Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 18: Kekalahan Gen dan Yuto


__ADS_3

Asisten Panglima Xartz mulai terbakar amarah. Cahaya merah yang menyala di rongga mata tengkoraknya mulai membesar, perlahan memenuhi sepasang rongga mata tersebut. Kemarahannya bertambah ketika ia menyadari bahwa tiga perempat dari pasukannya telah tewas. Kini, hanya tersisa selusin tengkorak hidup. Tangan Xartz yang hanya terdiri dari tulang-belulang mengepal erat. Ia mengangkat pedang rapier bergagang hitam legam miliknya, bersiap untuk menyerang.


"Diam di tempat, para penyusup!! Kalian terkepung!!!"


Seruan tersebut membuat seluruh mata yang berada di aula itu menoleh, menatap ke arah datangnya suara. Tampak seorang pria berzirah hitam yang dilengkapi oleh jubah berwarna kecoklatan dengan motif berwarna merah menyala memasuki aula melalui pintu barat, disusul oleh selusin prajurit elite spesial yang berbaris rapi di belakangnya. Tampak empat buah kristal berwarna merah menyala tersemat di bagian dada dari zirah pria itu. Xartz dan para prajurit segera mengenali sosok itu. Mendadak, setitik kebahagiaan dan harapan timbul di hati mereka.


Pria itu menoleh ke arah Asisten Panglima Xartz dan selusin prajurit yang tersisa. Iris hitam legamnya menatap ketiga belas tengkorak hidup itu dengan penuh hormat. "Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pengabdian kalian yang begitu dalam terhadap kerajaan ini. Bahkan, sampai mengorbankan nyawa yang tentu tak sedikit." Pria itu menatap tulang-belulang yang berserakan di lantai, kemudian ia menundukkan kepalanya dengan penuh hormat.


Setelah beberapa detik berlalu, pria itu menengadahkan kepalanya dan kembali menatap Asisten Panglima Xartz. "Serahkan sisanya kepada kami. Mundurlah dan beristirahatlah, Asisten Panglima Xartz."


"Baik, Jenderal Vriltz!!!" Xartz berseru dengan penuh kegembiraan, kemudian segera mundur bersama dengan selusin prajurit yang tersisa dari pertempuran tersebut.


"Jenderal, ya?" Gen menatap Jenderal Vriltz dengan tatapan meremehkan. "Aku tidak peduli terhadap pangkatmu!!!" serunya sembari melesat dengan ceroboh ke arah Jenderal Vriltz.

__ADS_1


"Tunggu, kakak!!! Kita belum tahu apa kekuatan dari pria ini!!!" Yuto berseru, mencoba memperingatkan kakaknya. Namun, tampaknya itu sia-sia.


*traangg!!*


"Ukh?!"


Tepat setelah suara logam beradu itu terdengar, Gen mengernyit terkejut. Kedua matanya membelalak. Di hadapannya, tampak Jenderal Vriltz tengah mengendalikan sebilah pedang menggunakan telekinesis. Bilah pedang Gen dan bilah pedang milik Jenderal Vriltz tampak masih bersentuhan.


"Mu-mustahil!!!" Gen berseru tidak percaya di dalam batinnya.


"Unique Magic: Pressure Manipulation."


Tepat setelah ucapan itu terlontar, pedang milik Yuto remuk dan patah seketika, membuat dua bersaudara itu terbelalak.

__ADS_1


"Pressure ... manipulation?!" Gen membatin. "Benar-benar sihir yang berbahaya!! Kalau begini, kami bisa mati!!!"


Keringat dingin mulai mengalir deras di tubuh Gen dan Yuto. Mereka tampak bagaikan tikus yang terpojok.


"Jadi, kalian sudah sadar akan kelemahan kalian sekarang? Kalau begitu, mendekamlah di penjara, dan tunggulah maut menjemput kalian!! Unique Magic: Pressure Creation: Pressure Bound!!!"


Tepat setelah Jenderal Vriltz mengucapkan kalimat itu, Gen dan Yuto mendadak terjatuh ke lantai, seolah-olah tubuh mereka diikat oleh tali. Kedua pemuda itu mencoba untuk berontak. Namun, semakin keras mereka berusaha, justru mereka semakin menderita. Setiap kali mereka menggerakkan anggota tubuh, sekujur tubuh mereka bagai ditekan dari segala arah, layaknya sleep paralysis.


"Bawa mereka ke penjara bawah tanah," perintah Jenderal Vriltz kepada selusin anak buahnya. Tanpa basa-basi, kedua belas prajurit itu segera membawa Gen dan Yuto ke penjara bawah tanah.


"Sialan!!! Lepaskan!!! Lepaskan, bodoh!!!" Gen masih mencoba memberontak, tanpa memedulikan rasa sakit dari tekanan yang menyiksa dirinya.


Sepasang mata Yuto menatap Jenderal Vriltz yang tengah tersenyum penuh kemenangan. Iris hitam legam itu memancarkan kebencian yang sangat.

__ADS_1


"Ini belum selesai .... Kami akan membalasmu suatu hari nanti ...."


To be continued


__ADS_2