Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 35: Kekuatan Asli CoAR yang Tidak Tertandingi


__ADS_3

"Sial .... Mereka sudah mengaktifkan True Power dari CoAR!! Ini menjadi semakin berbahaya!!" Jenderal Vriltz mulai panik.


Gen dan Yuto mulai menatap Jenderal Vriltz. Mulut mereka yang tadinya terkatup mulai terbuka. Anehnya, suara yang keluar justru terdengar berat dan nyaring.


"Dengarkan aku, mortal."


"Ja-Jangan panggil aku mortal, bocah-bocah payah!! Jangan sok hanya karena wujud kalian sudah berubah!! Kekuatan kalian takkan bertambah hanya karena itu!! Kalian masih bocah-bocah yang lemah!!" Jenderal Vriltz memberanikan diri untuk berseru dengan lantang, meski sebenarnya hatinya kecut.


"Kami bukan bocah." Suara yang berat dan nyaring itu kembali terdengar. "Kami adalah****Seven Deadly Sins dan Seven Crests of Heaven, para penguasa dunia atas dan dunia bawah."


"Ja-Jangan pura-pura, kalian!! Aku adalah yang terkuat ketiga di antara dua puluh jenderal!! Aku takkan kalah bertarung dengan kalian!!" seru Jenderal Vriltz dengan terbata-bata.


"Ya!! Teruslah takut!! Rasa takutmu memberiku kekuatan!!"


"K-Kau ... Greed?!" Keringat dingin mulai membanjiri tubuh Jenderal Vriltz.


"**Fear-mu telah kuserap. Dia sekarang jadi milikku. Makan dia, **Fear!! Buatlah dia merasakan mimpi buruk yang sebenarnya!!!"


Seketika, makhluk-makhluk berwujud abstrak berwujud mirip hantu bermunculan dari lingkaran sihir di belakang punggung Yuto dan memakan habis lengan kanan Jenderal Vriltz.

__ADS_1


"Aaaaarrgghh!!!" Jenderal Vriltz meraung-raung kesakitan. Darah mengalir dari lukanya yang terbuka. "Mu-Mustahil!! Pain no Chikara Ga dan Overlord's Regeneration tidak bekerja?!" Jenderal itu terperanjat sembari menatap lukanya yang tak beregenerasi sama sekali.


"Level mereka sekarang sudah jauh berbeda," ucap sang pemuda berambut ungu.


"I-Inikah kekuatan yang sebenarnya dari penguasa seluruh semesta?" Hina berujar dengan takjub.


"Terima pembalasan dendam dari arwah-arwah orang-orang yang sudah kau bunuh, kau siksa, dan kau penjarakan!! Collect Souls!!"


Arwah-arwah yang dipenuhi kebencian berkumpul di telapak tangan kiri Yuto, membentuk sebuah api berwarna hitam legam."Rasakan penderitaan dari orang-orang yang sudah kau siksa!! *Hellflare of Souls' Hate!!!***"** Api hitam itu melesat secepat kilat dan membakar tubuh Jenderal Vriltz, membuatnya kembali melontarkan raungan yang membuat ngilu.


Jenderal Vriltz mulai berlutut dengan wajah ketakutan dan memohon. "Tolong!! Tolong lepaskan aku!! Ampuni aku!!"


Jenderal Vriltz semakin ketakutan. "Ti-Tidak!! Ampuni aku!! Jangan!!!"


Gen mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Jenderal Vriltz. "Terimalah ... hukumanmu .... Final Punishment!!!" serunya sembari melancarkan serangan eternal light dalam skala besar ke arah Jenderal Vriltz.


"AAAAAAAAAARRGGGHHH!!!" Bersamaan dengan terlontarnya jeritan yang memilukan, tubuh Jenderal Vriltz pun terbakar habis dan hanya menyisakan abu.


True Power dari energi positif dan negatif CoAR pun dinonaktifkan karena Gen dan Yuto telah kehabisan energi. Kekuatan mereka memang sebesar dewa penguasa seluruh semesta, tapi tubuh mortal mereka tidak bisa menahan kekuatan sebesar itu dalam waktu lama. Tubuh mereka berdua pun jatuh ke tanah dan segera ditangkap oleh Hina dan KENBlade. Mecha itu segera menurunkan tangannya ke tanah untuk membaringkan Yuto.

__ADS_1


"A-Apa sudah selesai?" tanya Yuto dengan terengah-engah.


Hina tersenyum. "Ya, kalian hebat."


"Tentu saja," ujar Gen dengan penuh kesombongan, meski napasnya masih terengah-engah. "Akulah yang terkuat, dan aku lebih kuat darimu."


"Kau ini benar-benar!!" seru Hina sembari menjatuhkan tubuh Gen ke tanah dan meninggalkannya dengan langkah yang terdengar kesal.


"Aduduh!!" Gen meringis kesakitan begitu tubuhnya yang kehabisan tenaga membentur tanah. "He-Hei!! Aku hanya bercanda, Hina!! Bantu aku berdiri!! Tenagaku sudah terkuras untuk pertarungan tadi!!"


"Bantu saja dirimu sendiri, tuan 'terkuat'!!" sahut Hina tanpa menoleh.


"Hei! Hei!! Tungguuu!!!"


Melihat itu, Yuto tersenyum. "Dasar. Seperti biasa, kakakku selalu saja konyol."


Sang pemuda berambut ungu yang melihat itu dari atas bahu mecha miliknya turut tersenyum.


"Kedua pemuda itu benar-benar mengerikan ...."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2