
Dahulu kala ... seluruh semesta dikuasai oleh kaum penyihir yang berwatak kejam dan serakah serta memiliki kekuatan yang melampaui batas, hingga mampu menciptakan sebuah dimensi. Kaum penyihir dipimpin oleh sang dewa yang kejam, dan mampu menghapuskan sebuah dimensi hanya dengan menggerakkan lengan, Dewa Magus ....
Dewa Magus bertempat tinggal di bumi, yang pada masa itu dijuluki sebagai Planet Magus, markas dari seluruh penyihir yang ada di seluruh semesta.
Akibat watak kaum penyihir yang serakah, perang terjadi di sana-sini. Di semesta manapun, tak ada tempat yang damai. Seluruh semesta bagaikan neraka.
Semua perang itu menghasilkan kelompok penyihir baru yang bertekad mengubah seluruh semesta menjadi tempat yang lebih baik. Di kemudian hari, mereka disebut sebagai Penyihir Revolusioner.
Ini adalah kisah ....
Tentang kakak beradik kembar ....
Yang bertekad mengubah seluruh semesta menjadi tempat yang lebih baik ....
Dengan berbekal kekuatan dahsyat yang tersimpan di dalam tubuh mereka ....
Desa Zen, Pulau Zerra, Planet Aojin, Semesta Magus.
Gerbang desa penuh sesak oleh para penyihir yang berkerumun mengelilingi seorang pria berambut keemasan. Tampaknya, pria tersebut bukan pria biasa, dan sepertinya ia akan menjalankan suatu misi yang sangat penting.
"Semoga berhasil, Yuji-sama." Salah seorang penyihir berucap kepada sang pria.
"Ya, aku akan berusaha semampuku," ujar sang pria.
"Kau harus pulang dengan selamat, Yuji-sama." Penyihir lain berucap kepadanya.
Pria berambut emas tersebut tersenyum sembari mengenakan topi penyihir miliknya. "Ya, aku pasti akan pulang," ujarnya.
Pria itu memandang seluruh penyihir yang mengelilinginya. "Baiklah, aku berangkat," ucapnya.
"Selamat jalan, ketua Yuji!!" Seluruh penyihir berseru dengan kompak.
__ADS_1
Rupanya pria tersebut adalah pemimpin sebuah kelompok. Tepatnya, ia merupakan pemimpin kelompok Penyihir Revolusioner, kelompok yang bertekad untuk mewujudkan kedamaian di seluruh semesta. Karena itulah, kelompok Penyihir Revolusioner sangat dihormati dan dicintai oleh penduduk dari planet-planet yang tertindas.
Pria yang dipanggil Yuji tersebut berbalik dan mulai melangkahkan kakinya, hendak melewati gerbang desa. Namun, sebuah seruan menghentikan langkahnya.
"Tunggu!!!"
Yuji menoleh ke belakang. Suara itu terasa familiar baginya. Nada suara yang feminim ..., sangat jelas bahwa itu adalah suara seorang wanita, dan itu adalah suara wanita yang ia kenal baik.
Tak lama kemudian, wanita tersebut berhasil menerobos kerumunan penyihir dan menghampiri Yuji. Sosok wanita itu kini terlihat jelas. Berambut hitam panjang diikat menggulung ke belakang, dengan paras yang cantik dan perut yang cukup besar. Wajah tampan Yuji menyiratkan keterkejutan yang sangat ketika ia melihat wajah wanita tersebut.
"Yu-Yuko?! Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Yuji dengan suara yang cukup keras.
"Aku ingin ikut denganmu," ujar wanita yang dipanggil Yuko tersebut.
"Tetapi ... bukankah kau sedang hamil?" ujar Yuji sembari menatap perut Yuko yang tampak cukup besar.
"Tidak mungkin aku membiarkan suamiku menghadapi bahaya sendirian!! Penyihir yang juga mengincar CoAR berjumlah sangat banyak!! Dan kabarnya, CoAR dijaga oleh makhluk yang sangat kuat!! Jika kau pergi sendiri dan tidak pernah kembali lagi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri!!" sahut Yuko dengan tegas dan mantap. Tatapan serius terpancar dari matanya yang indah.
Yuji berusaha meyakinkan istrinya itu. "Tidak apa, Yuko. Pulanglah. Jika sesuatu terjadi padamu dan anak kita, aku juga tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Apakah kau lupa? Aku cukup kuat. Aku tidak akan mati dengan mudah. Aku akan kembali kemari, aku berjanji. Percayalah padaku. Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian," ucap Yuji sembari tersenyum.
"Aku mengetahui tentang kekuatanmu yang cukup besar, tetapi kondisimu saat ini tidak memungkinkan. Karena itu, sebaiknya kau pulang," sahut Yuji. Ia masih berusaha dengan keras untuk membujuk istrinya tersebut.
"Tidak, aku akan pergi bersamamu. Jangan mencoba untuk menghentikanku," ujar Yuko.
