Laman Kosong

Laman Kosong
Pernikahan juga Chapter terakhir


__ADS_3



Ini adalah Chapter terakhir.


Yang maaf sebelumnya memang alur ceritanya dipercepat. Author sangat berterima kasih kepada para reader yang masih setia membaca. Meski banyak pro kontra di novel pertamaku yang amburadul antahbarantah ini pokoknya.


Tapi dengan itu, Author jadi lebih tahu dan lebih banyak pengetahuan cara cara membuat novel yang bagus dan menarik. Apa artinya kalau cerita bagus tapi cara penulisannya masih amburadul ... maka akan sulit tersampaikan maksud isi cerita itu sendiri.


Jangan bosen untuk baca novel ya.


Author juga akan rilis novel terbaru. tapi entah kapan, kemungkinan awal bulan bulan 2020. karena masih tahap belajar dan belajar lagi.


Novel terbaru nanti. Mengambil suasana di jaman tahun 2000-2005 an.


Cerita remaja di masa masa itu. Dimana masa masa kontak telepon tak terlalu berguna, karena semua nomer bisa hafal juga nyangkut di otak kita. Lebih lanjutnya mungkin besok atau 2 hari lagi, Author berbagi sinopsis juga cover novel itu sendiri.


Ber-genre Romantis, komedi, contest.


Yang terbaru ini, Aura romantisnya begitu kental dan di perankan cowok yang Author beri nama Brian.


Di novel berjudul GADIS MILIK BRIAN.


Mari kembali merasakan kisah cinta juga romantis di tahun 2000an.


Lanjut ke Arka dan Aira ya.


Tuk. Tuk. Tuk


Ketukan jari Aira pada ponselnya. Yang tak juga ada pesan dari Arka. Sebenarnya ada kerjaan apa, sampai tidak pulang bahkan balas chat Cuma sekali 2 kali.


Apa sih ... apa sekarang dia lagi selingkuh. Ada cewek lain kah! Apa perkataannya kemaren itu hanya untuk menutupi, juga untuk menghiburku saja.


Saat ini Aira tengah di kantor. Dengan jalannya yang sedikit tak semangat Aira begitu penasaran. Kenapa temen teman pada ngumpul semua. Karena rasa penasarannya begitu tinggi. Segera Aira menghampiri mereka. Mereka sedikit terkejut saat Aira datang.


“Eh, Aira.”


“Aku penasaran. Ada apa sih.”


“Hehe. Ini lo Nana kirim foto bunga yang ada diresepsi temen Bos Arka. Bagus bagus.” Sahut Mita yang memperlihatkan foto Nana yang ada di ponselnya. Nana sedang membawa seikat bunga yang sangat cantik cantik, hingga membuat para temen Aira meleleh melihat bunga bunga tersebut.


Ketika Aira melihat foto tersebut. Seperti Aira melihat sosok yang dia kenal. Lalu Aira zoom foto itu. Aira mendapati Arka membawa seuntai bunga. Terlihat Arka memberikan bunga tersebut ke wanita yang juga cantik menurut Aira. Saat ini Aira tengah salah paham. Karena yang terjadi disitu tak seperti yang Aira perkirakan.


Arka tengah memilih berbagai bunga, dan saat itu Arka menyerahkan contoh bunga yang Arka minta untuk di selipkan di setiap sudut rangkaian bunga bunga, karena bunga mawar merah ini tanda cinta Arka ke Aira. Dan disaat yang sama. Petugas wedding organizer sedang bercandain Arka tentang istrinya tak salah memilih suami. Disitu Arka tersenyum sambil menyerahkan bunga mawar yang dilihat Aira lewat ponsel mita.


Dan salah paham ini membuat Aira terdiam, hanya terdiam melihat foto tersebut. Dan pelan tanpa kata Aira meninggalkan teman temannya. Dilihat tingkah Aira yang sedikit aneh. Mita langsung meneliti lagi foto yang Aira lihat. Begitu melihat ada kejanggalan akhirnya membuat Mita dan teman teman nya saling menyalahkan satu sama lainnnya.


