Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 39: Pengkhianatan dan Pengorbanan


__ADS_3

————————————————————————————————


Bacalah chapter ini sambil mendengarkan lagu sad favorit kalian. Nantinya feels yang didapat akan berlipat ganda.


————————————————————————————————


"Karena aku sudah menyerap semuanya."


Suara itu mengagetkan Gen, Yuto, dan Hinatsu. Yuuratsu melangkah maju ke depan dan menyeringai bengis, kemudian mendadak tubuh bagian kirinya berubah menjadi kepala Seven Deadly Sins. Tujuh sayap perlambangSeven Crests of Heaven terpasang di punggungnya. Lambang matahari khas Mesir Kuno berwarna hitam legam dan putih bersinar turut menghiasi punggungnya.


"K-Kau?! Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan itu?!" seru Yuto dengan nada gusar.


Yuuratsu tertawa terbahak-bahak. "HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! Tentu saja karena aku bukan di pihak kalian. Kekuatan kalian ada padaku karena aku menempelkanEnergy Absorber Machina Chip pada pergelangan tangan kalian.


"Jadi alasan kau menyelamatkan kami adalah-!!"


"Ya," sahut Yuuratsu sembari tersenyum bengis. "Untuk mendapatkan kekuatan kalian!!"


"Jadi semua aksi pahlawan yang kau lakukan selama ini palsu?!" Hinatsu berseru dengan penuh kemarahan.


"Tidak, nona. Aku sudah berhenti jadi pahlawan. Itu hanya akan menyiksa dirimu sendiri, dan sama sekali tidak berguna. Cahaya akan segera lenyap, dan digantikan oleh kegelapan yang abadi."


"Kau!!! B*j*ngan!!!" Gen berseru penuh kemarahan.


"Ya, ya. Terserah kau mau menjulukiku apa. B*j*ngan juga julukan yang cukup bagus," ujar Yuuratsu dengan wajah acuh, kemudian ia menyeringai bengis. "Sekarang, kuberi kalian kesempatan untuk memilih. Kalian ingin berhenti jadi pahlawan dan selamat, atau mati dalam kesia-siaan sebagai pahlawan yang tak berguna?"


"Kau bercanda?" ujar Hinatsu. "Tentu saja kami akan memilih yang kedua!!!"


"Kalau begitu, apa boleh buat."


Tepat setelah ucapan itu terlontar, sebuah tombak hitam legam melesat secepat kilat dan menembus jantung Hinatsu. Gen dan Yuto yang melihat itu pun terperanjat.


"O-Ohok!!!" Hinatsu mulai memuntahkan darah dari mulutnya. Ia jatuh tersungkur. Darah mengalir deras dari lubang luka di dadanya.


"Hi-Hinatsu!!!"


Dengan panik, Gen dan Yuto bergegas menghampiri Hinatsu yang tengah terluka parah, sementara Yuuratsu dan Jenderal Crallion menyeringai bengis.


"Be-Bertahanlah!!! A-Aku akan segera membawamu kembali ke desa Ragrius!!" seru Gen sembari membaringkan tubuh Hinatsu. Darah mulai membasahi kedua tangannya.


"Ti-Tidak ... Gen .... Larilah .... Dia bukan lawan yang sepadan bagimu ...."


"Tidak!! Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian!!" seru Gen dengan berlinang air mata. "Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu!!! Kau boleh menjulukiku bodoh, konyol, atau apapun itu, tapi jangan tinggalkan aku!!!"


"Aku tahu ... Gen ...," ujar Hinatsu sembari tersenyum. Darah mengalir semakin deras dari mulut dan luka fatal di dadanya. "Kau ... menyukaiku ... bukan?"


Gen terbelalak. "Ba-Bagaimana kau bisa mengetahuinya?!"


"Mudah," sahut Hinatsu. "Dari sikapmu dan raut wajahmu, aku sudah bisa tahu akan itu."


"La-Lalu? Apa balasanmu?"


"Aku ... juga ... menyukaimu ... Gen ...."


"Eh? Kau ...."


"Ya. Kau ... tidak salah dengar ..., Gen. Aku ... juga menyukaimu ...."


