
WARNING!! FEELS ALERT!! Banyak bawangnya :v silakan siapkan tisu terlebih dahulu.
————————————————————————————
Kabar kematian sang ketua beserta wakil ketua dari kelompok Penyihir Revolusioner menyebar dengan sangat cepat. Beberapa hari kemudian, pemakaman Yuji dan Yuko pun dilaksanakan.
Pagi itu sangatlah cerah. Namun, berbanding terbalik dengan Sang Langit, suasana hati para penduduk desa tidaklah cerah. Justru, isak tangislah yang menyelimuti suasana pada pagi hari itu. Kelompok Penyihir Revolusioner telah kehilangan dua orang pemimpin yang sangat berharga. Dua orang pahlawan yang rela mati demi mereka.
__ADS_1
Nisan kembar itu berdiri kokoh, tak terpengaruh oleh isak tangis para penyihir bersetelan hitam kelam di sekelilingnya. Gundukan tanah kembar terletak di depannya. Dua buah foto terpajang di hadapannya. Foto seorang pria berambut keemasan dan seorang wanita berambut hitam yang diikat menggulung ke belakang. Pada salah satu nisan, terukir nama Yuji Zamoto. Sementara pada nisan yang satu lagi, terukir nama Yuko Hikari.
"Hari ini, kita telah kehilangan dua orang pemimpin yang sangat berarti. Mari kita berdoa, agar arwah mereka dapat menjalani kehidupan berikutnya dengan tenang di alam sana." Salah seorang penyihir berucap dengan suara lantang.
Para penyihir bersetelan hitam yang hadir pun segera memejamkan mata mereka. Beberapa menit kemudian, mereka kembali membuka mata. Isak tangis pun pecah, kali ini lebih keras dari yang sebelumnya.
"Sayang sekali, kalian bahkan belum pernah melihat wajah orangtua kalian, dan sekarang kalian harus berpisah dengan mereka," ucap penyihir pria yang menemukan Gen dan Yuto sembari menggendong Gen, sementara istrinya menggendong Yuto. Air mata mulai mengalir dari sudut mata sepasang penyihir itu, membasahi pipi mereka. Gen dan Yuto hanya menatap dengan tatapan bingung karena tak mengerti apa yang terjadi.
__ADS_1
"Huh?" Rasa sedihnya segera tergantikan oleh rasa bingung dan penasaran. Ia segera menekan tombol itu. Sosok fantasi Yuji dan Yuko terproyeksi dari surat tersebut, membuat para penyihir lain terkejut.
"Para anggota kelompok Penyihir Revolusioner. Mungkin, saat ilusi pesan ini diputar, kami telah tiada. Kami ingin berpesan, jika kami tiada, jangan bersedih terlalu lama. Ingatlah, seorang penyihir revolusioner tidak boleh menyerah, dan harus terus menapaki jalan takdir, meski jalan itu berliku-liku dan berbatu-batu. Mirai Yondai dan Dai Kibou, kami memercayakan jabatan ketua dan wakil ketua kepada kalian jika kami tiada dalam misi kali ini."
"Ingatlah, seseorang tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya mati secara fisik. Kenangan mereka akan terus hidup, di dalam hati orang-orang yang menyayangi mereka. Terima kasih atas dukungan dan bantuan kalian selama ini. Aku tidak ingin bersikap dramatis, jadi aku tidak ingin berkata: 'Jangan lupakan kami'. Itu hanya akan membuat kalian semakin larut dalam kesedihan. Jadi, tidak masalah jika kalian ingin melupakan kami. Akhir kata, kami ingin menyampaikan: 'Terima kasih atas segalanya, dan sampai jumpa.'"
Tepat setelah ucapan itu berakhir, sosok Yuji dan Yuko menghilang tanpa jejak, menyisakan surat yang telah kusut karena dibasahi oleh air mata. Isak tangis kembali terdengar, kali ini lebih nyaring dari yang sebelumnya.
__ADS_1
"Terima kasih juga, telah menjadi teladan bagi kami. Kami tidak akan pernah melupakan kalian, Yuji-sama dan Yuko-sama."
To be continued