Prahara tengah Aira rasakan ... tak bisa berkata apapun. Aira tengah duduk memangku lenganya yang menyiku dengan tangan menengadah kepalanya. Pikiran kalut juga sedih tengah menyilimuti hati Aira dalam diamnya saat ini.


*****


Kini Hari ke 3 dan besok para bodyguard Arka akan menjemput Aira untuk ke Hotel the westin. Hotel yang biasa hanya untuk tamu negara bahkan beberapa kali presiden dari beberapa negara diundang dan mengadakan acara kenegaraan di hotel tersebut.


Dengan segala keindahan juga kemewahan hotel tersebut. Arka memilihnya juga karena hotel itu langsung terpampang indah pantai yang amat luas, juga tenang di saat sunset tiba menyambut siapapun yang datang.


*Kamu lagi apa?* Pesan Aira.


*Aku masih di Hotel. Jangan lupa makan ya.* Balasan dari Arka.


Lalu Aira menelfon asisten pembantu yang baru, karena Aira tak selalu bisa mengikuti Arka saat ini.


“Bapak sekarang bersama Tuan Arka tidak?!”


“Iya nyonya. Ada pesan yang harus saya sampaikan nyonya?”


“Tidak. Bapak dan Arka sekarang ada dimana?”


“Saya dan Tuan sedang di kantor catatan sipil nyonya.”


“Disana. Oh yasudah. Jangan bilang kalau saya tadi telfon ya. Saya Cuma memcemaskan kesehatannya.”


“Oh ... baiklah nyonya. Tapi Tuan Arka baik baik saja Nyonya."


"Syukurlah. Terima kasih pak." Aira menutup telfonnya.


Ke kantor catatan sipil ... tidak bisa hamil. Lalu cari pelarian. Dan sekarang mendaftarkan perceraian. Apa itu kesimpulannya. Aira menundukkan kepalanya ... Bersandar di sandaran tempat tidur dan perlahan menurunkan tubuhnya hingga tertidur. Itu tidak mungkin kan. Arka bilang dia sangat menyukaiku. Perlahan Aira memejamkan mata tapi rasa perih juga rindu tak bisa membohongi air mata Aira yang perlahan mengaliri pipinya.


Pagi pagi sekali Arka menelfon Aira. Tapi hingga beberapa kali, Aira tak kunjung mengangkatkan juga dan di yang dipikiran Arka ‘apa mungkin Aira sakit. Tapi bukan sakit melainkan Aira merasa enggan menerima telfon dari Arka. Sehingga membuat Arka begitu cemas dan menghubungi Fay dan Keira untuk menemui istrinya. Karena jarak rumah mereka lebih dekat dari pada Arka yang bisa di bilang di luar kota. Dan ini hari H, tinggal nunggu siang ini, Aira dijemput dan Arka ingin memberi kejutan pesta pernikahan megah untuk istrinya dan hanya satu tidak mau ada orang lain lagi selain Aira.


Begitu cepat Aira dan Fay datang. Mereka berdua sama cemas nya dengan Arka. Takut Aira mungkin sedang sakit atau gimana. Keira yang begitu cemas tanpa permisi dulu langsung membuka pintu dan langsung berlari menuju kamar adiknya.


“Airaaa...!” suara keras Keira sesudah membuka pintu kamar adiknya.


“Ada apa.” Aira tengah duduk santai di sofa dekat jendela kaca.


“Aku pikir kau kenapa-kenapa. Arka meminta aku dan Fay kesini. Dia begitu cemas.”


“Arka bohong. Dia pura pura baik denganku tapi dia punya tujuan lain.”


Fay yang mendengarkan mereka saling berbicara, sedikit terheran sejak kapan, mereka jadi akrab gini? Pikirnya.


“Itu tidak mungkin. Dari kata katanya tadi saat ditelfon dia begitu gugup dan benar benar minta tolong buat aku kesini.”


“Dia jarang menghubungiku. Tidak memberi kabar tentang rahimku. Lalu di tempat lain dia tersenyum dengan seorang gadis dan memberi gadis itu bunga. Terakhir dia ke kantor catatan sipil. Dia... Mungkin...”


