Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 29: Terkejar


__ADS_3

"Apa kau bisa menggunakan kekuatan positif dari CoAR sekarang?"


"Ba-Baik." Gen mencoba berkonsentrasi dan memusatkan seluruh energi yang mengalir di dalam tubuhnya. Namun, tampaknya itu sia-sia. Seven Crests of Heaven sama sekali tidak merespons panggilan Gen. Tidak terjadi perubahan sedikitpun pada tubuh Gen.


"Apa mereka tidak merespons?"


"Ya, mereka sama sekali tidak menjawab panggilanku."


"Kalau begitu, apa boleh buat. Hadapi mereka dengan menggunakan pedangmu!!" Hina menatap naga-naga tengkorak yang tengah menukik itu. Jarak antara mereka dengan dirinya semakin memendek. Ia segera mengarahkan tangan kanannya ke naga-naga tersebut. "Grand-Flame-Magic: Blue Type: Eternity Flame!!"


Seketika, api biru pekat membakar habis sebagian besar dari pasukan naga tengkorak itu. Namun, naga-naga tengkorak yang lain terus berdatangan. Jarak antara mereka dengan dirinya terus memendek, dan kini pasukan naga tengkorak itu berada tepat di hadapannya. Kepakan sayap dari naga-naga itu menciptakan angin kencang, berusaha mencabut pohon-pohon dari akarnya. Namun, pepohonan yang rimbun dan hijau dengan gigih mempertahankan akar mereka agar tidak tercabut. Bunga-bunga yang tadinya indah dan tertata rapi beterbangan dan berserakan di mana-mana. Mahkota bunga mereka bertebaran. Bahkan, Gen dan Hina nyaris terlempar.


Beberapa saat kemudian, angin pun mereda. Sosok yang familiar bagi Gen tampak tengah menunggangi naga tengkorak yang berada di posisi terdepan. Satu-satunya sosok yang pernah mengalahkan Gen dan Yuto.


"Ka-Kau ...." Kedua mata Gen membelalak lebar. "Jenderal Vriltz?!"


"Seorang jenderal, huh?" Hina tersenyum penuh semangat. "Sebuah kehormatan bagiku, untuk bisa bertatap muka dengan salah satu dari 20 jenderal yang perkasa."


"Ya, dan kali ini kupastikan kalian akan benar-benar kuhabisi," sahut Jenderal Vriltz dengan wajah tanpa ekspresi.


"Hei, sombong sekali kau," ujar Hina sembari mengarahkan telapak tangannya ke Jenderal Vriltz. "Grand-Flame-Magic. Type: Blue. Eternity Flame!!!"


Api biru yang pekat mulai membakar kaki Jenderal Vriltz, perlahan merambat naik ke pinggangnya. Namun, Jenderal Vriltz mampu memadamkan api itu hanya dengan mengibaskan tangan.


"Mu-Mustahil!! Dia bisa memadamkan Eternity Flame?!" Kedua mata Yuto membelalak semakin lebar.

__ADS_1


Api semangat berkobar semakin hebat di hati Hina. Senyum penuh semangatnya semakin mengembang. "Hmph, seperti yang kuharapkan dari seorang jenderal," ucapnya dengan nada puas.


"Unique Magic-"


"Blue Fireball!!!" Belum selesai Jenderal Vriltz merapal mantra, Hina telah lebih dulu menyerangnya menggunakan sebuah bola api biru berukuran besar. Dengan sigap, Jenderal Vriltz membengkokkan tubuhnya ke samping dan menghindari bola api itu. Bola api tersebut menabrak pepohonan yang rimbun dan mengakibatkan ledakan yang cukup hebat, menumbangkan beberapa pohon.


"Lumayan," ujar Jenderal Vriltz sembari menatap kawah yang diciptakan oleh bola api biru milik Hina.


"Hehe, kekuatanmu memang jauh lebih besar, tapi kecepatanku jauh lebih tinggi!!" Hina berucap dengan bangga sembari menyeringai.


"Benarkah?" Jenderal Vriltz berujar dengan tatapan meremehkan sembari mengangkat kepalanya. Ia benar-benar dipenuhi oleh keangkuhan.


"Oh, kau meragukanku? Blue Armageddon!!"


"He-Hei, apa kau berniat menghancurkan penginapan in-"


"Jangan khawatir, anak muda. Atau sebaiknya kupanggil Tuan Gen?" Belum selesai Gen berucap, sebuah suara dari dalam benaknya telah memotong ucapannya. Mendadak, kubah berwarna keemasan melingkupi semua yang ada di sekitar, kecuali pasukan Dewa Magus.


"Tuan bisa tenang sekarang. Perisai Hope sangat sulit untuk dihancurkan karena terbuat dari logam Hope yang seribu kali lebih kuat dari mightium."


Perlahan, senyum terukir di wajah Gen. "Akhirnya kalian merespons panggilanku juga, Seven Crests of Heaven."


Meteor-meteor biru itu menghantam permukaan tanah, mengakibatkan ledakan beruntun yang dahsyat. Asap hitam membubung tinggi dan angin kencang kembali bertiup. Beberapa saat kemudian, efek ledakan reda. Seluruh pasukan Dewa Magus telah hancur menjadi abu, kecuali Jenderal Vriltz. Ia masih berdiri tegap di atas punggung naga tengkorak yang ia tunggangi, sama sekali tak terluka. Hanya sebuah goresan kecil di pipinya.


"Mu-Mustahil!!" Gen terperanjat, sementara Hina justru semakin bersemangat.

__ADS_1


"Lumayan. Hebat, kau berhasil melukaiku," ucap Jenderal Vriltz sembari mengusap darah yang menetes dari luka goresan di pipinya. "Jadi inilah rasa sakit. Sudah lama aku tidak merasakannya."


(TN: Jadi keinget 'So this is pain'-nya Ainz-sama :v)


"Mu-Mustahil!!" Kedua mata Gen membelalak lebar. "Apa dia monster?!"


"Tidak, dia bukan monster," sahut Hina. "Dia adalah penyihir, sama seperti kita. Itu adalah kekuatan yang sebenarnya dari ras penyihir, kekuatan yang melampaui batas dan luar biasa besar!!!"


"Giliranku!!" Jenderal Vriltz merambatkan sebuah tekanan tinggi di udara. Namun, Gen berhasil menahan tekanan itu menggunakan Hope Shield.


"He-Hei!! Apa yang terjadi?"


Kedua pemuda-pemudi itu segera menoleh ke arah datangnya suara. Tampak seorang pemuda berambut hitam legam tengah berlari ke arah mereka. Ya, dia adalah Yuto.


"Kita diserang. Apa kau bisa menggunakan kekuatan negatif dari CoAR-mu, Yuto?"


"Akan kucoba," sahut Yuto sembari berkonsentrasi dan memusatkan seluruh energinya.


"Cepatlah, Yuto!! Tekanan ini terlalu tinggi!! Perisai Hope takkan bertahan lama!!" seru Gen.


Yuto kembali membuka matanya dan mendapati dirinya tengah berada di sebuah ruang hitam yang gelap.


"Ada apa, bocah?!"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2