
"Berarti, sekarang jabatan Multiversal God kembali kosong, dan hanya dapat diisi kembali oleh satu penyihir?!" Keempat mata milik Gen dan Yuto membelalak bersamaan.
"Ini kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan!! Takkan kuserahkan kepada siapapun!!!"
"Kau tak pantas menjadi seorang Multiversal God. Lebih baik serahkan saja jabatan itu kepadaku," ucap Yuto.
"Jangan harap!!" ujar Gen dengan tegas.
Kerutan mulai muncul di dahi Yuto. Tampaknya ia sudah mulai kesal.
"Baiklah. Kalau begitu, hanya ada satu jalan," ucapnya sembari menarik pedang miliknya yang tersarung di punggung. Sarung pedang miliknya bergesekan dengan mata pedang, menciptakan suara desingan logam yang cukup keras. "Yaitu ... pertarungan ...."
Gen turut menarik pedang miliknya yang ia sarungkan di pinggul. Mata beriris keemasan miliknya menatap tajam kepada Yuto.
"Baiklah ... mari kita mulai ...."
Yuto menyabetkan pedangnya secara vertikal ke arah Gen. Dengan mudah, Gen berhasil menghindari serangan tersebut. Serangan Yuto menyayat dinding antar dimensi dan menciptakan celah dimensi.
Gen melesat dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari cahaya, kemudian ia mengayunkan pedangnya ke leher Yuto. Dengan sigap, Yuto menahan serangan tersebut dengan pedang miliknya. Pedang mereka beradu, menciptakan suara gesekan yang menggetarkan seluruh semesta.
__ADS_1
"Kau keras kepala!!" seru Yuto sembari terus beradu pedang.
"Aku takkan menyerahkan gelar itu kepada siapapun!! Akulah yang pantas untuk menjadi Multiversal God selanjutnya!!" seru Gen.
"Menyerahlah!!!" seru Yuto sembari melompat mundur sejauh beberapa meter.
"Kau yang harusnya menyerah!! Aku lebih kuat darimu, Yuto!!!" balas Gen sembari turut melompat mundur.
"Jangan memaksaku menggunakan mode itu, kakak!!!" seru Yuto sembari kembali mengayunkan pedangnya ke arah Gen.
"Gunakan saja, aku tidak takut!!!" balas Gen sembari turut mengayunkan pedangnya ke arah adiknya itu. "Aku juga akan menggunakan wujud PosiNega!!!"
Kedua senjata mereka bertubrukan sekali lagi, menyebabkan galaksi kembali bergetar.
"Aku tidak takut!!!" balas Gen sembari turut mengeluarkan aura hitam bercampur emasnya. Aura mereka berdua segera menutupi seluruh tata surya, menghalangi cahaya matahari.
——————————————————————————
Desa Zen, Pulau Zerra, Planet Aojin, Semesta Magus.
__ADS_1
Seluruh penduduk desa tengah panik dan berlarian ke luar rumah karena gempa tadi. Kepanikan mereka bertambah ketika mendadak suasana sekitar menjadi gelap. Salah seorang warga desa bergegas menunjuk ke langit. Tampak langit yang biru cerah berubah menjadi langit hitam bercampur warna emas.
"Aaaaarrrgghh!!! Ini sudah berakhir!!!"
"Sial .... Padahal akhirnya kita bisa lolos dari tirani Dewa Magus dan Lucifer Gen .... Apakah hidup kita akan segera berakhir?!"
"Kiamat!!! Kiamaaaattt!!!"
"Kestabilan semesta ini sepertinya sudah musnah karena jabatan dewa penguasa semesta sudah lama kosong!! Ini kiamaaaattt!!!"
Para penduduk desa mulai meracau hebat dan berlutut dengan wajah panik, bahkan ada di antara mereka yang sampai mencakar-cakar wajah sendiri.
"Su-Suamiku. Bukankah ini kekuatan ...." Ibu angkat dari Gen dan Yuto mencoba membuka pembicaraan.
"Ya," sahut sang ayah angkat sembari menatap lurus ke arah langit yang gelap. "Ini kekuatan dari Core of All Realms."
"Ta-Tapi, bukankah Gen dan Yuto sudah tewas?" ujar sang ibu angkat.
"Mungkin mereka telah bangkit dari kematian," sahut sang ayah angkat. "Tapi, aku tidak tahu di pihak mana kedua anak angkat kita itu berada, jadi aku tidak tahu ini kabar baik atau kabar buruk."
__ADS_1
Tak lama kemudian, muncul siluet dua orang pemuda yang tengah bertarung di langit. Ayah angkat dari Gen dan Yuto yang melihat itu tersenyum. "Lihat. Seperti dugaanku, bukan?" ucapnya kepada istrinya.
To be continued