
“True Power of Magician: Active!! Pain no Chikara Ga!!"
Gumpalan-gumpalan darah itu terserap kembali ke dalam tubuh Jenderal Vriltz. Seringai bengis terukir di wajahnya. "Saksikanlah ... kekuatanku yang sebenarnya ...."
"Jangan banyak omong!! Buktikan dengan kekuatan!! Courage Dragon!!" seru Gen sembari melancarkan serangan berbentuk naga api ke arah Jenderal Vriltz. Ledakan pun terjadi. Namun, setelah efek ledakan reda, tampak bahwa Jenderal Vriltz tidak terluka sedikitpun.
"Pride!!" seru Yuto sembari menyentuh tanah menggunakan telapak tangannya.
"Manipulasi tekanan!! Arah: atas, tingkatkan tekanan tujuh puluh lima kali lipat!!!" Tekanan milik Jenderal Vriltz berhasil menahan kekuatan gravitasi Pride.
"Kalau begitu, harus kugunakan yang ini!" ucap Yuto. Aura hitam yang dahsyat muncul dan menyelimuti tubuhnya. Bola mata perlambang dosa hawa nafsu bersinar. Kekuatan fisik, kecepatan, dan kekuatan magis Yuto seketika meningkat seratus kali lipat. Tanah yang diinjak oleh Yuto mulai retak dan berlubang, kemudian sebuah suara yang berat dan menggelegar terdengar. "Perkenalkan, mortal. Namaku adalah Lust, perwujudan dari dosa hawa nafsu, yang terkuat dari Seven Deadly Sins."
Secepat kilat, Yuto melesat ke arah Jenderal Vriltz dan mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang, kemudian menusukkannya ke jantung Jenderal Vriltz.
Anehnya, sang jenderal sama sekali tidak tampak kesakitan. Ia justru tersenyum licik. "Sama sekali tidak berdampak bagi tubuhku!!" serunya sembari melancarkan angin kencang yang nyaris membuat Yuto terlempar ke langit.
Melihat adiknya berada dalam bahaya, Gen pun segera menolongnya. "Courage Thruster!!!"
__ADS_1
"Terima kasih, kakak," ucap Yuto.
"Dia benar-benar berbahaya .... Jenderal ini lebih kuat dari yang kukira." Hina berucap dengan tatapan waspada.
"Fu fu fu, tentu saja. Aku termasuk tiga besar jenderal top di pasukan Dewa Magus. Jenderal terkuat ketiga, Sang Penguasa Tekanan Vriltz!!" ujar Jenderal Vriltz dengan penuh keangkuhan.
"Bagaimana bisa dia tidak merasakan sakit sama sekali?" ujar Gen keheranan.
"Hahahahahahahaha!!!" Jenderal Vriltz tertawa terbahak-bahak. Ia benar-benar dipenuhi kesombongan. "Pain no Chikara Ga, True Power of Magician milikku mampu mengubah rasa sakit menjadi kekuatan!! Mungkin, saat ini aku sudah sekuat dewa!!"
"Jangan senang dulu," ucap Yuto sembari menonaktifkan mode Lust-nya. Bola mata perlambang dosa iri hati yang terpasang di wajahnya bersinar cerah. "Envious akan mengakhiri kesombonganmu!! Copy teknik itu!!"
"A-Apa?! Gagal?!" Kedua mata Yuto membelalak.
"Fu fu fu, True Power of Magician milikku tak bisa ditiru." Jenderal Vriltz berujar sembari tertawa kecil.
"Hope!! Kabulkan impianku!! Aku ingin menjadi sama kuatnya dengan Jenderal Vriltz!! Kumohon!!" Gen memohon dengan sangat kepada Sang Harapan.
__ADS_1
"Mohon maaf. True Power of Magician milik Jenderal Vriltz tidak bisa ku-trace. Permohonan gagal dikabulkan." Sebuah suara terdengar dari dalam batin Gen, memutuskan harapannya.
"Sial!!" Gen meninju udara dengan kesal. "Sekarang, harapan benar-benar sudah lenyap."
"Tidak!! Harapan akan selalu ada!!" seru Hina. "Blue Armageddon!!!"
"Kau sama sekali tidak belajar dari pengalaman, ya," ucap Jenderal Vriltz sembari memutarbalikkan arah meteor-meteor biru yang bermunculan di langit, mengirim mereka ke luar angkasa.
"Sial!!" gerutu Hina sembari mengeluarkan pedang kembar miliknya. Ia mulai menyiapkan kuda-kuda berpedangnya.
"Percuma, Hina!! Serangan fisik takkan bekerja terhadapnya!!" peringat Yuto.
"Sial!!" gerutu Hina sembari menyarungkan kembali pedangnya.
"Kalau tidak bisa menggunakan serangan fisik, api abadi, maupun ledakan, akan kugunakan yang ini!!" Sebuah suara terdengar dari langit, membuat Gen, Yuto, dan Hina menoleh ke atas, diikuti oleh Jenderal Vriltz. Tampak seorang pemuda berambut ungu sebahu tengah melayang di udara.
"Machina Armageddon!!”
__ADS_1
To be continued