“Mungkin apa, kau ini banyak sekali yang di pikirkan. Lebih baik kau bersiap siap dan ke sana sekarang.”

__ADS_1


“Nanti siang aku di jemput.”


“Tidak usah. Sekarang saja kita yang antar. Lagi pula Arka juga menyuruhku kesana sekarang barengan sama Fay.”


Sekarang Fay hanya jadi pendengar sejati saat ini. Seperti Fay tidak terlihat oleh mereka. Entah apa yang terjadi Fay juga tidak paham. Dan dari pada pusing. Fay memilih jadi penonton yang nurut saja.


.


.


.


Sementara mereka dalam perjalanan dan hampir sampai. Saat itu Arka masih harus mengurusi, membuat ulang surat surat nikah yang dulu hilang saat di kota Red blood dan juga Arka harus mengambil cincin pesanannya terlebih dahulu.


Tatanan pernikahan yang begitu memanjakan mata. Aira begitu terkagum kagum. Ini pernikahan paling mewah yang pernah Aira lihat. Perpaduan warna pink soft, blue soft juga tak ketinggalan mawar merah di setiap sudut. Ditambah lagi dengan hempasan perlahan ombak yang menenangkan hati pikiran saat mata memandangnya. Belum lagi semua akan dibuat terpana saat sinar sunset mengiringi sepasang pengantin itu nanti.


Aira berpikir pasti wanita ini sangat beruntung sekali bisa menikah di tempat ini dan lagi lebih beruntung lagi si mempelai perempuan mendapatkan lelaki yang begitu romantis mau berkorban melakukan pernikahan dengan seindah ini.


“Kau bengong juga ya. Ini hebat sekali teman Arka. Ini pernikahan termegah yang pernah aku datangi.” sela Keira.


“Kalian disuruh menunggu di ruangan ganti pengantin. Disana kau bisa melihat desain gaunmu. Disana juga ada ruangan yang sudah dipersiapkan Arka. Arka masih di luar ada urusan yang sangat mendadak kata pegawainya.” seruan Fay setelah ada salah satu pegawai Arka menghampiri Fay.


Pikir Aira. Arka sekarang di kantor catatan sipil. Kalau yang mau nikah kesana itu wajar. Terus kenapa juga dia kesana. Dia itu serius ya. Terserah kamu Arka. Aku tidak akan mau kalaupun pisah seperti ini.


Persiapan sudah 100% selesai. Ini 3 hari yang sangat sibuk juga menegangkan bagi Arka selama dia dilahirkan sampai sekarang sudah mempunyai Aira. Tak lama, satu jam sebelum acara di mulai. Disitu para ratusan karyawan ditambah Semua sahabat Arka, media tv dan sejumlah tamu undangan sudah datang menunggu. Tapi ini adalah resepsi kejutan. Mereka semua boleh keluar dan memberi kejutan saat Arka sudah memberi kabar hamilnya Aira. Kini Arka pulang dan segera berganti pakaian.


*****


Suasana diruang ganti pengantin pria.


“Arka-- sekali-kali kau elus apa perutku ini. Biar calon anakku bisa segagah juga setampan kamu.” Candaan rekan kerja Arka.


"Hahahahahahahaha"disitu Omma, Leon juga kerabat Arka tertawa sampai terpekik pekik.


Sebelumnya Arka yang tengah membawa ponselnya beberapa kali bertanya pada asistennya bagaimana kedaan Aira dan sedang apa sekarang. Dan kini giliran para desainer di suruh memakaikan gaun bertabur ratusan batu swarovsky tersebut untuk dikenakan pada Aira.


.


.


.


.


Suasana di ruang ganti pengantin perempuan.


“Kakak cantik, pakailah gaun ini.”


“Maksud mu. Itu kan gaun pernikahanmu.” Jawab Aira.


“Benar. Gaun ini begitu mewah dan cantik. Tapi aku kurang percaya diri dengan bentuk tubuhku yang kecil.”


