
Matahari baru saja muncul di cakrawala, memancarkan cahayanya yang terang, mengusir kegelapan malam yang pekat. Burung-burung berkicau dengan merdu sembari terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Warna merah fajar masih mewarnai langit. Awan-awan mulai berubah warna dari kelabu menjadi kemerahan. Cahaya kemerahan menimpa Desa Zen.
Di depan sebuah rumah yang tak terlalu besar, empat penyihir tengah berdiri. Mereka tampak seperti dua orang anak yang tengah berpamitan kepada kedua orangtuanya.
"Hati-hatilah di jalan, nak," ucap sang ibu.
"Baik, Bu," sahut sang bungsu. Angin pagi menerbangkan helai-helai poninya yang berwarna hitam kelam.
"Terima kasih sudah merawat kami selama ini, ayah, ibu," sahut sang sulung.
Sepasang suami istri tersebut mengangguk sembari tersenyum ramah. "Itu sudah kewajiban kami untuk memenuhi permintaan terakhir orangtua kandung kalian, Gen, Yuto," ucap sang ayah.
"Walaupun kalian bukan orangtua kandung kami, tapi kami akan selalu menyayangi kalian seperti orangtua kandung kami sendiri. Terima kasih atas segalanya. Mulai sekarang, jangan khawatirkan kami lagi. Kami pergi dulu, ya?" Tanpa disadari, air mata menggenang di sudut mata sang sulung dan mengalir turun membasahi pipinya. Semakin lama semakin deras.
"Ya, ibu akan selalu merindukan kalian." Sang ibu turut mengeluarkan air mata. "Pulanglah ketika misi takdir kalian sudah selesai. Pintu rumah ini akan selalu terbuka bagi kalian."
__ADS_1
Sang bungsu - yang bernama Yuto - mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, senyum terukir di wajahnya. Sosok Yuto yang selama ini dikenal oleh keluarganya, yang dingin dan kaku, telah sirna, digantikan oleh sosok seorang pemuda ramah. "Pastikan makanan enak selalu tersedia di rumah bagi kami, Bu," ucapnya.
"Hei, kau ini. Misi takdir kita belum selesai. Masa' kau sudah memikirkan tentang makanan?" ujar sang sulung, Gen, sembari menjitak kepala Yuto. Yuto meringis pelan sembari tersenyum. Kedua orangtua mereka turut tersenyum. Untuk pertama kalinya, kekakuan sirna dari interaksi antara kakak beradik itu. Kini, mereka tampak akrab seperti kakak beradik pada umumnya.
"Ini bekal untuk kalian. Memang tidak banyak, tapi semoga dapat menghapus kerinduan kalian akan suasana rumah ini." Sang ibu berucap sembari mengeluarkan dua buah kotak bekal yang terbungkus kain.
Tangan sang sulung terulur untuk menerima bungkusan tersebut. "Terima kasih, Bu," ucapnya.
Kakak beradik kembar itu pun membalikkan tubuh mereka. "Kami pergi dulu, ya," ucap sang bungsu sembari tersenyum dan menoleh ke belakang, kemudian mereka mulai melangkah.
Gen dan Yuto pun menoleh ke belakang. "Ya?"
"Jangan pernah menyerah, dan jangan sampai kalian mati di tengah misi takdir!!!" Sang ayah berseru sembari melayangkan tinjunya ke udara.
Kakak beradik itu mengangguk. "Baik, yah," ucap mereka serentak sebelum akhirnya melesat secepat suara, meninggalkan halaman rumah tersebut.
__ADS_1
"Apa mereka bisa melakukannya?" Sang ibu bergumam dengan nada khawatir.
"Jangan khawatir." Sang ayah memegang bahu istrinya. "Mereka anak-anak yang hebat. Kita harus percaya pada mereka."
Sang ibu mengangguk sembari tersenyum. "Kau benar."
"Masa depan umat penyihir ... berada dalam genggaman tangan mereka berdua ...."
To be continued
Cie, kalian baper, ya? ๐
Saya selaku author dari story ini mengucapkan terima kasih atas kunjungan kalian. Mohon maaf jika ada kesalahan, ketidakrealistisan, dan sebagainya, karena saya hanyalah manusia biasa yang tak sempurna.
Jika kalian memiliki kritik dan saran, silahkan sampaikan di kolom komentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Kritik dan saran kalian sangat berarti bagi saya. Asal jangan sepedes indomie seblak lho, ya. Tolong disaring kata-katanya ๐ Kalau sepedas keripik rasa balado masih mending. Wkwkwkwkwk,
__ADS_1
Sekian untuk chapter kali ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya ^^ Bye!!