
"Baiklah jika kau memaksa," ujar Yuuratsu. "Tampaknya, aku harus menggunakan wujud itu. Kuperingatkan, kau yang memaksaku melakukan ini. Jangan menyalahkanku jika kau terbunuh. Active!!! Fourteen Conqueror Form!!!"
Mendadak, separuh dari tubuh Yuuratsu digantikan oleh tubuh tengkorak dengan mata merah menyala. Wajah Seven Deadly Sins terpampang di bahu kirinya dan wajah seorang pemuda berambut putih bersih dengan sepasang mata berwarna keemasan terpampang di bahu kanannya. Jubah kecoklatan yang ia kenakan seketika tergantikan oleh armor berwarna hitam legam dan jubah berwarna putih bersih. Tujuh sayap perlambang Seven Crests of Heaven terpasang di punggungnya. Dua lambang matahari khas Mesir Kuno dengan warna emas dan hitam turut menghiasi punggungnya.
Yuuratsu menyeringai bengis. Dua bilah pedang berwarna emas dan hitam perlahan muncul dan tergenggam di kedua tangannya. Aura hitam dan emas mulai terpancar dari tubuhnya dan menyeruak, melapisi lantai pasir di sekeliling. Tak tinggal diam, Gen pun turut mengeluarkan aura hitam dan emasnya. Keempat aura itu beradu dengan amat dahsyat. Angin kencang bertiup, menerbangkan pasir-pasir di sekitar kedua pemuda itu.
Mereka berdua melompat ke langit. Retakan bekas tapak kaki mereka semakin melebar dan akhirnya mengakibatkan fondasi pasir terbelah. Gempa yang hebat kembali terjadi.
"Gluttony!! Makan dia!!!"
Tepat setelah ucapan itu terlontar, bola mata perlambang dosa kerakusan menyala. Lengan kanan Yuuratsu berubah menjadi ular hitam tanpa mata dengan gigi-gigi yang tajam bagaikan monster, kemudian segera melahap Gen.
"Huh, mudah sekali," ucap Yuuratsu sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Aku belum selesai."
Dalam sekejap, Gen merobek tubuh ular tersebut dan melompat keluar. Sepasang sayap malaikat muncul dari dalam punggungnya dan membentang lebar. Secepat kilat, Gen melemparkan puluhan pedang Friendship ke arah Yuuratsu, bahkan nyaris tak terlihat oleh mata.
Namun, dengan ajaib Yuuratsu berhasil memakan semua itu menggunakan Gluttony Snake Hand. Ia tersenyum bengis sembari menatap Gluttony Snake yang tengah menjilati bibirnya. "Tampaknya Gluttony menyukai pedangmu itu," ujarnya.
Lambang matahari hitam yang menghiasi lubang mata kiri di ketopong kesatria Gen mulai bersinar, tampak amat gelap dan pekat. "Lust, giliranmu."
Mendadak, tubuh Gen mengeluarkan dorongan energi yang amat kuat, mengakibatkan Yuuratsu terlempar ke belakang dan nyaris terhempas ke permukaan lapisan pasir. Aura hitam kelam mulai menyeruak, menutupi udara di sekeliling Gen dan Yuuratsu.
"Kau ingin menggunakan Lust?! Kalau begitu aku juga!!!" seru Yuuratsu.
Bola mata perlambang dosa hawa nafsu segera bersinar, dorongan energi yang dahsyat pun tercipta. Tubuh Yuuratsu kini diselimuti aura hitam legam yang menyeruak dan menutupi udara di sekitar.
__ADS_1
*traaangg!!!*
Suara logam beradu terdengar, begitu nyaring dan memekakkan telinga. Kedua pedang milik Yuuratsu dan pedang emas milik Gen tengah beradu dengan amat dahsyat. Angin kencang kembali bertiup. Retakan dimensi mulai timbul, dan lama-kelamaan semakin melebar. Kedua pemuda itu berpindah ke sebuah hutan belantara di dimensi tak dikenal.
(TN: Bjir :v terlalu OP kayaknya)
"Hope!!!" seru Yuuratsu dengan suara nyaring. "Kabulkan permintaanku!!! Aku ingin menjadi lebih kuat dari pemuda ini!!!"
Aura keemasan segera muncul dari dalam tubuh Yuuratsu dan menyeruak, menggantikan aura hitam legam yang tadi menutupi udara. Sayap perlambang crest harapan bersinar cerah.
"Tidak semudah itu," ujar Gen. "Despair!!!"
Aura hitam yang mengelilingi Gen mulai digantikan oleh aura kelabu yang tak kalah dahsyatnya. Kedua pemuda itu beradu pedang sekali lagi, menciptakan angin kencang dan suara yang memekakkan telinga untuk yang ketiga kalinya. Mereka mendarat di tengah-tengah hutan belantara, dipayungi oleh pohon-pohon yang tinggi dan berdaun lebat, kemudian beradu senjata untuk yang keempat kalinya. Tanah tempat mereka mendarat tadi mulai retak dan akhirnya terbelah. Lapisan tanah mulai longsor ke arah patahan, dan pepohonan yang rimbun mulai tenggelam ke dalam lapisan tanah. Untuk kedua kalinya, dimensi yang mereka tempati retak dan kedua pemuda itu berpindah dimensi lagi ke luar angkasa.
