
Setelah bertarung cukup lama, Elemental tak mampu lagi menahan serangan-serangan yang dilancarkan oleh para penyihir. Ia pun ambruk dan hancur menjadi partikel-partikel kecil berwarna keemasan. Para penyihir bersorak gembira, bagaikan sekumpulan prajurit yang baru saja memenangkan sebuah perang.
Namun, perang yang sebenarnya justru baru dimulai. Para penyihir saling menyerang satu sama lain, mengeluarkan seluruh kekuatan sihir mereka layaknya segerombolan iblis yang haus darah, serta membunuh dengan keji. Hanya ada satu pihak dari satu planet yang akan menang, dan pihak itulah yang akan mendapatkan CoAR.
Tak jauh berbeda dengan penyihir lainnya, Yuji dan Yuko pun bertempur habis-habisan dengan segenap kekuatan mereka. Menikam, menembak, melempar, menangkis, dan menahan dengan penuh tekad. Penuh kekuatan, layaknya sepasang dewa dan dewi. Meski hanya berdua, mereka telah mampu menghabisi banyak penyihir. Gelar pemimpin dari para Penyihir Revolusioner memang tak disematkan pada mereka tanpa alasan. Terlebih Yuko, meski tengah mengandung, ia tak merasa kesulitan menghadapi penyihir-penyihir itu, dan janin yang ada di dalam kandungannya tetap aman. Setelah duel maut berlangsung selama berjam-jam, hanya tersisa Yuji dan Yuko serta seorang penyihir pria yang diutus oleh Dewa Magus. Penyihir itu memiliki rambut berwarna merah menyala, dengan jubah merah, mata merah menyala, dan pedang bergagang merah yang serasi dengan rambutnya. Lima buah kristal berwarna merah menyala tersemat di dada baju merah yang ia kenakan. Yuji merasa tak asing dengan wajahnya. Ia berusaha menggali berkas-berkas di otaknya, mencari berkas mengenai pria tersebut. Tak lama kemudian, otaknya pun menemukan berkas tentang pria berambut merah menyala itu. Seketika, kedua matanya membelalak. Keterkejutan menguasai dirinya.
"Ada apa, Yuji?" tanya Yuko keheranan.
"Di-dia adalah tangan kanan ketiga Dewa Magus. Sang Flame Magician of Immortality, Crimson Eternity."
__ADS_1
"Jadi kau mengetahui tentang diriku?" ujar penyihir yang bernama Crimson itu sembari tersenyum bengis. Perlahan, api abadi melingkupi seluruh tubuhnya. Api abadi merupakan jenis api yang tak memiliki halangan maupun syarat untuk kemunculannya, dan tak akan pernah padam kecuali dipadamkan oleh sang pengguna atau oleh sihir yang lebih kuat darinya. "Bersiaplah, sebab tak lama lagi, kalian akan menemui maut!!!"
"Yuko, mundurlah agar anak kita yang ada di dalam kandunganmu tetap aman," pinta Yuji. "Penyihir ini berbeda dari yang kita hadapi sebelumnya. Dia berbahaya."
"Tapi ...." Yuko mencoba menolak permintaan Yuji.
"Cepat. Mundurlah," pinta Yuji untuk yang kedua kalinya.
Yuko segera mundur dari medan pertempuran sesuai dengan permintaan suaminya.
__ADS_1
Crimson menatap Yuji dengan tatapan meremehkan. "Sudah siap untuk mati?"
"Ya, aku akan terbunuh olehmu," sahut Yuji sembari memandang Crimson dengan wajah serius. "Tapi, itu hanya akan terjadi dalam mimpimu!!!"
"Hooo ... rupanya kau cukup percaya diri, pemimpin kelompok Penyihir Revolusioner," ujar Crimson. "Bukankah kau sudah tahu mengenai kekuatanku? Mengapa kau tidak lari saja bersama istrimu?"
Yuko tersenyum geli. "Lari? Kata itu tidak ada dalam kamusku. Aku harus menjalankan takdirku sebagai seorang pemimpin. Aku tidak akan pernah kalah darimu, karena aku adalah Yuji Zamoto, pemimpin dari kelompok Penyihir Revolusioner!!!"
"Aku akan mematahkan semangatmu itu," ujar Crimson sembari mengeluarkan pedang bergagang merah kesayangannya dan menjilat mata pedangnya, seolah-olah ia haus akan darah. "Mari kita mulai, pemimpin kelompok Penyihir Revolusioner ..."
__ADS_1
"Yuji Zamoto ...."
To be continued