"Walaupun aku konyol? Walaupun aku bodoh, hiperaktif, lemah, dan tidak bisa mengendalikan kekuatanku?"


"Tentu ... saja ...." Hinatsu mengangguk pelan sembari tersenyum.


"Kurasa ... sudah waktunya bagi kita untuk berpisah, Gen ...."


"Ti-Tidak!!" seru Gen sembari berurai air mata. "Aku masih ingin membicarakan banyak hal denganmu!! Banyak!! Banyak sekali!! Jadi jangan pergi ...." Gen mulai menangis tersedu-sedu. "Jangan ... pergi!!"


"Percayalah, Gen .... Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti ...."

__ADS_1


"Kakak!! Ayo!! Kita harus cepat pergi!!" seru Yuto.


"Tapi ...." Gen memandang Hinatsu yang sudah berada di ambang kematian. Gadis itu mengangguk pelan.


"Pergilah .... Teruslah berjuang ... dan jangan pernah menyerah .... Wujudkanlah ... impian kita ...." Tepat setelah mengucapkan itu, Hinatsu menghembuskan napas terakhirnya.


Gen bangkit berdiri dan mengusap air matanya, kemudian tersenyum sembari menatap jasad Hinatsu. "Selamat ... tinggal ...."


"Wah ... wah .... Drama yang bagus ...," ujar Yuuratsu sembari bertepuk tangan.


"Wah!! Mengharukan sekali!! Rasanya aku akan menangis! Hahahaha!!!" seru Jenderal Crallion sembari tertawa mengejek.


"Kau!! Sialan!!" Gen berseru penuh kemarahan sembari berlari ke arah kedua bawahan Dewa Magus itu. Namun, lengan Yuto segera menghalangi Gen. "Jangan gegabah, kakak!! Kita tidak sepadan dengannya. Kekuatan kita sudah lenyap. Sekarang, kita harus cepat lari agar bisa selamat!!"


"Lari? Kalian mau lari ke mana? Negative Ring!!!"


Seketika, cincin hitam raksasa yang terbuat dari energi negatif mengelilingi Gen, Yuto, Yuuratsu, dan Jenderal Crallion, menghalangi Gen dan Yuto untuk melarikan diri.


"Sial!!! Kalau begini, lari pun percuma!!" gerutu Yuto.


Jenderal Crallion tersenyum bengis. "Bagaimana? Apa yang akan kalian lakukan? Kuberi kalian satu kesempatan lagi. Pilih, apakah kalian ingin mati secara mengenaskan seperti perempuan tadi atau selamat dan bergabung dengan kami?"


"Mungkin ... memang sudah tidak ada gunanya terus berjuang ...," batin Yuto. "Cahaya memang akan segera diselimuti oleh kegelapan. Mungkin, sebaiknya aku menyerah saja daripada mati sia-sia. Lagipula, terus bertarung tidak ada gunanya."


Yuto sudah bersiap untuk mengangkat tangan kirinya. Ya, hanya satu tangan sebab lengan kanannya sudah hancur dalam pertarungan melawan Jenderal Vriltz sebelumnya. Namun, mendadak wajah ayah angkatnya terlintas di benaknya. Kata-kata yang pernah terlontar dari mulut ayah angkat Yuto kembali mendatangi benaknya.


"Tetaplah teguh pada apa yang kau percayai, apapun resikonya dan sesulit apapun rintangan yang menghadang. Dan ingatlah, selalu ada harapan."


"Benar ...." Senyum penuh semangat mulai terukir di wajah Yuto."Masih ada harapan!! Aku tidak bisa menyerah sekarang!! Aku percaya ... kepada kekuatan keadilan!!!"


"Aku masih memiliki Death!! Masih ada jalan untuk menyelesaikan ini semua!!"


"Kakak, aku akan menggunakan Death Gate," ujar Yuto sebelum akhirnya melesat maju ke depan.


"Eh?! Jangan bilang ...." Gen terperanjat. Namun, belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Yuto sudah terlebih dulu melesat meninggalkannya.


"Death!!!" seru Yuto.


"Gunakan Death Gate!!" perintah Yuto.


"Apa tuan yakin?" tanya Death.


Yuto mengangguk. "Ya!! Aku sangat yakin!!!"