Dengan kecepatan yang melebihi cahaya, Gen mendorong Yuuratsu ke arah sebuah planet tak berpenghuni, bahkan Knowledge sekalipun tak sempat mendeteksi gerakan tersebut. Tubuh Yuuratsu segera menabrak planet itu dan menembus hingga ke sisi lainnya. Planet tersebut langsung terbelah dan hancur berkeping-keping.
"Aku takkan kalah!!!" Yuuratsu berseru sembari melepaskan dorongan energi yang membuat Gen terlempar ke galaksi lain. (bjirrr :v)
"Death .... Yggdrasil .... Sekarang giliran kalian ...."
Tepat setelah ucapan itu terlontar, tengkorak hidup yang berpenampilan seperti dewa kematian dan pemuda berambut putih bersih dengan sepasang bola mata keemasan, halo (lingkaran malaikat) di atas dahi, dan tiga puluh lima pasang sayap dengan masing-masing sayap seukuran benua Asia muncul di belakang Yuuratsu dan menatap dengan buas ke arah Gen, seolah siap membunuhnya. Kedua makhluk itu berukuran sama dengan planet Jupiter. (TN: Apa-apaan bjer :v Terlalu OP)
"Kau ingin menggunakanTwo Deities?" Gen tersenyum menantang, meski senyumnya tersembunyi oleh ketopong kesatria yang ia gunakan. "Kalau begitu ... aku juga ...."
"Reaper, Azazel."
Tepat setelah Gen mengatakan itu, muncul dua makhluk yang berukuran dan berpenampilan sama persis dengan Yggdrasil dan Death. Perbedaan Yggdrasil dan Azazel hanya terletak pada rambut Azazel yang sudah ternodai oleh corak hitam.
__ADS_1
Keempat dewa penguasa itu pun mengeluarkan senjata mereka dan bergegas beradu senjata. Death dan Reaper menggunakan Scythe of Despair, sedangkan Yggdrasil dan Azazel menggunakanConqueror's Sword serta pohon dunia yang timbul dari dalam punggung mereka. Tabrakan antar logam itu menciptakan ledakan besar yang menggetarkan seluruh Universe Magus dan menciptakan suara logam beradu yang memekakkan telinga. Planet-planet yang berada dalam radius 450.000.000 km dari mereka langsung hancur menjadi debu.
"Getaran apa ini?" Ibu angkat Gen dan Yuto yang tengah duduk santai di sofanya yang empuk bangkit berdiri dengan tatapan waspada.
"Gempa!!" sahut sang ayah angkat sembari keluar dari kamarnya. "Ayo!! Kita harus cepat keluar dari rumah!!" ucap pria tersebut sembari menggandeng tangan istrinya.
"Entah mengapa ... aku merasa ini bukan gempa bumi biasa ...." Sang ibu angkat membatin."Perasaanku aneh ... apa ini suatu pertanda?"
Getaran itu juga sampai ke istana Dewa Magus yang terletak di kota Rainzar, membuat semua penyihir yang berada di ruang takhta bergegas bangkit berdiri dan memasang tatapan waspada.
"Guncangan apa ini? Sebelumnya tidak pernah terjadi gempa," ucap Dewa Magus. "Apakah ... Gainos bangkit kembali dari perut Planet Aojin?"
"Tidak, Dewa Agung. Sepertinya, yang satu ini lebih berbahaya daripada Gainos." Jenderal Tertinggi Pythius menyahut. Tatapannya juga tampak waspada dan keringat dingin mulai mengaliri dahinya.
Getaran itu juga sampai ke Penginapan Rade, desa Ragrius, menyebabkan para penginap berlari tunggang-langgang keluar dari penginapan, benar-benar dipenuhi ketakutan. Benda-benda yang tidak stabil di ruangan-ruangan penginapan mulai berjatuhan.
"Aneh .... Kenapa aku merasa aneh, ya?" Pemilik penginapan itu membatin.
Beberapa menit kemudian, adu senjata pun berakhir dan dimenangkan oleh Reaper dan Azazel. Yggdrasil dan Death lenyap tanpa jejak.
"Ti-Tidak!!" Wajah serius Yuuratsu mulai digantikan oleh kepanikan. "Tidak!!! Aku tidak bisa mati di sini!!!"
Dengan kecepatan yang melebihi cahaya, Azazel melesatkan salah satu dari ratusan ranting Dark World Tree miliknya ke arah Yuuratsu. Sungguh cepat, hingga Knowledge sekalipun tak sempat memprediksi gerakan tersebut. Ranting setajam belati itu langsung menembus jantung Yuuratsu, melubangi dadanya, kemudian tercabut kembali. Yuuratsu yang kehilangan tenaganya tertarik ke arah retakan dimensi yang timbul akibat tubrukan senjata tadi, dan langsung menuju gurun tempat ia dan Gen bertarung pertama kali.
"Rasakanlah ketakutan, kemarahan, dendam, kebencian, dan rasa sakit dari orang-orang yang telah kau siksa," ujar Gen sembari menatap retakan dimensi yang menyerap tubuh Yuuratsu tadi dengan tatapan sedingin es.
To be continued
__ADS_1