
"Jadi begitu ...," ujar Hinatsu sembari memunculkan sebuah bola api di atas telapak tangannya. "Kalau begitu, kita harus menyadarkannya!!" lanjutnya sembari melemparkan bola api itu ke arah Yuto.
Namun, dengan cepat sebuah mulut khas monster dengan gigi-gigi tajam bergerigi muncul di telapak tangan Yuto dan segera memakan bola api itu. Tampak salah satu dari ketujuh bola mata yang beriris ungu memancarkan cahaya berwarna ungu gelap. Yuto tersenyum sembari menjilat bibirnya. Cahaya yang dipancarkan oleh bola mata ungu itu kini meredup. "Bola api yang cukup enak, nona. Buatkan lagi,” ucapnya dengan suara berat dan menggelegar.
"Teknik itu!!" Seketika, keempat orang yang berada di ruang makan tersebut terperanjat. "Gluttony?!"
"Benar," sahut Yuto dengan suara berat dan menggema. "Kami adalah tujuh roh dosa besar, penguasa dunia bawah. Tujuh bola mata yang kalian lihat di sebagian wajah inangku saat ini adalah perwakilan dari kami, tujuh dosa besar.Wrath, Lust, Gluttony, Greed, Laziness, Envy, dan Pride.”
"Sial ... lawan kita kali ini cukup kuat ...," gerutu Hinatsu. "Tapi, masa bodoh dengan hal itu!!Grand-Flame-Magic. Type: Blue. Eternity Flame!!"
Seketika, api berwarna biru pekat membakar kedua kaki Yuto, perlahan merambat naik hingga menyelimuti seluruh tubuhnya. Namun, sama sekali tidak terlihat ketakutan di wajah Yuto. Ia malah tersenyum.
"Hina!! Apa kau ingin membunuh adikku?!" protes Gen.
"Tenang saja," sahut Hinatsu. "Seven Deadly Sins tidak mungkin kalah hanya oleh api biru seperti ini."
__ADS_1
Benar saja. Tak lama kemudian, datang seekor makhluk ungu raksasa yang segera melahap habis api biru milik Hinatsu dan memuntahkan Yuto, kemudian pergi melalui lubang dimensi.
"Sudah kuduga," ucap Hinatsu sembari tersenyum bersemangat. "Padahal dia baru menggunakan Gluttony. Seven Deadly Sins memang luar biasa."
"Jangan memujinya, bodoh!! Dengan begini, sudah jelas bahwa kita tidak akan bisa menang darinya!!" Sang pemilik penginapan menimpali. Tubuhnya yang gemuk dan pendek gemetar ketakutan.
"Tidak, kita pasti bisa menang!!" Hinatsu menarik keluar pedang kembarnya dari dalam sarung pedang. Kedua pedang itu segera terbakar oleh api berwarna merah dan biru. "Kita akan terus berusaha untuk mengalahkannya, apapun yang terjadi!!" Wanita berambut kemerahan itu melesat secepat kilat ke arah Yuto. Namun, Yuto hanya memasang senyum licik di wajahnya.
"Laziness."
"A-Apa ini?!"
"Sial!! Tubuhku!! Tubuhku tidak bisa bergerak!!"
Yuto terus mempertahankan senyum bengisnya, kemudian ia berucap: "Pride."
__ADS_1
Seketika, lingkaran sihir berwarna putih bersih menyelimuti seluruh lantai ruang makan, kemudian seluruh orang yang ada di sana — pengecualian bagi Yuto — merasakan tekanan hebat yang memaksa mereka untuk berlutut. Tubuh mereka ditarik ke pusat bumi. Dengan susah payah, mereka berempat berusaha untuk bangkit berdiri.
"Manipulasi gravitasi dan kelumpuhan ... ini memang benar-benar kekuatan dari Pride dan Laziness!!" Hinatsu tersenyum bersemangat meski seluruh tubuhnya dibanjiri oleh peluh.
"Sekarang, sudah jelas bahwa kita tidak akan bisa menang darinya," ucap sang dokter dengan tatapan dan nada yang dipenuhi keputusasaan.
"Bodoh!! Kita tidak bisa menyerah sekarang!!" seru Gen.
Mendadak efek sihir Pride lenyap, kemudian cahaya putih bersih menyelimuti sekujur tubuh Gen, membuat seluruh orang yang ada di sana terkejut dan terpesona. Tujuh pasang sayap dengan warna merah darah, biru, merah muda, ungu, keemasan, putih bersih, dan hijau kini terpasang di punggungnya. Melihat itu, Yuto berdecak kesal.
"Kau benar-benar menyebalkan!! Kau selalu ikut campur dalam urusanku ..."
"Seven Crests of Heaven!!!"
To be continued
__ADS_1