
“Aahh ... aku berterimakasih sekali, kau mau sempetin datang ke acara ini. Oiya Arka. Kau sudah sangat dekat dengan pacarmu yang cantik ini. Kenapa tidak segera nikah saja?” CEO QR entertainment.
“Apa aku masih terlihat masih berpacaran?!" Arka memeluk punggung Aira.
“Woahh ... maksudmu, kau sudah nikah tanpa resepsi gitu?! Kau ini. Kau boleh jahat dengan orang lain ... tapi mana boleh jahat sama istri.”
Arka mulai geram “Hhaiisshhh ... mulutmu itu sudah mirip iranha saja. Kau segera lari sekarang, sebelum aku tendang bokong mu itu.”
“Hahahahahaha ... Arka—aku lari ... lari ...." CEO yang sedikit kocak itu langsung lari tanpa elegan sama sekali.
“Temanmu lucu." ucap Aira.
''Lucu mana saat aku,” Arka mengerlingkan mata dengan cepat, dengan kedua tangannya memangku kedua pipinya. “bagaimana?”
“... Ppuufff...,” Aira tersenyum malu-malu. “udah, ayo pulang.”
“Bentar.”
“kemana?”
“Tunggu sini dulu.” Pinta Arka. Pikir Aira mau kemana sich dia-.
Ternyata Arka keluar Aula untuk menemui Fay yang hendak pulang. Arka minta bantuan Fay untuk mengantar pulang Keira. Awalnya Fay hendak tidak mau, tapi Arka menghilang begitu saja sebelum Fay sempat menjawabnya. Dan Keira yang awalnya dia tahu kalau Arka dan Aira yang akan mengantarnya pulang, terlihat tenang menunggu diluar gedung agensi mewah tersebut.
Tak lama mobil yang sedikit Keira kenali berhenti di depannya. Menerka-nerka 'mobil siapa ini?' saat kaca pintu mobil terbuka. Keira terjengit melihat Fay menghampirinya.
“Ayo masuk.” Suruh Fay.
“Arka dan Aira yang akan mengantarku pulang.”
“Mereka tidak bisa mengantarmu pulang. Ayo cepat naik.”
Keira sedikit terdiam-- lalu memutuskan untuk masuk mobil Fay. Merah Ferrari. Fay meminta arahan Keira dimana rumahnya dan memang sedikit jauh dari tempat anniversary acara tersebut. Hingga satu jam perjalanan barulah sampai kontrakan kecil Keira. Meski kecil tapi masih terlihat rapi minimalis dengan warna yang bernuansa begitu nyaman untuk ditempati.setelah berpamitan dan berterima kasih Keira turun dari mobil dan membuka pintu pagar rumah kontrakannya.
__ADS_1
Awalnya sich lancar lancar saja dan sampai di depan pintu. Disitu Keira sedikit kesulitan juga kebingungan. Silinder kuncinya macet tidak bisa dibuka. Keira melihat kanan, kiri dan jelas saja semua tetangganya adalah rumah mewah mewah dan ini sudah malam. Tidak mungkin Keira meminta bantuan di rumah orang malam-malam begini. Segera melihat mobil Fay terlihat tak terlalu nampak jauh, Keira berlari mendapati Mobil Fay belum jauh. Dengan teriak lantang Keira menyeru.
“FAYY... KEMBALII.......” teriak Keira.
Sedikit menyadari, seperti ada seseorang memanggilnya dari belakang. Fay melihat ke arah spion mobilnya. Karena penasaran melihat Keira memanggilnya. Fay segera berhenti, lanjut memutar balik laju mobilnya dan kembali ke rumah kontrakan milik Keira.
Terlihat kalau Keira tengah terengah-engah karena berlari mengikuti laju mobil Ferrari milik Fay.
“To.Tolong bukakan aku. Hah—maksudku- bukakan pintu rumahku.” Keira yang masih terengah-engah begitu juga nafasnya yang masih naik-turun. Fay langsung memarkirkan mobilnya dipinggiran dekat trotoar dan segera keluar pintu mobilnya.
“Pintunya kenapa?” tanya Fay penasaran.
“Tidak bisa dibuka. Mungkin ada yang rusak.”
Mereka berdua mulai berjalan kedepan pintu rumah Keira. Setelah mengecek kerusakan pintunya.Fay pikir mungkin anak silinder pintu ini ada yang patah didalamnya kalau tidak mungkin karena sudah tua. Otomatis kuncinya tidak mau gerak membuka kuncinya.
“Aku ambil peralatan dulu” ucap Fay. Setelah beberapa menit Fay mengotak-atik handle pintu rumahnya. Keira yang hanya bisa berdiri terdiam tidak menyangka Fay seorang artis bisa melakukan pekerjaan ini. Dan dia bisa melakukannya dengan dengan lancar. Terlihat Fay membongkar gagang pintu rumah Keira hingga terbongkar semua dan akhirnya pintu bisa terbuka dan mereka bisa masuk.
