
"Apa?! Jenderal Satu Yuuratsu Avalion tewas?!" Dewa Magus bangkit berdiri sembari menggebrak dudukan tangan di kursi takhtanya.
"Ya, Dewa Agung," sahut Jenderal Tertinggi Pythius. "Kebetulan, saya menemukan jasadnya dalam kondisi mengenaskan."
"Gempa tadi ... jangan-jangan ...," ucapan Jenderal Tertinggi Zard terputus. Ia tampak sangat panik.
"Ya, Jenderal Tertinggi Zard," sahut Jenderal Tertinggi Pythius. "Mungkin, itu adalah dampak dari kekuatan penyihir yang membunuh Jenderal Yuuratsu."
"Tapi, siapa?" ujar Dewa Magus. "Aku tahu bahwa ras penyihir memiliki kekuatan yang terkadang mampu melampaui nalar dan batasan, tapi selama aku hidup, aku tidak pernah mengetahui atau bertemu dengan penyihir sekuat itu."
"Saya memiliki jawabannya, Dewa Agung," sahut Jenderal Tertinggi Pythius. "Ketika berusaha menyembuhkan Jenderal Yuuratsu, saya merasakan energi yang amat besar dan menyengat."
"Energi itu .... Jangan-jangan ...." Untuk pertama kalinya, Dewa Magus sang pemilik multiverse yang perkasa tampak ketakutan dan panik. "CoAR?!"
"Ya ..., Core of All Realms," sahut Jenderal Tertinggi Pythius. "Sumber kekuatan mahabesar yang selama ini kita kira telah hilang, ternyata sekarang berada di tangan kelompok Penyihir Revolusioner, dan dilihat dari pancaran energinya yang teratur dan stabil ... tampaknya penyihir itu sudah menguasai kekuatan COAR sepenuhnya."
"Celaka!!!" Jenderal Tertinggi Zard mulai berkeringat dingin. "Kelompok Penyihir Revolusioner bisa menggunakan itu sebagai senjata yang tak terkalahkan!! Mereka akan membangkitkan perlawanan terhebat terhadap kita!!! Ini bisa menimbulkan bahaya besar terhadap keberlangsungan kekuasaan Dewa Magus di seluruh semesta!!!"
"Dewa Agung Magus, apa yang harus kami lakukan?" tanya Jenderal Tertinggi Pythius sembari membungkuk dengan penuh hormat, sementara Dewa Magus juga mulai berkeringat dingin, sama seperti Jenderal Tertinggi Zard. Ia terdiam seribu bahasa, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Kepanikan, ketakutan, dan kebingungan, semua itu tersirat di wajahnya.
Mendadak, kaca jendela di ruang takhta pecah berkeping-keping. Seorang kesatria berzirah kelabu dengan ketopong yang dihiasi tanduk iblis kembar melesat masuk ke dalam. Aura hitam dan emasnya menyeruak, memenuhi seluruh ruang takhta. Ia bergegas melipat sayap kembarnya yang seputih salju dan menatap semua penyihir di ruang takhta dengan tatapan yang dingin, seolah haus darah. Seluruh penyihir di sana pun segera waspada dan memasang kuda-kuda bertarung.
Mata kanan dari sang kesatria silver bersinar keemasan, sementara mata kirinya bersinar hitam pekat. Ya, kesatria tersebut adalah Gen Zamoto. Ia tengah berada dalam wujud Silverknight PosiNega Form.
"Waktunya telah tiba, Dewa Agung Magus," ucapnya dengan suara yang menggema ke segala penjuru."Kau akan membayar atas tiranimu yang keji itu, dan atas semua dosa yang telah kau perbuat. Aku datang kemari sebagai sang malaikat sekaligus sang iblis, untuk menghukum dirimu."
"Sudah datang, ya," ucap Dewa Magus sembari menyeringai bengis, meski sebenarnya hatinya kecut. "Kalau begitu, izinkan aku memberimu sambutan yang meriah, wahai pejuang revolusioner yang perkasa!!"
Lingkaran-lingkaran sihir berwarna hitam dalam jumlah yang sangat banyak mulai mengelilingi tubuh Dewa Magus. Tubuh bagian kanannya mulai berubah warna menjadi putih kebiruan dengan mata yang bersinar keemasan.
"Dewa Agung mengaktifkan kekuatan Core of System-Nya?!" Jenderal Tertinggi Pythius terperanjat.
