
Dua tahun lalu ....
"Aku pulang ...," ucap Yuuratsu seraya menghadap kedua penjaga gerbang dari desa tempat tinggalnya. Angin gurun menerbangkan jubah kecoklatannya yang tampak lusuh. Tampaknya, ia baru saja menyelesaikan sebuah misi.
"Se-Selamat datang kembali, tuan Yuuratsu." Para penjaga gerbang desa menyambut Yuuratsu dengan wajah pucat dan terlihat ketakutan.
"Ng? Ada apa?" Yuuratsu menaikkan sebelah alisnya, tampak heran. "Mengapa wajah kalian pucat?"
"Hi-Hideki ...," ujar salah seorang penjaga gerbang.
"Hm? Ada apa dengan adikku?"
"Pasukan Jenderal Magus datang kemari ... dan menculiknya ...."
"APA?!" Yuuratsu terperanjat. Kedua matanya seketika terbelalak.
"Kurang ajar!!!" seru Yuuratsu sembari menendang tembok pelindung kota dengan penuh kekesalan. "Pengecut!!! Beraninya mereka mengincar keluargaku ketika aku tidak sedang berada di desa!!!"
"Se-Sebaiknya ... tuan jangan menyusul adik tuan ...."
"Eh? Kenapa?" Yuuratsu mengernyitkan dahinya.
"Yang membawa adik tuan adalah ... Jenderal Vriltz ..., jenderal terkuat ketiga. Meski tuan adalah pejuang revolusioner yang hebat, kami sangsi tuan bisa kembali dengan selamat."
"Lalu kau menyuruhku diam saja melihat adikku tersiksa di sana?!" Yuuratsu menatap penjaga itu dengan tatapan garang, membuatnya langsung bergidik ngeri. "Bu-Bukan begitu maksudku, tuan ...."
"Aku akan pergi ...," ucap Yuuratsu dengan penuh tekad. Ia bergegas membalikkan badannya dan mengaktifkan feet jetpack di kakinya. Tubuhnya seketika melayang.
"Tu-Tunggu, tuan!!! Jangan pergi!!!" cegah penjaga gerbang yang satu lagi.
"Aku tidak peduli," sahut Yuuratsu sembari bersiap untuk terbang. Kedua matanya yang tajam menatap ke arah kedua penjaga itu, berkilau diterpa cahaya matahari, tampak dipenuhi oleh tekad. "Adikku mungkin tidak seberuntung diriku sewaktu kecil dulu. Aku bisa selamat dari laboratorium, tapi dia belum tentu bisa kabur dari kota Rainzar yang terkutuk itu. Aku akan pergi, tak peduli apapun yang akan terjadi. Jangan halangi aku!!!"
Tepat setelah mengatakan itu, Yuuratsu lepas landas, melesat dengan kecepatan tinggi ke angkasa yang biru dan luas. Cahaya biru dari api jetpack miliknya semakin mengecil, dan akhirnya lenyap seluruhnya dari pandangan. Kedua prajurit yang gagal mencegah Yuuratsu pergi hanya bisa bersandar dengan wajah kecewa di tembok pelindung kota.
"Semoga beruntung, tuan ...," ucap salah seorang penjaga.
----------------------------------------------------------------
"Dewa Agung, Yuuratsu sang Kesatria Eternal Machina sedang menuju kemari. Sekarang posisinya dua puluh meter di timur laut kota," ucap Jenderal Tertinggi Zard sembari memandang radar sihir berbentuk hologram yang terproyeksi di atas pergelangan tangannya.
"Sudah kuduga," ujar Dewa Magus sembari menyeringai bengis. "Cepat sekali dia masuk ke perangkap kita .... Dia lebih berdarah panas dari yang kuduga."
