
"Hahh ...!! Hahh!!!" Gen tampak kesulitan mengatur napasnya. Ia kini tengah berada di sebuah ruang hitam, dan entah kenapa adiknya, Yuto, tidak bersamanya.
Gen mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Takkan kuserahkan!! Takkan pernah kuserahkan!! Takhta Multiversal God itu milikku!!! Aku takkan menyerah semudah itu!!! Akulah ... yang pantas untuk memimpin seluruh semesta!!!"
Namun, bagaikan tongkat gembala yang menarik seekor domba yang tersesat, sebuah suara muncul di hati Gen dan menerangi hatinya yang telah diliputi kegelapan dan keserakahan. Sebuah suara yang amat familiar, dan tampaknya bukan berasal dari alam ini.
"Bukankah sudah kukatakan pada kalian? Kekuatan dapat membutakan kalian dan menuntun kalian ke jalan yang salah."
Kedua mata Gen membelalak lebar ketika ia mendengar suara itu. Sebuah suara yang tak asing lagi baginya. Sebuah suara yang amat ia kenal. Meski pada waktu itu ia masih bayi dan tengah tertidur pulas, tapi ia sempat mendengar ucapan terakhir dari pemilik suara tersebut. Suara itu adalah ... suara ayah kandungnya ....
Pemuda berambut keemasan itu tersenyum miris, seolah menyesali kebodohannya.
"Aku ... memang bodoh ...."
——————————————————————————
Gen membuka matanya kembali. Pemuda itu telah kembali dari alam bawah sadarnya. Ia tengah melayang-layang di luar angkasa bersama dengan adiknya, Yuto. Sekitar 10 ribu km dari planet Aojin. Situasi ini persis dengan ketika Gen terbangun setelah ia bangkit dari kematian.
Gen memandang tubuhnya dan tubuh adiknya. Tampaknya, wujud Core of All Realms milik mereka berdua telah dinonaktifkan.
"Yu-Yuto ...." Gen melayang menghampiri adiknya itu.
Yuto menoleh ke arah kakaknya sembari tertunduk lesu. "Maafkan aku, kakak. Aku terlalu egois."
"Tidak apa-apa," sahut Gen sembari tersenyum ramah. "Aku juga sama egoisnya denganmu."
"Kita sungguh bodoh. Kita bertarung dengan sia-sia, hanya demi memperebutkan sebuah kekuatan." Yuto berucap sembari tersenyum kecut.
"Kau benar," sahut Gen.
"Mari berjanji untuk tidak melakukan pertarungan yang sia-sia lagi," ucap Yuto sembari mengulurkan tangan kirinya.
Gen membalas uluran tangan tersebut. Wajah Yuto yang semula selalu datar kini mulai menyunggingkan senyum. Matanya yang semula selalu memancarkan tatapan yang dingin bagaikan es kini memancarkan tatapan yang hangat.
__ADS_1
"Mulai sekarang ..., kitalah yang akan mengatur seluruh semesta ...."
"Heeeeiii, Gen, Yutoooo!!!" Sebuah suara yang feminim dan familiar terdengar, membuat kakak beradik itu terbelalak. Keterkejutan tergambar dengan jelas di wajah mereka berdua.
"Hi-Hinatsu?!" Gen berseru penuh keterkejutan ketika ia melihat gadis yang dicintainya itu melayang menghampirinya dengan rombongan kecil di belakangnya. Air mata mulai menggenangi pipinya dan mengaliri wajahnya. Ia tersenyum penuh kebahagiaan.
"Hinatsu!!!" Gen segera merangsek ke pelukan kekasihnya itu. Wajahnya berurai air mata.
"He-Hei, bodoh. Aku tidak bisa bernapas, tahu," ujar Hinatsu.
"Kukira ... aku sudah ... tidak akan bisa bertemu denganmu lagi!!!" seru Gen sembari berurai air mata.
Hinatsu tersenyum. Tangannya yang lembut membelai pelan rambut keemasan milik Gen. "Jangan cengeng. Mana mungkin aku meninggalkan dirimu yang konyol dan bodoh ini sendirian?"
"Anu, maaf mengganggu adegan romantis kalian ...." Sebuah suara yang terdengar familiar kembali mengejutkan Gen dan Yuto. Tampak seorang pria bertopi khas penyihir dan seorang wanita berambut hitam legam yang diikat menggulung ke belakang tengah menghampiri mereka.
"A-Ayah .... Ibu juga!!!" Gen segera mengenali kedua sosok itu sebagai ayah dan ibu kandungnya. Ia segera memeluk mereka berdua dengan erat. Bahkan, Yuto yang tidak biasanya manja juga ikut bergabung dalam pelukan tersebut.