Setelahnya Fay memasang ulang. Fay meminta Keira supaya besok menyuruh tukang untuk membenahi nya. Fay terlihat merapikan semua peralatan miliknya yang dia ambil dari bagasi mobil dan masih terlihat jongkok. Fay membersihkan kedua tangannya sambil berucap pada Keira yang tengah membungkuk mengamati kerusakan pintu rumahnya.
Keira pun memberikan reaksi tubuhnya membeku saat dia masih dalam posisi membungkuk mengamati kerusakan pintu rumahnya, dan langsung kembali berdiri tegap seraya tangannya menahan tisu yang ada di atas dadanya. Di saat yang sama Fay juga tengah berdiri tak jauh dari dirinya. Keira langsung-mukanya berpaling kesamping dengan senyum tak percaya itu, ada lelaki seperti ini. Keira malah membuang tisu dari dadanya.
“Cih... Sebelum berterima kasih, aku ingin katakan aku begitu jengkel denganmu,” tanpa di duga-duga Keira melangkahkan kakinya pelan menghampiri Fay yang dekat didepannya. Disaat Fay masih membersihkan kedua tangannya. “kenapa dengan dadaku. Hah? Kau selalu menutupi dadaku dengan sesuatu,” Fay yang tertegun sedikit heran dengan sikap Keira yang perlahan maju terus ke tempatnya berdiri hingga tubuhnya sedikit condong ke belakang. “memangnya aku membukanya semua hah!! Ini hanya sedikit terlihat saja. Kenapa kau yang selalu salting dengan dadaku. Kau membuatku jengkal." Saat masih terheran dengan sikap Keira yang sedikit berani dengannya membuat Fay Tersenyum tak percaya juga
“Cih. Ganti aku sekarang nona,” Fay membalas balik. Kakinya melangkah maju ke tubuh Keira yang tengah berdiri dekat dengannya. Keira tak sadar sikap Fay yang membalas perlakuannya tadi. Keira perlahan kakinya mundur--mundur-- “pertama aku adalah pria dewasa. Bagaimana kalau ada orang ingin berbuat jahat setelah melihat belahan dadamu, yang sedikit terbuka itu.”
Kaki Keira perlahan mundur -mundur- hingga ke sisi permukaan dinding yang dibelakang kepalanya terdapat saklar lampu rumahnya. “Mana ada. Aku pakai jaket juga kok.” Keira sedikit gugup karena Fay begitu dekat dengannya. Fay tersenyum kecil. “Saat di pesta kau tak memakai jaket,” ucap Fay dan Fay begitu memojokkan tubuh Keira hingga posisi mereka begitu dekat di permukaan dinding. Fay malah memajukan menundukkan kepalanya pada sisi wajah Keira. “bagaimana kalau terjadi kejahatan padamu saat di pesta tadi.” seru Fay.
“A-aku. Mana ada yang berani seperti itu.” Muka Fay malah perlahan condong kedepan seakan memojokkan muka Keira hingga ke dasar dinding dan... Keira begitu tegang sampai-sampai tak sengaja kepalanya menekan tombol saklar dan akhirnya membuat lampu mati dan ruangan terlihat gelap sedikit remang saat hanya lampu jalanan sedikit masuk menyinari ruang gelap di rumah Keira.
Keira kaget mendapati ruangannya begitu gelap. Tidak ada suara apapun bahkan Fay yang tadi tak jauh dari dirinya tak terlihat olehnya. “Fay—” Panggil Keira kenapa tak ada suara Apapun. Pikir Keira. Tangan Keira berinisiatif mengulur ke depan mendapati yang Keira rasa tadi Fay dekat sekali dengannya. Saat ... tangan Keira menjulur kedepan. Fay yang dari tadi tak bersuara. pelan memegang tangan Keira. “Aku disini.”ucap Fay.
“Ah, bentar aku hidupin lampu dulu.” Seru Keira. Saat Keira ingin melepaskan diri dari genggaman tangan Fay, dan ingin memutar tubuhnya menghidupkan saklar lampu. Tiba tiba Fay menahan gerak tubuh Keira dan malah merapatkan tubuh Keira ke permukaan dinding dan kini tubuh mereka begitu sangat dekat Keira begitu terkejut dibuatnya saat ini. Detak jantungnya berdegup kencang mendapati Fay begitu dekat dengan tubuhnya. “Nanti dulu.” Ucap Fay lirih. Tangan Fay yang masih menggenggam tangan Keira. Perlahan menuntun kedua tangan Keira melingkari lehernya.Yang tanpa Fay sadari tubuhnya bereaksi menginginkan Keira di tengah suasana yang sangat mendukung mereka berdua untuk melakukan sentuhan apapun.