"Tampaknya, mereka berdua tidak main-main ...," ujar Jenderal Tertinggi Zard.
"Seven Deadly Sins, seranglah dia," perintah Gen.
__ADS_1
Secepat kilat, tujuh roh perlambang tujuh dosa besar muncul di belakang Gen dan melesat ke arah Dewa Magus. Namun, Dewa Magus berhasil menangkisnya menggunakan lingkaran sihir hitam miliknya.
"Lumayan, tapi sayangnya, pertunjukan ini harus segera berakhir," ucap Dewa Magus sembari tersenyum sombong. Ia kini tak lagi takut terhadap Gen karena kekuatan yang dikeluarkan Gen tadi sangat lemah baginya.
"Auranya saja yang dahsyat, ternyata dia lebih lemah daripada semut!!!" batin Dewa Magus.
"Aku baru mengeluarkan 1/20 dari kekuatanku, lho," ujar Gen.
Namun, Dewa Magus yang hanya menganggap itu sebagai gertakan justru semakin angkuh. "Aku ingin melihat kekuatan penuhmu, tapi sayangnya hidupmu harus berakhir di sini," ujarnya sembari mengangkat tangan kanannya, kemudian menjentikkan jarinya. "Delete Entity."
Hening ....
Hening ....
Tidak ada yang terjadi. Gen tidak dihapuskan dari seluruh semesta. Pemuda berzirah kelabu itu masih berdiri di tempatnya. Seluruh penyihir yang berada di ruang takhta pun terperanjat.
"Mustahil!!! Kekuatan CoS tidak bekerja?!" Jenderal Tertinggi Zard terperanjat.
"Di-Dia .... Dia monster!!! Dia monster!!!" seru Jenderal Tertinggi Pythius.
"Tentu saja," sahut Gen dengan nada dingin. "Kekuatanmu yang sekarang hanyalah seperempat dari kekuatanmu yang sesungguhnya. Aku sudah menghancurkan ketiga Energy Core Pillar yang kau simpan di kota Dozar, Suizar, dan Fuzar."
"Be-Berarti ... kau berhasil mengalahkan 25 klon dari Jenderal Tertinggi Pythius dan Jenderal Tertinggi Zard?!" Sang penjaga pintu ruang takhta tampak terkejut.
"Ya," sahut Gen.
"Mustahil .... Lalu, mengapa tidak ada ada yang melapor kepada kami?!" ujar Jenderal Tertinggi Zard tak percaya.
"Wajar saja," sahut Gen dengan tatapan sedingin es. "Soalnya, aku sudah membakar habis ketiga kota itu bersama penghuninya. Tidak akan ada yang bisa melapor ke istana ini."
Dengan kecepatan yang melebihi cahaya, Gen mengulurkan lengan kanannya dan mencengkeram kerah baju khas Dewa Agung yang dikenakan Dewa Magus, kemudian mengangkat tubuh dewa penguasa itu. Kedua matanya menatap Dewa Magus dengan tajam, tampak beringas dan sangar."Kita berada di level yang berbeda sekarang!!! Kini, aku lebih kuat darimu, dewa sampah!!!"
"Mustahil!!! Dia bisa mengangkat tubuh Dewa Magus dengan mudah, bahkan ketika berada di wujud Omni-Conqueror?!" Jenderal Tertinggi Zard kembali terperanjat.
Jenderal Tertinggi Pythius semakin panik. "Mo-Monster!!! Dia monster!!!"
__ADS_1
"To-Tolong ...," ucap Dewa Magus dengan terbata-bata karena tercekik. "Tolong ampuni aku .... Jangan bunuh aku .... Jangan hancurkan imortalitasku ...."
"Sudah terlambat untuk menyesal, Dewa Magus," sahut Gen dengan nada dingin sembari memunculkan sebuah bola energi berwarna emas dan hitam di tangan kirinya. "Kau akan membayar atas semua yang telah kau perbuat."
"Absorb and punish the sinful soul as he deserves." Gen menempelkan bola energi itu ke dada Dewa Magus. "Absorb Life and Destroy Immortality."
"Aaaaaaarrrgghhh!!!" Dewa Magus mulai meraung kesakitan. Dadanya diselimuti sinar hitam dan emas yang terang. Seluruh tubuhnya bertransformasi menjadi debu-debu hitam, kemudian terserap ke dalam bola energi.