“Iya ...tapi aku berpikir kalau kak Aira yang memakainya, mungkin saja aku bisa lihat dengan jelas sebagus apa saat di pakaikan ke diriku karena bentuk tubuh kita sama. Tolonglah ya ... Bantu aku kali ini kak ... Lagi pula acaranya masih nanti malam.”


Keira yang duduk di sebelah Aira, memberi isyarat untuk Aira mau memakainya.


“Emm ... baiklah. Tapi beneran kamu tidak apa?”


“Hehe ... tentu saja tidak kak.”


Dan dibantu Keira juga para desainer yang ada di ruangan itu Aira memakai gaun pernikahan tersebut. Sementara itu Fay menunggu di sofa di luar ruang pengantin.


“I-ini mataku tidak lagi sakit kan kak?” tanya si pengantin bohongan alias si pesuruh Arka.


“Kenapa. Ada apa dengan mata kamu?” jawab Aira.


“Kalau aku lihat bulan itu cantik dan bersinar. Tapi kenapa kakak bisa lebih bersinar juga lebih cantik ya sore ini.”


“Haha...” Aira begitu tersenyum manis lebih bahagia dari pada yang sebelumnya.


“Aku setuju kok. Dengan adik ini.” timbal keira.


“Benar kan ....” sela adik tersebut.


Dan Akhirnya mereka bisa membuat Aira tersenyum dari rasa kalutnya. Tak lama Arka yang sudah mendapat informasi Aira sudah berganti pakaian juga sudah didandani layaknya pengantin yang sesungguhnya. Sedikit tidak bisa dipahami sih dengan Aira. Tapi Aira nurut nurut saja. Terserahlah mereka karena setidaknya dandanan ini bisa sedikit menghibur hatinya saat ini.


Kini acara sebentar lagi dimulai. Sebelumnya Arka memberi pesan untuk Aira. Kalau Arka lagi menunggu di luar. Aira yang sedikit kesal juga sedikit takut hanya membalas satu kata Cuma ‘Tidak'


Tak lama si pengantin dan para bodyguard perempuan yang ada di ruangan tersebut menggandeng tangan Aira yang saat ini masih memakai gaun pernikahan.


“Kak ikut aku yuk.”


“Eh. Tapi kemana.” Aira yang setengah berdiri sedikit terkejut dengan ajakan sang pengantin.


“Ikut aja kak. Bentar kok.”


“Kau yang benar saja. Aku sedang memakai gaun pernikahan mu.”


“Tidak apa. Ada hal yang sangat penting. Di luar masih belum ada orang.”


Tangan Keira menarik tangan gadis itu yang sudah setengah menarik Aira hingga Aira setengah berdiri. Gadis itu tersenyum lebar langsung membisikkan. Entah kata-kata apa hingga membuat mata Keira terbelalak dan perlahan melepaskan tangannya dari gadis itu.


Aira langsung penasaran. “Kenapa kak?”


“Kau ikut saja dengannya. Tidak apa kok.”


“Maksudmu apa kak.”

__ADS_1


“Hehe, ayo kak Aira.”


Keira terpaksa hanya diam melihat Aira sedikit dipaksa keluar dengan gadis yang tak lain adalah suruhan Arka jadi pengantin gadungan tersebut.


.


.


.


.


Benar benar tidak ada orang di luar ruangan. Yang kembali terlihat adalah begitu banyak hiasan bunga bunga yang begitu indah. Melambangkan sebuah kata cinta dalam bunga itu sendiri, dan seperti berbanding balik dengan suasana hati Aira saat ini. Tidak jauh dari teras di mana Aira berdiri ada hempasan desiran laut yang sangat menenangkan hati siapun yang melihatnya. Pikir Aira Hah ... Cahaya Sunset ini juga begitu indah ... Warnanya mampu membawa sejuta kebahagian juga rasa cinta seseorang.


Saat Aira masih terbengong. Gadis kecil dan para bodyguard nya itu melepaskan dan pergi menjauh dari Aira.


“Hei! Loh kalian mau kemana. Aku ngapain disini.” Teriak Aira.


