjalankan mobil hanya berkeliling keliling saja.hanya terjeda menyuruh managernya mencari kontrakan yang bagus dan nyaman tapi tidak terlalu besar karena Aira takut berada dirumah yang besar sendirian.


Masih juga mobilnya melaju entah kemana, kak Fay hanya diam saja tidak berkata apapun pada Aira. Aira yang masih tidak enak dengan kejadian tadi masih takut untuk bertanya ke kak Fay. Sesekali Fay menghentikan mobil hanya untuk beli makanan, bentar berhenti lagi beli minuman,berhenti lagi cari camilan buat Aira..tapi ini masih diaaammm saja.


Hingga sore hari Fay mendatangi kelab malam milik temannya, membawa Aira masuk ke dalam kelab dengan menggandeng Tangan Aira.Aira yang merasa ini tidak benar dan tidak pernah datang ke tempat tempat seperti ini ... Aira memberanikan diri bersuara, “Tunggu kak Fay, kak Fay tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Ayo pulang saja”


Langkah Fay terhenti,melirik tangan Aira yang sedang menahannya dan segera memandang Aira ... setelah sedari tadi pagi Fay hanya diam baru ini Fay berbicara, "Pulang kemana? kontrakanmu baru saja dicari dan mungkin belum dibersihkan, nanti malam baru selesai.Aku ingin mengunjungi temanku.”


Aura Fay saat ini memang masih terlihat marah dengan Aira dan lagi tak menghiraukan Aira malah melanjutkan masuk ke dalam kelab temannya itu.di sisi bartender terlihat temannya memainnkan bartender tersebut.t


Temannya Fay terlihat terkejut tampak Fay datang berkunjung ke tempat seperti ini, karena terakhir kali mereka bertemu Fay yang hanya meminum 5 sloki saja sudah mabuk berat.


Tak menghiraukan Aira di sampingnya yang memohon untuk berhenti minum, Fay acuh tak acuh terhadap Aira hingga malam tiba. Aira memilih untuk pulang dibantu temannya membopong Fay yang mabuk setengah sadar masuk dalam mobil. Aira memutuskan menyetir mobil sendiri ...Aira bisa menyetir mobil dari ajaran kak Fay waktu di New york.


Sesampai di rumah Fay, Aira berjuang memapah kak Fay kuat kuat Aira hanya sendiri dan sepertinya paman dan bibi sudah tertidur. Langkah kaki Fay terseret seret ... tubuh Aira kurus berusaha menahan tubuh Fay agar tidak terjatuh hingga langkah kaki Aira sempoyongan.


Tak lama mereka masuk pintu kamar Fay, Aira menyeru kak Fay untuk melepas sepatu, menyeru kak fay lagi untuk melepas jasnya yang tadi sedikit terkena muntahan saat di kelab, menyeru kata kata kak Fay lagi agar berbaring dengan benar.


Kata kata KAK FAY yang amat sangat tidak enak didengar saat ini ditelinga Fay, kenapa harus memanggil kakak kakak trus hingga membuat Fay yang setengah mabuk mulai tersadar, matanya yang masih memerah menatap tajam mata Aira hingga Aira terkejut ketakutan, tubuh Fay yang sempoyongan tadi tiba tiba kembali normal tapi sedikit aneh.


Kak Fay dengan suram menakutkan terbangun dari tidurnya, menghujani tatapan tajam seakan ingin membunuh diri Aira. Reaksi Aira yang tadi masih didekat kak Fay ... perlahan mundur mundur ketakutan hingga akan ke sisi tembok. Melihat reaksi Fay yang secara tiba tiba berubah menyeramkan Fay berjalan maju perlahan pasti seakan langkah kakinya mengincar tubuh Aira dan tatapan matanya begitu tajam melihat Aira. Aira yang masih di kamar Fay, Fay dengan cepat mencengkeram kedua sisi sisi bahu Aira dan menghujani kaka kata penegasan penuh emosi.


“KAK FAY ,KAK FAY, KAK FAY aku sangat benci mendengar kata kata itu dari mulutmu ! aku bukan kakakmu berhenti mengatakan kata kata itu!!. Jadi laki-laki itu yang memperkosamu dulu?”


Sangat sangat terkejut hingga ke dasar jiwa Aira Fay mengatakan hal itu membuat tubuh Aira bergetar hingga tak terperi. “Kak Fay tahu dari mana?!” Fay diam menatap suram ke muka Aira “Kamera digital, kamera digital 3 tahun lalu saat pertama kamu datang padaku, aku yang membawa kamera itu dan memperbaikinya.” mata Fay yang masih memerah mencengkeram sisi pipi kanan dan kiri seraya mendongakkan kepala Aira menghadap dirinya, “Kau tidur telanjang dalam kamera itu,dengan begitu banyak tanda sesapan bringas ditubuhmu!!! Jadi kau sudah merasakan tidur dengan sepupuku itu AIRA!!”


Fay memandang ironis melihat Aira meneteskan air mata, terlihat malah Fay semakin berhasrat melihat Aira saat ini.Tak tahan lagi Fay menghujani ciuman bringas tak terkendali ke bibir Aira dan begitu bernafsu. Mensesapi lidah bibir Aira dengan brutalnya.


Kabut hitam saat ini menutupi alam sadar Fay yang sudah lama Fay acuhkan,dan sekarang ini Fay baru ungkapkan.Aira menangis, menderu Air mata, meronta ronta dengan kuat berusaha memalingkan mukanya, menjauhi setiap ciuman bringas Fay tak tahan lagi Aira terpaksa mencakar tangan Fay yang tengah kalab.


Hingga Aira berhasil membuat Fay berhenti ... Aira meringsut terduduk lemas di lantai dengan isakan tangis yang sangat kuat,tubuh Aira melemah, dengan pandangan kosong ... nafasnya naik turun tapi derain Air mata masih sangat membajiri pipinya. Aira berusaha berdiri sempoyongan dan segera berlari keluar kamar Fay berlari ke kamar tamu.


Fay yang masih berdiri menunduk kaku,begitu merasakan kekecewaan yang sangat amat dalam fay rasakan, mencela perbuatannya sendiri barusan terhadap Aira hingga hatinya saat ini begitu sakit terlihat dari raut wajah Fay meringis kesakitan, tangannya memukul mukul tembok didepannya hingga kepalanya tersandar mengahadap sisi tembok, meneteskan air mata.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2