
"Mengaktifkan mode iblis ... selesai."
Kedua mata robot dan outer armor dari KENBlade bersinar merah terang. Sebuah bola energi beam raksasa menyelimuti KENBlade, membentuk bola berduri, kemudian tujuh buah tanduk raksasa bermunculan di dahi robot tempur tersebut. KENBlade menarik keluar kedua cakar miliknya dari jari-jemari, yang ternyata merupakan trisula kembar. "Berhasil mengeluarkan Hades' Vortex Twin dan Exitium Devourer Horns."
KENBlade pun bergegas melesat ke arah Jenderal Vriltz, tapi tampaknya bola beam yang menyelimutinya sama sekali tak berdampak pada tubuh jenderal itu. KENBlade mencoba menebas tubuh Jenderal Vriltz menggunakan Hades' Vortex Twin, tapi bagian tubuh Jenderal Vriltz yang tertebas selalu beregenerasi hanya dalam waktu satu detik.
Tak putus asa, KENBlade pun melancarkan ketujuh tanduk miliknya. Tanduk-tanduk yang rakus itu memunculkan mulut monster di diri mereka dan bergegas mencabik-cabik tubuh Jenderal Vriltz, tapi itu tidak ada artinya karena Jenderal Vriltz selalu beregenerasi setiap satu detik. Akhirnya, KENBlade menyerah dan mundur. Mode iblis miliknya dinonaktifkan secara otomatis karena ia kehabisan energi.
"Kakak, apa kita juga harus menggunakan True Power of Magician?" tanya Yuto.
"Kau gila, ya? Bayarannya terlalu besar. Kita tidak tahu apa yang akan diminta oleh Seven Deadly Sins dan Seven Crests of Heaven!!" sahut Gen.
"Ingat, kakak. Ras penyihir akan semakin kuat jika terus maju ke depan dengan kecepatan penuh, layaknya peluru yang ditembakkan dari sebuah pistol. Terus maju, tak peduli rintangan apapun yang menghadang." Yuto berujar dengan wajah serius.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," ujar Gen dengan wajah penuh semangat. "Aku tidak ingin berakhir sebagai pengecut. Kalaupun akhirnya kita harus mati, setidaknya kita akan mati sebagai pahlawan."
Yuto mengangguk dan tersenyum. "Semoga beruntung dengan Seven Crests of Heaven -mu, kakak."
"Semoga beruntung juga dengan Seven Deadly Sins-mu, Yuto," sahut Gen sembari membalas senyuman Yuto.
"Br*ngs*k!! Kalian meremehkanku, ya?!" seru Jenderal Vriltz sembari melancarkan tekanan udara yang tinggi ke arah Gen dan Yuto. Namun, dengan sigap Hina menangkisnya menggunakan Red Asteroid Shield.
"Terima kasih, Hina. Tolong tahan dia," ucap Gen.
"Dasar pengganggu!!!" Jenderal Vriltz berseru sembari berdecak kesal.
Kedua pemuda itu pun memejamkan mata mereka selama beberapa saat, kemudian membukanya kembali. Gen kini berada di ruang serba putih, sementara Yuto berada di ruang hitam. Suara yang nyaring segera menyambut mereka.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan kali ini, anak muda?"
Gen dan Yuto menenggak ludah di saat yang bersamaan. Kedua pemuda itu tidak tahu apa yang akan terjadi. Apa yang akan diminta oleh Seven Deadly Sins dan Seven Crests of Heaven? Apakah nyawa? Anggota tubuh? Kekuatan fisik? Risikonya terlampau besar. Mereka bisa saja kehilangan nyawa saat itu juga.
Namun, demi semesta yang mereka sayangi, desa yang selalu ada untuk mereka, seluruh anggota Penyihir Revolusioner, keluarga angkat mereka, janji yang mereka buat untuk kembali dengan selamat, dan para rekan mereka, kedua pemuda itu memberanikan diri untuk mengambil semua risiko itu.
"Izinkan aku mengaktifkan True Power dari CoAR!! Berikan kepadaku semua kekuatan yang kalian punya!! Tunjukkan potensi kalian yang sebenarnya!!" seru mereka serempak.
"Hmm ..., tapi kau tahu, bukan? Bagi setiap kekuatan, harus ada bayarannya," ujar suara berat tersebut. Seven Deadly Sins mulai menampakkan diri dalam wujud abstrak, dengan warna beragam yang melambangkan masing-masing dosa besar.
"Katakan, apa yang kalian inginkan?" ujar Yuto dengan suara lantang, meski sebenarnya ia mengeluarkan seruan itu dari pita suaranya dengan susah payah. Seolah-olah ada selaput yang mempersempit tenggorokannya.
"Bagaimana, kak Lust?" tanya Pride.
__ADS_1
"Aku ingin ...."
To be continued