Tak pernah terpikirkan Aira. Saat Aira mulai sedikit terdiam menunduk suram. Dari arah belakang tak disangka sangka seorang pria berpakaian jas pengantin serba hitam dan tersemat kan corsage hiasan bunga di saku depannya. Dengan tatanan rambut yang lebih rapi dari biasanya. Pria itu menyerukan perkataan yang menjawab teriakan Aira barusan.


“Untuk bertemu denganku.”


Mendengar suara Arka. Dengan posisi Aira yang masih membelakangi Arka. Seketika Aira terhenyak. Sontak Aira langsung berpaling dan membalikkan badan dan gaunnya yang begitu indah itu seakan mengikuti liukan tubuh Aira yang memposana siapapun saat ini. Dalam hatinya yang masih terhenyak. Lidahnya lirih berkata ‘Arka ....’


Tak mau menyeru pada suami atau memperlihatkan senyumannya. Aira malah terdiam. Menunduk. Dan perlahan mundur menjauhi Arka suaminya. Arka sedikit terkejut, terheran, kecewa juga terbesit dalam hati bertanya tanya. Ada apa dengan istriku. Aku sekarang ini sangat mengagumi mu, tapi kenapa kau malah menjauhiku.


“Sayang. Kenapa kau menjauh?”


Aira yang masih menunduk. Lirih menyuarakan sedikit kalimat dari bibirnya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu.”


Hati Arka terasa sedih juga perih. Aira baru pertama ini mengatakan kalimat seperti itu. Membuat Arka segera memberikan map coklat besar yang berisi surat keterangan kehamilan Aira, juga akta nikah pengganti yang hilang dahulu.


“Ambil ini. Lalu buka. Baca semua yang ada didalamnya.”


Tangan Aira menerima map coklat tersebut. Tapi sebelum membukanya pikir Aira langsung memperkirakan kalau mungkin saja ini adalah surat cerai juga hasil tes sample darahnya yang menyatakan kalau dirinya positif mandul.Rasa getir membuat Aira lama menggenggamnya.


“Buka Aira.” Suruh Arka.


Aira menggeleng gelengkan pelan beberapa kali kepala sembari masih menunduk dengan tangan gemetaran menggenggam map itu.


“Tidak mau.”


“Kenapa.”


Aira yang tak mampu menahan air mata juga tangisannya, berseru pelan ...“Aku tahu, ini adalah surat cerai juga hasil tes darah kalau aku mandul kan,” kata kata itu begitu menyayat hati Arka. Bagaimana bisa Aira berpikir sampai sejauh ini. Bahkan kalau Aira tak bisa hamil pun, itu bukan masalah besar baginya. Tak cukupkan dirinya selalu meyakinkan istrinya untuk selalu percaya, bahwa hanya Aira dalam hidupnya dan berkali kali berkata tidak akan berpisah meski ada hal besar sekalipun. Dengan tetesan air mata juga tangisnya. Aira berucap. “aku tidak ingin bercerai ... aku mohon Arka... Aku pasti bisa mempunyai anak. Kita juga masih punya banyak cara agar bisa punya anak.” Ucapan Aira dengan tangisnya yang tersedu sedu pilu.


Arka yang masih tak habis pikir dan harus melihat istrinya menangis ... Membuat tangannya harus mengusap titik air mata di sudut matanya. "Kau ini sedang bicara apa. Tolong buka dulu isi map itu.”


Dengan sedikit menangkan pikirannya yang sangat kalut. Tangan Aira yang gemetaran perlahan membuka map coklat itu. Setiap lembar dia baca. Pertama yang dia baca dengan seksama dan dengan mata terbelalak mendapati itu adalah surat nikah.


“Arka ... Ini surat nikah.”


“Iya, benar. Baru saja, hari ini aku mengurusnya. Baca lagi yang satunya.”


Tangan Aira dengan cepat membuka lembaran yang satunya. Membaca seksama setiap kata yang di kertas tersebut. Dengan cepat juga perlahan bibir bibir aira gemetaran. Tangannya pun sedikit tak percaya apa yang sedang dia baca sekarang. Kini hati Aira yang tengah mengharu-biru. Kedua tangannya menutupi mukanya yang tak tahan lagi untuk menangis antara sedih,bahagia,terkejut juga rasa tak percaya.