"Tidak apa-apa, kok, yah," sahut Gen sembari tersenyum. "Justru berkat beban ini, aku jadi bisa belajar banyak!!!"
"Aku juga, bu, yah!!" sahut Yuto.
"Wah, wah. Rupanya kalian berdua telah tumbuh menjadi pemuda yang dewasa dan amat kuat. Kami berdua sangat bangga pada kalian," ujar sang ibu kandung, Yuko.
Hinatsu yang melihat itu hanya tersenyum senang.
"Seandainya ... mereka masih hidup ...." Perempuan berambut kemerahan itu membatin.
"Apanya yang seandainya, Hinatsu?"
"Kami ada di sini, kok."
Suara yang terdengar familiar itu mengagetkan Hinatsu. Ia segera menghampiri sumber suara tersebut. Seolah mengerti perasaan Hinatsu, kedua penyihir yang dicari pun bergegas menghampiri putri mereka itu. Ya, kedua orang itu adalah orangtua kandung dari Hinatsu yang meninggal dalam penyerangan desa ketika ia masih berusia tujuh tahun.
__ADS_1
Air mata mulai menggenangi wajah Hinatsu, perlahan mengalir turun membasahi wajahnya. Wanita itu segera merangsek ke pelukan orangtuanya.
"Ayah!!! Ibu!!!" serunya sembari menangis tersedu-sedu. "Bagaimana, kalian bisa hidup kembali?"
"Tentu saja, nak," sahut sang ibu sembari membelai lembut rambut kemerahan milik putrinya. "Semua orang yang mati dalam keadaan hati yang murni akan dibangkitkan oleh kemampuan Reviving Purity."
"Ternyata, kau sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sangat kuat, ya. Ayah dan ibu sangat bangga kepadamu." Ayah dari Hinatsu menimpali.
"Aahh!! Ayah!! Jangan menggodaku!!!" ujar Hinatsu dengan wajah memerah karena malu, kemudian keluarga kecil itu tertawa bersama.
"Akhirnya kau kembali ke jalan yang benar, pejuang revolusioner." Jenderal Tertinggi Pythius menimpali sembari menghampiri Gen. Senyum mulai terukir di wajahnya yang tak bergusi dan tak berdaging.
"Maafkan aku. Kau harus menderita luka batin yang berat gara-gara aku," ujar Yuuratsu sembari tertunduk lesu.
"Tidak masalah," sahut Gen sembari memegang bahu Yuuratsu. "Aku juga minta maaf. Aku tidak mengetahui kisah hidupmu yang sebenarnya, dan aku baru mengetahuinya setelah tewas dalam pertarungan melawan Jenderal Tertinggi Pythius. Kau sangat hebat, Yuuratsu. Kau adalah pahlawan sejati. Aku kagum padamu. Mulai sekarang, pemimpin party Grand Bullet adalah kau, ya?" pinta Gen.
"Eh? Party itu masih berlaku, ya?" ujar Yuuratsu.
"Hei, Jenderal Satu," ucap Jenderal Tertinggi Pythius.
"Tidak usah terlalu formal. Tirani Dewa Magus sudah tidak berdiri lagi sekarang. Panggil saja Yuuratsu," ujar Yuuratsu sembari tersenyum ramah. "Ngomong-ngomong ... ada apa?"
"Kurasa kau harus cepat pulang. Adikmu menunggu di rumah, 'kan?" Ucapan itu seketika membuat Yuuratsu terkejut. "Kau ingin membuatnya khawatir dan cemas lebih lama lagi? Kau ingin dia memarahimu karena membuatnya cemas?" lanjut Jenderal Tertinggi Pythius.
"Ah!!" Kedua mata Yuuratsu seketika membelalak lebar. "AAAAAAHHHH!!! AKU LUPA!!!" serunya dengan panik. "Hei, semuanya. Aku duluan, ya!!!"
Tepat setelah ucapan itu terlontar, Yuuratsu mengaktifkan feet jetpack-nya dan bergegas melesat dengan kecepatan maksimum ke desa tempat tinggalnya. "Siaaalll!!! Dia pasti akan memarahiku karena membuatnya cemas dan terlalu lama menunggu!!!"
"Hei, hati-hati di jalan!!!" seru Jenderal Tertinggi Pythius sembari melambaikan tangan tengkoraknya, kemudian tengkorak hidup itu tertawa bersama dengan keluarga Gen dan Yuto.
To be continued
Yak, ini udah mau tamat. Tinggal epilog. Ditunggu, ya.
__ADS_1