"Jadi ... apa yang harus kulakukan selanjutnya, Dewa Agung?" tanya sesosok tengkorak hidup yang separuh dari wajahnya ditutupi topeng besi berhiaskan kristal hitam dan ujung trisula. Kedua lubang matanya dipenuhi oleh cahaya merah menyala. Dia adalah jenderal terkuat kedua, Yuratailer Crallion. Ia menyibakkan jubah hitam kelamnya dan berlutut penuh hormat di hadapan Dewa Magus sembari meletakkan kepalan tangannya di dada sebelah kiri.
"Sampaikan kepada seluruh unit dan pasukan di kota Rainzar untuk tidak menyerang Pejuang Revolusioner Yuuratsu!!! Dan nonaktifkan magic barrier pelindung istana!!!" perintah Dewa Magus.
"Siap, laksanakan, Dewa Agung," ucap Jenderal Crallion sembari bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya, kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu dengan langkah formal.
Dewa Agung Magus kembali menyeringai bengis, memamerkan gigi-giginya. "Yuuratsu Avalion ..., sang Kesatria Eternal Machina .... Sebentar lagi ... kau akan jadi milikku ...."
Sementara itu, jarak antara Yuuratsu dengan kota Rainzar semakin memendek. Yuuratsu mengerutkan keningnya dengan gusar. Ia menggigit bibirnya, kemudian berdecak kesal. "Sialan .... Beraninya mereka memanfaatkan Hideki sebagai umpan ...."
"B*jingan!! Tak akan kuampuni!!!" Kecepatan jetpack Yuuratsu seketika meningkat dua kali lipat. Lapisan awan kumulonimbus yang tebal tampak dari kejauhan, dan tak lama kemudian tembok pelindung kota Rainzar juga terlihat. Langit biru yang cerah kini digantikan oleh langit kelabu yang kelam. Awan-awan tebal menghalangi cahaya matahari. Sang petir terus menyambar, kilatnya tampak bagaikan naga berwarna putih kebiruan.
Tak peduli akan bahaya sambaran petir atau risiko diserang pasukan penjaga, Yuuratsu terus melesat maju menuju istana Dewa Magus, melewati gerbang kota dan jalan-jalan yang hanya dipenuhi oleh tengkorak hidup serta prajurit Dewa Magus.
"Hei, apa kita benar-benar tidak boleh menyerangnya?" Salah seorang tengkorak hidup berbisik kepada rekannya.
"Kau gila, ya? Kau ingin Dewa Magus membunuh kita?" ujar rekannya.
"Lagipula, Dewa Agung Magus pasti punya rencana soal ini. Mustahil dia memerintahkan kita melakukan ini tanpa alasan," sahut tengkorak hidup yang lain.
"Haaahhh ... baiklah ...." Tengkorak hidup yang tadi membuka pembicaraan menghela napas kecewa.
Kini, Yuuratsu telah tiba di istana Dewa Magus. Dengan penuh kemarahan, pemuda itu memecahkan kaca jendela ruang takhta dan masuk melalui lubang itu, kemudian menonaktifkan feet jetpack-nya. Gigi-giginya bergemeletuk penuh kemarahan ketika melihat sosok yang memerintahkan penculikan adiknya. Dewa Magus beserta para bawahannya yang melihat bahwa target mereka telah datang tersenyum puas. Itu membuat Yuuratsu semakin naik pitam.
"Oh, jadi kau telah dat-"
"Katakan, di mana adikku?!" Yuuratsu mencengkeram kerah jubah Dewa Magus dengan penuh emosi, sementara para bawahan Dewa Magus bersiap untuk menyerang. "Di mana dia?!"
*braakk!!!*
Dewa Magus melepaskan dorongan energi yang seketika membuat Yuuratsu terhempas ke lantai yang dilapisi karpet mewah berwarna merah terang.
"Hei, sopan sedikit, mortal rendahan." Dewa Magus bangkit berdiri dari kursi takhtanya sembari memandang dengan muak ke arah Yuuratsu yang tengah menggertakkan giginya penuh kekesalan. Tatapannya benar-benar terlihat merendahkan.
"Sialan!! Akan kubunuh kau jika terjadi apa-apa pada adikku!!!" bentak Yuuratsu.
