Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 22: Obrolan Singkat di Tengah Padang Pasir


__ADS_3

Sang Surya telah tenggelam, hilang tanpa jejak, dilalap oleh cakrawala. Langit malam yang cerah dan berwarna biru gelap menggantikan langit biru cerah dan udara dingin yang menusuk menggantikan panas terik yang menyengat kulit. Tak lupa Sang Rembulan yang senantiasa menerangi langit malam dengan ditemani oleh bintang-bintang beraneka warna yang setia.


Sekilas cahaya timbul di ujung cakrawala, bergerak mendekat. Semakin lama, sosoknya semakin jelas. Itu adalah sosok tiga orang penyihir. Dua pemuda dan satu wanita. Sang wanitalah sumber dari kilasan cahaya tadi. Tampak api merah yang berkobar menyala di atas telapak tangannya.


Salah seorang pemuda yang memiliki rambut keemasan tampak sama sekali tak nyaman dengan hawa yang dingin menusuk pada malam ini. Sekujur tubuhnya menggigil tanpa henti dan gigi-giginya yang putih bersih terus bergemeretak. Sedari tadi, ia terus mengoceh dan menggerutu, membuat kedua rekan seperjalanannya merasa risih.


"Sial!! Dingin sekali, sih!!" Pemuda itu berucap sembari memeluk tubuhnya yang menggigil tanpa henti.


"Apa boleh buat. Ini, 'kan, gurun. Ketika malam tiba, tentu perbedaan suhunya akan lebih kontras dengan di daerah tropis," sahut sang pemuda berambut hitam legam.


Sang wanita mulai memasang tatapan yang terlihat menakutkan. Api kecil yang menyala di telapak tangannya mulai membesar dan berkobar semakin kencang, bagai api lilin yang ditiup oleh angin kencang. "Hei, Gen. Tampaknya kau sangat kedinginan. Bagaimana kalau aku membantu menghangatkan tubuhmu?" Wanita itu berucap dengan tatapan mengintimidasi. Akibatnya, tak hanya pemuda berambut keemasan, bahkan sang pemuda berambut hitam legam juga turut berkeringat dingin.


"B-Baik, Hinatsu!! Aku akan diam!!" Gen, pemuda berambut keemasan itu, segera berseru demi keselamatan nyawanya, tepat setelah menenggak ludahnya sendiri akibat ngeri.

__ADS_1


"Bagus ...." Wanita bernama Hinatsu itu tersenyum puas sembari meredupkan nyala api yang berada di atas telapak tangannya, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Tatapan intimidasi dan aura membunuh yang pekat telah lenyap dari sekitarnya, menyisakan udara malam yang dingin menusuk. "Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan."


Kedua pemuda itu menghela napas lega. "Nyaris saja ...," bisik Gen. "Hinatsu tadi menyeramkan, ya, Yuto."


"Ya. Jika kau tidak meminta maaf tadi, pasti sekarang kita sudah jadi daging panggang," sahut Yuto, sang pemuda berambut hitam legam. Sungguh pemandangan yang jarang, menyaksikan Yuto yang selalu berwajah tanpa ekspresi berkeringat dingin dengan rasa takut yang amat sangat terpampang di wajahnya.


"Wanita memang mengerikan ...."


"Apa tadi ada yang bilang aku menyeramkan?" Hinatsu melirik ke belakang dengan tatapan mata yang amat menakutkan serta aura membunuh yang pekat. Itu membuat Gen dan Yuto kembali berkeringat dingin.


"Ah, ya. Gurun ini sangat menyeramkan ketika malam tiba. Suasananya sangat mencekam, terasa seperti akan muncul hantu!! Kita sedang membicarakan itu tadi," sahut Yuto.


"Hmm ...." Untuk beberapa saat, Hinatsu mempertahankan tatapan mengintimidasi dan aura menakutkannya, membuat Yuto dan Gen sempat berpikir bahwa inilah akhir dari riwayat hidup mereka. Namun, beberapa saat kemudian, tatapan mengerikan itu berganti menjadi senyuman yang lembut. "Kalian ini seperti anak kecil saja. Tenang saja, aku akan melindungi kalian. Ayo lanjutkan perjalanan kita."

__ADS_1


Gen dan Yuto kembali menghela napas lega usai melalui situasi yang menentukan hidup atau mati tersebut.


"Hampir saja ...."


"Ya ...."


Sepintas cahaya tampak di cakrawala yang gelap. Hinatsu mempercepat langkahnya, diikuti oleh Gen dan Yuto. Sebuah tembok kelabu besar tampak di kejauhan, semakin lama semakin jelas.


"Yosh!! Kita hampir sampai!!" Hinatsu berseru dengan nada bersemangat sembari terus mempercepat langkahnya. "Ayo!!"


Tembok kelabu itu semakin jelas dan akhirnya wujud aslinya tampak dengan jelas. Itu adalah tembok batu raksasa yang melingkari sebuah desa. Tampak dua orang penjaga berzirah tengah berdiri mengapit gerbang desa.


"Kita sudah sampai," ucap Hinatsu. "Ini adalah desa tempatku lahir dan dibesarkan, Desa Ragrius ...."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2