Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 19: Gadis Pengendali Sihir Grand-Flame


__ADS_3

"Sial!!!" Gen menggebrak jeruji berbahan logam mightium yang mengurungnya dengan liar. Tatapan matanya dipenuhi oleh dendam. Pressure-bound telah lepas dari tubuhnya, akan tetapi kebencian terhadap Jenderal Vriltz masih mengikat hatinya. "Jenderal sialan itu!! Awas saja nanti!!" gerutunya sembari mengentak-entakkan kaki ke lantai.


"Sudahlah, marah-marah tidak akan mengubah apapun," sahut Yuto sembari mempertahankan wajah tanpa ekspresinya.


"Sial!! Seandainya saja ... kita bisa menggunakan sihir itu!!!" Gen menggerutu sekali lagi. Kepalan tangannya mengerat. Gigi-giginya bergemeletuk penuh kekesalan.


"Sihir yang dikatakan oleh ayah itu masih belum bisa kita kendalikan, kak. Selain mengakibatkan hilang kendali terhadap tubuh kita, juga bisa merusak tubuh secara perlahan. Segala sesuatu butuh proses. Bersabarlah sedikit." Adik kembar dari Gen itu mencoba menenangkan kakaknya.


"Yang terpenting sekarang adalah, kita harus mencari jalan untuk keluar dari sel penjara ini, tapi bagaimana caranya, ya? Jeruji, dinding, ventilasi dan lantai penjara terbuat dari logam mightium yang keras. Penyihir tingkat menengah saja tidak mampu menghancurkannya, apalagi kita yang hanya bermodalkan tangan kosong." Yuto menatap lurus ke arah jeruji mightium yang mengurungnya. Keningnya mengerut. Roda-roda gigi di benaknya mulai berputar, bekerja keras mencari solusi.


"Grand-Flame-Magic: Red Type: Ultra-Heat-Flamma!!!"


Setelah suara itu terdengar, mendadak api timbul di tubuh penjaga dari sel Yuto dan Gen. Api itu terus membesar, membakar tubuh yang dilapisi zirah itu, melalapnya hingga menjadi abu. Para penjaga lain pun panik dan mulai memasang sikap siaga.


"A-apa yang terjadi?!"


"Serangan!!! Penyusup!!! Ada penyusup!!!"


"Amankan semua sel!! Jaga semua tahanan!!!"


"Jangan sampai mereka kabur!! Jika hal itu sampai terjadi, Dewa Magus akan membunuh kita!!!"

__ADS_1


"He-hei. Apa yang terjadi?" Gen menatap bingung pada seluruh penjaga yang tampak sangat waspada dan abu yang tersisa dari penjaga yang terbakar tadi.


"Grand-Flame Magic: Blue Type: Sacred Flamma Burst!!!" Suara itu kembali terdengar. Suara yang feminim. Itu jelas suara seorang wanita.


Mendadak, api berwarna biru cerah membakar setiap jeruji sel yang mengurung para tahanan, menciptakan ledakan kecil yang mengakibatkan angin kencang bertiup, melubangi ventilasi dan jeruji mightium yang keras. Asap tebal memenuhi seluruh penjara, menghalangi pandangan semua orang. Sangat jelas bahwa yang melakukan semua ini bukanlah wanita biasa.


"Ku-kurang ajar!!! Para prajurit, terobos asap tebal itu!!! Jangan biarkan ada satupun tahanan yang kabur!! Bantu prajurit yang berjaga di bagian luar untuk menangkap seluruh tahanan!!! Jangan biarkan mereka kabur!!!" Sang kepala penjara berseru memberi perintah bertubi-tubi. Tanpa basa-basi, seluruh penjaga penjara segera melaksanakan perintah tersebut.


Gen dan Yuto pun berniat memanfaatkan situasi untuk melarikan diri, tapi lima tengkorak hidup yang berprofesi sebagai prajurit keburu mengepung mereka. Tombak setajam belati tergenggam di tangan kanan mereka.


"Jangan pergi ke mana-mana, penyusup," ucap salah seorang prajurit sembari menyeringai jahat. "Tanpa pedang, kalian sama saja dengan tikus."


"Sial ...." Gigi-gigi Yuto bergemeletuk penuh kekesalan. Mereka berdua telah terpojok. Pedang milik mereka telah direnggut. Kekuatan sihir mereka belum mampu untuk mereka kuasai. Melawan lima prajurit bersenjatakan tombak setajam belati dengan tangan kosong? Jangan bercanda. Itu sama saja dengan melompat ke arah kawanan singa yang kelaparan.


Suara yang feminim dan tegas itu kembali terdengar, kemudian mendadak api biru timbul di tubuh kelima prajurit tersebut.


"Arrgghh!!! Apa ini?!"


Wajah para prajurit mulai memancarkan kepanikan yang mendalam. Ketakutan akan kematian timbul di rongga mata mereka yang kosong dan hanya berisi setitik cahaya berwarna merah menyala. Hati mereka mulai ciut.


"Aaarrgghh!! Panas!!!"

__ADS_1


"SIALAN!!! SIALAN!!!"


"KI-KITA TIDAK BISA MATI DI SINI!!! KITA SUDAH BERSUMPAH KEPADA DEWA MAGUS UNTUK MENJAGA SELURUH TAHANAN!!!"


Tombak milik para prajurit terlepas dari genggaman. Kelima prajurit itu meracau semakin hebat ketika menyadari bahwa api biru tersebut mulai merayap ke sekujur tubuh mereka, menggerogoti tulang-tulang mereka yang keras. Mereka tampak bagaikan pendosa yang tengah disiksa oleh api neraka.


Perlahan, rasa kemenangan dan harapan mulai sirna dari hati para prajurit itu, disusul oleh lenyapnya cahaya merah di rongga mata yang menandakan kehidupan. Nyawa mereka telah direnggut dari tubuh tengkorak. Api biru tersebut segera padam setelah melalap habis seluruh zirah dan tulang dari prajurit-prajurit tersebut, menyisakan abu yang berserakan di lantai sel.


"Akhirnya aman juga. Waktunya penyelamatan." Sebuah suara mendadak terdengar dari balik tebalnya kabut asap. Jelas bahwa sumber dari suara yang feminim itu berada di pihak Gen dan Yuto.


"Hah?" Spontan Gen dan Yuto mengalihkan pandangan mereka ke arah datangnya suara tersebut. Tampak siluet seorang wanita tengah berjalan di tengah asap yang tebal. Ia menggenggam dua buah pedang panjang.


Siluet itu semakin mendekat, hingga akhirnya kumpulan asap yang tebal menyerah untuk menyembunyikan sosoknya dan menyibakkan wujud asli dari siluet wanita tersebut. Kini, sosok dari siluet tersebut tampak jelas. Seorang gadis berparas cantik dengan tatapan mata yang tajam dan tampak tegas. Sekujur tubuhnya dibalut oleh armor berwarna merah. Ia menggenggam sebilah pedang rapier berwarna merah darah di tangan kiri dan sebilah katana berwarna kebiruan di tangan kanan.


Ledakan terdengar sekali lagi, mengakibatkan angin kencang kembali bertiup. Tampaknya sedang terjadi pertarungan antara para tahanan yang berusaha melarikan diri dengan para prajurit Dewa Magus di luar sana. Asap tebal kembali memenuhi udara. Angin kencang meniup helai-helai rambut merah menyala milik gadis itu. Iris tajamnya yang kelabu menatap lurus ke arah Gen dan Yuto.



(Ilutrasi gadis tersebut)


"Ayo!!" Gadis itu memberi simbol tangan kepada Gen dan Yuto untuk mengikutinya.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2