
Aula Utama, Lantai Satu Istana Magus, kota Rainzar.
Panglima Delta melompat mundur ke belakang. Napasnya terengah-engah. Kepalan tangannya mengerat pada pedang besarnya yang telah dinodai oleh beberapa retakan kecil. Gigi-giginya yang tertanam langsung pada rahang bergemeretak penuh kegusaran. Kedua rongga matanya yang dipenuhi oleh cahaya merah menyala menatap penuh kekesalan pada tulang-tulang dan pedang yang berserakan di lantai aula. Separuh dari pasukannya telah terbunuh, dan ia tak mampu melindungi mereka semua. Tengkorak hidup itu hanya mampu menyaksikan kematian anak-anak buahnya yang berharga dengan tatapan penuh dendam.
*trangg!!*
*srepp!!*
*crakk!!*
Suara benturan antar tulang dan suara logam beradu kembali memenuhi udara. Tulang-tulang yang terpecah belah terjatuh ke lantai, tak mampu bangkit kembali. Pedang sang prajurit tertancap di lantai istana, bergeming, seolah berkabung atas kematian tuannya. Panglima Delta kembali mengeratkan genggamannya pada pedang besar miliknya. Di depan matanya sendiri, prajurit kesayangannya meregang nyawa. Sementara itu, sang pembunuh hanya menatap tulang-tulang tersebut dengan wajah tanpa ekspresi, kemudian mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah prajurit lainnya. Yuto Zamoto, itulah nama dari pembunuh tersebut.
"Sialan ...," batin Panglima Delta, "bukankah mereka hanya bersenjatakan sebilah pedang? Bagaimana bisa mereka mengalahkan prajurit-prajurit elitku?! Ini mustahil!!! Sama sekali tidak masuk akal!!!" Panglima Delta terus mengumpat dan berseru di dalam batinnya.
Tengkorak hidup itu mendecih pelan."Sebenarnya ini berbahaya, tapi, aku harus melakukannya demi menjaga pangkatku sebagai jenderal, dan demi menjaga sumpah 'Pelindung dan Abdi Kegelapan' yang pernah kuucapkan di hadapan Dewa Magus yang agung sendiri!!!" Tanpa pikir panjang, Panglima Delta melesat ke arah Yuto dan mengayunkan pedang besarnya, berniat memenggal Yuto.
*sringg!!!*
Suara desingan pedang terdengar jelas. Pedang milik Yuto telah berayun secara vertikal, membelah pedang besar milik Panglima Delta sekaligus membelah tulang rusuk tengkorak hidup tersebut dalam sekejap mata. Panglima Delta hanya bisa menatap wajah datar Yuto dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Beberapa detik kemudian, tulang-tulang kerangkanya membentur lantai dan terpisah-pisah, berserakan, bagai sisa makanan dari seekor binatang buas.
"Aku ... gagal?!" Panglima Delta membatin sembari mempertahankan tatapan tak percayanya. Meski tulang-tulangnya telah terpisah-pisah, kedua rongga matanya masih dipenuhi oleh cahaya merah, menandakan bahwa nyawanya masih menghinggapi tengkorak kepala tersebut. Sementara itu, pasukannya yang tersisa hanya bisa menatap tak percaya.
"Asal kau tahu, pedang ini bukan pedang biasa. Pedang ini terbuat dari bahan khusus terbaik yang pernah ditemukan oleh keluargaku," ucap Yuto sembari mempertahankan wajah datarnya, kemudian melanjutkan melawan prajurit-prajurit yang tampak marah besar karena Yuto telah melukai panglima mereka dengan fatal. Teriakan kemarahan, desingan pedang, suara logam beradu, dan suara tulang berbenturan kembali memenuhi udara. Sementara itu, dari tengah para prajurit yang berlarian penuh dendam menuju Yuto dan saudaranya, Gen Zamoto, seorang tengkorak hidup berzirah hitam menghampiri tengkorak kepala Panglima Delta. Tampak sebuah kristal merah menyala tersemat di bagian dada dari zirah hitam legamnya. Ia merupakan asisten dari Panglima Delta, Asisten Panglima Xartz.
"Panglima Delta, bertahanlah!!!" serunya sembari meraba tengkorak kepala Delta dengan kedua tangan tengkoraknya. "Semuanya ... akan baik-baik saja .... Pasti akan baik-baik saja!!!"