"Tenang saja, Kesatria Eternal Machina. Adikmu ada di sini."
__ADS_1
Mendengar suara itu, Yuuratsu langsung menoleh ke arah datangnya suara. Tampak Jenderal Crallion tengah menggendong seorang bocah lelaki berambut ungu, dengan usia sekitar lima sampai tujuh tahun yang tengah terikat.
"Kakak!!!" seru bocah itu.
"Hi-Hideki!!" Kedua mata Yuuratsu terbelalak.
"Lepaskan dia!! Kembalikan dia padaku!!!" seru Yuuratsu sembari berlari menuju Jenderal Crallion. Namun, sebuah dorongan energi kembali membuatnya terhempas.
"Sial!!!" Yuuratsu menggerutu dengan penuh kekesalan. Rasa sakit mulai merambat ke sekujur tubuhnya.
"Jangan ceroboh, Kesatria Eternal Machina," ucap Jenderal Crallion sembari menyeringai bengis. Dengan tangan yang masih bebas, ia menciptakan sebilah dagger kegelapan dan menggenggamnya di tangan kanannya, kemudian mendekatkan pisau itu ke leher Hideki. "Satu gerakan, dan leher adikmu akan terpenggal."
"B*jingan!!" umpat Yuuratsu dengan gusar. "Pengecut!!!"
"Ada satu cara agar adikmu bisa selamat," ujar Dewa Magus. "Bergabunglah ke pasukan Dewa Magus, dan jadilah bagian dari kami."
"Kau menyuruhku bergabung dengan para b*jingan seperti kalian?!"
"Jika kau menolak, leher adikmu akan terpenggal saat ini juga."
Ucapan Dewa Magus membuat Yuuratsu mati kutu seketika. "B*jingan!!!" umpatnya.
"Jadi bagaimana? Kau punya waktu sepuluh detik untuk memutuskan."
"He-Hei, waktu sesedikit itu mana cukup untuk-"
"10."
Belum sempat Yuuratsu memprotes, Dewa Magus telah terlebih dulu memulai hitungan mundurnya.
"9."
"Cih, sial!!!" Yuuratsu tampak gusar dan kebingungan. Jika ia memilih untuk bergabung dengan pasukan Dewa Magus, maka ia akan mengkhianati takdirnya sebagai pejuang revolusioner. Namun, jika ia menolak, nyawa adiknya akan melayang.
"8 ...."
"7 ...."
"Siaaall!!!" umpat Yuuratsu.
"6 ...."
"4 ...."
"3 ...."
"2 ...."
"1 .... Waktu habis. Jenderal Crallion, penggal dia."
"Baik," ujar Jenderal Crallion sembari bersiap memotong leher Hideki.
"Ka-Kakak!!! Tolong!!!" Hideki tampak panik dan ketakutan. Ia mulai menangis. Pisau kegelapan itu mulai menempel di lehernya.
"Tunggu!!!"
Seruan Yuuratsu seketika menghentikan gerakan Jenderal Crallion, membuat semua yang berada di ruang takhta menoleh ke arah pemuda itu.
"Aku ... memilih untuk bergabung dengan kalian ...!!" Yuuratsu berseru sekali lagi, tampak sangat mantap dan yakin.
"Fu ... fu ... fu .... Bagus ....," ucap Jenderal Magus sembari tertawa kecil.
"Kakak .... Apa kakak yakin?" tanya Hideki khawatir.
"Tenang saja, Hideki," sahut Yuuratsu sembari tersenyum. "Aku berjanji, aku akan segera pulang ke desa begitu misi ini selesai."
"Janji, ya, kak?"
"Iya, kakak berjanji. Kujamin, kita berdua pasti akan selamat dan bisa pulang ke desa."