Sebuah gerbang dimensi hitam seukuran tubuh manusia pun muncul di dekat Yuto.


"Aku takkan membiarkanmu menyentuhku sedikit pun!!!" Yuuratsu segera melancarkan serangan Greed Snake yang segera memakan habis lengan kiri Yuto.


"Urgh!!!"


"Yuto!!!" Gen terperanjat.


"Sekarang bagaimana? Kau sudah tidak bisa mendorongku ke dalam gate itu!!" Yuuratsu berseru sembari tersenyum bengis.


"Biar aku tambahkan!!Satanic Lance!!!" Sebuah tombak panjang berwarna merah muda mendadak muncul dan langsung melesat secepat kilat, menembus perut Yuto.


"Uhuk!!!" Yuto mulai memuntahkan darah dari perutnya. Ia jatuh tersungkur.


"Yuto!!! Hentikan!!" seru Gen dengan wajah panik.


"Jangan khawatir, kakak." Yuto menyahut sembari menoleh ke arah Gen. "Ini ... sudah tugasku sebagai pejuang revolusioner ...."


"Aku takkan melepaskanmu!!" seru Yuto sembari melompat dan mendorong Yuuratsu beserta Jenderal Crallion ke arah Death Gate menggunakan tubuhnya.


"Bodoh!!" seru Jenderal Crallion. "Jika kau lakukan ini, kau juga bisa-"


"Ya, aku tahu!!" potong Yuto.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau melakukannya?!" ujar Yuuratsu.


Yuto tersenyum. "Karena aku percaya ... pada kekuatan keadilan!!!"


Tubuh Yuto, Yuuratsu, dan Jenderal Crallion telah memasuki Death Gate. Gerbang menuju kematian itu pun tertutup, kemudian lenyap tanpa jejak.


"YUTO!!!"


"Semuanya ...."


"Kakak ... Hinatsu ... ayah ... ibu ...."


"Selama ini, aku menganggap pertarungan sebagai sesuatu yang tidak berguna dan merepotkan. Hidup ini terlalu kejam dan merepotkan, dan aku menjalaninya dengan penuh kebencian. Itu juga menjadi alasan ... mengapa aku tidak pernah tersenyum ...."


"Tapi, sekarang ...."


"Aku telah mendapatkan alasanku untuk bertarung!!!"


"Kini aku menyadari kebodohanku ...."


"Sejak lahir ... kita sudah diberi impian, sebuah tujuan dan alasan untuk bertarung."


"Aku menyadari ... tidak ada satupun dari kita yang terlahir tanpa hati."


"Kita semua memiliki sesuatu yang berharga. Kenangan yang harus dijaga. Sesuatu yang harus dilindungi, bahkan sejak kita lahir."


"Hanya saja ... pada kasusku ..., hatiku belum aktif ketika aku lahir."


"Tapi ...."


"Ayah ...."


"Ibu ...."


"Kakak ...."


"Hinatsu ...."


"Dan semuanya ...."


"Semua yang mendukungku ... dan yang menyemangatiku ..., serta yang berada di dekatku."


"Kalian ... memberiku hati ...."


"Kalian memberiku alasan untuk terus hidup ...."


"Alasan untuk terus bertarung dan berjuang ...."


"Hidupku awalnya hampa dan membosankan, serta kupikir hidupku sama sekali tidak berguna ...."


"Namun, kini aku memiliki impian!!! Aku memiliki sebuah tujuan!!!"


"Seperti yang ayah bilang ...."


"Ayah pernah bilang padaku, untuk selalu berpegang teguh pada apa yang aku percayai."


"Aku telah memutuskannya ... ayah ...."


"Aku percaya kepada kekuatan keadilan ...."


"Karena itulah ... aku akan terus berjuang sampai akhir ...."


"Tanpa takut dan gentar, walau kematian menghadang sekalipun."


"Demi kakak, demi ayah, demi ibu, demi semuanya yang masih hidup dan telah tiada ... demi seluruh Multiverse Magusian .... Aku akan terus bertarung hingga titik darah penghabisan!!!"


"Semuanya ...."

__ADS_1


"Akhirnya ... aku bisa tersenyum ...."


To be continued


__ADS_2