"Tidak ... aku sudah gagal ...." Panglima Delta berucap dengan tatapan putus asa. "Tolong ... sampaikan permintaan maafku kepada para atasanku dan pasukanku yang tersisa ... setelah pertarungan ini berakhir .... "
__ADS_1
"Bicara apa anda, Panglima Delta?!!" Xartz berseru dengan suara nyaring. "Anda akan selamat ... sihir Necromancer milik Dewa Magus mampu menyembuhkan segalanya, termasuk menyatukan kembali tulang-tulang anda. Jadi, jangan mati ... karena jika anda mati, sihir Necromancer takkan lagi bisa dilakukan!!!" Seruan Xartz terdengar semakin nyaring, meski ditutupi oleh suara-suara pertarungan antara para prajurit dengan Gen dan Yuto.
"Aku ... sudah gagal .... Aku sudah melanggar sumpah pelindung kegelapan yang pernah kuucapkan ... di hadapan Dewa Magus .... Aku tidak mampu melindungi pasukanku yang berharga ... dan sekarang ... kedua penyusup itu akan naik ke lantai selanjutnya setelah berhasil mengalahkan kita semua .... Ini akan membuat para atasan kita berada dalam bahaya .... Aku sudah melanggar sumpah pelindung dan abdi kegelapan .... Meskipun aku bisa selamat ... hidupku sudah tak berguna lagi ...."
Air mata mulai menggenangi rongga mata Xartz, perlahan mengalir turun membasahi tulang pipinya. "Tidak masalah!!! Sumpah itu bagaikan sebuah janji antara dua orang anak kecil!!! Yang lebih penting sekarang adalah ... nyawa anda, Panglima Delta!!!" Xartz terus menggoyang-goyangkan tengkorak kepala Panglima Delta. Kedua tulang tangannya tampak gemetaran.
"Jangan menangis, bodoh ...," ucap Panglima Delta. Padahal air mata juga mulai mengaliri tulang pipinya. "Seorang prajurit kegelapan ... akan kehilangan kekuatannya jika bersikap emosional ...."
"Tidak masalah!!! Aku bahkan rela kehilangan seluruh kekuatanku!!!" seru Xartz. Air mata semakin deras mengaliri tulang pipinya. "Anda ... adalah atasan yang hebat, Panglima Delta .... Nyawa anda sangat berharga bagi kami semua ...."
"Atasan yang hebat, ya .... Baru pertama kalinya dalam sejarah hidupku yang dipenuhi oleh kegagalan, aku mendapat pujian dari bawahanku." Cahaya merah yang memenuhi kedua rongga mata Panglima Delta mulai meredup. "Ini akan menjadi ... kebahagiaan terbesar kedua dalam hidupku ... setelah momen aku diangkat menjadi panglima oleh Dewa Magus ...." Tepat setelah ucapan itu terlontar, cahaya merah yang menyala di kedua rongga mata Panglima Delta padam sepenuhnya, menyisakan rongga gelap yang kosong. Nyawanya telah meninggalkan tengkorak kepala tersebut.
Air mata Xartz terjatuh, memercik di tempurung dari tengkorak kepala yang telah mati tersebut.
"Panglima ... Delta ...."
—————————————————————————————
Gelap ....
Semuanya sangat gelap di sini ... dipenuhi oleh warna hitam yang kelam. Dingin ... suhu di sini sangat dingin menusuk.
Apakah aku ... sudah mati?
Ya ... sepertinya ... inilah akhirnya.
Akhir dari hidupku yang dipenuhi oleh kegagalan.
__ADS_1
Aku gagal menghentikan pertengkaran kedua orangtuaku, hingga akhirnya mereka bercerai dan aku berakhir di panti asuhan. Aku gagal dalam pendidikan, selalu menduduki posisi terbawah dalam hal pelajaran. Aku gagal dalam olahraga, aku gagal dalam sihir. Akhirnya, aku hanya bisa menjadi petani biasa. Namun, aku gagal melindungi ladangku. Angin topan yang kencang menerbangkan seluruh hasil jerih payahku. Aku gagal melindungi teman-teman satu desaku. Aku gagal melindungi teman-teman masa kecilku, Altz dan Rick. Aku gagal melindungi nyawaku sendiri. Kemudian, Dewa Magus memberiku kesempatan kedua untuk hidup, bersama-sama dengan Rick dan Altz, dengan syarat kami harus menjadi prajurit yang mengabdi sepenuh hati kepadanya. Aku berusaha sekuat tenaga, hingga akhirnya pangkatku naik menjadi panglima. Namun, sekali lagi aku gagal. Aku gagal melindungi Altz dan Rick untuk yang kedua kalinya. Aku gagal melindungi para bawahanku yang berharga. Aku gagal melindungi atasan-atasanku yang terhormat. Aku ... telah gagal dalam segala hal ....