“Huhuhuhu Arka ... Aku harus bagaimana. Aku sungguhan hamil.”


Senyum juga tangis Arka tak sanggup lagi Arka tahan. Tubuhnya mendekati Aira. Mendekap juga memeluk istrinya.


“Kau ini selalu membuatku cemas. Membuatku aku seorang lelaki bisa menangis takut kehilanganmu. Bahkan mantra ucapan cinta selalu ada dalam pikiranku. Bagaimana bisa aku menceraikanmu. Kalau terpikirkan saja tidak pernah. Bagaimana bisa aku melakukannya.”


Aira semakin erat memeluk suaminya dan semakin menggeru geru tak kuat lagi menangis haru juga bahagia. “Arka aku juga sangat mencintaimu. Janji jangan tinggalin aku ya.”


Arka tersenyum. “Janji. Arka max janji tidak akan pernah meninggalkan istriku ini. Dan juga anakku ini. Terima kasih Aira. Terima kasih juga anakku. Aku sangat mencintaimu juga anakku.”


Akhirnya Aira bisa tertawa kecil dalam tangisnya. “Arka ... Terima kasih. Terimakasih sudah jadi suami terbaik untukku. Begitu baik denganku. Selalu menjagaku.”


Perkataan Aira itu membuat Arka harus dan wajib mencium kening istrinya. Kini layaknya drama Arka Aira sukses membuat para pemirsa ikut terharu juga menangis begitu pula Keira juga Fay. Sampai sampai hampir lupa tugas mereka untuk memberi kejutan memberi selamat pada Aira juga Arka. Tak lama koordinator para pemirsa itu berseru untuk keluar teriak lalu melepaskan balon ke udara.


SELAMAT YA AIRAAAA


Ratusan balon pun dilepaskannya oleh mereka. Membuat langit yang jingga berubah warna biru dan pink. Aira sangat terkejut dengan kehadiran mereka semua, juga ratusan balon yang terlepaskan begitu indah. Lagi lagi Aira harus dibuat terharu. Dalam hatinya Terima kasih semua. Aira memberikan senyum manisnya untuk menandakan rasa terima kasihnya.


Di tengah kebahagian itu. Arka mengambil kotak pehiasan dalam sakunya. Membuka kotak kecil itu dan memakaikan cincin pada jari manis Aira dan sebaliknya Aira juga lakukan itu pada Arka. Di moment tersebut. Tiba tiba ada lelaki tinggi gagah, sangar juga tampan. Muncul dari tengah kerumunan para tamu undangan. Pria itu membawa seikat bunga. Berjalan mendekati Aira. Pria itu adalah Key tengah memberi selamat pada Arka temannya juga Aira. Aira yang sedikit gugup juga ragu berpaling pada Arka saat Key berdiri didepannya memberi bunga. Arka hanya memberi senyum untuk Aira. Isyarat 'kalau tidak apa. Terimalah'


“Selamat untuk kalian. Sepertinya aku akan segera dipanggil paman. Arka ... Aku sudah tidak bisa mengajakmu minum minum lagi. Tidak tahu nanti kalau anakmu sudah besar. Mungkin Arka junior yang akan menemaniku."


Spontan Aira menjawab. “Tidak!!”


Arka dan Key yang di dekat Aira langsung tertawa kecil. Bentakan imut Aira begitu membuat mereka jadi tersenyum. Tertawa.


Setelah itu Key kembali ke permisa dekat Keira dan Fay. Hari ini benar benar kebahagian begitu sangat dirasakan oleh para pemirsa juga Aira Arka. Omma Leon dan Semuanya. Mereka semua bersorak sorak.


Cium. Cium. Cium


Aira yang sedikit malu malu. Tak bisa menolak lagi saat Arka tersenyum dan geraknya hendak mencium bibir Aira.


Dan ciuman Arka begitu dilakukan dengan rasa cintanya dan di balas dengan rasa cinta Aira istrinya.


Sekian Terima kasih semua.




__ADS_1




__ADS_2