----------------------------------------------------------------
Kemudian, aku melakukan sedikit penyamaran dengan jubah hitam dan topeng berlambang bulan sabit. Hideki telah dikembalikan ke desa tempat tinggalku. Namun, demi memastikan ia tetap aman, aku terus melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Dewa Magus. Misi demi misi terus kujalani. Pembantaian, pembunuhan, pembakaran, penyerangan, dan hal-hal kotor lainnya ... terus kulaksanakan. Aku menyembunyikan identitas asliku, mengenakan topeng yang menutupi kepribadianku serapat mungkin. Aku harus terlihat seperti tokoh antagonis, dan demi mewujudkan itu ... aku harus bertindak kurang ajar serta melakukan hal-hal kotor. Aku menempatkan diriku dalam bahaya, merelakan diriku menjadi sasaran dendam dan kebencian dari para korbanku. Caci maki dan umpatan-umpatan terus terlontar di telingaku, dan itu semua membuat hatiku menjadi panas mendidih.
"Penjahat."
"Pembunuh."
"Dia lebih rendahan daripada binatang."
__ADS_1
"Kuharap dia segera mati."
"Dia adalah pemuda yang sangat rendah, lahir dalam kegelapan dan menjalani hidupnya dalam kegelapan. Yang dia ketahui hanyalah invasi, pertarungan, dan pembunuhan."
"Benar-benar rendah ...."
"Dasar pemuda iblis!!!"
"Kuharap aku bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri."
Itu semua ... benar-benar membuat hatiku panas ....
Aku sempat menyesal ... mengorbankan takdir pahlawanku untuk menyelamatkan Hideki .... Aku jatuh ke dalam lubang keputusasaan yang kelam dan gelap, terus meratapi dan menyesali semua yang telah terjadi. Di tengah penyesalan dan depresi itu, aku berencana untuk membatalkan kontrakku dengan Dewa Magus, serta mengorbankan Hideki.
Namun, aku teringat akan janjiku dengan Hideki ....
"Jangan khawatir. Kujamin, kita berdua pasti akan selamat dan bisa pulang ke desa."
Jika aku mengorbankan nyawa Hideki ..., janji itu takkan terpenuhi ....
Aku kembali bangkit dari jurang keputusasaan itu, melesat menuju angkasa yang dipenuhi tekad dan harapan. Aku telah memutuskannya .... Aku memutuskan untuk terus maju ke depan ... tak peduli apapun yang terjadi!!! Aku akan menjalani takdirku ... tak peduli seberapa banyakpun rintangan yang menghadang!! Sekalipun itu terlihat menyakitkan ..., aku akan terus maju!!! Demi Hideki!!! Demi janji kami!!! Demi desa kami!!! Dan ... demi seluruh semesta!!! Aku akan melindungi ... hal-hal yang paling berharga bagiku!!! Kenangan kami, tekad kami, dan janji kami .... Aku akan melindungi semua itu!!! Takkan kubiarkan hal-hal yang sudah terukir kuat itu lenyap begitu saja!!! Takkan kusia-siakan mereka semua!!! Aku harus terus bangkit!!! Terus maju ke depan, bagaikan sebuah anak panah!!!
Adikku ... desaku ... dan orang-orang yang kusayangi ....
Mereka semua sudah menungguku!!!
Jika aku menyerah sekarang, maka sama saja dengan menginjak-injak harga diriku sendiri!!! Aku tidak bisa menyia-nyiakan kepercayaan mereka!!!
----------------------------------------------------------------
Aku membuka kedua mataku, menatap langit biru yang cerah dan dihiasi oleh awan-awan.
"Da ... rah ...," ucapku terbata-bata sembari menatap jubahku yang telah bermandikan cairan merah tua dan dadaku yang terluka parah, kemudian aku tersenyum miris. "Tampaknya ... aku telah gagal, ya ...."
"Hideki ...."
Aku memandang langit biru yang terbentang luas. Matahari telah mulai beranjak ke ufuk barat, bersiap untuk menenggelamkan dirinya ke balik cakrawala. Air mata mulai menggenangi kedua mataku, mengalir turun mengaliri wajahku. "Maafkan ... kakakmu yang bodoh ini ...."
*drap!!*
"Ng?"