"Di-Dia ... membunuh Dewa Magus?"
"Mustahil ...."
"Giliran kalian," ujar Gen sembari berpaling ke arah para bawahan Dewa Magus.
"Tidak semudah itu!!" seru Jenderal Tertinggi Zard sembari melesat secepat kilat ke arah Gen, bersiap menebas pemuda itu. Namun, Gen bergegas mengeluarkan dorongan aura yang seketika mementalkan Jenderal Tertinggi Zard hingga menabrak tubuh Jenderal Tertinggi Pythius dan membawanya menembus tembok ruang takhta. Jenderal Tertinggi Zard terjatuh ke bagian dalam kota, dekat dengan gerbang dan tembok pelindung, sementara Jenderal Tertinggi Pythius terlempar melewati pagar kota.
"Delete Terrain: Rainzar Town. Delete Entities: Magus Army," ucap Gen sembari menjentikkan jarinya.
Sebelum semua penghuni kota Rainzar menyadarinya, mereka telah hilang ditelan oleh kebinasaan, terhapuskan dari seluruh semesta. Gen melayang turun ke lantai dasar yang kini hanya menyisakan lapisan pasir, kemudian membentangkan sayap putih kembarnya dan terbang ke angkasa kota Rainzar yang kelabu dan gelap.
Jenderal Tertinggi Pythius yang terlempar ke luar kota Rainzar dan tengah berusaha untuk bangkit berdiri menyaksikan dengan kedua mata kepalanya sendiri peristiwa lenyapnya kota Rainzar. Kedua matanya membelalak lebar. Ditambah lagi, sosok bersayap putih tampak menembus lapisan awan kelam di tempat yang tadinya merupakan kota Rainzar, terbang membelah udara, melintasi angkasa malam yang gelap.
"Ti ... tidak mungkin ...."
Namun, pandangan jenderal itu segera teralihkan oleh sebuah cahaya terang di tempat yang tadinya merupakan Istana Magus. Jenderal Tertinggi Pythius menghampiri cahaya terang itu, dan ternyata itu adalah sebuah bola cahaya berwarna putih bersih. Ketika didekati, bola itu menjelma menjadi sebuah pilar cahaya yang menjulang tinggi. Sang jenderal mencoba menyentuh pilar itu, dan segera menarik tangannya karena merasakan pancaran energi yang amat besar dan menyengat.
"I-Ini .... Ini inti kekuatan Core of System. Kukira inti kekuatan ini ikut terserap bersama dengan energi kehidupan Dewa Magus," ucap Jenderal Tertinggi Pythius.
Kedua mata Jenderal Tertinggi Pythius membelalak. "Berarti, aku bisa menjadi sama kuatnya dengan kesatria berzirah kelabu itu?"
"Tapi, akan kugunakan untuk apa inti kekuatan ini?" Sang jenderal mulai bimbang. "Apakah untuk membalaskan dendam Dewa Magus? Dewa Magus telah menyelamatkan diriku, tapi aku tidak bisa mengingkari janjiku dengan Jenderal Satu Yuuratsu Avalion. Dia akan menghantuiku sampai ke dalam mimpiku."
Meski sempat diterjang ombak kebimbangan, Jenderal Pythius akhirnya tetap memegang teguh janjinya dengan Yuuratsu. Ia menggenggam erat pilar itu, dan seketika tubuhnya seakan disengat oleh listrik sebesar 1500 volt, membuatnya menjerit kesakitan. Namun, akhirnya ia berhasil menguasai rasa sakit itu dan rasa tersengat listrik yang menyiksanya lenyap. Pilar cahaya itu perlahan terserap ke dalam tubuhnya. Kedua mata Jenderal Tertinggi Pythius bersinar keemasan, menandakan masuknya kekuatan mahabesar ke dalam tubuhnya. Jenderal itu mengepalkan tangannya erat-erat, tampak dipenuhi oleh tekad.
"Aku akan ... membuat impian Jenderal Yuuratsu menjadi kenyataan!! Apabila kesatria itu berada di pihak Penyihir Revolusioner, akan kubantu dia. Namun, jika ia berniat membangun tirani baru dan melakukan penghancuran, aku akan menentangnya dan menempati posisi pahlawan untuknya."
__ADS_1
To be continued