Yuji telah lelah mencoba dan tak sanggup lagi membujuk Yuko. Terlebih lagi, ia lemah jika ditekan oleh istrinya itu. Maka dengan berat hati, Yuji mengizinkan Yuko untuk ikut dengannya.
"Baiklah, kau boleh ikut," ucap Yuji.
Yuko tampak senang ketika mendengar ucapan suaminya tersebut. "Terima kasih banyak, Yuji!!" ucapnya sembari memeluk Yuji dengan erat, menciptakan rona merah di wajah Yuji. Para penyihir yang berkerumun menatap mereka berdua sembari tersenyum. Beberapa di antara mereka menatap dengan tatapan iri.
(TN: mungkin mereka iri karena masih jomblo :v Authornya juga masih single, sih.)
__ADS_1
"Ba-baiklah. Tolong lepaskan tubuhku, aku tidak bisa bernapas," sahut Yuji dengan terbata-bata. Wajahnya semakin memerah.
"Maaf," ujar Yuko sembari tertawa kecil. "Mari kita berangkat," lanjutnya.
"Ya," sahut Yuji.
Yuko melangkah ke samping Yuji dan menoleh ke belakang menatap seluruh anggota kelompok Penyihir Revolusioner yang datang untuk melepas kepergian Yuji.
"Seluruh anggota kelompok Penyihir Revolusioner!! Sekarang adalah waktunya bagi kami untuk menuju CoAR!! Jika kami tidak kembali lagi, tolong teruskan perjuangan kita!! Lindungilah planet-planet yang tertindas, dan carilah anggota baru!! Tolong wujudkan impian kita, yaitu mendamaikan seluruh semesta!!" Yuji mulai berpidato dengan mantap.
"Jika kami tidak selamat, janganlah berlarut-larut dalam kesedihan. Wujudkanlah impian kita. Kami percaya ... bahwa kalian mampu melakukannya." Yuko melanjutkan pidato yang telah dimulai oleh suaminya.
"Penyihir Revolusioner bukanlah sekedar julukan. Kita dijuluki sebagai Penyihir Revolusioner karena kitalah yang akan melakukan revolusi atau perubahan besar menuju arah yang lebih baik. Kita adalah secercah harapan bagi para penyihir yang tertindas. Jangan sia-siakan kepercayaan mereka," sambung Yuji.
Yuko melanjutkan kembali pidato tersebut. "Kami ..., kami tidak tahu ... nasib apa yang akan menimpa kami .... Kami tidak tahu ... apakah kami akan pulang dengan selamat atau tidak. Sekalipun kami tiada, jangan sia-siakan perjuangan kita selama ini .... Tolong ... lakukanlah ... revolusi .... Ubahlah seluruh semesta ... menjadi tempat yang lebih baik .... Jika suatu saat nanti kalian telah berhasil ..., jangan lupakan kami .... Biarkan memori tentang kami tetap hidup ... di dalam hati kalian .... Kami memercayai kalian ... para ... Penyihir Revolusioner ...."
Yuko mulai meneteskan air mata. Beberapa kali ia sesenggukan. Ia berusaha menahan tangisannya, namun usahanya itu sia-sia. Tangisannya pun tumpah.
Ia tahu benar, bahwa kelompok yang ia pimpin bersama suaminya ini belum siap untuk kehilangan kedua pemimpin mereka yang sangat mereka hargai, cintai, dan hormati. Namun ..., hanya ini satu-satunya jalan.
Para penyihir yang berkerumun juga mulai menangis. Suasana pada pagi hari ini menjadi pilu karena sesenggukan dan suara tangisan. Yuji membalikkan tubuhnya dan berusaha keras untuk menangis tanpa suara karena ia tak ingin terlihat sebagai penyihir yang lemah di hadapan para anggota kelompoknya.
Tak lama kemudian, Yuji membalikkan tubuhnya kembali dan melanjutkan pidatonya. Tangisannya telah terhenti, namun ia tak mampu menahan air matanya yang terus mengalir dan membasahi pipinya.
"Kami merasa ... sangat terhormat ... dapat memimpin ... kelompok yang besar seperti kalian .... Kami memercayakan ... sisanya ... kepada kalian ..., para anggota kami ... yang berharga ...."
Yuji segera membalikkan tubuhnya dan menggandeng tangan istrinya, kemudian ia melangkahkan kakinya melewati gerbang desa. Mereka tak ingin berlama-lama pada kesedihan. Hati mereka terasa hancur dan air mata mereka terus berjatuhan.
"Magic: ... Ultra ... Speed," ucap Yuji dengan pelan dan terbata-bata.
Yuji dan Yuko melesat menuju langit dengan kecepatan suara, meninggalkan anggota-anggota kelompok mereka yang masih menangis. Salah satu anggota tersenyum sembari menatap tempat Yuji dan Yuko berada sebelumnya, dengan wajah yang masih dibasahi oleh air mata.
__ADS_1
"Selamat jalan .... Semoga kalian berhasil ...."
To be continued