Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 9: Konflik Batin dan Arti Perjuangan


__ADS_3

16 tahun kemudian.


Yuto dan Gen kini telah berusia 16 tahun. Kedua orangtua angkat mereka pun mulai menua. Masa kecil dan remaja Gen dan Yuto dihabiskan dengan penuh pem-bully-an. Itu terjadi karena Gen dan Yuto dianggap sebagai penyihir abnormal yang memiliki kekuatan aneh. Sebagai contoh, ketika berusia 7 tahun, Gen ditindas oleh teman-teman sepermainannya dengan menggunakan sihir tingkat rendah, mendadak matanya berubah warna menjadi merah menyala. Aura yang sangat kuat mengelilingi tubuhnya, menyebabkan para penindas terhempas dan lari tunggang-langgang bagaikan rusa yang tengah dikejar oleh singa.


Seluruh penindasan itu membuat Gen menjadi stres, sementara Yuto bersikap normal seolah tidak terjadi apa-apa, seolah-olah hatinya terbuat dari baja. Orangtua angkat Gen selalu menghiburnya dengan mengatakan bahwa itu menandakan bahwa ia adalah anak yang spesial. Para penduduk desa maupun orangtua Gen tak dapat memberitahukan yang sebenarnya kepada Gen, Yuto, dan para penindas karena mereka masih terlalu kecil.


Kini, Gen dan Yuto telah memasuki usia remaja, usia di mana manusia telah dianggap cukup dewasa untuk mengetahui kenyataan yang pahit. Maka, orangtua angkat Gen dan Yuto pun memanggil mereka untuk memberitahukan kenyataan yang pahit. Tentang pengorbanan dan perjuangan orangtua kandung mereka, juga tentang kekuatan dahsyat yang tersegel di dalam tubuh mereka, serta tentang takdir mereka.


"Gen, Yuto, kemarilah." Sang ayah angkat memanggil Gen dan Yuto. Dengan sigap, kedua remaja itu menghampirinya.


"Ada apa, ayah?" tanya Gen.


"Kami ingin membicarakan sesuatu yang penting," sahut sang ibu angkat dengan wajah serius. "Duduklah."


Gen dan Yuto pun segera duduk di kursi yang tersedia. Ekspresi mereka tak jauh dengan ekspresi kedua orangtua angkat mereka. "Apa yang ingin kalian ceritakan, ayah dan ibu?"


Sang ayah menenggak ludah, kemudian ia berucap kepada kedua anak angkatnya. "Sebenarnya, kami bukan orangtua kandung kalian."


Gen dan Yuto pun terkejut. Kedua mata mereka membelalak. "A-ayah tidak sedang berbohong, 'kan?!"


"Ayah tidak berbohong. Ini memang kenyataannya," sahut sang ayah angkat.


"I-ibu, apakah itu benar?" Yuto bertanya dengan wajah yang menyiratkan ketidakpercayaan sembari menoleh ke arah ibu angkatnya.


Sang ibu angkat menjawab dengan suara pelan. "Itu memang benar, nak."

__ADS_1


"La-lalu, siapa orangtua kandung kami?!"


"Orangtua kandung kalian adalah tokoh yang sangat berpengaruh di desa ini. Sayangnya, mereka telah tiada," sahut sang ayah angkat sembari tertunduk. Rasa kehilangan kembali mengiris hatinya. "Mereka memercayakan kalian kepada kami. Karena itu, kami merawat dan membesarkan kalian. Dulu, kami menyembunyikan yang sebenarnya dan berpura-pura menjadi orangtua kandung kalian karena saat itu, kalian masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan."


"A-apa penyebab mereka tiada?" tanya Yuto dengan terbata-bata. Ia masih shock karena kenyataan ini.


Kali ini giliran sang ibu angkat yang menenggak ludah. "Mereka tewas karena menggunakan sihir terlarang, demi menyegel kekuatan yang bisa menyelamatkan kaum penyihir di dalam tubuh kalian."


"Tidak!!! Ini tidak mungkin!!! Mustahil!!!" Gen berseru dengan suara nyaring. Ia masih tak mampu memercayai kenyataan yang pahit itu. "Ka-kalian sedang bercanda, 'kan?!"


Sang ayah angkat menjawab dengan nada sendu. "Maaf, tapi itu memang kenyataannya."


Gen mendecih pelan, kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu.


"Yuto, tolong kejar dia," pinta sang ibu angkat.


"Baik, ibu."


Yuto mengangguk dan bersiap mengejar kakaknya. Namun, sang ayah angkat menghentikannya.


"Tak usah, Yuto. Ayah yang akan menenangkannya," ucapnya.


"Baik, yah."


Ayah angkat dari pemuda kembar itu pun menghampiri Gen yang tengah termenung.

__ADS_1


"Sial!!!" Kata itu melayang dari mulut Gen, memasuki telinga sang ayah angkat. "Mengapa ...?! Mengapa kalian harus mati demi menyelamatkan kaum kita?! Mengapa?! Mengapa kalian yang harus berkorban ...!!!"


Kata-kata itu terus terlontar dari mulut Gen. Air mata mengalir turun dari sudut matanya. Semakin lama, aliran air mata itu semakin deras.


Sang ayah angkat menghampiri Gen dan duduk di sebelah kirinya.


"Oh, ayah," ucap Gen sembari mengusap air matanya.


"Tampaknya, kau masih belum bisa menerima kenyataan, Gen."


"Itu benar, ayah. Aku masih belum bisa menerima kematian mereka."


"Ketika mengetahui kematian kedua orangtua kandungmu, ayah juga terkejut. Ayah shock, tak bisa menerima kenyataan itu. Rasanya, ayah ingin berteriak kepada takdir: 'MENGAPA KAU BEGITU KEJAM??!!'"


"Tapi, kemudian ayah menyadari, bahwa terus-terusan menyesali kenyataan itu tidak ada gunanya.


Kita harus menerima kenyataan, dan terus berjuang menelusuri jalan takdir. Mulai detik itu, ayah bertekad untuk merawat dan membesarkanmu dan adikmu, hingga kalian tumbuh menjadi pemuda yang tampan, kuat, cerdas, dan bijaksana."


"Kau juga harus berjuang, Gen. Berjuanglah menelusuri jalan takdirmu. Jangan berlarut-larut dalam penyesalan. Kekuatan yang bisa menyelamatkan kaum penyihir itu kini ada di dalam tubuh kau dan adikmu. Itu artinya kalian ditakdirkan untuk menjadi seorang pahlawan."


"Jangan pernah menyerah, dan jangan pernah berhenti. Berjuanglah, ya?"


Gen tersenyum sembari kembali mengusap air matanya. "Baik, ayah."


To be continued

__ADS_1


__ADS_2