Tidak ada gunanya lagi aku hidup .... Aku hanya akan menjadi beban bagi rekan-rekan, bawahan, dan atasanku. Aku ... telah gagal ....
"Hei, Delta. Bukankah kita bertiga sama-sama anak payah yang sering gagal?!" Suara khas bocah itu kembali terngiang di benakku, kemudian kegelapan yang melingkupiku berubah menjadi padang rumput yang hijau, dengan sebuah pohon besar berdiri kokoh di hadapanku. Tepat di hadapan pohon itu, dua anak berusia sekitar tujuh tahun tengah bersandar. Aku mengenalinya, mereka adalah wujud manusia dari Altz dan Rick. Wujud asli sebelum sihir Necromancer Dewa Magus memengaruhi tubuh kami.
"Jadi, bagaimana kalau kita berkompetisi? Siapa yang lebih baik dalam hal pelajaran, olahraga, maupun pekerjaan di masa depan nanti, dialah yang menang. Kompetisi ini akan berlangsung selamanya, selama kita belum berpisah. Mungkin itu akan menyebabkan peningkatan di hidup kita yang payah ini." Altz kecil melanjutkan ucapannya sembari tersenyum menantang. Tanpa kusadari, aku pun turut tersenyum. Kedua bocah itu mengulurkan tangan mereka yang mungil dan seputih susu. Aku turut mengulurkan tangan mungilku.
"Aku terima ... tantangan kalian!!!"
Kenangan yang indah itu kembali ditelan oleh warna hitam yang kelam. Namun, kini ada sesuatu yang berbeda. Tubuhku bergetar penuh semangat. Api semangat membara di dalam hatiku, berkobar tanpa henti. Tanpa kusadari, aku tersenyum penuh semangat.
"Tidak!!! Ini belum berakhir!!! Kompetisiku dengan Altz dan Rick masih berlanjut!!! Ini semua belum selesai!!! Aku tidak benar-benar gagal!!!"
Aku melangkah dengan penuh semangat, menerobos kegelapan yang seolah tiada akhir. Namun, api semangat masih berkobar di dalam hatiku, terus membesar setiap detiknya.
"Aku ... masih harus menjaga skorku!!! Aku harus tetap berada di atas Altz dan Rick!!! Di sini bukan tempatku!!! Aku harus kembali ke Istana Magus ... dan melanjutkan kompetisiku dengan Altz dan Rick!!! Aku tidak bisa ... membiarkan mereka menyetarakan skornya!!! Aku harus terus maju, sebelum aku disusul oleh mereka berdua!!! Aku harus terus maju ke depan!!! Aku masih memiliki ... kesempatan yang ketiga!!!"
Aku mengerti sekarang .... Hubungan antar rival ... bisa menjadi sangat erat layaknya keluarga. Sebuah keluarga tidak perlu memiliki hubungan darah ... dan sebuah rumah tidak harus menjadi tempat di mana kau dibesarkan bersama dengan keluarga kandungmu .... Sebuah tempat ... di mana orang-orang masih menyayangimu ... dan memiliki relasi denganmu ... sebuah tempat di mana semua orang menunggu kepulanganmu ... tempat itulah yang bisa kau sebut sebagai rumah!!!
"Aku akan kembali ... ke rumahku yang sebenarnya ...."
"Tempat di mana rekan-rekanku, atasan-atasanku yang terhormat, dan para bawahanku yang tercinta berada .... Kota Rainzar ...."
"Aku akan ... menjaga skorku dalam kompetisi ini ..., dan meninggalkan Altz serta Rick jauh di belakang ...."
"Semangat yang membara ini ... tidak akan pernah padam ... sampai kompetisiku dengan Altz dan Rick berakhir ...."
__ADS_1
"Ya ... terus maju ke depan .... Hanya itu yang bisa kulakukan untuk saat ini."
To be continued