__ADS_1
Keira yang sedikit gusar dengan perlakuan Fay saat ini. Sedikit menggerakkan tubuhnya untuk menghindar. Tapi keburu Fay perlahan-- tangannya menahan rahang leher Keira dan pelan-pelan mencium Keira lembut. Kata lembut mungkin adalah permulaan bagi Fay. Keira yang mendapati dirinya tengah dicium Fay, iya langsung tegang dan tubuhnya membeku. Sedikit ingin menghindar tapi malah membuat Fay ingin meneruskan ciumannya saat ini. Fay mulai mencium. Dengan tanpa sadarnya Fay terus berlanjut. Keira semakin terkejut lagi, tapi rasanya dia tidak ingin menolak ciuman ini.
Dan mendapati reaksi Fay yang seperti itu. Keira terbawa suasana dan seakan menerima ciuman bibir Fay mengikuti setiap sentuhannya. Fay yang kini sedikit bersemangat, sesekali menggigit bibir Keira hingga Keira mengeluarkan suara kesakitan. Mendengar rintihan dari sela-sela bibir Keira, Fay semakin mempererat pelukannya. Sedang Keira juga refleks tangan yang sedari tadi melingkar di leher Fay semakin memperetnnya.
Permainan yang tanpa sadar dimainkan dengan seseorang yang asing tapi saling menikmatinya. Karena terlalu kuatnya ciuman yang Fay berikan membuat kepala Keira merapat ke permukaan dinding dan ... Bbbaattssssss hehe lampu pengingat hidup di tengah tengah ciuman yang sedang membara-baranya.
Tak pakai kata nanti, langsung kedua mata mereka terbelalak bulat sempurna. Bahwa lonceng nya seakan telah berbunyi. Mereka langsung melepaskan ciuman mereka masing-masing. Sama sama salah tingkah. Fay segera berpaling dan menggaruk garuk kepalanya. Terlihat Keira membenahi rambutnya. Fay yang masih salah tingkah, "Nona sepertinya pintunya sudah bisa. Jangan lupa kunci pintunya dengan gredel ya.” Seraya Fay tengah jongkok membereskan peralatannya yang dia pakai tadi. Lalu berdiri.
Mendapati Keira yang juga salah tingkah. Fay merasa bersalah dan melihat bibir Keira yang sedikit bengkak, dan memerah bekas gigitan gigi Fay. Bertanya apa Keira obat cream untuk luka terbuka. Keira menjawab iya dan segera mengambilnya yang tak jauh dari tempat mereka. “Buat apa?” tanya Keira. Fay tak menjawab, Fay tengah mengeluarkan cream tersebut dan mengoleskan nya pada bibir Keira. Keira dibuat tertegun oleh perhatian Fay saat ini. Tak ada yang berani mengungkit kejadian ciuman hebat mereka barusan.
Karena sama sama maunya hehe.
Selesai memberi obat. Keira memberi tahu Fay kalau ini sudah larut malam. Saat itu Keira ingin sekali berjalan ke kamarnya karena malu juga dengan sikapnya tadi. “Ah, iya. Aku juga sudah bersiap pulang. Aku pulang Keira. Kuncinya jangan lupa.” Kata-kata Fay yang masih terbata dan masih salah tingkah.Keira segera menutup pintunya. Entah kenapa Keira jadi linglung. Ditengah langkah kakinya melangkah ke kamarnya. Keira memegangi bibirnya yang bengkak dan terluka. Lalu kakinya yang tak memakai alas kaki terhenti seraya menggigit bibir bawahnya dan memeganginya. “Aku tadi serius ciuman. Hyahh!!!... Apa aku sudah gila!” Keira meng geleng-geleng kan kepalanya dan terus berjalan cepat. Menghempaskan tubuhnya ke kasur dan lagi-lagi terbayang bayang begitu kuatnya berciuman dengan bersama Fay. “kenapa aku nggak menolaknya coba? Hahhhh!! Aku gila ya. Tapi kok enak. Aduh. Sadar-sadar Keira. Kau gila malam ini.” Keira meng guling-guling kan tubuhnya terlihat kalau Keira tengah malu.
Fay segera naik mobil setelah mengunci pintu gerbang Keira. Lalu Fay Terdiam dan tak lama mengerjapkan matanya dengan kuat. Fay mencengkram kedua sisi kanan kiri rambutnya dengan kuat bahwa Fay tak percaya dia tidak bisa menahan hasratnya tadi yang datang secara tiba-tiba menggebu-gebu “Hhhaahh!!!! Aku pasti sudah gila tadi.”
Maaf. Maafkan aku Keira. Besok aku aku minta maaf padamu.pikirnya.
.
.
.
****
Chapter ini sudah terevisi.
Jangan lupa kasi VOTE pakai POIN ya.
Agar setidaknya novel ini masih bisa terlihat di bagian atas meski belum bisa dapat rangking 😄😄. Tapi kalau dapat rangking. Alhamdulillah seperti bonus buat saya 😅😄
Sementara sistem VOTE masih bisa digunakan di aplikasi NOVELTOON, tapi setelahnya masih bisa baca lewat MANGATOON.
__ADS_1
Salam baca by ulanZu