Yuuratsu menoleh ke arah datangnya suara langkah kaki itu. Dari kejauhan, tampak sosok Jenderal Tertinggi Pythius sedang berlari ke arahnya dengan tatapan khawatir.
"Jenderal ... Tertinggi ... Pythius ...."
"Jenderal Yuuratsu!!!" seru Jenderal Tertinggi Pythius sembari menghampiri tubuh Yuuratsu.
"Maaf, Senior Pythius. Tampaknya, kita harus membatalkan rencana kudeta itu ...," ujar Yuuratsu dengan wajah yang dipenuhi keputusasaan.
"Apa?! Jangan bercanda!! Kau bilang ini misi terakhirmu di kubu Dewa Magus!!! Kau tidak pernah bilang ini misi terakhirmu di dunia!!!" seru Jenderal Tertinggi Pythius. "Lagipula ... adikmu sedang menunggumu, bukan?! Kau harus bertahan!!! Kau ingin mengecewakan adikmu?!"
"Ya ... sampaikan juga maafku kepada adikku ...," ujar Yuuratsu. "Aku tidak bisa menepati janji kami .... Aku tidak bisa kembali dengan selamat ke desa kami ...."
"Bicara apa kau?! Ini hanya luka kecil!!!" ucap Jenderal Tertinggi Pythius sembari mengumpulkan energi kegelapan di tangan kanannya, kemudian memasukkannya ke dalam lubang luka di dada Yuuratsu. Bola kegelapan itu mulai bersinar pekat, melapisi luka Yuuratsu dengan cahaya hitamnya. "Dengan kekuatan Jenderal Tertinggiku, dengan Blessing of Diablo, kau pasti ...." Ucapan Jenderal Tertinggi Pythius terhenti begitu ia menatap luka Yuuratsu yang sama sekali tidak beregenerasi meski cahaya hitam dari Blessing of Diablo telah meredup.
Jenderal Tertinggi Pythius terperanjat. "Mustahil!!!Blessing of Diablo tidak bekerja?!"
"Lihat? Ini luka abadi, senior," ucap Yuuratsu sembari tersenyum miris. "Tidak akan bisa disembuhkan, bahkan oleh skill selevel Jenderal Tertinggi sekalipun."
"Hei ..., Senior Pythius .... Apa senior bisa mengabulkan permintaan terakhirku?"
"Tolong ... jaga ... Hideki, adikku ...."
Jenderal Tertinggi Pythius mengangguk pelan. "Baiklah, aku akan menjaga adikmu."
Yuuratsu tersenyum untuk terakhir kalinya. "Terima kasih ... senior ...."
Tepat setelah ucapan itu berakhir, Yuuratsu menutup kedua matanya untuk selama-lamanya. Nyawanya telah minggat dari tubuhnya. Namun, senyum penuh kelegaan dan rasa terima kasih masih terukir kuat di wajah tak bernyawanya.
Jenderal Tertinggi Pythius bangkit berdiri dari posisi berlututnya, kemudian tersenyum penuh kesedihan sembari menatap jasad Yuuratsu. "Selamat jalan ..., Jenderal Pertama Yuuratsu Avalion, Sang Kesatria Eternal Machina ...."
"Mungkin namamu akan terukir di sejarah bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai penjahat kejam, pembunuh yang lebih rendah daripada segalanya. Namun ..., kau adalah pahlawan yang sesungguhnya ...."
Sementara itu, di suatu desa, seorang anak tengah menatap ke luar jendela rumahnya dengan tatapan penuh harapan. Tampaknya, anak ini ditinggal sendirian dan sedang menunggu keluarganya pulang. Meski telah berhari-hari keluarganya tak pulang, penantiannya sama sekali tak memudar. Ia terus berjuang mempertahankan asanya agar tidak putus termakan oleh kekhawatiran dan ketakutan. Sembari menghela napas berat, anak itu berujar: "Kakak ... belum pulang juga, ya ...."
Ya ....
Anak itu adalah Hideki ....
__ADS_1
To be continued